Selasa, 23 Desember 2014

Berguru di Kota Udang

Gue sedang tiduran di kasur ditemani dengan keram perut yang lebih dahsyat dari biasanya menjelang period. Tapi gue bukan sedang ingin membahas period gue. 

Beberapa hari lalu, tante gue (Auntie Aris) mengirim sebuah foto ke grup chatting keluarga gue. Awalnya gue mengabaikan. Namun setelah gue lihat, ternyata itu adalah foto nenek gue (Deti) lagi pake baju model abg + celana legging hitam. Gue sempat pangling. Gue sempat mengira tante gue mengirim foto anggota SNSD, ternyata itu foto nenek gue. 

(barusan itu hiperbola)



Gue sangat menyayangi kedua nenek gue. Baik nenek dari bokap, mau pun nenek dari nyokap. Bisa dibilang, gue cukup dekat dengan nenek-nenek gue, dan jujur aja, sangat senang hangout dengan kedua nenek gue. 

Nenek dari bokap gue biasa gue panggil dengan sebutan "Deti" yang sampe sekarang, gue kurang ngerti apa artinya nama tersebut. Deti adalah seorang keturunan Manado kental, namun bertempat tinggal di Cirebon semenjak Deti masih kecil. 

Deti sangat jago memasak. Masakan Deti yang paling gue idolakan adalah ayam goreng tulang lunak. Setiap gue liburan, Deti pasti menelpon gue dan mengundang gue untuk berkunjung ke rumahnya di Cirebon dengan undangan berbunyi: 

"Vidya kapan ke sini? Deti udah bikinin ayam goreng tulang lunaknya tuh. Tapi kalo ke sini, jangan lupa bawa kado ya!" 

Deti sangat rajin membaca alkitab. Deti membaca alkitab setiap malam, lalu melanjutkannya dengan berdoa, kemudian tidur, ditemani dengan suara radio Kristen Cirebon yang gue tidak ingat namanya, yang selalu memutar lagu puji-pujian terhadap Tuhan. Deti selalu mengajak gue untuk ikut berdoa bersama setiap gue menginap di rumahnya. 

Pernah sewaktu gue masih SD, gue menginap di rumah Deti bersama seorang sepupu gue (Timothy). Tentu saja, Deti mengajak gue & Timothy berdoa bersama. Sebelum berdoa, Deti mengajak gue & Timothy menyanyikan sebuah lagu puji-pujian dengan posisi berdoa. Sambil memejamkan mata dan melipat tangan, lagu kami dendangkan. Lagunya begini: "Kami naikan syukur padaMu... Kami naikan syukur padaMu... Kami naikan syukur, Yang Mulia... Kami naikan syukur padaMu.."

Namun irama demi irama, gue dan Timothy malah geli sendiri. Kami sesekali mengintip satu sama lain, dan akhirnya tawa kami pun meledak. Deti yang sedang kusyuk pun akhirnya mencubit gue & Timothy. Semenjak itu, kami gak pernah nyanyi lagi sebelum doa bersama. 

Deti sangat menyayangi kucing, gue juga cinta mati sama kucing. Deti memelihara kucing bernama Bona. Sayangnya, Bona adalah kucing paling annoying yang pernah gue temui di muka bumi ini. 

Gue jadi ingat...
Beberapa bulan yang lalu, gue berlibur ke Cirebon. Gue menginap selama 5 hari di rumah Deti. Sebagai pencinta kuliner, tentu saja bersama bokap gue berkeliling Kota Cirebon mencicipi jajanan demi jajanan. Tak jarang gue berkunjung ke spot-spot asyik di Cirebon untuk photo hunting. 

Selama gue di Cirebon, nenek gue terus-terusan membahas tentang celana jeans yang pada akhirnya, dia bercerita ke gue kalau dia sedang sangat menginginkan celana jeans. Deti bilang, Deti juga sama seperti gue, ingin mengikuti perkembangan mode masa kini. 

Akhirnya tepat pada hari terakhir gue di Cirebon, gue seharian menemani Deti berkeliling mall demi mencari jeans idamannya. 

Setelah berputar-putar mencari jeans, kami makan di sebuah tempat makan pizza karna saat itu, Deti sedang sangat menginginkan pizza. Kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari hobi gue, hobi deti, sekolah gue, masa sekolah deti, dan banyak hal lain. Deti juga sesekali menanyakan gue sudah punya pacar atau belum dan bagaimana hubungan gue dengan pacar gue. 

Hingga akhirnya Deti bercerita tentang bagaimana Deti bertemu dan merajut kisah bersama Denang, kakek gue. 

"Denang gak pernah sekali pun bilang "I love you". Kalau ngapel ke rumah Deti dulu, pasti membawa koran untuk dibaca. Tapi Deti tuh sesungguhnya sudah tau, diam-diam, Denang pasti memperhatikan Deti. Buktinya sampai sekarang, Deti masih tuh merasa dicintai sama Denang. Menurut Denang, apa gunanya berkata-kata kalau bertindak lebih bernilai." 

Mungkin maksud Deti dan Denang adalah actions speak louder than words.  

Sejenak gue terdiam mendengar penjelasan Deti. 

Bener juga ya, Det. Deti perlu belajar dari aku tentang perkembangan modis jaman sekarang, dan aku perlu belajar dari Deti tentang arti sejati dari hidup. 









Rabu, 26 November 2014

Tsubasa dan Bulan Purnama

"Gambar sebuah pemandangan, Vid. Pemandangan apa saja yang ada di pikiran kamu saat ini", kata Mr. Rifky dalam pelajaran konseling.  

Gue menggambar sebuah jembatan di antara dua tebing, melintasi sebuah sungai deras, dengan latar sebuah bulan purnama di tengah gelap malam. 

"Penuh kebimbangan. Dua buah tebing, menggambarkan pilihan yang lagi Vidya bingungin. Jembatan, menggambarkan tempat dimana Vidya sekarang bertahan, dibingungkan kembali oleh teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Sungai deras, menggambarkan rintangan dan permasalahan yang mungkin sekarang sedang dihadapi. Bulan, menggambarkan Vidya yang juga berfikir pilihan mana yang paling baik untuk diambil," jelas Mr. Rifky memecah keheningan, sempat seakan menggantung di udara beberapa detik. 

Beberapa teman melihat gue dengan tatapan "CIE GALAU", sementara gue hanya melongo, mencoba mencerna semua penjelasan Mr. Rifky. Segera gue palingkan tatapan gue dengan senyum tipis malu-malu mati gaya. 

Mr. Rifky benar. Tidak satu pun perkataannya tidak sesuai dengan apa yang mengganggu pikiran gue. 

"Ini semua cuma tentang kapan lo siap membiarkan dia pergi," jelas Tsubasa. 

"I'm never ready of losing him, Tsubasa. Never."

"Ya emang gak akan pernah siap sih. Its just about how brave we are to accept it... Be strong, okay?"

ucap Tsubasa untuk kesekiankalinya terngiang-ngiang dalam benak gue. Membuat gue semakin panjang berfikir... dan galau. 

Ini semua adalah tentang ketakutan gue. Ketakutan gue terhadap apa yang akan gue hadapi setelah gue mengambil keputusan. Sebenarnya, keputusan ini tidak akan menjadi keputusan yang salah, karna memang hanya satu keputusan inilah jalan keluarnya. 

Ini hanya tentang kapan gue siap dan berani untuk menjadi ikhlas, juga kapan gue berhenti takut sendirian. 

Sebenarnya gue merindukan gue yang dulu. Gue yang selalu berani melangkah walau sendirian, gue yang selalu ingat bahwa pada dasarnya gue tidak sendirian karna Tuhan bersama gue. 

Gak, gue bukan kangen gue yang dulu. 

Gue kangen semua yang ada dulu. 

Mr. Rifky benar. Gue sedang sangat-sangat kebingungan, dan gak peduli seberapa banyak pun advice yang gue terima, gue hanya akan tetap bertahan pada bulan purnama, yakni pikiran gue sendiri yang sangat rumit. 

Harus kemana sekarang? 

Minggu, 23 November 2014

Sepiring Memori Secangkir Air Mata

Ada yang bilang bahwa menangis bukan berarti lemah. Menangis berarti kita sudah menjadi kuat untuk waktu yang lama. 

Ada yang bilang bahwa menyerah bukan berarti payah, melainkan berarti cukup kuat untuk menjadi ikhlas.

Mungkin sudah ratusan kali gue biarkan pemikiran-pemikiran liar itu menghantui otak gue. Namun ternyata lagi-lagi otak tidak sepemikiran dengan hati. 

Berkali-kali pula gue menanyakan kepada diri gue sendiri pertanyaan yang sama, yang pada dasarnya, gue sudah tau jawabannya. Mungkin secara tidak disadari, gue berharap suatu waktu jawaban yang ada bisa berubah, menjadi jawaban yang sesuai dengan harapan gue. 

Lo tahu, gue tahu, mereka tahu, semua tahu, cuma ada satu jalan yang bisa gue ambil. Ini semua cuma tentang kapan gue cukup berani untuk mengambil keputusan. 

Gue dihantui oleh berbagai keraguan dan ketakutan. 

Apa yang akan terjadi pada gue setelah gue membiarkan dia pergi?

Apakah dia akan baik-baik saja? 

Apakah dia akan memandang gue sebagai seseorang yang lain setelah gue membiarkan dia pergi?

Atau apakah justru nanti dia yang menjadi seseorang yang berbeda dengan yang gue kenal?

Apakah akan ada hati yang patah setelah semuanya berubah? Kalau ada, akan seberapa parah patahnya?

ah bacot, terlalu banyak keraguan. 

"Pokoknya I'm not letting go, Gus. Never." kata gue sejenak menggantung di udara. 

"Tapi dia punya mimpi, Vid." 

Gue ingin memeluk dia selama dan seerat mungkin selama gue masih bisa. Gue ingin mengucapkan "aku sayang kamu" sebanyak mungkin selama gue masih bisa. Gue ingin tertawa sebanyak mungkin bersama dia selama gue masih bisa. 

Padahal gue sudah tahu...
Seberapa banyak pun pelukan, "aku sayang kamu", dan tawa yang pernah ada di antara gue dan dia, tidak akan pernah cukup untuk membuat gue tidak merasa kehilangan dan menangis pada akhirnya. 

Biarlah, 
biar hanya aku dan rangkaian kata yang paham. 

Jumat, 31 Oktober 2014

Katak Malang dan Kadal Apes

Gue rasa beberapa hal di dunia ini memang tidak diciptakan untuk bisa dimengerti, tapi pasti hal tersebut punya jawaban dan penjelasan. 

