Selasa, 20 Juni 2017

General Manager UMN Radio, Adrian Renardi : Jurnalistik Tidak Selalu Harus Idealis

“Peran media yang terpenting adalah jujur karena salah satu elemen dalam jurnalistik adalah loyalitas kepada khalayak. Kita garis bawahi kejujuran karena media adalah perwakilan dari khalayak. Media menciptakan informasi yang berguna bagi masyarakat, dengan kejujuran.” jelas Adrian Renardi tatkala memberikan pandangannya perihal jurnalistik sebagai jurusan yang beliau dalami di Universitas Media Nusantara.
            Adrian Renardi 20, tahun, memegang posisi General Manager di UMN Radio, sebuah organisasi di Universitas Multimedia Nusantara yang mewadahi sekaligus memfasilitasi mahasiswa yang ingin berkecimpung di dunia radio. Dengan berpikiran terbuka dan pengalamannya dalam dunia radio komunitas selama tiga tahun, Adrian Renardi beranggapan bahwa kehadiran media sosial sebagai hasil dari perkembangan teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi radio, tapi juga sebagai pendukung eksistensi radio. Bagi beliau, pelaku media tidak selalu harus menjunjung tinggi idealisme. Ada kalanya, pelaku media harus beradaptasi dengan arus perkembangan teknologi untuk mempertahankan nilai-nilai baik yang dimiliki radio, seperti akurasi dan loyalitas terhadap khalayak.
            Dalam perbincangan selama kurang lebih satu jam di Hi Up Coffee, Jalan Scientia Square Barat, Tangerang, Banten pada Sabtu, 1 April 2017, Adrian Renardi berbagi pandangan, pengalaman, serta harapannya perihal eksistensi radio yang mulai memudar di kalangan generasi muda masa kini, terkait dengan kehadiran media sosial yang merebut perhatian generasi muda dan berpotensi membunuh radio.

