Senin, 26 Desember 2016

Kingkong Karnivora di Hutan Belantara

Gue pernah memperkenalkan diri di blog ini. Tapi itu dulu, antara tahun 2012 atau 2013. Jadi sebenarnya, gue ini kepedean. Gak ada yang kenal gue, tapi gue main curhat-curhat aja. Jadi berhubung tak kenal maka tak sayang, mendingan kita kenalan dulu.

Bukan biar sayang, deng. 

Tapi setiap orang pasti berubah. Ya, kan?
Kita di tahun 2012 atau 2013 gak akan sepenuhnya sama dengan kita di 2016 yang sudah mau berakhir ini. Itung-itung, gue bisa intropeksi, siapa tahu bisa jadi orang yang lebih baik di 2017.

Fine, biar sayang. 

Nama gue Vidya. Gue lahir bulan April tahun 1998. Sejak lahir, hobi gue makan, tidur, baca buku, dan bermain musik. Iya, sejak lahir. Kenapa? Gak suka?

Suka-sukain, please. Biar views blog nambah. Jangan cabut ya. Itu penting banget bagi masa depan gue.

Makanan favorit gue:
1. Sate padang
2. Sushi
3. Kwetiau goreng
4. Soto betawi
5. Pecel lele

Kenapa makanan disebutin duluan?
Karena makanan adalah prioritas di hidup gue.
Intinya, gue lebih suka makanan asin dibanding makanan manis. Tapi itu gak menutup kemungkinan gue makan banyak kalau masakannya manis juga kok.

Gue tinggal di daerah entah Bogor, Bekasi, atau Jakarta, gue juga bingung. Gue hidup bersama Mame, Popop, satu adik laki-laki (yang sekarang sudah berubah jadi kakak karena gue lebih pendek dan lebih manja dari dia), dan satu kucing super-duper annoying tapi cantik banget, incaran kucing-kucing maco di komplek gue, namanya Yoyong.

Gue suka binatang yang fluffy, makanya gue pelihara kucing. Tapi gue gak begitu bersahabat dengan anjing. Bukan gue yang gak suka anjing, tapi anjing yang gak suka gue. Gue masih teringat-ingat jaman gue kecil, gue sering dikejar anjing di komplek. Semenjak itu, gue menyimpulkan kalau kaum anjing tidak suka gue.

Berhubung gue suka binatang fluffy, gue suka sekali boneka. Boneka yang berbulu tebal dan halus terutama. Semakin numpuk boneka di kasur, semakin sempit tempat tidurnya, semakin gue tidur nyenyak.

Tapi gue tidak hanya suka kucing. Gue sekali binatang gajah dan macan.

Waktu gue kecil, gue selalu menjawab dengan "ingin jadi gajah" setiap ditanya "kalau sudah besar mau jadi apa". Entahlah, mungkin dalam otak gue waktu itu yang besar adalah gajah. Mungkin kalau ditanya "kalau sudah kecil mau jadi apa', gue akan menjawab "jadi semut".

Tapi gue benar-benar suka gajah. Menurut gue, gajah memiliki karakter yang tenang, cerdas, berhikmat, dan bersahabat.

Gue suka macan karena menurut gue, macan memiliki karakter yang tenang, namun berani, tangguh, dan lincah.

Gue suka kucing karena kucing berbulu tebal dan halus, berkarakter tenang, manja, dan galak.

Jadi kalau dikombinasikan, gue ingin punya karakter yang tenang, berani, tangguh, berhikmat, dan manja. Kalau jiwa gue disimbolkan dengan binatang, maka gue adalah makhuk berbadan besar, bertaring, bercakar, dan berbulu lebat.

Jangan dibayangin. Gue aja serem bayanginnya. Mungkin gue adalah semacam kingkong karnivora? Entahlah, kata gue juga jangan dibayangin.

Loh? Gue sendiri yang ngebayangin ya?

Gue berkuliah di sebuah universitas di Kabupaten Sumedang, dekat-dekat Bandung. Jurusannya, dengar-dengar sih jurusan paling mematikan. Tapi berhubung gue masih maba, gue masih buta tentang harus bagaimana supaya bisa bertahan hidup. Beruntung, gue ditemani sama kakak-kakak yang mengajarkan caranya bertahan hidup di hutan belantara.

Hutan belantara = kehidupan kost dengan uang terbatas, tugas numpuk, dan berbagai tantangan lain yang gak kelihatan, tapi suka tiba-tiba muncul

Gue bercita-cita jadi pemain film dan musisi. (Jangan sebel, dong. Namanya juga cita-cita, ngimpi aja setinggi-tingginya. Ya, gak?)
Pemain film favorit gue Reza Rahadian, musisi favorit gue Kevin Aprilio.

Gue suka membaca novel. Novel favorit gue judulnya Hujan, ditulis oleh Tere Liye. Gue suka baca novel dengan cerita yang dramatis, dan sedikit suka juga yang fantasy atau futuristic. Semakin menyentuh ceritanya, semakin gue gembira bacanya.

Gue suka komik Conan. Menurut gue, Conan itu keren dan agak bala sih. Dimana ada Conan, di sana pasti ada pembunuhan. Tapi karena ceritanya keren dan mindblowing, gue jadi tidak bosan-bosan bacanya.

Karena kesukaan gue pada hal-hal dramatis, maka cara bicara gue di dunia nyata sebenarnya gak beda jauh dengan cara bicara gue di blog. Lebay-lebay sok baku gitu deh. Gue kira cara bicara gue yang demikian cuma berlaku di blog, eh ternyata, sudah menjadi bagian dari jati diri.

Gue sebenarnya bukan orang yang boros-boros amat. Gue jarang membuang-buang duit untuk hal-hal tidak penting atau sekedar untuk keasoyan duniawi. Gue bisa tahan beli baju, sepatu, make up, atau apapun itu yang biasanya gak bisa ditahan beli oleh cewek-cewek.

Tenang, gue masih lumayan cewek kok. Gue masih pakai make up dan pakai baju-baju sebagaimana cewek 18 tahun pada umumnya. Gue gak begitu suka pakai foundation, tapi gue suka sekali mascara dan eyeliner. Menurut gue, eyeliner itu sexy banget. Gak penting, ya?