Misalnya, kenapa di dunia ini ada berbagai jenis reptil dan katak? Apakah mereka menguntungkan kehidupan? Apakah umat manusia akan punah tanpa eksistensi katak dan kadal? Tidak kan? Lalu mengapa????? 

(gue fobia terhadap reptil & katak) 

Gue berada di dalam sebuah rumah, tapi gue tidak merasa seperti di dalam sebuah tempat tinggal. Gue merasa seperti gue sedang berdiri sendiri di sebuah hutan belantara entah berantah, gak tau harus kemana jika ingin pulang. 

Gue sangat merindukan rumah gue. Rumah dimana gue merasa gue boleh menjadi siapa pun yang gue suka, layaknya tanpa tekanan dari pihak mana pun. 

Rumah dimana gue merasa hangat dan aman, tanpa ancaman dan tanpa menjadi sebuah ancaman. 

Rumah dimana gue bisa menyenderkan kepala gue di atas sebuah bahu ketika gue merasa sangat lelah, bukan justru harus bertahan sendiri tanpa harus tahu kemana harus pegangan. 

Gue sering kali bertanya; Kenapa? 

Kenapa gue harus ada di tempat seperti ini? 

Kenapa gue harus menghadapi banyak orang yang susah untuk mendengarkan tapi selalu membentak untuk didengar?

Kenapa seekor kelinci yang mau disate jatuh cinta kepada seekor babi kecil? (#eits)

Kenapa harus berada di posisi dimana gue terancam dan menjadi ancaman? 

Kenapa gue tidak bisa menjadi gue yang dulu dan menjalankan hidup seperti dulu? 

Kenapa hidup harus dipenuhi dengan perubahan dan perpindahan? 

Kenapa? 

Namun, gak mahluk bumi yang bisa menjawab. Kenapa?

Karena beberapa hal di dunia ini memang diciptakan untuk tidak bisa dimengerti. 

Belakangan ini gue sering mengobrol bersama seorang rekan gue (sebut saja namanya Squidward) tentang drama dan problema yang gue alami, yang gue sendiri gak tau gimana cara menyelesaikannya. 

"Gue akuin aja, masalah lo gak ringan sob. Gue sendiri kalau jadi lo gak tau gimana cara nyelesainnya. Tapi apa pun yang lo alamin, lo gak pernah sendiri. Mungkin gue gak bisa bantu banyak, tapi gue janji gue bakal terus ingetin lo gak sendirian."

gue tertegun. 

"Tapi inget aja, Vid: momen dimana lo merasa sendiri, adalah momen dimana dia juga merasa sendiri. Sekuat apa pun seseorang, knowing that he is not alone will make him feel so much better."

Squidward benar. Gue tidak sendiri. 

Sudah berapa minggu (atau bulan) ini gue mengasingkan diri dari media sosial. Gue mematikan akun ask.fm. Gue menghapus aplkasi instagram, path, faceook, youtube, line, dan vine. 

Hal ini gue lakukan dengan tujuan menjauhkan diri dari banyak orang tertentu karna gue terlalu takut untuk menghadapi masalah-masalah lain yang pasti merepotkan. 

Mungkin benar, hidup adalah tentang perpindahan. Mungkin ini rumah gue yang baru. 

Gak tau juga kapan gue sukses beradaptasi dengan rumah baru gue. Mungkin semua sudah tidak seperti dulu, tapi sudahlah. Gak ada yang bisa gue lakukan juga. 

Call me hypocrite, but i seriously miss my old way of facing those life changes. 


Senin, 29 September 2014

Sepotong Origami di Bulan

"Vid, apa pandangan lo tentang hidup?" tanya Gusti memecah keheningan. 

"Anugerah... Tapi penuh seni. Warna-warni, tempo, gelap dan terang," jawab gue tanpa butuh waktu lama untuk berfikir panjang. Jawaban ini yang selalu gue lontarkan setiap ada yang menanyakan pandangan gue pada hidup. 

Karena cuma Gusti yang pernah nanya tentang pandangan gue pada hidup. 

Well, kalau lo juga seperti gue, percaya bahwa hidup itu kayak seni yang penuh warna dan penuh up dan down (dan cukup peduli dengan hidup gue...)

Gue benar-benar sedang ada di posisi paling bawah. 

A lot of things are getting much heavier here. A lot  of people left. I begin losing my hopes. Disappointments I've made and I make, the battle of my thoughts. Advice everywhere but guess what, sometimes, ADVICE ISN'T WHAT WE NEED. What we need is just a tight warm hug, and a shoulder to cry on. 

Sayangnya bahu-bahu andalan sedang tidak bersama gue,
atau tidak lagi bersama gue... 

Setiap yang datang seakan-akan datang untuk pergi lagi. Jujur aja, hal ini bikin gue kehilangan harapan dan kepercayaan.

Hal yang lebih buruk tentang itu adalah gak ada yang lo bisa lakukan buat bikin mereka semua kembali lagi bersama lo karna lo tahu, dengan mereka pergi... mungkin itu yang terbaik buat mereka. Mungkin. Yang lo bisa lakukan hanya berpasrah dan mencoba bertahan, tanpa ngerti harus pegangan kemana dan melangkah kemana. Menunggu orang lain datang, yang sebetulnya datang untuk pergi lagi.

Hidup adalah tentang perubahan dan perpindahan. Semua orang datang dan pergi. Sedihnya, cuma ada satu orang yang bisa tinggal bersama lo selamanya.

Diri lo sendiri. 

Di satu sisi lain, gue kehilangan banyak kepercayaan. 
Dan sayangnya, hari gini kepercayaan gak gampang buat dibangun lagi. 
Kita butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa percaya sama orang, dan hanya butuh waktu hitungan detik untuk kehilangan kepercayaan sama orang. 

Di satu sisi lain, ketika orang memandang gue dengan sudut pandang yang berbeda, semua yang gue lakukan gak akan lagi dianggap normal. Mau gue benar mau gue salah, tetep gak normal. Beda. Asing. 

Di satu sisi lain lagi, gue merasa seperti hidup dalam penjara. Gue bisa berkomunikasi dengan seseorang dari balik kaca, tanpa bisa berinteraksi dengan bebas. Dalam kata lain, gue mungkin dianggap seperti ancaman yang membahayakan. Sama kayak apa yang gue rasakan. Rasanya kayak ada dalam satu dunia kecil dimana gue gak bisa reach the other's mine to communicate. Its so so so trapped. 

Di satu sisi lain rasanya susah buat berani berharap, karna dari hati kecil gue takut bahwa suatu hari, harapan gue akan hancur berkeping-keping. Gue juga gak pengen orang lain berharap terlalu tinggi. Gue sangat menghargai kepercayaan kalian pada gue, tapi kadang kenyataan gak sesuai dengan harapan. Atau apa yang gue impikan, gak sesuai dengan apa yang mereka impikan. Kecewa itu ada. 

Di satu sisi lain, 

Di satu sisi yang lain lagi, 
di satu sisi yang lain lagi,
dan di sisi-sisi yang lain lagi. 

Terus gue harus ke sisi yang mana sekarang?

Sebetulnya gue bukan lagi pengen cerita soal masalah yang sedih-sedih. Gue justru ke sini buat menghibur diri supaya gue lupa dengan realita yang ada. 

Gue biasa menenangkan diri dengan melukis. 
Gue harus keluar kamar untuk ngambil air di keran air (karna gue melukis dengan cat air).Tapi...

Ini jam 2 pagi. Lampu di rumah gue udah dimatiin, dan gue terlalu cupu buat keluar kamar dan memberanikan diri nyalain lampu untuk mengambil air di keran. 

Oke. Jangan melukis malam ini.

Gue biasa menenangkan diri dengan bermain piano.
Tapi ini jam 2 pagi.
Pertama, gue terlalu cupu untuk keluar kamar, jalan dalam gelap,  terus nyalain lampu. Kedua, gue masih ingin hidup. Gue gak ingin dijadikan bbq oleh tetangga karna berisik hari gini. Ketiga, gue harus bergerak untuk main piano. Gue hanya ingin melakukan hal dengan tiduran. 

Bukan dengan jalan keluar kamar dengan berguling. #oke

Gue biasa menenangkan diri dengan tidur.
TIDUR ADALAH HAL TERBAIK SEPANJANG MASA (setelah sushi). Kalau orang lain ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan bekerja produktif, gue ingin tidur saja. Dengan tidur, gue seakan-akan bisa pergi dari kenyataan yang ada walau hanya untuk sementara. Kalau pun gue mimpi buruk dalam tidur... ya elah kan mimpi doang.

Gue gak tau ini bakat cuma gue yang punya, atau kalian juga punya (jadi ini bukan bakat)...
Gue bisa mengontrol mimpi.
Ketika mimpi gue buruk, gue akan membangunkan diri gue dari tidur. Gue akan memutuskan untuk tidur lagi, dengan cerita mimpi yang lebih menyenangkan. Gue mengatur alur cerita mimpi gue. 

GUE SERIUS GAK LAGI BECANDA.
LO BISA KAYAK GUE GAK???

Motto baru hidup gue adalah : "Selama saya bisa tidur, kenapa tidak??" 

Kalau gitu kenapa gue gak tidur sekarang?
Gue juga gak tau. 
Oke gue tidur. 

Cara lain menenangkan diri: curhat.
Tapi ini jam 2 pagi. 
Gue terlalu lelah untuk mencatat perasaan gue dalam buku harian.Jadi gue pake buku harian digital aja.

Oke serius. 
Gue sering menenangkan diri dengan menulis. That's why I'm here now. 

Apa yang gue ingin sampaikan di post blog kurang berbobot ini adalah gue rasa SUDAH CUKUP kita memperdulikan omongan orang yang sebenarnya gak membuat kita merasa lebih baik. 

Kadang yang perlu kita lakukan sangat sederhana. Lakukan apa yang kita suka dan apa yang kita merasa perlu lakukan. Selama itu gak berbahaya buat diri kita dan orang lain, kenapa harus meduliin mereka yang bersusah payah mematahkan semangat kita. 

Hidup adalah tentang pilihan dan resiko. 
Pilihan apa pun yang kita ambil, punya resikonya sendiri. 
Gue sendiri gak tahu pilihan dan resiko mana yang harus gue ambil.
Gue juga gak tahu sampai kapan gue harus bertahan, kemana gue harus pegangan, dan kemana gue harus melangkah...

Tapi yang pasti gue tahu kalau gue berhak melakukan apa pun yang gue suka (dan membuat gue merasa lebih baik) selama hal itu gak menyusahkan orang. 

Do what you like to, fellas!


And sleep. Its peaceful. 