Sudah berapa lama menjadi General Manager di UMN Radio?
Efektif sejak Januari, semenjak serah terima jabatan. Tapi gue udah mulai ngerancang strategi untuk generasi ini, gue pegang generasi keenam sudah sekitar dari bulan November. General manager yang sebelumnya ngasih mandat untuk gue buat struktur, rencana, sistem, dan proker yang rampung bulan Januari. Jadi, efektifnya baru tiga bulan.
Apakah Kak Adrian berpartisipasi di UMN Radio semenjak baru masuk kuliah?
Benar. Dari gue tahun pertama kuliah, di kampus gue ada sistem Open Recruitment. Gue daftar, Puji Tuhan keterima sebagai music director dan kerja selama dua tahun. Tahun ketiga, baru dipercaya sebagai general manager.
Awal mula masuk ke UMN Radio, apakah karena kecintaan pada radio, atau karena melihat keaktifan dunia radio di UMN?
Sebenarnya dari awal gue demen dengar radio sih, sejak SMP. Kebanyakan radio Bandung seperti Ardan dan Ninetyniners. Masuk UMN pun awalnya enggak ada niatan untuk masuk ke radio. Memang awalnya sempat cari tahu kegiatan-kegiatan mahasiswa di UMN, seperti UMN Broadcaster, tapi enggak kepikiran untuk masuk media kampus. Ternyata open recruitment UMN Radio waktu masih jadi mahasiswa baru membuat gue penasaran ingin berkecimpung di dunia radio. Awalnya coba-coba, ternyata sampai sekarang jadi semakin suka.
Bisa disimpulkan, memulai dunia radio karena sejak awal sudah kenal dan sering mendengarkan radio ya, Kak?
Mendengarkan doang awalnya, belum tahu bagaimana di dalamnya seperti divisi, operasional, sampai aturan-aturan siaran yang baru gue tahu setelah gue masuk UMN Radio. Jadi sebenarnya UMN Radio adalah tempat yang membuat gue belajar banyak.
Di generasi muda sekarang, tidak banyak yang masih mendengarkan radio. Media sosial dianggap lebih menarik.
Sebenarnya, daya jual radio adalah lagu. Konten siaran radionya sendiri menjadi nomor dua. Sementara keberadaan Youtube, Joox, dan Spotify (aplikasi online untuk mengakses musik) secara gak langsung membunuh radio. Penurunan jumlah pendengarnya drastis.
Di luar daya jual radio berupa entertainment, bagaimana pandangan Kak Adrian mengenai konten jurnalistik dalam dunia radio?
Menurut gue, radio khusus berita masih memiliki peran yang jelas. Seperti Radio Elshinta, dari zaman dulu gue dengar Radio Elshinta sampai sekarang, konsep dan formatnya masih sama. Dari segi jurnalistik, radio masih efektif. Misalnya untuk mereka yang sering kena macet di Jakarta, output radio berupa suara bikin mereka tahu berita cukup dengan mendengarkan. Intinya, jurnalistik dalam radio masih kena untuk masyarakat.
Adakah alasan atau ketertarikan tersendiri yang membuat Kak Adrian bertahan dalam dunia radio?
Sebenarnya sih awalnya benar-benar hanya ada basic senang mendengarkan. Kemudian karena coba-coba, gue justru semakin enjoy dan ingin explore lebih jauh. Bahkan karena coba-coba, jadi berniat untuk ke dunia radio terus. Berdasarkan pengalaman tiga tahun di UMN Radio, gue banyak belajar dan pembelajaran itu jadi satu hal menyenangkan buat gue.
Berarti antusiasme Kak Adrian baru terbentuk semenjak “kecemplung” ke dalam dunia radio itu sendiri.
Benar, karena awalnya gue pun belum mengenal sejauh itu. Tapi karena belajar dan lihat dari dalam, barulah gue memulai.
Dalam pandangan Kak Adrian, seberapa besar eksistensi UMN Radio bagi kehidupan mahasiswa di UMN?
UMN Radio lebih menarik antusiasnya mahasiswa dalam event off-air. Walaupun bentuknya radio komunitas, menarik khalayaknya justru sulit. Kebanyakan dari mereka cuma mendengarkan kalau memang mereka lagi pengen, bukan untuk teman bosan atau sumber informasi. Maka itu, target gue sekarang adalah membuat jumlah pendengar bertambah. Permasalahannya adalah di komunitasnya itu sendiri. Mereka cuma mendengar sekali-sekali, bukan sebagai pendengar setia.
Kalau masalahnya ada pada antusiasme khalayak, bukankah itu berkaitan dengan menurunnya antusiasme generasi muda masa kini pada dunia radio?
Justru itu yang harus dilawan. Walaupun basic-nya kita media elektronik, kita harus manfaatkan juga media sosial. Kita manfaatkan Instagram atau LINE@ karena kita melihat ketertarikan mahasiswa sekarang. Dari media sosial, khalayak diarahkan untuk mendengarkan radio. Itu upaya untuk menarik pendengar. Tapi kembali ke komunitasnya, apakah mereka menjadikan UMN Radio kebutuhan atau enggak. So far, memang belum jadi media andalan.
Untuk menarik antusiasme khalayak, program bagaimana yang diadakan oleh UMN Radio?
