Selasa, 08 Juli 2014

Sepucuk Air Mata dan Harapan

Kalau gue harus mejawab jujur pertanyaan ini: "Lo baik-baik aja, Vid?"
Gue akan menjawab dengan: "Gak. Gue gak baik-baik aja. Gue sedang merasa buruk."

Seperti yang sudah gue jelaskan di post sebelumnya, gue sangat membenci perpisahan. Gue bahkan benci perpisahan dengan orang yang gue benci. Nanti siapa yang harus gue hina & menghina gue tak henti sampai-sampai bikin gue tenar? Gimana perpisahan dengan orang yang gue sayang.

Piglet.

Gue sangat menyayangi Piglet. Maafin aku ya om, tante, mami, papi, bibi, paman, teman-teman, saudara-saudari, nenek, cucu, adik, kakak, tapi gue sayang sama Piglet, dan gak ada yang bisa gue lakukan buat berhenti sayang sama Piglet. Kalau gue bisa juga udah gue bikin diri gue sendiri gak kenal Piglet. Tapi ya ini adanya; I love Piglet & nothing I can do about it.

Gue rasa gak bakal sulit buat nemuin orang yang ngerti alasan kenapa gue sayang sama Piglet.
Gue & Piglet adalah dua orang yang (dari jauh) kelihatannya sangat berbeda, gak punya kesamaan sama sekali.

Piglet adalah anak yang sangat atletis. Gengsi sih, tapi akuin aja. Badannya bagus. Dia rutin nge-gym, jago main basket, pernah mencintai football, makan di jam tertentu dan teratur, gak banyak nyemil. Sementara gue... kabur ke Mcd setiap bete, makan kentang goreng rasa keju sambil baca Conan atau majalah GoGirl, makan oreo dicelup susu sambil nonton film, tidur belasan jam setiap jumat, bersahabat dengan sofa dan tv, dan menjadi tumbal setiap pelajaran olahraga.

Gue adalah pecinta musik jazz dan groovy, sementara Piglet adalah pecinta musik hip-hop. Gue melakukan semua hal sambil bernyanyi. Gue mandi sambil nyanyi, makan sambil nyanyi, tidur sambil nyanyi, bahkan pingsan sambil nyanyi. Sementara Piglet, ngomong aja bisa fales. (Tapi Piglet bisa main gitar sih. Dia bahkan pernah jatuh cinta setengah mampus sama gitar. Tapi gue rasa dia sudah cukup move on dari gitar.)

Ketika lo berani-berani ngatain Piglet... percuma, dia gak bakal peduli sama omongan lo. Paling bantar nempel di hati semenit-dua menit, abis itu omongan lo melayang lagi kayak kutu. Beda sama gue. Lo berani-berani ngatain gue... gue bakal belagak kuat. Tapi lima menit kemudian, omongan lo nempel di hati gue dan gak cabut-cabut nyampe ratusan abad.

Tapi perbedaan itu gak bikin gue dan Piglet kehilangan harapan. Dengan perbedaan-perbedaan itu, gue dan Piglet melengkapi satu sama lain. Sederhana sih, cuma sebatas memotivasi gue untuk mau olahraga, atau memberikan rekomendasi lagu jazz bagus pada Piglet, atau mengingatkan Piglet untuk lebih peduli sama perasaan orang lain, atau mengingatkan gue untuk menjadi anak yang kuat dan gak membiarkan orang lain merobohkan gue dengan mudah.

Banyak teman yang menilai kami gak cocok. Banyak teman yang menilai bahwa seorang gue gak cocok dengan seorang kayak Piglet. Tapi maaf ya guys, gue rasa kalian salah. Kami suka perbedaan yang ada di antara kami. Kami bahagia dengan perbedaan kami.

Tapi satu perbedaan yang gak akan pernah bisa dipungkiri: keyakinan akan Tuhan.
Dan perbedaan itu yang membawa kami ke perpisahan.

Tapi semakin dalam gue mengenal Piglet, semakin gue sadar bahwa melihat Piglet bagaikan melihat bayangan diri gue sendiri dalam cermin. Gue beruntung dipertemukan dengan Piglet. Satu anak songong yang diam-diam sepemikiran dengan gue. Satu anak songong yang selalu mendukung pilihan gue. Satu anak jenius yang dibalik kesalnya, sabar bantuin gue belajar matematika. Satu anak jenius yang dibalik galaknya, mau mendengarkan semua keluh kesal gue.