Jumat, 26 September 2014

Semasam Mangga Setengah Matang (Bukan Dagang Buah Online)

Kondisi pada momen ini : terkulai lemas di sofa, di bawah sepoi-sepoi AC, sunyi, galau, gundah, madesu. 

Belakangan ini twitter menjadi mirip pemakaman. Timeline gue hanya berisi beberapa idola gue, beberapa account sok ngequote, dan beberapa account yang memberikan informasi tidak berguna (nama disensor). 

Tapi gue suka dengan kondisi twitter yang begini. Rasanya bebas merdeka, seakan-akan gak ada yang bakal membaca tweet gue, menyebar gosip, dan mengada-ngada cerita, atau menilai sesuatu yang bukan-bukan. 

Oke. Maaf. Terlalu terbawa emosi. 

Tapi gue serius. Gara-gara twitter semakin menyerupai pemakaman, gue semakin betah berkicau dalam dunia twitter. Bukan karena gue suka pemakaman, tapi karena gue merasa lebih mampu mengekspresikan apa yang gue rasakan dengan bebas, berasa diary. 

Padahal sih teman-teman lain tetap ngecek timeline & lihat tweets gue yang sangat madesu. 

Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak orang yang pergi. 

Semakin banyak orang yang pergi, semakin banyak harapan gue yang pupus dan patah entah berantah. 

Semakin gue menyadari betapa gue kehilangan harapan, semakin gue menyadari bahwa semua yang ada sekarang, sudah gak sama dengan apa yang ada dulu. 

Piglet pergi dan gak ada yang bisa gue lakuin selain pasrah, pasrah, dan pasrah. 

Gue LDR dengan belahan jiwa gue (bukan kekasih, tapi tetap belahan jiwa). It all was fucking easier than this. Tapi sekarang, gue harus menunggu berminggu-minggu, atau berbulan-bulan untuk bisa bertemu sang belahan jiwa. Sungguh, ini payah. Amat payah. 

Lo bisa membedakan mana orang yang sungguh-sungguh peduli, dan mana orang yang (no offense) belagak peduli. 

Lo menyadari bahwa seseorang peduli pada hidup lo ketika tanpa lo memancing, dia bisa melihat ada beban dalam pikiran lo hanya dengan melihat mimik dan tatapan lo. Dia akan mengingatkan lo bahwa lo gak sendirian, dan lo layak untuk sebuah cerita yang lebih indah. 

Sayang, sebentar lagi seseorang ini akan pergi, jauh-jauh dari gue. Entah kemana juga gue gak tahu pasti. Kalau pun gue tahu... 

itu gak akan membuat gue merasa lebih baik. 

Madesu. Madesu. Madesu. 

Gue sedang berperang melawan pikiran gue sendiri, dan gak tahu sampai kapan gue harus bertahan. Sendirian. 

Sabtu, 20 September 2014

Literally Diary

Have you ever missed something that you know you're not supposed to miss because you know that now matter how much or how hard you try, you can never ever get them back? I have. 

Entah gue yang terlalu melankolis, atau belakangan ini banyak hal mengingatkan gue pada bagaimana bahagianya gue beberapa bulan, atau mungkin setahun yang lalu. 

Belakangan ini banyak hal yang... agak berantakan. No, seriously. Berantakan banget. 

Mulai dari nilai gue yang kembali kacau (entah karena gue terlalu sering galau dan dilema, atau terlalu banyak tidur, atau terlalu sibuk sama banyak hal), kehilangan uang 50ribu (yang menurut gue, ini besar banget), sinus & asma kumat di momen yang sama (sumpah, jangan pernah kumat asma & sinus bersamaan. Udah sesek nafas, sakit kepala sampe pipi pula. Dasar takdir), bahkan sampe jadi bahan gosip yang cerita gosipnya gak sesuai fakta...

ga ququ ampyonk cung. 

Hari ini, gue berencana bertemu Aulia & Bella. Tapi sayang, kami gak jadi ketemu karena ternyata kami masing-masing ada acara. Padahal gue sudah kangen tak tertahankan lagi. 

Gue jadi teringat bagaimana dulu semuanya jauh lebih mudah dari sekarang. Gue dan Aulia belum terpisahkan oleh jarak. Kami bisa bertemu hampir setiap weekend, & gue bisa bicara kapanpun gue merasa perlu. Gue tidak perlu menunggu waktu lama untuk bertemu Aulia. 

Sayangnya sekarang semua udah beda. Aulia pindah ke daerah Jakarta & cukup jauh dari tempat tinggal gue dan Bella. 

Gue rasa saat gue dan Aul bertemu nanti, akan ada perbincangan yang meledak deh. 

Hari ini gue merayakan ulang tahun bokap. Sambil menghabiskan waktu setelah makan, gue berkeliling mencari CD musik. Gue mendapati sebuah DVD Robocop. 

Robocop... 

Gue ingat jelas bagaimana hari itu menjadi hari kencan pertama gue dalam sejarah hidup gue. Gue berpacaran dengan Piglet selama dua minggu, lalu kami pergi nonton bioskop bersama. Gue ingat jelas bagaimana Piglet menyuruh gue mengenakan sweater hitamnya karena gue kedinginan. 

Gue juga ingat baju apa yang Piglet kenakan hari itu. (oh god, I'm even still in love with you & your outfit that day now, Ham)

Gue juga ingat dimana gue & Piglet duduk saat nonton Robocop. 

Gue ingat bagaimana sebelum nonton kami makan siang sama-sama. 

Gue ingat bagaimana hari itu gue dan Piglet bertemu beberapa teman secara tidak sengaja. 

Gue ingat bagaimana malam itu juga, gue membiarkan Piglet mengenal gue lebih dalam, serta membiarkan Piglet melihat gue dan masa lalu gue. Bahkan pada sisi yang gelap. 

Gue ingat bagaimana gue kira hal itu akan membuat Piglet menjauhi gue, tapi ternyata perkiraan gue salah. Piglet tetap menggenggam tangan gue dan justru berjanji bahwa Piglet tidak akan pernah membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya. 

Ini fix banget setelah ini, gue akan beli DVD Robocop, nonton sendirian di kamar sambil gelap-gelap & nangis tersedu-sedu, padahal filmnya gak ada sedih-sedihnya sama sekali. 

Waktu kamu marahin aku, waktu kamu nyubit aku karna kamu gemes, waktu kamu mainin rambut aku sampai rambut aku berantakan kayak benang kusut, waktu aku nangis di bahu kamu, waktu kita sama-sama ketawain hal-hal kecil yang sebetulnya gak lucu, waktu kita baca diary bareng-bareng, waktu kita main ayam-ayaman, waktu kamu kasih aku surat warna-warni di dalam boneka monyet aku, waktu kita ngambek-ngambekan karna cemburu, dan semua waktu aku sama kamu lain yang pernah kita laluin...

aku kangen. 

#YAILAH 
#tapiserius 
#bete
#kesal
#maafya
#bukaninstagram 

namanya juga diary.

"I wish that I could wake up with amnesia and forget about those stupid little things. Like the way it felt to fall asleep next to you, and the memories I never can escape. I'm really not fine at all." 
 
Amnesia - 5 Seconds of Summer 



Senin, 08 September 2014

Satu Langit untuk Sejuta Air Mata

"Bumi itu luas, tapi dunia itu sempit..."

benar tidak, kawan-kawan? 

Oke serius. Gue & kalian hidup di dalam dunia dimana semua hal yang terjadi dalam hidup lo & gue (sebenarnya) sudah tercatat dalam sebuah (mungkin) buku catatan milik Tuhan. Semua hal udah dengan sangat rapih diatur dalam catatan itu. Jadi kita (human) seakan-akan sedang beraksi di atas panggung drama. We are directed based on what we believe, tapi kita tetap punya pilihan tentang peran apa yang akan kita mainkan & langkah apa yang selanjutnya akan kita tempuh. Takdir. 

Gue baru saja menghabiskan sekitar satu jam buat baca blog milik Piglet yang gue rasa, dia post blog itu sekitar 1 - 4 tahun yang lalu, waktu dia belum balik ke Indonesia. Blog kami gak jauh-jauh amat beda. Isinya semacam buku/BLOG harian, juga pelajaran yang kita dapat dalam hidup, atau bahkan pandangan kita tentang sesuatu. 

That's why, gue & Piglet seringkali berbagi tentang manis & pahit hidup. Dari titik paling tinggi dalam hidup gue, sampai titik paling jatuh & terinjak dalam hidup gue. Seperti apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Gue dan Piglet berada di 2 sisi bumi yang berbeda, ternyta sedang bersama-sama bertahan di tengah badai hidup. TANPA tahu kalau suatu hari, kita akan ketemu (apalagi pacaran). 

Hal ini membuat gue sadar bahwa: 

sesusah apapun kondisi yang gue alami, 
gue tidak sendirian. 
Bukan hanya karna (ternyata) di sisi bumi yang lain ada Piglet yang juga bertahan di atas perahu di tengah ombak,
tapi juga karena Tuhan tidak meninggalkan gue. 

Tapi satu hal yang membuat gue tercengang-cengang adalah; 

Dude, apapun yang sedang lo kerjain sekarang, berhenti, ambil waktu sejenak, dan look at how far we've gone from the past. 

Gue tidak suka memandang masa lalu yang bikin gue sedih & menyesal & galau & bimbang & whatever. Gue memandang masa lalu untuk menjadikan masa lalu gue sebagai pelajaran & alasan untuk bersyukur. 

Gue, Piglet, & banyak dari teman-teman pernah mengalami hal yang sulit dalam hidup. Bahan saat gue, Piglet, & teman-teman gak mengenal satu sama lain. So masalah & pikiran apa pun itu yang sedang lo alami sekarang, percayalah, lo gak sendirian. Ada gue, ada Piglet, dan ada banyak teman-teman yang sebenarnya ada/pernah ada dalam perahu yang lo naikin sekarang.