Lebih ke entertainment, tapi juga ada berita. Ultimafriends (sebutan untuk pendengar UMN Radio) bisa mendapatkan informasi dari sana. Beritanya bisa seputar Serpong, karena radionya adalah radio komunitas, bisa pula worldwide dan lokal. Entertainment sendiri lebih diunggulkan karena melihat minat pendengarnya, yang lebih suka konten yang cenderung enggak berat dan menghibur bagi mahasiswa.
Program apa saja yang diadakan oleh UMN Radio?
Dari program on-air, setiap tahun ada inovasi karena kami based on survey, melihat apa yang sebenarnya diinginkan oleh pendengar, yaitu entertainment. Setiap Senin sore, kami punya program tentang travelling supaya pendengar punya rencana ingin kemana saat weekend. Setiap Senin malam, kami punya program Sersan (Senin Rasa Santai) yang inginnya merubah pandangan bahwa Senin itu Monster Day, dengan pembawaan topik yang santai dan nyeleneh oleh dua orang cewek. Untuk Selasa, kami punya program What’s On Campus yang lebih mengarah ke informasi tentang kampus. Kami sering mengundang orang-orang penting di kampus, seperti orang hits, dosen, dan lain-lain. Untuk malam Selasa, kami punya Soda yang acaranya juga nyeleneh dan sering mengundang cewek hits di kampus. Itu salah satu strategi untuk menarik pendengar sih, karena tamunya pasti punya daya tarik dan followers yang banyak. Tamunya sering ngajak teman-temannya untuk dengerin radio. Untuk Rabu, kami punya program Ngomel yang ngomongin game. Rabu malam, kami punya Dekil yang segmentasinya penyuka jadul-jadul. Kamis, kami punya Pop Acoustic yang biasanya ngundang artis. Selama sebulan ini, kami udah ngundang Ecoutez untuk live di radio. Kamis malam, kami punya program Bilang Cinta karena cinta itu topik yang gak akan pernah mati, apa lagi buat generasi kita. Jumat siang, ada Friyay yang biasanya membahas film, tempat nongkrong, atau ngundang orang di luar musik. Malamnya, kami ada program untuk penyuka Korea. Untuk Sabtu, kami punya program Sabtu Siaran yang isinya chart top 20. Sementara untuk event off-air, kami punya annual event namanya Radio Active yang lebih menarik khalayak karena mereka bisa lihat live music dan ikut lomba-lomba. Lewat event ini juga kami meningkatkan awareness khalayak sama radio. Kami ngadain lomba-lomba dan ngundang artis untuk closing, seperti Barasuara dan Reality Club. Intinya, tujuan program-program on-air dan off-air kami adalah ngajak mahasiswa untuk dengerin radio.
Bagaimana pandangan Kak Adrian perihal radio yang mulai memudar di generasi kita bila dibandingkan dengan eksistensi media sosial?
Karena sekarang sudah era digital, semua serba praktis. Telfon, text, dengar lagu, semua bisa dalam satu device smart phone. Sebenarnya kehadiran media sosial bisa jadi ancaman sekaligus jadi support buat radio. Bisa jadi ancaman karena media sosial bisa membunuh radio. Di satu sisi lain, media sosial support radio karena dengan adanya teknologi, kita jadi punya fasilitas radio streaming, akun media sosial untuk media radio, sekaligus bisa narik followers. Lucunya, mereka lebih tau tentang radio dari media sosial daripada dari radionya sendiri. UMN Radio enggak begitu menganggap media sosial sebagai ancaman, tapi justru menganggap media sosial sebagai kesempatan untuk berkembang. Istilahnya, kita memperlebar sayap dengan aktif di berbagai bentuk media. Maka itu dalam pandangan gue, radio enggak akan pernah mati.
Keunggulan apa dari radio yang membuat Kak Adrian berpandangan bahwa radio akan terus bertahan?
Khusus untuk radio kampus, mahasiswa yang tinggal sendiri di kostan misalnya, butuh teman yaitu media. Media itu gak cuma media sosial, kok. Dengan media radio, mahasiswa bisa ditemani ngerjain tugas, yaitu dengan mendengarkan radio. Buat gue, radio adalah media yang paling praktis. Lo bisa sambil ngapa-ngapain dan masih dapat informasi, enggak seperti media sosial atau televisi yang harus dilihat langsung untuk dapat informasi. Radio mengandalkan auditori dan bikin kita menciptakan theatre of mind. Pendengar bisa lebih leluasa dalam menciptakan gambaran.
Salah satu karakteristik radio adalah “akrab”.
Benar, karena penyiar komunikasi secara satu arah. Kita gak pernah dengar penyiar bilang “buat kalian yang lagi di jalan”, tapi lebih menggunakan kata “kamu” atau “lo” untuk memberikan kesan intim. Ketika kita kesepian, kita dengerin radio, dari sanalah kita punya teman ngobrol. Buat gue pribadi, akan lebih senang kalau interaksinya secara auditori, seperti dalam radio.
