Selasa, 20 Juni 2017

Budi Menggigit Anjing

Gue gak pernah begitu percaya sama intuisi, tapi gue selalu percaya kalau bagaimana pun caranya, segala hal yang ada di dunia, atau setidaknya segalanya di hidup gue sebenarnya udah tercatat. Bagaimana pun bentuk catatannya, gue percaya kalau takdir (or whatever you call it) itu selalu membawa gue pada tujuannya sendiri.

Sejak SD, gue hobi banget cerita. Gue tahu gue payah, but I gotta be honest that somehow, gue suka bercerita. Gue suka menulis, gue suka bicara, dan gue suka ngobrol. Mama gue sering bercerita bahwa sejak kecil, gue sering SKSD (Sok-kenal-sok-deket) sama banyak orang, sekali pun yang belum gue kenal.

Hobi aneh gue tersebut membawa gue pada ekstrakulikuler jurnalistik sewaktu gue kelas 5 SD. Gue inget banget, ekskul itu dibimbing sama guru SD gue yang masih dan akan selalu gue ingat karena jasanya, Ibu Merti. Kerjaan di ekskul itu simple, anak-anaknya dijelasin tentang tulisan yang menarik sambil sesekali ngewawancara murid dari ekskul lain yang kemudian hasil wawancaranya kami buat jadi artikel.

"Kalau Budi digigit anjing, itu bukan berita. Kalau anjing digigit Budi, itu baru berita!" kata Ibu Merti menjelaskan pemahaman dari tulisan yang menarik.

Sekarang gue berkuliah di jurusan jurnalistik. Masuknya sih antara sengaja dan gak sengaja. Memang bukan pilihan pertama gue, sih. Tapi berhubung sudah lolos (dan sudah kelimpungan cari kuliah), gue pikir jalanin aja dulu, deh.

Beberapa waktu setelah kelolosan gue dan sebelum gue pindah ke kabupaten Sumedanh, gue bertemu seorang teman yang sudah menjadi kawan karib gue sejak lahir, sebut saja namanya Shizuka. "Gak nyangka, ujung-ujungnya lo balik lagi ke ekskul lo jaman SD, ha-ha!" kata Shizuka cengengesan.

Lah, iya. Bener juga nih si Shizuka.

Selama 3 tahun di SMA, gue berupaya memikirkan matang-matang mau dibawa kemana rencana masa depan gue. Gue sama sekali gak terbayang bahwa ujung-ujungnya, gue bakal kecemplung lagi ke dalam tugas-tugas tulis-menulis (bedanya sekarang tugas-tugasnya lumayan mematikan, gak kayak tugas menulis jaman SD). Ternyata apa yang gue cari-cari selama 3 tahun sudah pernah menjadi bagian dari keputusan gue. Yak benar, keputusan waktu SD untuk ikut jurnalistik.

"Kita jangan kontakan dulu. Ngobrolnya lanjut lagi kalau kita udah ketemu di sana, ya!" kata Karamel beberapa jam sebelum kami ketemuan di sebuah kafe. Bertemu untuk yang kedua kalinya setelah takdir memertemukan gue dengan Karamel.

"Biar kita tahu kalau nggak ada alat komunikasi, kita berdua bakal tetap datang atau enggak. Orang jaman dulu aja kalau janjian ketemuan di bawah pohon nggak pake chatting-an dulu," katanya. Rupanya, kami berdua tetap datang.

Semenjak itu, beberapa kali kami secara sadar atau nggak sadar tidak menghubungi satu sama lain saat beberapa jam sebelum ketemuan. Tujuannya aneh tapi penting: menguji intuisi.

Suatu hari waktu liburan panjang, gue dan Karamel ingin jalan-jalan ke museum di Jakarta. Kami berangkat sendiri-sendiri dari rumah masing-masing. Untuk pertama kalinya, gue naik kereta ke Jakarta. Seru, sih. Perjalanannya nyaman dan cepat, nggak kena macet.

"Mel, aku udah di stasiun Bekasi, nih." kata gue ketika baru mau berangkat ke Jakarta. Itu menjadi percakapan terakhir gue dan Karamel sebelum akhirnya ketemuan. Gue sengaja, ingin nguji intuisi. Karamel pun tidak kunjung menghubungi gue semenjak percakapan terakhir itu. Kira-kira kalau kami gak janjian, kami bakal tetap ketemu nggak, ya?