Waktu gue kelas 10 & masih galau tentang jurusan IPA atau IPS, guru sejarah gue memberikan tugas yakni, membuat timeline kehidupan. Tanpa disangka, timeline itu ternyata berguna juga untuk gue. Gue jadi punya pandangan tentang betapa gue sudah menjadi anak yang kuat selama belasan tahun ini, dan betapa gue sangat diberkati oleh Tuhan. 

r e w i n d 

sekitar 16 tahun yang lalu
Gue dilahirkan. Masih tanpa dosa. Gue udah gak inget gimana suasana waktu di rumah sakit sih...

sekitar 12 tahun yang lalu
Adik gue (Iyel) dilahirkan. Awalnya gue kira dia seperti malaikat, tapi ternyata gue salah. Dia adalah bocah yang merusak kebahagiaan gue. Tapi gak apa apa, gue akan tetap sayang, & mau hidup bersama bocah ini sampai akhir hayat gue. 

sekitar 11 tahun yang lalu
Gue merayakan ulang tahun ke-5 di Mcdonalds Cibubur. Kue ulang tahunnya warna pink, gambar minnie mouse, beli di Holland Bakery 1 jam sebelum acara. Keluarga & teman-teman yang gue kenal & tidak kenal berkumpul, bernyanyi, & makan ayam bersama. 

sekitar 10 tahun yang lalu
Gue masuk SD Marsudirini. Satu kelas bersama sahabat & tetangga terdekat gue, juga bersama sepupu gue, Timothy. Tas sekolah gue gambar Barbie warna pink, sepatu gue  Oshkosh warna hitam ada kupu-kupu warna pink. Ada apa dengan gue & warna pink. 

sekitar 6 tahun yang lalu 
Pertama kali membuat lagu. Lagunya tentang kehindahan alam (padahal gue gak ada cinta-cintanya sama alam), dibimbing oleh guru musik gue, Pak Frans. 

sekitar 5 tahun yang lalu
Lulus SD, masuk SMP di Global Mandiri tercinta. Akhirnya menggunakan seragam putih biru. Rok gue bertabrakan dengan kaos kaki gue. (Karena dulu gue masih patuh terhadap peraturan: rok dibawah lutut, kaos kaki 5 jari di atas mata kaki.) 
+ Bertemu Aulia & Bella, serta cinta monyet pertama. 

sekitar 4 tahun yang lalu
Gue tidak bisa ceritakan dengan rinci, tapi yang pasti gue sangat diberkati oleh Tuhan karna masih bisa ada di sini hingga sekarang. Kalian juga punya yang kayak gini kan? 

sekitar 2 tahun yang lalu 
Menikmati satu tahun terakhir di SMP dengan persiapan UN. Tambahan setiap hari, les matematika setiap jumat dan malam minggu, berhenti les piano karna munek. Lalu diakhiri dengan graduation, prom night, liburan ke Bali bersama teman-teman, galau karena tidak lolos SMA favorit. 

sekitar setahun yang lalu
Masuk SMA Global Mandiri. Pertama kali menggunakan seragam putih abu-abu. Datang telat pada hari pertama masuk SMA berasama Bella (karna kami tidak bersama Aulia lagi). Bertemu Piglet saat MOS, merasakan sekitar 1 bulan di kelas IPA, galau harus pilih IPA atau IPS, bertemu kawan-kawan yang.. gitu deh (nama genk: Lelah Sekolah). 

sekitar setengah tahun yang lalu
Kenal dekat dengan Piglet, PERTAMA KALI makan bersama, nonton film, dan jalan-jalan bersama Piglet (baca: first date). Pertama kali menjadi anggota band & tampil di mall & di tempat makan untuk cari uang. 

16 tahun ini tidak semudah yang gue ceritakan di blog ini, sama seperti tahun-tahun teman-teman yang mungkin sedang bersedih, atau berperang melawan pikirannya sendiri. Tapi satu hal yang gue ingin kita semua (termasuk gue) ingat adalah: 

Ketika lo berada dalam sebuah perahu, dan diterjang ombak, percayalah, lo tidak pernah sendirian kesusahan. Ada gue, ada Piglet, ada teman-teman lain yang mungkin kita sama-sama gak kenal. 

Kita udah bertahan sampe sini, di tempat ini, detik ini. Masa rela usaha kita sia-sia gitu aja? 

"Kalau kamu capek, kamu boleh kok istirahat dulu. Aku juga capek sih, tapi aku gak akan give up buat apa yang kita udah pertahankan. Give up doesn't exist in our dictionary, Vid." - Piglet.  

(Mazmur 23) 

Kamis, 10 Juli 2014

Tanpa Bintang

Sepi ya...
Di luar gak ada bintang. Cuma gelap, mendung, berawan. Gak beda jauh sama gue. 

Di luar gak hujan dan gak ada petir. 
Aneh ya. Gue merasa sekarang ini lagi hujan deras banget. 

And yes, welcome to my another night with some pieces of broken dreams. 

Pernah gak sih kangen sama seseorang sampai-sampai semua yang lo lakukan terasa berat? Bahkan hal-hal yang lo suka, terasa gak menyenangkan lagi? 

Sampai-sampai setiap lo tarik nafas, lo merasa ada yang aneh dalam dada lo. Lo gak sesak nafas, tapi lo ngerasa ada yang sakit. Lo bahkan gak bisa bernafas dengan tenang. 

Sampai-sampai lo merasa lo gak butuh makan, gak butuh tv, gak butuh komik, gak butuh lawakan, gak butuh... gak butuh semua yang sebetulnya lo suka, atau bahkan butuh. Lo merasa yang lo butuh cuma satu; kehadiran orang yang lo kangenin. 

Gue benci perpisahan. 

I push people away. Gue mendorong orang jauh-jauh dari hidup gue, untuk membuat gue merasa lebih buruk, lebih kesepian, lebih gak berguna. Supaya gue ngerasain semua susah gue sendirian tanpa butuh bantuan orang lain. Gue tau gue sombong. Tapi gue rasa, itu cara gue berlindung. 

Tapi bukan itu tujuan gue push Piglet away. Gue mau gue dan Piglet mengerti bahwa kita akan baik-baik saja walau pun gak bersama-sama lagi. Gue mau Piglet bahagia karna gue yakin, dia jauh dapat yang lebih layak dari apa yang mampu gue kasih. Gue gak bisa kasih apa yang Piglet butuh. Gue benci mengakui ini & jujur, gue gak ikhlas, tapi gue tahu seseorang lain di luar sana bisa kasih apa yanf Piglet butuh, yang gue gak mampu kasih; kepastian. 

Gue tutup mata gue, berharap siapa yang gue harapkan bakal gue datang setelah gue buka mata gue. Ternyata gue salah. Gue buka mata gue, dan ini yang gue dapet. Gue masih sendiri. Piglet gak ada di samping gue. 

Gue gak tau harus berharap apa. Gue gak ngerti apa yang sebetulnya gue butuh. Gue merasa harus kemana? 

Selasa, 08 Juli 2014

Gue dan Racun Black Mamba

Lo tau ular black mamba?
Itu ular kecil yang racunnya sangat-sangat berbahaya.
Ketika seseorang kena racun black mamba, dia bakal merasakan keram di bibir dan di ujung jari-jari tangan. Kemudian disundul dengan demam yang tinggi banget, terus kejang-kejang, terus mabok, terus koma. Kalau gak ketolong...
mati.

Sebetulnya gue tau ular black mamba dari channel apa tuh yang tentang binatang-binatang begonoan... Sumpah, dari gue pertama pasang indovisi#on, gue gak pernah nonton ini channel. Waktu itu gue kepaksa aja Piglet minta nonton ginian, gue jadi ikutan deh. Eh ternyata eh ternyata, lagi ngomongin black mamba.

Black mamba bukannya yang ngisi suara Kungfu Panda ya?
itu Jack Black.

Black mamba bukannya yang kata-katanya Syahrini ya? "Cetar Black mamba" itu kan?
Itu membahana.

Oke, cukup sekian intermesonya.

Belakangan ini, gue merasa hidup gue sangat berantakan. Mulai dari nilai rapot gue yang menurun drastis dan menggemparkan keluarga besar gue, putus sama sang kekasih, di-backstab anak alay dengan beragam fitnahan, di-bully sama sekelompok bayi-bayi, ngerusak laptop bokap yang gue pinjem karna laptop gue udah sekarat, kehabisan duit gara-gara kebanyakan beli komik Conan, gatel-gatel di badan karena alergi sama dingin, berat badan naik, dan drama-drama lainnya.

Rapot gue semester ini menggemparkan keluarga besar gue.
"Kenapa nilainya bisa turun sih? Katanya pengen lolos jalur undangan ke UI... Terlalu sibuk ya?" ujar mama gue setelah melihat hasil rapot gue. Namun apa daya, gue hanya bisa manyun sembari mengangkat bahu dengan pasrah.

Jujur aja, gue sendiri berduka banget liat rapot gue. Apa yang salah dengan gue??? Ini grafik kok turun amat??? Jadi bingung, ini grafik apa prosotan??? Apa yang telah gue perbuat??? Apa yang harus gue lakukan dengan mimpi-mimpi gue yang mulai patah??? Apa yang harus gue lakukan dengan masa depan gue??? APA??? JAWAB!!! APAAAAAA????????????????????????

#stress

Buruknya lagi, mama gue menceritakan hasil rapot gue yang menyedihkan ke bibi-bibi, paman-paman, dan sepupu-sepupu gue saat kumpul-kumpul keluarga. Kelihatannya sih mereka semua terkejut dengernya. Percayalah, tanpa lo mengucapkan kata-kata seperti; "KOK BISA SIH???" atau; "TERUS GIMANA DONG???" atau yang lebih parah; "KAMU PACARAN MULU SIH!!!" gue sudah cukup terkejut dan berduka.

Gue benar-benar berharap ini rapot jelek gue yang terakhir. Gue tidak ingin lagi-lagi mengecewakan diri gue sendiri, juga nyokap gue. Gue rasa nyokap gue menaruh harapan yang besar pada gue. Mama gue akan bersikap oke-oke aja soal rapot gue yang kurang bagus kayak tai, padahal dalam hatinya harapannya mulai patah. Galau gak jadi gue?

Putus sama sang kekasih
gimana ya...
mending biar asoy baca post gue di bawah: Sepucuk Air Mata dan Harapan

dramatis banget kan?

okay, next.

Di-backstab anak alay dengan beragam fitnahan
Ini gue agak gak ngerti kenapa bisa begini.
Pernah gak sih lo ketemu satu temen yang kesel sama seseorang yang lain. Entah jelas atau enggak alasan kenapa temen lo gak suka sama orang itu, tapi yang temen lo lakukan cuma ngomongin hal buruk tentang orang ini dari belakang ke banyak orang lain?

Gue yakin, sepolos-polosnya atau sebaik-baiknya orang yang kurang disukain, pasti ada alasan yang bikin dia gak disukain. Entah karena ternyata diam-diam orang ini suka ngupil gak liat sikon, atau karna orang ini suka makan bakso kuah pake tangan, atau mandiin kucingnya dengan menjilat, atau karna orang yang benci itu cemburu, atau salah sangka... entahlah, gue gak peduli apa alasannya, tapi gak mungkin seseorang gak disukain tanpa alasan.