Piglet adalah dia yang mengendap-ngendap ke dalam kelas gue, dan meletakan hadiah-hadiah manis di dalam tas gue. Piglet adalah dia yang mengirimkan surat-surat misterius warna-warni dengan kata-katanya yang sederhana, namun berarti buat gue. Piglet adalah dia yang menulis hal-hal manis yang dia pikirkan tentang gue. Piglet adalah dia yang memberikan novel kesukaannya pada gue ditambah dengan hidden messages. Piglet adalah dia yang tanpa gue meminta, dia mengerti kapan gue butuh dipeluk atau dibecandain.

Piglet mengajarkan gue banyak hal. Piglet membantu gue membangun harapan dalam hidup gue. Piglet buat gue percaya bahwa ketika gue bisa bermimpi, berarti gue bisa menjadikannya nyata, walaupun di satu sisi, gue harus bersikap realistis, namun tetap percaya pada diri gue. Sama seperti waktu gue mau ujian matematika. Gue merasa gak ada kemungkinan gue bisa mengerjakannya dengan hasil maksimal. Piglet memang gak mengatakannya secara langsung. Tapi dengan sabarnya Piglet, dia bantu gue menjadi lebih tenang & mau percaya sama diri gue sendiri. And he was right, I made it.

Piglet juga mengajarkan gue bahwa ketika gue senang, atau sakit, atau disakitin, gue gagal, gue kecewa, atau dikecewain, gue harus tetap bersyukur. Karna apa pun itu yang ada, hal itu ada karena Tuhan meyiapkan yang paling baik untuk gue. Dengan semua susah yang gue alamin, Tuhan sedang menjadikan gue anak yang lebih kuat. Tuhan menyayangi gue apa adanya dan Tuhan tidak pernah membenci apa yang dia buat. Sama seperti waktu...
rahasia kita ya, Ham?

Kadang gue mikir kapan gue bisa nemuin mahluk sejenis Piglet lagi. Piglet pernah bilang bahwa gue gak boleh berfikir kalau Piglet adalah satu-satunya karena suatu hari gue akan mendapatkan yang lebih baik. Gue percaya sama Piglet.

Mungkin dengan perpisahan ini, gue dan Piglet bisa sama-sama belajar bahwa kami akan baik-baik saja. Gak ada yang perlu kami takutkan. Mungkin juga dengan perpisahan ini, gue dan Piglet sama-sama makin mengerti tentang apa arti semua yang pernah terjadi sama gue dan Piglet.

Lo inget gak waktu Spongebob dan Patrick main permainan, namanya Believe?
Di permainan itu, kita menjatuhkan diri. Di belakang kita, ada satu partner yang standby. Soal kita selamat atau enggak... ya itu kita serahin sama partner kita. Yang perlu kita lakuin cuma percaya kok.

Kalau Piglet ajak gue main Believe...
gue mau kok.

Nanti ketika waktunya tiba gue dan Piglet bisa ketemu lagi, Piglet tidak akan menduduki posisi dalam hidup gue seperti Piglet yang dulu (baca: pacar gue). Tapi itu gak berarti gue melepaskan kepercayaan gue dari Piglet. Piglet akan tetap menjadi Piglet yang gue cari setiap gue bete, supaya gue bisa ngeluh sepuasnya tanpa dimusuhin. Gue akan tetap dengan senang hati menjaga Piglet.

I got lost in a jungle. I was alone. I was scared. The night came, and it made the jungle got so much more scarier. Then I met you. You got lost and alone, just like me. You couldn't bring me out of the jungle, and I couldn't bring you out from there too. But you were with me there, erasing my fear and turning the pale on my eyes into laughter. Well, maybe not getting out of the jungle could be cool too...

But here we are, finding the way to out of the jungle. 
But still, 
I'm not alone. I'm with you. 

Kayaknya gue typo deh.
Gue sama Piglet gak berpisah. Gue dan Piglet cuma...

bersama-sama belajar untuk menjadi lebih kuat.

Gue dan Piglet tidak berjuang untuk cinta seperti Jack berjuang untuk Rose. Gue dan Piglet berjuang melawan ego dan rasa takut dari diri kami sendiri.

Apapun yang akan gue hadapai ke depannya, gue siap. Gue percaya bahwa itu memang yang paling baik untuk gue dan Piglet, yang udah disiapin sama Tuhan. That adventure we had, was awesome. And I believe, we're gonna face the greater one after this. Jangan takut ya, tong. Ada gue kok.

Main Believe sama gue yuk, Ham?

[To: Muhammad Ilham Widiyantoko]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review