Lanjut ke masalah keuangan. Uang gue lebih sering habis untuk... makanan.

Gue berantakan. Seumur-umur, kamar gue gak pernah rapi. Dulu waktu belum ngekost, kamar gue berantakan bak kapal pecah. Gue kira dengan pindahnya gue ke kostan, kamar gue akan rapi. Ternyata gue salah, kamar gue masih berantakan. Mungkin gue ini terkena semacam kutukan dari dewi kekacauan, makanya dimanapun gue berada, pasti di sana kamarnya berantakan. Entahlah.

Gue tidak tertata dan tidak apik. Ibaratnya kalau dalam dunia seni panggung, gue adalah tipe orang yang benar-benar gak cocok kerja di bagian artistik. Gue akan disebelin sama orang-orang lain di tim artistik. Gue adalah tipe orang yang kalau ada kecoret sedikit, akan bilang "Ah, udahlah gak apa-apa. Cuma dikit ini,"

Maka itu, gue adalah tipe orang yang lebih suka mengerjakan sesuatu secara spontan dan dinamis. Membutuhkan berpikir secara cepat (karena menurut gue, kepepet memiliki kekuatan tersendiri), dan berpindah-pindah tempat. Namun, sejujurnya gue juga suka bekerja di meja kerja. Semakin berantakan meja kerja gue, semakin gue asik dengan suatu kerjaan.

Tapi gak bisa dipungkiri kalau gue ini mageran.
(Mager = Malas Gerak)

Gue kalau PMS sadis. Sesungguhnya, korban utama dari PMS gue bukanlah diri gue sendiri, melainkan pacar gue dan teman-teman terdekat gue. Kadang gue sampai-sampai kasihan sama pacar gue yang menjadi korban omelan kalau gue lagi PMS.

Pernah suatu hari, sahabat gue, Kinta bilang, "Lo tuh sadis banget ya, Vid. Beneran deh kalau lagi PMS, gak nahan nyebelinnya."

Kemudian gue pun sadar diri. Beruntung, pacar dan teman-teman terdekat gue sangat-sangatlah penyabar, baik hati, tidak sombong, rajin menambung, cerdas, dan teladan kita semua.

Tiga hal yang gue gak ngerti--kenapa ada orang yang bisa melakukannya:
1. Menghafal jalan
2. Main dan menyusun rubik
3. Membuat simpul tali seperti di pramuka

Gue benci melakukan sesuatu yang mengandalkan hafalan dan berstruktur. Rasanya otak gue keburu keriting kalau harus melakukan hal-hal sedemikian. Kalau suatu hari lo tersesat di hutan bareng gue, pilihannya cuma dua, yaitu:
1. Jangan tanya gue kemana jalan keluarnya karena gue cuma akan bikin kita berdua tambah nyasar.
2. Mending lo kabur aja karena gue pasti menyusahkan masa-masa terakhir hidup lo. Entah karena gue nangis di tempat, atau karena gue terlalu pasrah untuk melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar.

Maka itu, gue lebih suka berlibur di pantai daripada di gunung atau di hutan. Pantai itu lebih damai, hangat, dan gak menguras banyak tenaga untuk didaki.

Tapi walaupun tidak memungkinkan untuk bertahan hidup di hutan, gue suka jalan-jalan sendirian. Gue suka mendatangi tempat-tempat baru. Entah untuk foto-foto (bukan selfie), atau yang lebih menyenangkan: mencicipi kuliner-kuliner unik. Menurut gue, mencoba hal-hal baru adalah suatu kepuasan tersendiri.

Gue tidak keberatan pergi sendirian. Bukan kesepian, cuma gak masalah saja kalau harus sendirian. Tapi, bersenang-senang bersama teman-teman pun gue menikmati. Menurut gue, berani pergi sendirian adalah salah satu cara untuk menjadi independen.

Tapi gak bisa dipungkiri kalau dibalik kesongongan gue yang tiada tara ini, gue sebenarnya lenje dan cengeng. Tapi yang ini gak usah dibahas. Gue harus selalu menjaga image tangguh dan pemberani.

Ternyata panjang juga ya curhatan gue yang sangat tidak penting ini. But well, gue ingin mengakhiri 2016 ini dengan menunjukan jati diri gue. Gue akan selalu berusaha untuk menjadi kuat dan tangguh. Bukan karena gue ingin menjadi seseorang yang lain, tapi karena gue ingin menjadi orang yang lebih baik. Selamat memulai tahun yang baru! Jangan lupa coba hal-hal baru ya!

Untuk 2016

Selasa, 27 Desember 2016

Bentar-bentar. 
LAH???? 
KOK UDAH 27 DESEMBER??? 
KOK 2016 UDAH MAU KELAR??? 

LAH???
LAH???
LAH???

Oke. Jadi, 2016 udah mau berakhir...

2016 sudah menjadi tahun terpaling-paling dalam hidup gue (Kalau gak ngerti apa itu terpaling-paling, silakan definisikan sendiri paling apanya). Gue gak tau apakah teman-teman, terlebih teman-teman segenerasi, merasakan hal yang sama atau enggak. Tapi buat gue, 2016 has been such a roller coaster in my chronology of life. Semua hal-hal paling dramatis, menyenangkan, menakjubkan, dan bikin pengen mati sekalipun terjadinya di 2016. Bisa dibilang, seumur hidup gue yang tepatnya 18 tahun lewat delapan bulan ini, tahun terdramatis adalah 2016. Untuk itu, gue ingin membuat tulisan singkat untuk mengapresiasi segala kedramatisan di 2016. 

Berikut kronologi singkatnya: 

Januari 2016: Perang Dimulai
Gue merayakan pergantian tahun baru di Cirebon, bersama nenek gue, Deti. Gak banyak hal yang gue lakukan untuk menyambut si dramatis 2016. Tapi di awal 2016 ini, gue tahu bahwa pertarungan sadis baru saja akan dimulai. Pertarungan untuk ujian nasional, ujian masuk perguruan tinggi, menghadapi perpindahan, perpisahan, dan lain sebagainya yang gue gak bisa sebutin saking dramatisnya. 