Sampai di Stasiun Kota Jakarta, gue sama sekali tidak tahu harus apa dan kemana. Sambil "menguji intuisi", gue ngeloyor nyari kopi. Sambil sruput-sruput kopi, gue melangkah di stasiun. Itung-itung sambil explore tempat baru. Setelah beberapa langkah, gue melihat Karamel di tengah keramaian stasiun.

"Kamu sengaja gak kontak aku karena pengen nguji intuisi, ya?" tanya gue dari belakang Karamel.

Ternyata intuisi kami hidup. Kami tetap bisa ketemu walaupun nggak kontakan. Emang beda tipis sih antara intuisi sama kebetulan. Tapi mungkin gak sih itu kebetulan kalau terjadinya berulang kali?

Hari ini, hari ketiga semenjak kepulangan gue ke peradaban kuno Jakarta. Sore ini, gue berencana untuk ketemuan dengan geng Invisible (nanti gue jelasin kenapa namanya Invisible) dan beberapa guru dalam rangka buka bersama dan kangen-kangenan.

Gue menghabiskan 6 tahun masa pendidikan gue (SMP sampai SMA) di ranah Cibubur, sebuah ranah sempit dimana setiap 2 meter, ada kemungkinan lo bertemu orang yang lo kenal. Hari ini, gue janjian ketemuan bareng geng Invisible di Cibubur.

Gue berangkat dengan berkendara ojek online. Di perjalanan ke Cibubur, gue secara tidak sengaja melihat...

melihat...


MELIHAT...

tegang, nggak?!!

Gak usah tegang, biasa aja.

Gue melihat orang yang pernah menjadi bagian dari drama SMA gue. Drama nggak jauh-jauh dari kisah romansa, jadi silakan tebak sendiri siapa tokoh drama yang gue temui sore ini di jalan (Gak deng, gak usah ditebak). Yak, kata gue juga apa. Cibubur adalah ranah sempit dimana setiap 2 meternya, ada posibilitas lo bertemu orang yang pernah lo kenal.

Seperti canggung-canggung pada umumnya, gue sendiri nggak tahu harus bersikap bagaimana. Entah ini sebuah kondisi beruntung atau enggak, tapi ojek yang terus bergerak gak memungkinkan gue untuk berpapasan.

Ini intuisi atau kebetulan?

Gak, ini bukan intuisi. Ini Cibubur. Cibubur sebagai ranah sempit dimana setiap 2 meternya, ada posibilitas lo bertemu orang yang pernah lo kenal.

Terlepas dari ini intuisi, kebetulan, atau Cibubur, gue harap intusisi gue tentang peradaban kuno udah terlalu usang untuk hidup kembali. Atau seenggaknya kalau memang belum seusang itu, anggep aja gue udah ngebunuh intuisi atau apapun itu namanya. Gue terlalu capek buat urusan lagi sama peradaban kuno.

Lagi pula, bukannya gue udah pernah memutuskan untuk berubah?

Waktu gue SMA, gue gak pernah gak tidur setiap pelajaran sosiologi. Gue suka sosiologi, okay? Bukan pelajarannya yang salah, tapi guenya yang terlalu gampang tidur. Suatu hari, kami, murid 12 Viburnum, disuruh membaca materi dari buku dan menjelaskannya secara berkelompok. Karena gue asik tidur, tentunya gue tidak membaca apa-apa.

"Bangun-bangun. Coba jelaskan, tadi kelompok kamu baca apa?" kata Mr. Hery (guru sosiologi) membangunkan gue. Alhasil, gue jawab aja alakadarnya. Lumayanan, jawaban gue adalah hasil karangan gue dan imajinasi gue. Hore!

"Emangnya mana kelompok kamu?"

Oh iya, gue gak punya kelompok. Gue celingak-celinguk.

"Ini, Sir!" kata gue sambil menunjuk kedua teman yang kebetulan lagi asik ngobrol di sebelah gue. Tentu saja, kedua orang ini juga sama sekali tidak membaca materi. Kedua tersangka tersebut adalah Zeta dan Divi. Mr. Hery geleng-geleng.

Semenjak itu kami sadar bahwa kelompok kerja kami selalu ada...

Tapi hasilnya yang gak ada.

Kemudian lahirlah geng Invisible.

Hari ini kami gak sengajaan pakai baju hitam-hitam. Emang dasarnya udah penguasa kegelapan, mau diapain lagi lah. 

in·tu·i·si n daya atau kemampuan mengetahui atau mema-hami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review