Kenyataannya, generasi muda sekarang lebih senang media sosial karena lebih mudah dan serba praktis untuk diakses.
Itu enggak bisa dipungkiri. Seiring berjalannya waktu, dengan teknologi, segala sesuatu jadi lebih instan. Kenyataanya adalah sekarang radio berada di belakang media sosial. Mau atau enggak mau, kecintaan kita sama media sosial enggak bisa dipungkiri.
Mempertahankan eksistensi radio asalkan pelakunya cermat dalam memanfaakan kemajuan.
Benar, karena kita mengkondisikan radio sesuai dengan perkembangan teknologi. Jangan egois sebagai pelaku media cetak atau radio. Media cetak atau radio enggak akan bisa bertahan kalau enggak mau mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kita harus mau melihat apa yang diinginkan pasar. Kita enggak boleh terlalu idealis.
“Radio sebagai Pilar Kelima”. Bagaimana pandangan Kak Adrian?
Istilah itu muncul ketika radio punya dampak yang sangat besar, seperti momen Proklamasi yang diketahui banyak orang karena radio. Untuk sekarang, kalau disebut sebagai pilar kelima, gimana ya... sekarang berita itu bisa gampang diketahui banyak orang kalau mendapatkan banyak likes, share, atau view seperti di media sosial. Untuk penyebaran informasi, paling efektif media sosial. Tapi belum layak juga media sosial disebut sebagai pilar kelima. Untuk radio sebagai pilar kelima, balik lagi ke banyak atau enggaknya yang mendengarkan. Kalau enggak banyak, belum bisa disebut sebagai pilar kelima.
Berarti dalam pandangan Kak Adrian, radio sekarang tidak bisa disebut sebagai pilar kelima, tapi sama halnya dengan media sosial?
Benar, karena media sosial terlalu terbuka dan enggak jelas verifikasinya. Apa lagi, sekarang banyak sekali hoax. Hukum tentang media sosial belum rampung dan belum diatur dengan ketat. Efektif sih iya, tapi verifikasinya enggak terjamin. Berita di media sosial juga sering berat sebelah, seperti hate speech. Dalam hal ini, radio memiliki lisensi yang jelas dari pemerintah, sehingga bisa menyiarkan berita yang lebih akurat dan terverifikasi.
Berdasarkan yang paling disukai sampai paling tidak disukai sebagai pelaku media radio sekaligus pengguna media lain: Youtube, televisi, media sosial, media cetak, radio.
Pertama Youtube, karena konten-kontennya bagus dan gue bisa melihat konten mana yang bisa dipercaya dan mana yang enggak. Kedua, media sosial karena orang-orang sudah banyak menggunakan media sosial, bahkan media cetak dan radio pun sudah mengarah ke online. Ketiga radio, karena simple. Keempat TV. Media cetak terakhir, karena berupa fisik dan kalau sudah enggak kepake jadi sampah, walaupun sifatnya abadi dan bisa dibaca kapan saja. Tapi tetap saja, menurut gue media cetak paling bisa dipercaya.
Sebagai mahasiswa jurnalistik, dalam pandangan Kak Adrian, bagaimana peranan efektivitas radio dalam menyampaikan informasi kepada khalayak?
Untuk sekarang, enggak bisa dibilang paling efektif karena sekarang ada media sosial. Kecuali kalau kontennya menarik dan sempat diangkat atau diperkenalkan dari media sosial dulu. Radio bisa dibilang efektif karena mengandalkan auditori dan dirancang untuk didengarkan sambil melakukan aktivitas lain. Efektif atau enggak itu tergantung dari kebutuhan khalayak. Kalau ingin informasi mendalam, cari di media cetak. Kalau ingin informasi sekilas, cari di radio. Kalau ingin visual, cari di televisi. Tapi efektivitas juga harus dipertimbangkan dengan kecermatan khalayak, karena enggak semua yang efektif itu terverifikasi dengan baik.
Apa harapan Kak Adrian untuk UMN Radio ke depannya?
Yang pasti pendengarnya semakin banyak. Walaupun dulu pendengarnya sempat banyak, mempertahankan itu lebih sulit daripada mencapai. Tapi semoga juga kami selalu ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru baru, yang sesuai dengan apa yang pendengarnya sukai. Semoga juga UMN Radio bisa jadi pilihan media utama buat mahasiswa UMN dan dipercaya sebagai media yang paling aktual dalam menyediakan informasi.
Apa harapan Kak Adrian untuk dunia radio di Indonesia? 
Pelaku radio harus mau melihat kemajuan teknologi, jangan pakai kaca mata kuda yang hanya melihat satu arah ke depan. Kita harus lihat kiri kanan, bagaimana karakteristik pasar sekarang. Apakah mereka ingin yang praktis atau segala macamnya, pelaku harus mau mengikuti. Media itu jangan terlalu tinggi idealisme, karena media ada untuk audience, bukan audience yang ada untuk media. Inovasi selalu ada, supaya radio selalu bisa menciptakan konten yang bisa dipercaya.