Februari 2016: Nyamuk-nyamuk Nakal
Di akhir bulan ini, gue hampir mati. Bohong deng, gak beneran hampir mati. Cuma rasa khawatir orang-orang yang bikin gue merasa mau mati. 

Jadi gini ceritanya: 
Suatu hari, gue datang ke sekolah dengan motivasi belajar super minim dan dalam keadaan sehat wala'fiat. Tiba-tiba di tengah jam belajar, gue merasa sakit kepala. Awalnya cuma sakit kepala ringan, lama-lama sakit kepalanya nyolot jadi sakit kepala berat dan demam. Hari itu, gue bikin heboh satu kelas 12 Viburnum. Karena gue kedinginan, padahal hari itu cuacanya sama sekali gak dingin, gue minta agar AC di kelas gue dimatikan. Dalam keadaan gue hampir tepar di pojok ruangan kelas, teman-teman di kelas rela berpanas-panasan. Tapi tenang, itu gak berlangsung lama kok. Gak lama kemudian, gue tidur di UKS, kemudian dipulangkan oleh guru gue, Pak Ikhwan, karena mungkin tampang gue waktu itu udah kayak tampang-tampang mau metong. 

Sampai rumah, gue lanjut tepar di sofa. Popop gue langsung membawa gue ke rumah sakit. Atas perintah dokter langganan gue, yang kebetulan juga langganan banyak teman-teman gue di Cibubur, dan jadi dokter idaman mereka, gue langsung dirawat. Waktu itu belum ketahuan sakit apa. Tapi karena dokter ini punya intuisi yang tinggi, dia sudah tahu kalau ujung-ujungnya gue akan dirawat karena demam berdarah, yang kebetulan waktu itu memang lagi hectic. 

Biasanya, trombosit akan naik lagi setelah tiga hari merosot. Tapi anehnya, gue sudah seminggu dirawat dan trombosit gue gak naik-naik. Gue inget berapa angka tepatnya. Tapi kata mereka, tanda-tanda udah parah adalah ketika si pasien mengalami bintik-bintik dan pendarahan. Setelah seminggu dirawat, gue mengalami batuk-batuk berdarah dan mimisan. 

Semua orang panik bukan main. 

Dokternya bilang gue harus banyak makan supaya trombosit gue naik. Kalau gak naik-naik, gue harus masuk ICU. Masalahnya, gue benar-benar mual dan sama sekali merasa gak napsu makan. Alhasil, mama dan popop gue panik. Mama gue nangis-nangis, takut trombosit gue gak naik-naik. Salah. Gak cuma mereka yang panik. Nenek dan keluarga besar gue datang dengan muka-muka khawatir. Beberapa rekan dan saudara datang dengan muka yang sama khawatirnya, kemudian bersama-sama berdoa, barang kali masih ada kesempatan untuk sembuh buat gue. 

Karena kekhawatiran mereka, gue ikutan mau meledak. Karena gak tahan dengan kondisi mencekam ini, gue menelpon Zhafira. Zhafira pun datang untuk kedua kalinya bersama Iyo dan Tania. Gue ingat benar, kedatangan Zhafira yang pertama ditemani Cika, Iyo, dan Marsha. Karena Zhafira cinta sekali sama gue, makanya dia rela datang lagi ke rumah sakit. 

Di antara semua penjenguk yang datang dengan muka khawatir setengah mampus, Zhafira datang dengan muka datarnya. Awalnya sih dia khawatir, tapi makin percakapan berlangsung, makin ketara kata-katanya, "Hahaha, santai ah. Udah kayak mau mati aja lo, Vid,"

Memang sih kedengarannya nyolot. Tapi kalau Karamel bilang, Zhafira sukses menjadi penghibur yang baik. Dia memperlakukan orang yang sedang sakit seakan-akan orang itu gak lagi sakit. Zhafira memperlakukan gue seperti gue sedang baik-baik saja. Sebetulnya, perlakuan tersebut yang bikin gue merasa lebih baik. 

Di tengah-tengah kepanikan orang-orang yang beranggapan bahwa gue mau mati, gue berdoa. Gue masih ingin merasakan kuliah di (please banget jangan judge gue) UI. Gue masih ingin merasakan hectic dan happy-nya menikah, punya anak (walaupun kebanyakan anak kecil gak suka bersahabat dengan gue). Intinya, gue masih ingin merasakan dramatisnya hidup. Waktu itu doa gue adalah... minta diberi kesempatan lebih lama untuk menyenangkan hati orang lain. Setidaknya, mungkin itu bisa jadi cara gue jadi sesuatu yang berguna di dunia. 

Gak lama kemudian trombosit gue naik. Gue gak jadi mati. Yep, ternyata doa konyol gue didengar. 

Maret 2016: Bantai Terus
Persiapan UN. Seperti anak-anak menjelang ujian pada umumnya, gue bimbel setiap hari. Sekolah jam 07.00 - 15.30, lanjut bimbel jam 16.30 - 18.00 dan 18.30 - 20.00. Mantap, gak? 

Kebetulan, gue satu tempat bimbel bareng Zhafira, Tania, dan Cika. Gue sering nongkrong di warung kopi dekat tempat bimbel bareng Zhafira seusai jam belajar. Seperti biasa, percakapan dengan Zhafira selalu dalam. Di warung kopi ini kami sering berbagi tentang besarnya rasa khawatir kami menghadapi ujian dan yang lebih besar: perpindahan. 

Foto gue dan Zhafira di pojokan kelas, spot favorit kami. Kami kedinginan, jadi kami pakai sarung milik Fathia. Gak lama setelah foto ini diambil, sarung Fathia hilang dan tidak kembali.

Foto terakhir, ketika kami lagi hectic-hecticnya dengan persiapan Ujian Nasional.


April 2016: Jangan Nangis, Masih Bantai Terus
Ujian Nasional. Pertama kali dalam sejarah SMA gue, ujian menggunakan komputer. Sebutannya CBT. Sejujurnya, gue merasa sangat dimudahkan dengan adanya CBT. Kami peserta jadi terhindar dari kendala kurang hitam atau kurang tebal. Usai ujian, perjuangan belum kelar. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Perjuangan untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. 