Tapi sadar gak sih, manusia itu gak bicara dengan kode atau telepati atau radiasi antar otak. Manusia punya bahasa biar bisa bicara dengan jelas dalam berkomunikasi. Lo lapar, bicaralah. Lo pegel, bicaralah. Lo ngantuk, bicaralah. Lo butuh duit, bicaralah. Lo gak suka sama sesuatu, maka bicaralah.

Well, gue sendiri tidak selalu bicara terbuka ketika gue gak suka sama sesuatu. Kadang gue lebih suka memendamnya sendiri. Itu cara gue mengontrol emosi. Tapi dengan gue memendam, gue rasa gue tidak perlu mengumbar-ngumbar fitnah tentang hal yang gak gue suka, apa lagi dengan tujuan agar orang lain sepihak dengan gue.

GUE HARUS GIMANA?????
BISA GAK SIH LO DAN GUE BERKOMUNIKASI DENGAN NORMAL???

#DeritaJadiABG

Beruntung, gue hidup dikelilingi orang yang sangat berkepala dingin. Mereka selalu mengingatkan gue untuk tenang dan sabar menghadapi semuanya. Gue hanya perlu menjadi diri gue sendiri dan menikmati hal lain yang yang jauh lebih penting dan menyenangkan. Karena dendam termanis adalah dengan menjadi bahagia.

Oke, maafan ya?

Kucing gue (Jonah) meninggal dunia
Ada seekor kucing betina (Jonah) yang gue rasa hobinya bunting. Dia tidak pernah tidak bunting. Dia tinggal di sekitar rumah gue. Gue tidak terlalu memeliharanya. Tapi keluarga gue sering kali memberikan makanan untuk Jonah, karna kami kasihan.

Keluarga gue adalah pecinta kucing. Namun sayang, sekitar pertengahan tahun 2011, adik gue menderita alergi terhadap kucing. Dia bengek dan gatal-gatal. Kucing peliharaan kami waktu itu (Oggy) akhirnya kami titipkan di rumah teman gue yang dengan senang hati menerima, Revi. Kebetulan, keluarga Revi adalah keluarga pecinta binatang.

Semenjak itu, keluarga gue tidak pernah memelihara kucing dengan tulus lagi.

4 hari yang lalu, Jonah melahirkan anaknya yang ke... entahlah. Banyak deh pokoknya. Esok malamnya, bokap gue melihat Jonah sudah dalam keadaan... mengerikan. Gue gak sempat ketemu Jonah sih. Tapi bokap gue bilang, mulut Jonah sudah penuh darah dan menghitam. Mata dan hidungnya berair. Gue sendiri gak sanggup ngebayangin. Seram kan?

Mulai malam itu hingga malam ini, Jonah belum muncul lagi. Mama gue menyimpulkan:
Jonah telah tiada.

Gue jadi ingat...
Waktu itu, Aulia dan Bella bermain di rumah gue. Kami berpesta hingga larut malam (baca: curhat). Ketika mereka mau pulang, gue membuka pintu rumah. Di keset gue ada sisa daging dan tulang yang terlihat basah. Gue kira, itu sisa makanan Jonah. Namun setelah gue lihat lebih dekat...

Itu kodok hancur dibedah oleh Jonah.

Sumpah, ini gue merinding sendiri mengingatnya.
Gue sangat-sangat-sangat-sangat takut pada reptil dan kodok. Gue juga sangat takut pada hal yang berbau darah dan bedah-bedahan. Malam itu, amphibi & bedah-bedahan bergabung menjadi satu.

Gue juga jadi ingat...
Suatu hari, gue dan Piglet sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba Piglet melihat seekor kadal berjarak kurang lebih 2 meter di belakang kami. Piglet segera mengejar-ngejar kadalnya untuk ditangkap. Mencari aman, gue kabur dan ngambek abis-abisan pada Piglet.

Oke, kembali ke ular black mamba.

Ketika kita kena racun black mamba, kita akan mengalami keram, kejang, sesak nafas, bahkan mungkin koma, dan meninggal. Sebelum keadaannya memburuk, kita harus cepat-cepat ambil racun keluar dari tubuh kita, dan pakai penawar racun.

Sama seperti hidup gue yang lagi berantakan.
Gue mungkin kurang mengatur waktu dengan baik, gue kebanyakan galau, gue kebanyakan malas-malasan, sehingga nilai gue turun.

Gue mungkin pernah bersikap gak menyenangkan sama teman gue yang gue sendiri gak sadari, sehingga gue dikata-katain dan difitnah dari belakang.

Gue mungkin kurang menjaga Jonah dengan baik sehingga Jonah terlalu banyak dihamili, dan sekarat, dan meninggal...

Gue mungkin sering lupa bahwa apapun yang gue hadapi, Tuhan menjaga gue, sehingga gue sempat mengalami sedih berat setelah putus dengan Piglet.

Dan "Gue mungkin..." yang masih banyak lagi.

Masalah-masalah dalam hidup gue itu sama seperti racun black mamba. Sebelum keadaannya memburuk, gue harus buang racun-racun dalam hidup gue, dan pakai penawar racun, yakni dengan memaafkan masa lalu, bersikap ikhlas, dan kemauan untuk memperbaiki diri.

I'm sucking the poison out of my body.
I'm ready to take my crown back. 

Gue percaya setelah ini, sesuatu yang lebih baik akan datang.
Gue percaya kalau semua yang pernah terjadi dalam hidup gue, terjadi untuk sebuah alasan yang indah. Pasti Tuhan mau gue menjadi anak yang lebih baik dan lebih kuat.

Lo juga percaya kan?

Sepucuk Air Mata dan Harapan

Kalau gue harus mejawab jujur pertanyaan ini: "Lo baik-baik aja, Vid?"
Gue akan menjawab dengan: "Gak. Gue gak baik-baik aja. Gue sedang merasa buruk."

Seperti yang sudah gue jelaskan di post sebelumnya, gue sangat membenci perpisahan. Gue bahkan benci perpisahan dengan orang yang gue benci. Nanti siapa yang harus gue hina & menghina gue tak henti sampai-sampai bikin gue tenar? Gimana perpisahan dengan orang yang gue sayang.

Piglet.

Gue sangat menyayangi Piglet. Maafin aku ya om, tante, mami, papi, bibi, paman, teman-teman, saudara-saudari, nenek, cucu, adik, kakak, tapi gue sayang sama Piglet, dan gak ada yang bisa gue lakukan buat berhenti sayang sama Piglet. Kalau gue bisa juga udah gue bikin diri gue sendiri gak kenal Piglet. Tapi ya ini adanya; I love Piglet & nothing I can do about it.

Gue rasa gak bakal sulit buat nemuin orang yang ngerti alasan kenapa gue sayang sama Piglet.
Gue & Piglet adalah dua orang yang (dari jauh) kelihatannya sangat berbeda, gak punya kesamaan sama sekali.

Piglet adalah anak yang sangat atletis. Gengsi sih, tapi akuin aja. Badannya bagus. Dia rutin nge-gym, jago main basket, pernah mencintai football, makan di jam tertentu dan teratur, gak banyak nyemil. Sementara gue... kabur ke Mcd setiap bete, makan kentang goreng rasa keju sambil baca Conan atau majalah GoGirl, makan oreo dicelup susu sambil nonton film, tidur belasan jam setiap jumat, bersahabat dengan sofa dan tv, dan menjadi tumbal setiap pelajaran olahraga.

Gue adalah pecinta musik jazz dan groovy, sementara Piglet adalah pecinta musik hip-hop. Gue melakukan semua hal sambil bernyanyi. Gue mandi sambil nyanyi, makan sambil nyanyi, tidur sambil nyanyi, bahkan pingsan sambil nyanyi. Sementara Piglet, ngomong aja bisa fales. (Tapi Piglet bisa main gitar sih. Dia bahkan pernah jatuh cinta setengah mampus sama gitar. Tapi gue rasa dia sudah cukup move on dari gitar.)

Ketika lo berani-berani ngatain Piglet... percuma, dia gak bakal peduli sama omongan lo. Paling bantar nempel di hati semenit-dua menit, abis itu omongan lo melayang lagi kayak kutu. Beda sama gue. Lo berani-berani ngatain gue... gue bakal belagak kuat. Tapi lima menit kemudian, omongan lo nempel di hati gue dan gak cabut-cabut nyampe ratusan abad.

Tapi perbedaan itu gak bikin gue dan Piglet kehilangan harapan. Dengan perbedaan-perbedaan itu, gue dan Piglet melengkapi satu sama lain. Sederhana sih, cuma sebatas memotivasi gue untuk mau olahraga, atau memberikan rekomendasi lagu jazz bagus pada Piglet, atau mengingatkan Piglet untuk lebih peduli sama perasaan orang lain, atau mengingatkan gue untuk menjadi anak yang kuat dan gak membiarkan orang lain merobohkan gue dengan mudah.

Banyak teman yang menilai kami gak cocok. Banyak teman yang menilai bahwa seorang gue gak cocok dengan seorang kayak Piglet. Tapi maaf ya guys, gue rasa kalian salah. Kami suka perbedaan yang ada di antara kami. Kami bahagia dengan perbedaan kami.

Tapi satu perbedaan yang gak akan pernah bisa dipungkiri: keyakinan akan Tuhan.
Dan perbedaan itu yang membawa kami ke perpisahan.

Tapi semakin dalam gue mengenal Piglet, semakin gue sadar bahwa melihat Piglet bagaikan melihat bayangan diri gue sendiri dalam cermin. Gue beruntung dipertemukan dengan Piglet. Satu anak songong yang diam-diam sepemikiran dengan gue. Satu anak songong yang selalu mendukung pilihan gue. Satu anak jenius yang dibalik kesalnya, sabar bantuin gue belajar matematika. Satu anak jenius yang dibalik galaknya, mau mendengarkan semua keluh kesal gue.

Piglet adalah dia yang mengendap-ngendap ke dalam kelas gue, dan meletakan hadiah-hadiah manis di dalam tas gue. Piglet adalah dia yang mengirimkan surat-surat misterius warna-warni dengan kata-katanya yang sederhana, namun berarti buat gue. Piglet adalah dia yang menulis hal-hal manis yang dia pikirkan tentang gue. Piglet adalah dia yang memberikan novel kesukaannya pada gue ditambah dengan hidden messages. Piglet adalah dia yang tanpa gue meminta, dia mengerti kapan gue butuh dipeluk atau dibecandain.