Foto: Vidya Pinandhita

Adrian Renardi berbagi pandangan, pengalaman, serta harapannya perihal eksistensi radio yang mulai memudar di kalangan generasi muda masa kini di Hi Up Coffee, Jalan Scientia Square Barat, Tangerang, Banten pada Sabtu, 1 April 2017.

Minggu, 18 Juni 2017

Kembali ke Peradaban

Sejak semalam, gue pulang ke peradaban Jakarta dan meninggalkan peradaban kabupaten Sumedang. Ujian akhir semester 2 gue selesai seminggu yang lalu. Gue memutuskan untuk gak langsung pulang ke Jakarta, melainkan berleha-leha dulu di Sumedang. Ini serius, gue kuliah di kabupaten Sumedang.

Hari demi hari, kost-an gue semakin gak berpenghuni. Satu demi satu mahasiswa pulang ke kampung halaman. Bersiap untuk beristirahat dan kembali bersender dalam hiruk pikuk hangatnya keluarga.

Sementara satu demi satu cabut, gue sibuk menikmati kesendirian di Bandung kabupaten Sumedang. Memang sih, gak begitu banyak juga kesibukan gue seminggu  terakhir ini. Terlepas dari kesibukan gue di hectic-nya kuliah, gue menyibukan diri dengan kegiatan yang... entahlah sebenarnya penting atau enggak untuk dikerjain. Tapi selama ke-sok-inisiatif-an gue bikin gue relax, kenapa enggak?

Seminggu terakhir ini gue isi dengan baca novel-novel yang sudah pernah gue baca sebelumnya, tidur, beres-beres kamar kost-an, eksperimen dengan bahan prakarya (yang tentunya hasilnya payah), dan... belajar?

Seminggu terakhir ini, gue bertemu dengan orang yang beda setiap harinya. Gak banyak sih yang kami lakukan, palingan sekedar ngobrol dan ngopi atau buka puasa bareng. Tapi terlepas dari gak-banyaknya hal yang kami lakukan, gue belajar banyak dari berbagai kisah yang mereka bagikan dan pandangan yang kami saling sampaikan satu sama lain.

Salah satu dari teman-teman yang gue temui seminggu terakhir kemarin, sebut saja namanya Ciki, secara gak sengaja ketemu gue gak jauh dari tempat gue nge-kost. Awalnya kami cuma makan malam bareng, sampai akhirnya obrolan kami kian mendalam dan berujung dengan makan martabak tengah malem dan menginap di kost-an gue.

Dari curhatan gue dan Ciki, gue belajar tentang perubahan.

Perubahan dan kedinamisan adalah bagian dari kehidupan, dan itu sudah jelas-jelas diterangin dalam sosiologi bahwa hidup manusia itu gak stagnan.

Gak usah munafik, semua orang berubah.

Simple-nya gini:
Lo putus dengan alasan pacar lo berubah, wajar karena kalau pacar lo gak pernah berubah, he/she's probably not a living thing. Hubungan lo dengan dia berubah, wajar karena kalau lo dan dia gak pernah berubah, you guys are probably not a living thing.

Ya, emang sih perubahan di kehidupan itu gak segampang itu untuk dihadapin.
Gue juga gak selalu bisa dengan gampang beradaptasi dengan perubahan.

Takut sama perubahan adalah alasan gue untuk stay di kost-an (tepatnya di kabupaten Sumedang) lebih lama. Setahun yang lalu, gue memutuskan untuk memulai hidup yang baru, berusaha setengah mati menjadi orang yang berbeda di tepat yang baru dengan orang-orang baru, dan tentunya jauh dari lingkungan gue yang lama. Susah, memang. Tapi waktu demi waktu, gue mulai menikmati berbagai perubahan di tempat baru gue.

Berubah itu pilihan, katanya.

Beberapa minggu pertama semenjak memulai kehidupan baru, that was pretty hard. Gimana enggak? Jauh dari rumah, patah hati dahsyat gara-gara drama romansa masa silam, berupaya setengah mampus buat survive hidup sendirian di tempat yang 180 derajat beda dengan lingkungan biasanya... I guess it was pretty hard for a dumb-human being yang belum pernah jauh-jauh dari rumah sebelumnya.