Gue berubah jadi mahkluk nokturnal. Bimbel jam setiap hari dari siang sampai malam. Sampai rumah, bantai lagi sampai pagi, lalu tidur sampai siang. Bangun tidur, siap-siap berangkat bimbel. Sehari bisa konsumsi kopi sampai 3 cangkir. Alhasil, gue jadi pecandu kafein. 

Oh iya, perjuangan ini membawa gue bertemu dengan orang-orang super epic dan hebat di kelas tempat bimbel. Kami bersembilan. Cita-cita kami macam-macam.  Kelas yang harusnya kondusif untuk belajar, berubah jadi kondusif untuk main kartu dan pesan pizza. Tapi justru keadaan kondusif itu yang bikin kami mendukung satu sama lain. 

Ini foto setelah kami order pizza sambil main kartu. Kami ditegur kelas lain karna kami berisik sekali di kelas.
Pengumuman hasil jalur undangan PTN. 
Gue gak lolos. Gak satupun dari jalur yang gue ikuti menunjukan hasil yang positif. Mimpi gue dari jaman baru masuk SMA hari itu hancur bukan main. Gue merasa sia-sia. Gue nangis berhari-hari. Skala 1 - 10, sakit hatinya ada di tingkat 10. 100 kali lebih sakit daripada putus cinta. Kalau teman-teman mau tahu, teman-teman boeh baca di post yang judulnya "10/10". Intinya, hari itu gue benar-benar merasa patah hati, sepatah-patahnya. 

Tapi percayalah, patah hati selalu punya bahagianya sendiri di akhir cerita. 

Mei 2016: Nangis bersama Peserta SBMTPN di Bekasi
Promnight. Wisuda SMA. Intinya, di bulan ini perpisahan benar-benar ada di depan mata. 

Waktu itu, sejujurmya, gue gak takut untuk meninggalkan dunia SMA. Sama sekali gak takut. Gue tahu pasti bahwa perpisahan gue dengan teman-teman di SMA adalah berpisah untuk sesuatu yang lebih baik. Gue juga tahu bahwa berpisah waktu itu bukanlah benar-benar berpisah. Waktu itu gue yakin bahwa yang ada di hati gue akan selalu ada di hati gue. 

Beberapa dari mereka yang punya tempat di hati gue memang tetap tinggal di hati gue, bahkan sampai detik ini. Tapi ada satu yang ternyata... nantinya (pada bulan berikutnya) pergi dan tidak lagi menjadi bagian dari perjalanan romansa gue. 

Waktu itu yang gue takutkan adalah... Gimana kalau di tempat yang baru nanti, semuanya gak semudah apa yang terbiasa? 

Gimana kalau di tempat baru nanti, beradaptasi jadi sesuatu yang sulit? 

Satu dari sekian banyak foto wisuda. Cuma ini yang muka guenya paling mending.

Muka gue sangat-sangat canggung. Tapi sejujurnya, gue suka sekali foto ini.

Menemani Tuan Putri makan di promnight. Bella, kesayangan gue. Selalu. Sampai 2016 pun, masih. 
Main band terakhir bareng Skylight sebelum lulus. Ngelihat foto ini, rasanya ingin main sama mereka lagi.
Namanya Geng Invisible. Setiap sosiologi, kami bertiga sekelompok. Kelompoknya ada, tapi hasilnya nggak ada. Karena itu kami dengan bangga menamai geng kami "Geng Invisible". Ah, kangen. 

Ujian masuk PTN (SBMPTN). 
Gue kedapatan ujian di Bekasi. Gue berangkat diantar Popop gue. 
Jujur sih, gue sama sekali gak bisa mengerjakan. Gue merasa perjuangan gue banting fisik dan mental sama sekali tidak membuahkan hasil ketika berhadapan dengan soal-soal. Waktu kelar ujian, banyak peserta lain, terlebih cewek-cewek, nangis. Gue ingin nangis, tapi ah, sudahlah. Prinsip gue waktu itu: datang, kerjakan, lupakan. 

Oh iya, ada kejadian lucu soal SBMTPN. 
Kedua orang tua gue (awalnya) ingin gue kuliah di UI. Jangan naif, siapa sih yang gak senang kalau bisa kuliah di UI? 

Waktu itu, pilihan gue cuma jurusan komunikasi dan sosiologi. Gue memang cuma punya minat ke dua jurusan ini. Dalam SBMPTN, kita punya kesempatan untuk memilih 3 jurusan dengan 2 universitas. Mama gue tidak ingin gue kuliah jauh-jauh. Mama gue bahkan kelihatan keberatan kalau gue harus nge-kost dan jauh dari rumah. Tapi karna masih sisa 1 kesempatan untuk pilihan di SBMPTN... gue diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua, mengambil jurusan jurnalistik di suatu universitas yang kata orang unggul di fakultas komunikasinya. 

(Cerita soal hasil SBMPTN berlanjut di bulan Juli)

Juni 2016: Berubah menjadi Manusia Polar Bear
Ujian Mandiri SIMAK. Intinya, gue gak lolos. 

Usai ujian mandiri, hidup gue bebas merdeka. Makan, tidur, main, makan, tidur, main. Gak ada kewajiban untuk begadang atau bangun pagi. Suka-suka gue mau buang waktu untuk apa. Ya memang sih, sambil bebas, sambil pasrah-pasrah soal hasil ujian PTN. 

Foto ini kami ambil waktu merayakan ulang tahun Aulia. Yang ulang tahun Aulia, yang foto gue dan Bella. 
Berhubung gak ada foto Aulia di 2016, jadi gue ambil foto gue dan Aulia di 2013. Tenang, sekarang tampang gue gak seaib itu kok. Tapi ngomong-ngomong, Aulia sudah menjadi bagian berharga dari kisah hidup gue. Selalu. Sampai di 2016 pun, masih. 

Juli 2016: Kejutan untuk Mamak
Hasil SBMPTN. 

Setelah kepasrahan gue yang tiada tara, dan tentunya berkat kuasa dan keajaiban Tuhan Yang Maha Penguat Maha Penghibur, ternyata gue lolos. Yep, lolos di pilihan ketiga yang gue ambil tanpa sepengetahuan orang tua gue. Mama gue yang pertama kali membuka pengumuman hasil SBMPTN. Dia menjerit. Entah menjerit karena bangga, atau karena kaget kenapa tiba-tiba nama gue nyantol di universitas ini. 