Piglet mengajarkan gue banyak hal. Piglet membantu gue membangun harapan dalam hidup gue. Piglet buat gue percaya bahwa ketika gue bisa bermimpi, berarti gue bisa menjadikannya nyata, walaupun di satu sisi, gue harus bersikap realistis, namun tetap percaya pada diri gue. Sama seperti waktu gue mau ujian matematika. Gue merasa gak ada kemungkinan gue bisa mengerjakannya dengan hasil maksimal. Piglet memang gak mengatakannya secara langsung. Tapi dengan sabarnya Piglet, dia bantu gue menjadi lebih tenang & mau percaya sama diri gue sendiri. And he was right, I made it.

Piglet juga mengajarkan gue bahwa ketika gue senang, atau sakit, atau disakitin, gue gagal, gue kecewa, atau dikecewain, gue harus tetap bersyukur. Karna apa pun itu yang ada, hal itu ada karena Tuhan meyiapkan yang paling baik untuk gue. Dengan semua susah yang gue alamin, Tuhan sedang menjadikan gue anak yang lebih kuat. Tuhan menyayangi gue apa adanya dan Tuhan tidak pernah membenci apa yang dia buat. Sama seperti waktu...
rahasia kita ya, Ham?

Kadang gue mikir kapan gue bisa nemuin mahluk sejenis Piglet lagi. Piglet pernah bilang bahwa gue gak boleh berfikir kalau Piglet adalah satu-satunya karena suatu hari gue akan mendapatkan yang lebih baik. Gue percaya sama Piglet.

Mungkin dengan perpisahan ini, gue dan Piglet bisa sama-sama belajar bahwa kami akan baik-baik saja. Gak ada yang perlu kami takutkan. Mungkin juga dengan perpisahan ini, gue dan Piglet sama-sama makin mengerti tentang apa arti semua yang pernah terjadi sama gue dan Piglet.

Lo inget gak waktu Spongebob dan Patrick main permainan, namanya Believe?
Di permainan itu, kita menjatuhkan diri. Di belakang kita, ada satu partner yang standby. Soal kita selamat atau enggak... ya itu kita serahin sama partner kita. Yang perlu kita lakuin cuma percaya kok.

Kalau Piglet ajak gue main Believe...
gue mau kok.

Nanti ketika waktunya tiba gue dan Piglet bisa ketemu lagi, Piglet tidak akan menduduki posisi dalam hidup gue seperti Piglet yang dulu (baca: pacar gue). Tapi itu gak berarti gue melepaskan kepercayaan gue dari Piglet. Piglet akan tetap menjadi Piglet yang gue cari setiap gue bete, supaya gue bisa ngeluh sepuasnya tanpa dimusuhin. Gue akan tetap dengan senang hati menjaga Piglet.

I got lost in a jungle. I was alone. I was scared. The night came, and it made the jungle got so much more scarier. Then I met you. You got lost and alone, just like me. You couldn't bring me out of the jungle, and I couldn't bring you out from there too. But you were with me there, erasing my fear and turning the pale on my eyes into laughter. Well, maybe not getting out of the jungle could be cool too...

But here we are, finding the way to out of the jungle. 
But still, 
I'm not alone. I'm with you. 

Kayaknya gue typo deh.
Gue sama Piglet gak berpisah. Gue dan Piglet cuma...

bersama-sama belajar untuk menjadi lebih kuat.

Gue dan Piglet tidak berjuang untuk cinta seperti Jack berjuang untuk Rose. Gue dan Piglet berjuang melawan ego dan rasa takut dari diri kami sendiri.

Apapun yang akan gue hadapai ke depannya, gue siap. Gue percaya bahwa itu memang yang paling baik untuk gue dan Piglet, yang udah disiapin sama Tuhan. That adventure we had, was awesome. And I believe, we're gonna face the greater one after this. Jangan takut ya, tong. Ada gue kok.

Main Believe sama gue yuk, Ham?

[To: Muhammad Ilham Widiyantoko]

Jumat, 20 Juni 2014

Mendung di Bawah Matahari

Every hello ends with a goodbye. 

Entahlah, gue selalu benci perpisahan. Gimana kalo suatu hari gue kangen & butuh dia tapi dia gak bisa ada buat gue? Gimana kalo nanti dia nemuin yang lebih bagus dari gue terus gue dibuang gitu aja? Bahkan gue benci perpisahan dengan orang yang gue benci. Kalo orang yang gue benci pergi, nanti siapa yang gue hina-hina lagi? Nanti siapa yang ngomongin gue dari belakang & bikin gue tenar lagi? 

Intinya: gue benci perpisahan. 

Gue mengakhiri satu tahun gue di kelas 10 dengan sangat banyak perpisahan. Mulai dari pisah sama temen di kelas, pisah sama beberapa guru yang bikin gue nyaman banget belajar, pisah sama anaknya kucing gue yang hilang, pisah sama nilai-nilai indah (karna asli, rapot gue semester ini jelek banget... banget.), dan yang paling buruk, pisah dengan Piglet, a man I trust and I love the most. 

Jujur, baru 1 hari ngerasain liburan, gue sudah merasa kesepian. Parahnya, gara-gara kesepian sialan ini, pikiran gue jadi terbang kemana-mana. Mending kalo kemana-mananya yang bagus, ini kemana-mana yang buruk, yang bikin gue ngerasa lebih buruk. Jangan naif, siapa sih yang gak pernah kayak gini? 

Perpisahan bikin gue merasa seperti; Kenapa gue selalu ditinggal? Kenapa gue gak pernah bisa ninggalin sesuatu atau seseorang sampe bikin dia sedih seperti yang gue rasain sekarang? Entah gue terlalu kesel, atau sedih, atau marah, atau kecewa sama semuanya. Well, mungkin semuanya jadi satu. 

Perpisahan juga bikin gue kehilangan banyak kepercayaan. Kenapa gue harus ditinggalin di waktu dimana gue lagi down banget, like sky is falling on me

Gue terus-terusan bertanya-tanya; lo semua maunya apa sih? kemana? kenapa? gue gimana? 

Gue mencoba bicara dengan orang di sekitar gue. Tapi apa daya, perpisahan bikin gue berbicara tidak lagi dengan bahasa manusia. Mungkin gue terlalu buta & tuli untuk mengerti bahasa manusia. Apa yang gue dapat adalah: masalah gue gampangan, & gak seharusnya gue bikin susah. 

Kambing congek juga tau gak seharusnya gue bikin susah. Tapi gue sedih, tanpa kemauan gue untuk sedih. Kalau bisa juga gue bikin otak gue gak kenal sedih menghadapi perpisahan. I pretend like I'm the happiest kid on earth, then I see someone's real happiness & realized that I'm not happy, and I can't deny that. 

Satu lagi hal mengerikan dari perpisahan adalah gue dihantui dengan pertanyaan seperti;
Dia baik-baik saja gak ya sekarang? 
Apa dia pergi karna dia benci gue? 
Dia percaya gak ya kalau gue selalu sayang? 

Padahal gue sudah tau jawaban dari semua pertanyaan yang timbul di pikiran gue itu. Jawabannya adalah: dia baik-baik saja, dia pergi karna dia sayang sama gue & kita butuh yang lebih baik, dan dia percaya gue sayang. Gue gak lupa bilang kok. 

Intinya; Gue benci perpisahan. 

Seorang pendeta pernah bilang dalam khotbahnya, "Tidak ada yang menjanjikan bahwa semuanya akan mudah. Tapi Tuhan menjanjikan bahwa baik susah mau pun mudah, kamu akan baik-baik saja."

Jadi walau pun gue sedih + kesepian + marah + kecewa setengah mampus kayak sekarang, gue akan baik-baik saja? 

Terakhir gue merasakan hal kayak gini, semua berakhir dengan bahagia. Gue disadarkan bahwa itulah yang terbaik buat gue & buat orang yang meninggalkan gue. Dengan kita pisah, gue dapat yang lebih baik, begitu pula dia yang meninggalkan gue. 

Gue bakal ngalamin hal yang sama gak ya? 

Hal yang lebih buruk lagi: 
Mau sesusah apa pun kondisi gue sekarang, mau gak mau gue harus kuat buat nerima. Gue harus percaya kalau dengan kondisi gue sekarang, gue & Piglet akan mendapatkan yang lebih baik, walau pun mungkin butuh waktu.

Gue gak bisa berjuang dengan dramatis seperti Jack berjuang untuk Rose. 

Demi apa gak tau Jack & Rose. 
Makanya nonton Titanic. 

Oke lanjut. 
Gue tidak berjuang dengan menenggelamkan diri di lautan dingin & membiarkan orang yang gue sayang selamat di atas papan (padahal papannya bisa buat 2 orang. Rose nya aja maruk). Gue berjuang melawan ego gue sendiri. Gue berjuang dengan membiarkan ego gue tenggelam bersama buntelan kesedihan gue. Gue bertahan di tengah-tengah perang antara hati & otak gue. 

Dramatis. 

Tapi gue serius. 

Gak ada yang bisa bikin gue berhenti membenci perpisahan. Tapi selalu ada yang bisa ingetin gue kalau perpisahan terjadi untuk sebuah alasan yang indah. 

Jangan pergi jauh-jauh ya. 

Selasa, 15 April 2014

Empat Benih Kelapa

So.
Tepat 16 tahun yang lalu mahluk sejenis gue dilahirkan di dunia.
Siapa?
Emma Watson.

YA KELEUZ???

Oke serius. Gue. 16 tahun yang lalu gue dilahirkan di dunia ini. So what's with today?
Tell 'em that its my birthday.

#NowPlaying : Birthday - Selena Gomez

Well, gue sebenarnya tidak melakukan hal-hal heboh dan aneh hari ini (seperti apa yang gue lakukan tahun lalu bareng Aulia, Bella, dan kawan-kawan lainnya). Tapi hari ini, gue dipertemukan dengan banyak hal untuk disyukuri dan pelajaran hidup. Memang gak seheboh pelajaran hidup yang ada di film-film, tapi yang sederhana saja sudah berarti kok. Dan gue tidak akan membiarkan life lesson hanya untuk gue seorang diri.

Di satu sisi, ketika lo ulang tahun, that means you get older. Semakin lo bertambah usia, semakin lo tua. Semakin lo tua, semakin lo bertambah dewasa. Semakin lo bertambah dewasa, semakin beragam jenis tantangan hidup yang harus lo hadepin. Dan semakin beragam jenis tantangan hidup yang harus lo hadapin, semakin banyak kekuatan yang lo punya. 

Percaya gak percaya, yang baru saja mengingatkan gue akan hal itu adalah; Sinchan.

So di satu sisi gue (bersama orang-orang yang berulang tahun lainnya) pasti berbahagia. Man, ini sweet 16. My last two years before I get 18! Tapi di satu sisi... man, clock ticks, time is keep moving, and we can't stop that. We are getting older. But then; we are getting stronger.