Tapi tenang saja, gue tetap diizinkan untuk melanjutkan kuliah di universitas ini kok. 

Kisah dramatis belum berakhir. 
Di bulan ini, gue patah hati. Kisahnya gak begitu menyenangkan. Intinya, gue nangis gak hanya sehari atau dua hari. Tapi gue percaya, setiap patah hati mengajarkan kedewasaan. Intinya, gue berterima kasih untuk setiap manis dan pahitnya. Karena itu, gue bisa menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Terima kasih ya. Itu berarti sekali. 

Gak cuma belajar untuk jadi lebih dewasa, gue juga belajar untuk jadi lebih kuat. Sayangnya, gue tidak sekuat itu. Patah hati ini membawa gue ke kemunafikan. Gue berpura-pura menjadi orang yang tangguhnya bukan main, untuk melindungi diri gue sendiri dari patah hati yang lain. Gue secara sangat sengaja memberikan kesan kukuh, supaya gak ada yang berani macam-macam. 

Saat gue berpura-pura tangguh dan berani, sebenarnya gue cupu dan takut untuk mulai sesuatu yang baru. Membuka diri pada dunia baru sama sekali bukan hal mudah waktu itu. Gue terlalu berantisipasi, takut-takut kalau harus patah hati lagi. 

Dalam pikiran gue waktu itu, mumpung gue akan hidup di tempat baru dengan teman-teman baru di kuliah, mungkin itu akan jadi waktu yang tepat untuk sepenuhnya berubah. Berubah jadi diri sendiri yang semoga lebih baik... dan lebih kuat. 

Kemunafikan gue lenyap ketika gue ternyata dipertemukan dengan orang-orang super hebat di bulan-bulan selanjutnya. 

Tapi gue bersikeras: Gue akan bertahan sendirian. Gue bertarung untuk keselamatan gue sendiri. 

Agustus 2016: Bangun di Pelukan Bapak Satpam
Gue mempersiapkan kuliah. Ditemani Popop, gue mencari kost-an, mengikuti ujian kesehatan, dan melakukan registrasi ulang. Hectic. Antara pusing persiapan, dan pusing karena takut harus memulai hidup di lingkungan baru bersama orang-orang baru. 

Gue pingsan di mal waktu lagi milih-milih pakaian dalam untuk stok di kost-an. Gue tiba-tiba blackout dan bangun-bangun dalam gendongan bapak satpam. Ini nonfiksi. Gue bikin panik banyak mbak-mbak di mal. Sejujurnya, ini sangat-sangat memalukan, tapi gue selalu ketawa mengingat-ingat kejadian ini. Mudah-mudahan kisah gue yang garing ini bikin teman-teman ketawa juga. 

Diduga, gue pingsan karena tekanan darah rendah. Setelah ke dokter (dokter yang sama dengan dokter waktu gue kena deman berdarah di bulan Februari), gue dinyatakan kecanduan kafein. Ternyata, kehidupan nokturnal gue di bulan April sama Juni membuahkan hasil berupa kecanduan kafein. 

Mama gue, yang super duper berintuisi tinggi, menduga bahwa gue sebenarnya tidak sakit. Gue cuma sedih. Entah sedih karena patah hati atau karena mau pergi jauh. Mama gue mengajak gue jalan-jalan. Beliau bilang terserah gue mau jalan-jalan kemana, Mama dan Popop gue pasti temani. Gue minta jalan-jalan ke SeaWorld, Ancol. Gue memang sudah lama ingin ke SeaWorld, ingin lihat kuda laut. Gue selalu suka SeaWorld. Selalu. 

Terima kasih karena mau ketawa dan nangis bareng aku ya, Ma. Terima kasih karena selalu ada untuk aku. 

Terima kasih karena selalu mau temani aku ya, Pop. Terima kasih karena selalu ajarin aku untuk kuat dan berani.
Mulai kuliah. 
Ospek universitas, gue stres bukan main. Bukan karena ospeknya, tapi karena gue sedang haid dan sedang mencoba bertahan hidup dengan kamar baru, tempat tinggal baru, tanpa keluarga, tanpa satu pun orang yang gue kenal selain Anisa, teman SMA gue yang sekarang satu universitas tapi beda fakultas. 

Sempat-sempatnya foto di kost-an sebelum berangkat ospek hari pertama.

Ospeknya seru. Seru banget. Sayangnya, gue sedang tidak kondusif untuk seru-seruan. 
Gue datang ke ospek dengan mood yang sangat-sangat kacau dan sakit perut klimaks. Gue tidak bawa ponsel karena gue pikir, lebih aman kalau ditinggal di kamar kost-an. 

Di tengah-tengah ospek dan di tengah-tengah sakit perut gue, tiba-tiba datang Kevin Aprilio. 

Ya, gue tahu kok. Cerita gue terdengar sangat random dan aneh. Tapi ini beneran. 

Gue sangat-sangat mengidolakan Kevin Aprilio. Beliau adalah insipirasi gue dalam bermain musik. Gak kok, gue gak sejago itu. Gue ngomong gini supaya kesannya Kevin Aprilio sangat-sangat berarti dalam hidup gue. 

Tapi beliau beneran berarti dalam hidup gue. Gue mengidolakan beliau sejak gue masih SD. Menurut gue, lagu-lagu buatan beliau sangat bagus dan chord-nya bombastis. 

Sayangnya, hari itu gue gak bawa ponsel. Gue tidak bisa mengabadikan momen berharga itu. Pulang ospek, gue menelpon Popop gue dan menangis-nangis karena gak bisa mengabadikan momen Kevin Aprilio datang ke ospek gue. Cengeng, ya?

Cewek PMS memang gak ada yang nandingin ribetnya. 

Seminggu pertama di tempat baru, gue ansos bukan main. Gue gak punya teman. Gue menghabiskan waktu dengan menyendiri di kamar kost-an. Gue tidak ingin membuka diri dengan dunia baru karena gue masih ingin fokus pada kesedihan gue. 

Dua minggu kemudian, gue mengikutsertakan diri ke dalam perkumpulan cewek-cewek. Awalnya sih, malas-malas gimana gitu. Tapi ini dia pentingnya gak menilai sesuatu hanya di awal. Tanpa gue sangka, orang-orang gue temui ini... sekarang memiliki arti yang sangat-sangat dalam di hidup gue. 

Orang-orang Hebat

Setelah dapat bunga. Ini foto gue bersama beberapa dari orang hebat yang gue temui di tempat baru. 

Beberapa dari mereka. Gue senang dipertemukan sama mereka. Gue rasa gue bisa bertahan sampai detik ini karena mereka. Terima kasih ya.
Waktu merayakan ulang tahun Ara dan Cece. 
Gue dan Kinta. Stay strong, Kinta. Setiap orang memang harus pergi pada akhirnya. Tapi percayalah, kamu sudah membuat hari banyak orang cerah ketika orang-orang itu ada di hidup kamu. Aku sayang kamu, Kin. 

Dengan masih beranggapan bahwa menjadi sendirian adalah cara untuk berlindung dari patah hati, kemunafikan gue perlahan-lahan diluluhkan. 

September 2016: Rumah Baru (Ini dramatis banget)
Gue datang ke tempat baru (kuliah) dengan kesombongan. Dalam pikiran gue waktu itu, gue akan dan mampu bertahan diri sendirian. Gue kira, menutup diri adalah cara untuk bersikap tangguh. Gue kira itu cara untuk melindungi diri dari patah hati. Gue kira gue gak butuh orang lain. Gue kira pertarungan ini gue sendiri yang jalanin. Gue kira gue sesendirian itu.

Ternyata gue salah. Gue dipertemukan dengan keluarga besar. Gue ternyata punya tempat tinggal. 

Gue yang awalnya bersikeras untuk menjadi penyendiri ternyata pada akhirnya tengahnya ditugaskan untuk menjadi... 

apa ya... 

Hokage

Ya, lebih baik gak perlu dijelaskan pajang lebar apa itu hokage. Intinya, visi misi gue untuk bertarung sendirian hancur. Dihancurkan oleh keluarga baru yang gue temukan di tempat baru. Tapi percayalah, itu adalah kehancuran paling berarti yang pernah ada. 

Oh iya, keluarga baru juga menghancurkan kesombongan gue. 
Di tempat baru ini, gue bertemu banyak "kakak" yang entah sebenarnya disengaja atau tidak, mengajarkan gue tentang bertahan hidup di "hutan belantara".

"Hutan belantara" = kehidupan kost-an dengan uang terbatas, tugas menumpuk, dan tantangan apa saja yang mungkin gak kelihatan tapi bisa tiba-tiba muncul

Dengan segala kerendahan hati, aku sangat-sangat berterima kasih. 

Tapi gue tidak akan berhenti untuk menjadi tangguh (atau berpura-pura tangguh). 
Kalau gue hokage, gue ingin semua ninja dan warga Desa Konoha tangguh bersama gue. 

Gue akan melakukan apapun untuk melindungi diri gue dari patah hati, awalnya
Tapi ternyata gue masih saja jatuh cinta. 
Gue mencintai Fikom. 

Tempat tinggal.

Di bulan ini juga, sahabat gue, Iyo, berangkat ke Jepang. Ini adalah salah satu momen penting di 2016 karena gue tahu, berangkat ke Jepang adalah mimpi Iyo sejak kami sama-sama baru masuk SMA. Tercapainya mimpi Iyo adalah suatu doa yang terkabul dari kami-kami, yang juga selalu didukung sama Iyo. Iyo is such a good friend. Sukses terus ya, Yo!

Hacika, Iyo, Zhafira, Nobita, Marsha
Terima kasih karena sudah mengingatkan gue bahwa beberapa hal di dunia ini memang diciptakan untuk ditertawakan. 

Oktober 2016: Bertemu dengan yang Lebih Manis dari Popcorn Karamel di XXI

Nah ini.
Ini dia.
Ini dia yang gak ditunggu-tunggu, tapi datang sendiri. 

Suatu hari, teman-teman di angkatan gue hendak mengadakan acara. Tugas gue dalam "kepanitiaan" adalah mengajak teman-teman di angkatan untuk bergabung dalam acara. Dalam suatu kesempatan, gue harus berbicara dengan seorang "kepala suku" dari sebuah jurusan, namanya Karamel. 

Gue sudah tahu Karamel sejak lama. Cuma, kami belum pernah diharuskan untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Yang gue tahu, gayanya maco bukan main. Seram. Cowok banget. Mana bisa gue ajak ngobrol? Orang yang kayak gini nih, gak akan cocok sama orang lenje kayak gue

Namun atas dukungan dan motivasi Somin, rekannya Karamel, gue memberanikan diri mengkontak Karamel. "Coba aja kontak. Orangnya baik kok, kayaknya cocok sama kamu," kata Somin. 

Gue kasih tahu lo:
Jangan pernah menilai sesuatu sebelum lo mencoba. Jangan pernah menilai orang sebelum lo nyemplung langsung ke dunianya. Jangan. Pokoknya jangan. Kita gak akan pernah bisa benar-benar menilai seseorang sampai kita benar-benar nyemplung ke dalam dunia orang itu. 

Kemudian gue kecemplung. Gue yang awalnya bersikeras untuk gak pernah membuka diri, apa lagi jatuh cinta, kemudian jatuh sedalam-dalamnya. 

Tanpa disangka, Karamel menjadi tokoh utama dari kisah romansa gue. 

Percakapan kami melenceng. Yang awalnya mau ngobrol tentang acara angkatan, justru berlanjut dengan percakapan mendalam tentang ideologi, prinsip hidup, cita-cita, dan Harley Quinn. 

"Kenapa Harley Quinn?" tanya Karamel. Home line gue gambar Harley Quinn, colongan dari WeHeartIt

"Karena Harley Quinn gila. Dia gak punya super power. Kadang gila itu sama kuatnya dengan kekuatan super. Jadi, jangan takut ngelakuin hal-hal gila," jawab gue antusias. 