Hari ini gue diingatkan mengenai bagaimana gue memaafkan masa lalu gue.
Gue gak mungkin menjelaskan kejadian apa yang baru saja terjadi, tapi lo akan menjadi seseorang yang sukses move on ketika lo tidak lagi menganggap masa lalu lo itu sebagai sederetan cobaan terkutuk yang pernah menimpa lo dan lo layak membencinya. Move on itu ketika lo memandang masa lalu lo itu sebagai pelajaran hidup yang bisa membuat lo menjadi lebih baik dan kuat menghadapi tantangan baru di lain waktu.

Jadi, bermaafan dengan masa lalu itu penting. Bagaimana pun, masa lalu itu pernah ada dan pernah berarti besar dalam hidup lo. Bahkan mungkin masa lalu lo itu yang membuat lo bisa bertahan sampai sekarang. Pengalaman adalah guru terbaik. Thanks, Sinc#an.

Gue juga diingatkan bahwa ketika gue merasa tertekan sendiri, seakan-akan gak ada lagi satupun mahluk di muka bumi ini yang inget kalo gue masih hidup, setidaknya PASTI ada satu yang ada di posisi sama dengan lo, atau selalu mengingat lo dalam hari-harinya, entah dia khawatir, kangen, atau bahkan mendoakan lo. Jadi pada dasarnya; kita tidak pernah sendirian. Thanks, Jubaidah. (Ngaku aja, lo kangen gue kan?)

Ketiga, gue diingatkan bahwa Tuhan mengirimkan beberapa malaikat tak bersayap untuk gue. Sadar atau gak sadar, mereka-mereka ini yang selalu ambil peran baik dalam kisah gue yang happy-happy, maupun sedih-sedih. Mungkin gue sering tidak sadar, but they're like angels. They stay, they don't leave, no matter what. Thanks to all of you, family, Aul, Bella, Joe, and other angels.

Keempat, gue diingatkan bahwa setiap ciptaan Tuhan layak dicintai. Gue rasa gak salah kalau seseorang bilang cinta itu butuh pengorbanan. Because love does, butuh pengorbanan. Tapi pengorbanan, itu punya banyak banget cara. Gue sendiri gak paham gimana gue bisa menjelaskan apa yang ada dalam benak gue, tapi yang pasti, cinta yang butuh pengorbanan itu normal. Sayang sama seseorang itu seperti kita nutup mata, terus kita menjatuhkan diri ke arah orang yang kita sayang. Entah orang itu akan menghindar, atau nangkep kita, atau bahkan neriakin kita untuk gak menjatuhan diri... entahlah. Love is such a complicated thing to understand, but that"s what makes love is lovely.

Di tengah-tengah lamunan gue hari ini, sering kali gue teringat akan masa lalu gue. Mulai dari jaman gue masih belum sekolah, bikin tas derek pake troley belanjaan mainan yang diikat dengan tali rafia, dikejer-kejer satpam waktu TK gara-gara kabur, menganggap softex sebagai benda keramat waktu SD, jaman-jamannya High School Musical (yang gak tau Troy Bolton bearti cupu), masuk SMP, patah hati, jatuh hati, masuk SMA...

Hidup itu terlalu penuh dengan keajaiban.
Kita sebagai kapten, hidup gue sebagai pesawat, dan dunia, sebagai langit. We are the captain of our plane. Kita yang ambil alih, biarin Tuhan yang pegang semua itu.

Thank God for these magical 16 years, awesome angels around me, and cool dramas I play in life.
You guys are gr-ool (GReat and cOOL).

Jumat, 07 Maret 2014

Guru Kera & Teknologi

Gue sedang agak terhibur karena sekarang hp gue punya aplikasi blogger jadi gue bisa ngeblog dengan lebih mudah. Dasar gue dodol. Kenapa gak dari dulu gue instal blogger? 

Beberapa hari yang lalu, gue belajar sosiologi. Sambil bercakap-cakap dengan gurunya (Mr. Heri), dia membicarakan tentang bagaimana seseorang berubah. 

"Pada dasarnya, seseorang itu tidak akan pernah berubah. Sadar atau tidak, sebenarnya diri kita sendirilah yang merubah." 

Gue terdiam. 
Setelah sekian lama....
Gue akhirnya menemukan orang yang sepemikiran dengan gue. 

"Iya kan?" tanya guru tersebut sambil menengok ke arah gue. Gue hanya mengangguk sembari tersenyum. Iya kok, Sir. Iya banget...

Hidup gue adalah seperti sederetan momen dengan pelajaran hidup di setiap detiknya. Baik dalam hal senang, mau pun sedih. Baik dalam hal besar, mau pun hal yang sangat sederhana. Pagi ini, gue ingin sharing apa yang telah gue pelajari mengenai: Perubahan. 

Sering gak sih kita ngalamin perasaan seakan-akan seseorang itu berubah? 

Misalnya: Taylor Lautner tuh kenapa ya? Kok kayaknya dia berubah... Gak seperti yang gue kenal dulu. 

Itu sih emang Taylor udah gak demen sama lo. Taylor buat gue. 

Oke lanjut. 

Atau dalam kasus lain, ada beberapa dari kita yang punya motivasi untuk merubah karakter seseorang, supaya dia jadi lebih sesuai dengan harapan kita? 

Gue pernah ngalamin itu semua. (Which is kita semua pasti pernah) 

Benar apa yang Mr. Heri katakan. 
Pada dasarnya, seseorang itu tidak akan pernah berubah. Melainkan, diri kita sendiri yang merubah. Entah karna sudut pandang kita pada orang itu yang berubah, atau karna memang posisi kita untuk orang itu berubah. 

Seseorang pernah mengatakan pada gue bahwa gue berubah. Dia menginginkan gue yang dulu, & dia bilang harusnya gue kembali berubah. 

Ketika kita berfikir bahwa seseorang itu berubah, ada baiknya kita ngeliat diri kita sendiri. Kalau pun dia berubah, pasti dia berubah karna sebuah alasan kan? Baik alasan yang dia sadari, atau pun tidak. 

Dan cara paling ampuh agar dia tidak berubah adalah: jangan ganti pandangan lo pada dia, dan dia akan tetap sama. Dia hanya sesuai dengan pandangan lo akan dia. 

Kita mungkin pernah termotivasi untuk merubah seseorang agar dia jadi lebih baik, dalam kata lain agar dia sesuai dengan harapan kita. Well, itu gak akan pernah berjalan sukses. Kalau kita terus-terusan mengandalkan orang lain untuk berubah, yang ada justru kita malah tertekan. Setuju gak nih? 

Tapi...
Kita bisa merubah pandangan orang lain pada kita, dengan cara merubah pandangan kita pada orang tersebut. 

Spongebob menganggap Patrick adalah bintang laut otak kopong yang egois & cuma bisa nyusahin orang. Kemudian Spongebob merubah pandangannya akan Patrick. Spongebob mulai sadar bahwa dibalik kekopongan otak & egonya, Patrick adalah bintang laut yang sangat tegar. Patrick sudah mengalami banyak tekanan dalam hidup, tapi Patrick masih bertahan. 

Karena pandangan Spongebob yang berubah, perlakuan Spongebob pada Patrick secara tidak langsung berubah. Dan perubahan Spongebob tersebut, merubah pandangan Patrick akan Spongebob. Patrick memandang Spongebob seperti orang yang mengingatkan dia bahwa tidak semua hal  di dunia ini diciptakan sebagai tekanan. 

Begitu analoginya. 

So, people change, and that's normal I guess. Hidup akan selalu penuh dengan perbahan. Dengan perubahan-perubahan itu kita bisa paham di posisi manakah diri kita paling merasa nyaman. 

Berdasarkan toeri Darwin, nenek moyang kita adalah Pithecantropus erectus dan kawan-kawannya. Manusia kera berjalan tegak yang monyong & kepalanya besar. Tapi sekarang, kita modern human. Perubahan itu bikin kita menjadi lebih indah sekarang. 

Empat Rabi Jenaka

Gue hidup bersama banyak orang yang... mungkin otaknya sedikit sengklek seperti otak gue. 4 di antara mereka adalah; Iyo, Cika (@chikaanzalna), Marsha (@marshakanya), dan Zhafira (@zhafirasyachmi).

Mereka adalah 4 dari orang-orang yang membuat gue lupa akan kesedihan gue sementara. Mereka adalah pembakar kalori paling manjur dalam hidup gue. Baik dengan becandaanya mereka, tingkahnya mereka, atau cerita pengalaman mereka. Kadang mereka bikin gue mikir kalo... oh ternyata gue apes di dunia ini tidak sendirian.

Gue ingat suatu siang gue sedang pelajaran lintas minat paksa kimia, lalu kami membicarakan tentang susu sapi.
"Susu sapi bisa diminum langsung dari sapinya, sir?" tanya gue dengan pikiran agak sakau.
"Bisa sih, Vid. Tapi emangnya lo mau? Bayangin aja, tetek sapinya habis diremes-remes sama tangan mang-mangnya. Tangan mangnya kotor dan bau. Hii gue sih jijik" kata Cika sambil memeragakan gaya memeras.

Semenjak itu gue ilfeel liat sapi betina.

Gue juga jadi ingat ketika suatu hari gue berjalan dari kantin bareng Iyo. Karna habis makan, tangan Iyo kotor. Di tengan-tengan obrolan gue dengan Iyo, tiba-tiba Iyo menghampiri anak SD, naro tangan di punggung anak itu & bilang, "kemeja kamu lucu banget sih!". Artinya: iyo meret.

Gue ingat ketika suatu hari gue bersama Marsha dan Zhafira berjalan sambil ketawa-ketiwi ke ruang musik, mau jam pelajaran musik. Saat mau masuk, Marsha mendengar ada suara geduk-geduk drum. Menurutnya, bunyi itu mengganggu. Jadi Marsha dengan sewotnya buka pintu ruang musik & teriak, "IHH BERISIK TAU!!!"

Ternyata saat itu guru musik gue yang lagi main drum.

"Vid, lo siap first kiss gak?" tanya salah satu dari mereka suatu siang.
"Tau dah, siap kali" jawab gue peduli tidak peduli. Kami sempat mendiskuskannya, tapi waktu itu gue pikir itu gak penting dan mereka gak bakal menanggapi serius-serius amat. 

Suatu siang menjelang sore, gue sedang duduk di samping lapangan basket, nungguin Piglet latihan. Saat itu, Cika, Iyo, dan Marsha sedang ada di dekat situ, tapi gue gak lagi ngobrol sama mereka-mereke.

Piglet berlari ke arah gue, dan langsung duduk depan gue, berhadapan dengan gue. Di tengah-tengah kami yang mengobrol, tiba-tiba ada sebatang lipbalm jatuh di depan gue & depan Piglet. Seakan-akan lipbalmnya jatuh dari langit. Siapa lagi jika bukan Cika dan Iyo yang melemparkan lipbalm. Gue hanya bisa tersenyum malu sementara Piglet cekikikan menertawakan gue.

Suatu hari yang lain, gue dan Piglet mengobrol di depan kelas. Tiba-tiba Cika datang dan memberikan gue sesuatu. Karna gue sedang fokus pada Piglet, gue ambil saja barang Cika tersebut. Beberapa detik kemudian, gue sadar kalau yang Cika taro di tangan gue adalah... lipbalm. Lipbalm lagi.

Sampe sekarang, lipbalm-lipbalm itu masih sering kali tiba-tiba bertebaran dalam hari gue.

Cika memang expert dalam hal gituan.

Sadar atau tidak, mereka mengajarkan gue bahwa kadang gue harus berhenti menganggap hidup gue terlalu serius. Gue layak lepas dari berbagai stres. Gue berhak menertawakan setiap hal kecil dalam hidup gue. (Karna hal apa aja bisa kami tertawakan) Bukan berarti gue berhenti fight untuk kesuksesan gue. Gue hanya perlu... ingat bahwa di dunia ini banyak hal bodoh dan konyol yang ada untuk ditertawakan.

#SalamOtakSengklek

Gue dan Piglet

Setelah sekian lama gue gak ngeblog...

AKHIRNYA GUE BISA NGEBLOG LAGI. (which is h-2 mid semester)
Gue sendiri gak nyangka bakal sesibuk ini. Gak bisa setiap hari lagi nyantai-nyantai because tugas ini itu numpuk udah kayak perasaan yang dipendam berbulan-bulan. #ok

Jangankan buat ngeblog, buat ngelakuin kegiatan di luar sekolah aja udah seret kayak skinny jeans, gimana buat bisa bersantai ria begini?

Oke sebetulnya gue bener-bener gak tau harus mulai dari mana. TOO MANY THINGS HAPPENED IN MY DAYS THAT I HAVEN'T WRITTEN ON MY FREAKY DIARY.

*mikir mulai dari mana harus nulis*

Oh gue tau. Kita mulai dari sini aja:
Gue move on. 

Gue pernah bilag bahwa hidup dan moving on itu seperti kita yang menjadi seorang kapten pesawat. Kita jadi kaptennya, pesawat jadi hidup kita, dan dunia jadi langitnya. Kita bebas bawa pesawat kita kemana saja di langit luas, tanpa batasan. Ketika kita salah jalan, well, tenang aja karna langit itu luas & sejauh apa pun kita tersesat, kita masih di langit. Namun ada saatnya kita perlu berhenti sejenak mengisi bahan bakar (baca: mengisi hati kita yang mungkin kosong). Di fase inilah gue berada.

Pernah gak sih lo ketemu seseorang yang ketika lo melihat dia, lo seakan-akan melihat bayangan diri lo sendiri? Rasanya kayak ada sesuatu yang bikin lo dan dia connected. Lo sendiri pada awalnya tidak mengerti kenapa bisa gitu, tapi seiring berjalannya waktu, jembatan penghubung jiwa lo dan jiwa dia makin kuat?

Gue pernah.

Namanya...
Gue udah bener-bener kehabisan kata-kata buat ngasih nama orang lagi di blog gue.
Oke, kita panggil dia Andrew Garfield.

GAK. TERLALU KEREN.
Kita panggil dia... Piglet.

Gue ingat jelas pertama kali gue ketemu Piglet. MOS, Juli 2013.
Gue gak menceritakan bagaimana pertama kali gue melihat Piglet. Tapi hari itu, gue yakin gue melihat ada sesuatu dari diri Piglet yang membuat gue merasa... harapan itu ada. (Baca: charming guy)

80% dari hari-hari gue bersama Piglet adalah ketawa. Why? Because Piglet adalah laki-laki dengan gaya yang selangit, padahal ternyata orangnya... maco kok, maco (gitu lah ya).

Piglet adalah anak pindahan dari Texas yang balik ke kampung halaman (which is Indonesia) setelah tinggal 3 tahun di sono. So, dia menghabiskan masa dimana kata-kata keren muncul, yakni saat kita SMP.

Misal:

"Glet, kamu pernah ke KidZania gak?"
"Gak sih, tapi aku tau KidZania kok. Yang kayak Timezone itu kan?"

Gue pun pingsan.

"Itu PHP namanya..."
"PHP apaan sih? Pizza Hut Pelipery?"

Gue pun koma.

Secara tidak langsung, Piglet mengajarkan gue bahwa kita sebetulnya bisa merasakan sayang melalui kesederhanaan. Dia juga mengajarkan gue bahwa tantangan itu pasti ada & lagi nungguin kita di depan. Tapi kalo kita terus-terusan takut, gimana kita bisa bahagia dengan apa yang kita punya?

Piglet juga mengajarkan gue bahwa kadang gue harus percaya pada diri gue sendiri. Gue tidak bisa terus-terus menggantungkan diri gue pada perkataan orang lain. Orang lain juga manusia, omongannya gak akan 100% benar. Mereka ada agar gue befikir matang, bukan agar gue tidak percaya pada keyakinan gue.

Believe, and you're gonna have a magical day.

I'm glad Piglet came.
I thank God for the coming of Piglet in my life.

Lesson of the day:
Ketika lo berfikir bahwa seseorang itu charming... JANGAN LOSE HOPE. JANGAN.
Ketika lo bisa bermimpi akan sesuatu, maka sebenarnya sesuatu itu MUNGKIN SAJA TERJADI. Gue pernah ada di posisi dimana gue adalah Peter Parker, dan Piglet adalah Marry Jane. Yang perlu Peter lakukan hanyalah tetap menjadi dirinya sendiri, dan berharap agar sesuatu yang paling baik terjadi.

Ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, percayalah berarti kita mendapatkan yang terbaik. Ketika harapan datang, genggam dan jangan lepaskan begitu saja hanya karena waktu yang tak pendek. 

(p.s: Selamat tanggal 7<3)

Senin, 13 Januari 2014

Efek Stetoskop

Hai.

Ea sok cool.

HAAAAAAI!! OMG SETELAH SEKIAN LAMA AKHIRNYA GUE BISA BUKA BLOG LAGI. 

Oke, kali ini, gue beneran sibuk banget. Saking sibuknya, sampe-sampe gak bisa nyempetin diri buka blog. Gue punya banyaak banget hal buat dicatet di sini. Sayangnya, waktu gue gak banyak. Ini udah pagi & gue butuh tidur. Yeay!

Why am I still awake? Because gue baru saja selesai mengerjakan tugas chemistry, satu pelajaran lintas minat paksa yang terpaksa gue pilih karna ternyata, kita gak bisa ambil pelajaran IPA yang kita udah pilih di semester sebelumnya. Sedih...

Gue agak bersyukur gue memutuskan untuk pindah dari IPA (of course berkat Tuhan YME serta dukungan keluarga, teman-teman, guru-guru... oke ini udah kayak orang baru release album). Kenapa? Karena waktu itu gue sempat agak ingin stay di jurusan IPA karena bokap gue menyarankan gue untuk masuk sekolah kedokteran di kuliah nanti.

NAH, tugas chemistry yang baru aja kelar gue kerjain ini, disuruh mencari artikel tentang penerapan chemistry in health and medicine. Baru ngeliat foto stetoskop aja, gue udah mau pingsan (lo taukan gue cuma becanda?).

Gue gak lagi pengen cerita panjang lebar di momen ini.

Dari hari terakhir gue ngepost di blog hingga hari detik ini, sudah banyak sekali hal yang berubah. Gue sih paham. Hidup itu penuh dengan ups & down, juga penuh dengan perubahan. Dan nggak ada satu pun orang yang bisa kita salahin untuk perubahan-perubahan yang ada dalam hidup kita. Karna semua hal itu benar-benar indah pada waktunya...

Misalnya;

  1. Kalau dulu gue suka banget sama warna biru dan hitam, sekarang sudah tidak. Sekarang gue menyukai warna hijau, pink, kuning, biru, dan hitam. Aneh...
  2. Kucing gue, Jonah, udah hamil lagi. Mungkin ini ke-lima kalinya dia hamil. Padahal dia masih muda. Tapi kesiapan kehamilannya jauh lebih dewasa dari gue ya...
  3. Mama Iki (please read my older post to know what who is Mama Iki) udah gak rutin dateng setiap hari ke rumah gue. Sekarang hanya datang di hari tertentu gara-gara... I'll tell you later. 
  4. PAPA IKI SEKARANG BOTAK. 
  5. Dan masih sangat banyak perubahan lain. 
Lesson to learn; Perubahan itu normal dan baik-baik saja, tentunya asal ke arah yang baik dan tanpa ada penyimpangan. Manusia yang berubah itu normal. Bayangin, gimana kita bisa tahu rasanya jadi sesuatu yang lain kalau kita gak pernah mencobanya dengan berani merubah & ambil resiko? 


Lesson to learn; Belakangan ini gue belajar kalau happy things come unexpectedly, atau bisa dibilang sesuatu indah tepat pada waktu yang indah. Oke. Jadi waktu yang indah, itu unexpected? Bener juga sih. Siapa sih yang tau hal indah yang akan datang selain Tuhan? Yang kita perlu lakuin itu cuma usaha, berharap, pasrah sama Tuhan, & bersabar. Kalau kesampean ya syukur-alhamdulilah-haleluya, kalau gak kesampean ya... God is preparing the better one for you.

Jadi, kalau misalnya seseorang yang lo pernah suka (A) secara tiba-tiba datang ketika lo udah move on ke orang lain (B) (padahal lo move on-nya dari A karna A gak pernah merespon lo), berarti itulah yang paling indah. Mungkin lo seharusnya abaikan saja si A karna A datang di saat itu supaya tau rasa gimana rasanya tidak direspon.

oke itu agak pusing bacanya.

Lesson to learn; "Seburuk-buruknya hal, pasti akan datang hal baik setelah itu. Misalnya, kemaren gue disuruh ikut pergi sama nyokap. Pulangnya malem banget, padahal besoknya ulangan biologi. Gue udah panik tuh, Vid. Gue langsung aja berdoa sama Allah. Eh, besoknya ulangan biologinya di-cancel. Blessed banget kan? Jadi, yang perlu kita lakuin cuma bersabar dan bersabar kok, Vid!" -Jubaidah Bin Hon-Hon.

Lesson to learn; "Semua yang diciptakan oleh Tuhan itu indah dan layak dicintai." -Siapa ya? Siapa hayo?
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review