"Keren. Gue terkagum sama eksplanasi lo yang ringan tapi kena. Terasa jujur," kata Karamel. 

Karamel gak pernah bosan bertanya dan mendengar cerita gue. Karamel memperkenalkan dirinya sebagai Vincent dan mengizinkan gue untuk memperkenalkan Nobita (diri gue) sebagai Vidya. 

Sampai detik ini, gue masih menjadi Vidya yang bercita-cita untuk menjadi tangguh dan gila. Karamel masih menjadi Vincent yang maco, tangguh, dan berani. Kami jatuh cinta pada jati diri dan dunia satu sama lain. 

Gue akan melakukan apapun untuk melindungi diri gue dari patah hati. Tapi sekarang, gue berbelok. Gue akan melakukan apapun untuk melindungi diri gue dan Vincent dari patah hati. 

"Mudah-mudahan kita bisa nutupin ego masing-masing buat ngechat duluan ya," kata Karamel setelah percakapan pertama kami yang sangat-sangat melenceng dari tujuan awal. Gue jatuh cinta pada Karamel. 

Jadi... begitu cerita gue ketemu Karamel. Yep, Somin adalah cupid-nya. 
Ini namanya Vincent. Eh, maksudnya Karamel. Orangnya pintar, maco, galak, judes, gak bisa bangun pagi. Saya jatuh cinta sama orang ini. 
Vincentius sangat sinis dan keras kepala. But you really do, like me anyway. Don't you, Vincentius?

November 2016: Mati Satu Tumbuh Seribu
Di bulan ini, gue paham apa itu kuliah. Ya, baru paham. Di bulan ini, tugas benar-benar menumpuk. Satu tugas kelar, datanglah tugas-tugas lainnya. Mati satu tumbuh seribu!

Kata orang, jurusan yang gue ambil adalah jurusan paling mematikan. Tugasnya banyak, lulusnya pun gak mudah. Di bulan ini, gue baru paham dengan apa yang dimaksud mematikan

Ini dia yang gue takutin...
Mungkin gak ya gue bisa bertahan?

Desember 2016: 12 dari 12
Natal tahun ini gak begitu ramai. Tapi semua ketidakramaian itu terbayar dengan segala kedramatisan yang terjadi di 2016. Setidaknya, gue masih diberi kesempatan untuk merasakan Natal lagi. 

2016 benar-benar memiliki kisah yang dramatis bagi gue. Setiap pahit dan manisnya adalah sangat-sangat berharga. Pahitnya mengajarkan gue untuk menjadi kuat dan ikhlas. Manisnya mengajarkan gue untuk berani melangkah dan mencoba hal-hal baru. Gue sangat-sangat bersyukur. 

Foto-foto dan cerita di atas hanyalah beberapa bagian dari kisah-kisah manis di 2016. Karena keterbatasan waktu dan kesempatan, jadi gak semuanya bisa diceritain, deh... 

Intinya, untuk siapa pun yang pernah hadir dan menjadi bagian di hidup gue...
Terima kasih banyak ya. Teman-teman sangat berharga bagi Vidya. 

Selamat tinggal, 2016. 

Rabu, 07 Desember 2016

Lebih Manis dari Popcorn Caramel di Bioskop

Seperti biasa, malam ini aku mau cerita. Masih bersambung dengan cerita di post sebelumnya, aku mau lanjutin cerita tentang Si Bintang Jatuh.

Kenapa? Bosan? 

Gak apa-apa, suka-suka aku mau cerita apa di diary-ku sendiri! 

Bohong deng. Gak suka-suka gue. Plis banget jangan cabut dari blog gue. View dari lo berarti banget demi masa depan gue. 

Lebay aja sih, tapi serius. 

Oke, ayo serius.

SERIUS AH.

Jadi, namanya Vinc... 
Bentar-bentar, mendingan kita cari dulu nama yang asik buat mensensor nama tersangka (soalnya post ini akan dipublikasikan tanpa seizin orang yang bersangkutan). 

Oke. Jadi, namanya Karamel
Karamel karna popcorn rasa caramel lebih manis, enak, dan mahal (dan berharga) daripada popcorn rasa asin. 

Sebenarnya gue lebih suka sate padang dan kwetiau goreng, tapi agak kasihan kalau dia disebut sebagai sate atau kwetiau, jadi lebih baik kita sebut dia Karamel. 

Lagi pula, karamel manis. Sama seperti Si Bintang Jatuh, kalau senyum manis. Eh salah, gak senyum juga manis, deng

Pertemuan kami gak dramatis, tapi bermakna. Ceritanya seru banget, tapi terlalu panjang untuk diceritain di sini. Gue gak bisa cerita panjang lebar tentang pertemuan kami yang dipenuhi dengan keajaiban takdir. (Sejujurnya gue gak begitu tahu apa yang mau gue ceritakan. Ini adalah salah satu post paling tidak terkonsep di blog ini). Tapi yang pasti, terlepas dari siapa yang membaca post ini, gue tahu pasti bahwa gue bangga punya Karamel

"Semakin kita kenalan, semakin kita kelihatan manusianya," kata Karamel. 

"Dari awal kenalan, aku udah mandang kamu sebagai manusia," jawab gue pada pernyataan Karamel yang kedengarannya intelek sekali sampe-sampe gue keder mau jawab apa. Sebenarnya, gue paham apa maksud Karamel. 

Gak bermaksud sok intelek sedikit pun (karna kenyataannya ilmu pengetahuan gue cetek sekali), tapi menurut mata kuliah logika dasar, Democritus pernah bilang bahwa semua yang terjadi di alam semesta adalah hasil dari pertabrakan partikel yang mikroskopis. Semua. Semua termasuk jatuh cinta sekali pun. Katanya, jatuh cinta adalah hasil dari pertubrukan hormon. Jadi, jatuh cinta itu memang mungkin ada dan itu manusiawi. Mulai sekarang, jangan menilai gue dramatis melankolis setiap gue bilang jatuh cinta karna kenyataannya, jatuh cinta itu benaran ada di dunia, bukan cuma bahasa di novel. Dan jangan menilai gue dramatis melankolis setiap gue bilang jatuh cinta karna kenyataanya, gue tau diri bahwa gue benar-benar jatuh cinta sama Karamel. 

Gue yakin kita sama-sama tahu bahwa ketika kita jatuh cinta, kapabilitas indera kita seperti melemah. Saking seringnya bermimpi indah tentang si dia, kita jadi sering tenggelam dalam fantasi, padahal aslinya kita sedang ada di realita. Sama seperti gue bertemu Karamel. Karamel bikin gue mikir bahwa apa yang ada di fantasi, mungkin bisa aja jadi nyata. 

Mungkin hari-hari yang sepi itu gak selamanya harus jadi sepi. Mungkin gak selamanya gue harus berpura-pura tangguh untuk melindungi diri. Mungkin ada cara lain untuk berlindung, yakni dengan mencari teman. 

Karamel adalah bagian dari doa-doa gue yang belum sempat gue ungkapkan karna gue terlalu munafik untuk mengakui kalau gue butuh tempat tinggal baru. Tempat tinggal untuk pulang, beristirahat, dan seutuhnya nyaman sebagai diri gue sendiri. 

Ya, itu cuma sebagian dari alasan kenapa gue senang ketemu Karamel sih. Sisanya... gak begitu bisa dijelaskan. Saking senangnya, gue sampai sempat lupa bahwa gue dan Karamel adalah manusia

Lucunya, gue dan Karamel selalu se-iya-sekata. Kami sering memiliki prinsip yang sama, opini yang sama, bahkan sikap yang sama. Kami sama-sama canggung, sama-sama sans (saking sansnya gue jadi kelihatan gak niat idup), sama-sama gak mau repot. Kami bahkan mengejek hal yang sama (dalam hati aja karna kami gak mau ribut), menertawakan lelucon yang sama, dan memuji hal yang sama. Iya, kami memang se-sama itu. Tapi ternyata, kami sama-sama manusia. Kembali ke salah satu masalah terbesar kehidupan manusia: gak luput dari perbedaan. 

Semakin gue dan Karamel mengenal satu sama lain, semakin kami sadar bahwa kami sama-sama manusia yang sebenarnya gak seutuhnya sama. Ada banyak perbedaan yang entah sebenarnya harus diapain. Kami sama-sama mengakui bahwa masalah itu pernah ada karna ada yang beda di sini. 

Ternyata, kita semakin bisa ngeliat yang mana fantasi dan yang mana realita ya? 

Sampai sekarang pun gue tidak benar-benar tahu gimana caranya menyamakan dua hal yang terang-terangan gak sama. "Menghargai" katanya. Iya benar perbedaan itu dihargai, tapi terus gimana caranya kita ngelakuin sesuatu yang kita hargain, tapi gak kita setujuin? 

Sekarang gue paham kenapa gak sedikit masalah yang ada karna perbedaan. Jawabannya karna toleransi aja gak cukup. Kita butuh titik temu. 

Karamel, kalau-kalau kamu baca tulisan ini, aku sebetulnya gak tahu apa dan dimana titik temunya. Sayangnya, aku gak tahu. Tapi lepas dari ada atau enggaknya persamaan dan perbedaan, lepas dari siapa pun yang (dengan sabar) ngebuka dan ngebaca tulisan ini, aku senang dan aku bangga punya Karamel. Aku senang karna ternyata walaupun munafik, harapan-harapan aku masih didengar. Walaupun gak sempat diungkapkan, aku masih bisa ketemu Karamel. Aku gak bisa sebutin semuanya (karena aku jatuh cinta tanpa sebab), tapi kalau kamu mau tahu, ini adalah beberapa alasan kenapa aku senang dan bangga bisa ketemu Karamel:
1. Karamel senyumnya manis. Kalau kamu mau unjuk bakat, boleh. Kalau unjuk gigi, jangan. Soalnya senyum kamu manis, entar orang-orang pada naksir. (Baca: gue gak mau repot)

2. Karamel selalu punya pikiran dan ide-ide gila. GILA. Tapi menjadi gila adalah cita-cita gue. Kadang kita gak perlu punya kekuatan super untuk melakukan perubahan. Kadang kita cuma perlu jadi gila supaya kita gak malu dan gak takut untuk nekat dan bikin perubahan. Berikut adalah biodata singkat gue:

Nama                    : Vidya
Umur                    : 18 tahun
Makanan favorit   : Sate padang, sushi, kwetiau goreng, soto betawi, pecel lele
Minuman favorit  : Susu coklat, jus alpukat
(karna makanan adalah prioritas hidup gue)

Cita-cita                : jadi pemain film, jadi gila

Gue tidak hanya jatuh cinta pada Karamel, tapi juga jatuh cinta pada ide-ide gila dan pikiran terdalamnya. Pikiran dalam dia bikin gue sadar bahwa ternyata yang gila gak gue doang. Setidaknya, ternyata gue gila gak sendirian.

3. Karamel selalu penasaran tentang gue dan pikiran terdalam gue. Lebih dari itu, Karamel tidak hanya sayang sama gue, tapi juga sayang pada orang-orang yang gue sayangi. Percayalah, itu sangat-sangat berarti. 

Aku sadar kita sama-sama manusia. Kita gak sepenuhnya sama dan biasanya, perbedaan jadi masalahnya umat manusia. Dan karna kita manusia, gak ada yang bisa menjamin kalau selamanya itu benar-benar ada. Tapi sekecil apa pun kemungkinan dari "selamanya", aku siap. 

Siap bukan karna nungguin perpisahan, tapi siap karna gue senang setidaknya doa-doa gue pernah didengar. Terima kasih karna sudah datang ya, Vincent.

Titik hidup yang ada sekarang ini gak pernah menjadi bagian dari rencana gue beberapa waktu yang lalu. Yang gue ingat, beberapa bulan yang lalu semuanya pait. Tapi ternyata, kepahitan tersebut bikin gue ada di titik sekarang. Gue memang sotoy. Gue menilai sesuatu sebelum gue melihat dari lebih dekat. Sekarang gue sadar, kita gak akan pernah bisa menilai sesuatu seutuhnya, kecuali kita nyemplung ke dalam "sesuatu" itu.

Bersambung...

Ini bukan sinetron Mermaid Naik Haji Bareng Anak Jalanan dan Serigala. 
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review