Tapi ternyata tinggal sendirian itu gak seburuk itu. Kamar kost-an gue... gak rapi-rapi banget sih. Isinya pun alakadarnya, sesuai kebutuhan gue aja. Tapi itu bukan masalah, kost-an gue memang dinikmati oleh gue sendiri. Dalam kata lain, Mama gue tidak akan menceramahi gue karena ketidakrapian kamar gue. Merdeka!

Kehidupan gue sehari-hari... lumayan gak membosankan. Walaupun uang gue gak banyak, gue tetap bisa menikmati berbagai keanjayan duniawi. Teman-teman gue asyik, ditambah tempat tinggal gue yang gak jauh dari kota Bandung, well, gimana gue gak bersenang-senang?

Gue sadar bahwa dengan kuliah jauh dari rumah, it means segala hal di hidup lo adalah tentang pilihan. Mau lo apakan waktu kosong lo, mau lo apakan tugas-tugas kuliah lo, mau lo apakan kamar lo, mau lo apakan duit lo, bahkan mau jadi orang kayak apa lo ke depannya, semua itu jadi pilihan lo sendiri. Tapi satu hal yang semua makhluk hidup harus tau: setiap pilihan punya resikonya sendiri.

Sambil melangkah di tempat tinggal baru dengan orang-orang baru, gue memilih untuk menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Lets say, berbeda dari diri gue yang gue kenal waktu SMA. It was rough at first. Gue memaksakan diri untuk menjadi tidak secengeng dulu, menjadi orang yang lebih terbuka dan membebaskan diri bergaul sama siapapun tanpa batasan dari siapapun, dan menjalani hidup tanpa khawatir akan masa depan. Gue gak mau takut pada siapapun dan apapun, gue gak ingin "dikuasai" apa pun, dan gak ingin menjadikan diri gue jadi "milik" siapa pun. Tujuannya sederhana tapi dramatis: supaya gak patah hati lagi. 

Gue harap gak patah hati lagi itu jadi resiko dari pilihan gue untuk berubah.

Awalnya, gue kira gue munafik karena gue menjadi orang yang... sepenuhnya pencitraan. Tapi semakin hari, gue semakin sadar bahwa perubahan gue adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadi orang yang mungkin lebih baik. Mungkin.

Semakin hari, gue semakin menikmati keputusan gue untuk berubah. Gue tidak lagi menangisi perubahan, gue tidak lagi mempertanyakan kenapa ini dan itu tidak lagi sama, gue tidak lagi membenci diri gue untuk patah hati yang sebenarnya sudah berlalu. Gue memaafkaan masa lalu. Gue bergerak. Gue menikmati perubahan yang ada. Gue suka tempat tinggal yang baru.

Sampai akhirnya gue harus pulang ke lingkungan yang lama untuk waktu yang gak sebentar. Gue harus kembali berhadapan dengan circle yang sudah gue tinggalkan untuk sementara waktu. Gue harus kembali diperhadapkan dengan kisah-kisah yang gue kira sudah usang.

Gue tahu benar bahwa menghadapi perubahan itu gak mudah. Gue tahu benar seberapa susahnya beraptasi dengan perubahan. Gue bahkan gak bisa membayangkan seberapa sulitnya gue kembali ke tempat lama, menghadapi orang-orang yang memerlakukan gue seperti gue adalah gue yang belum berubah.

Gue harus pulang. Gue gak siap, gue ingin tinggal di tempat tinggal baru lebih lama lagi. Gue gak siap berubah lagi.

Lah, jadi yang munafik siapa?

Kegundahan gue dan Ciki tentang perubahan berakhir dengan sebuah konklusi bahwa mau tidak mau, kita harus pulang. Tapi yang lebih penting dari harus pulang adalah... perubahan itu memang harus selalu ada. Seberapa besar ketakutan kita, seberapa kita siap menghadapi perubahan, perubahan-perubahan itu memang harus selalu ada. Perubahan itu bagian dari kehidupan. Kita berubah karena kita masih hidup.

Perubahan dan kedinamisan adalah bagian dari kehidupan, dan itu sudah jelas-jelas diterangin dalam sosiologi bahwa hidup manusia itu gak stagnan.

Gue sedang takut menghadapi perubahan selajutnya, sedangkan Ciki sedang berusaha untuk mengadakan sebuah perubahan. Kondisi kami gak sama, tapi kami sama-sama belajar tentang perubahan.

"There's no growing up without changes. There's no changes without lost. There's no lost without pain." Therefor, pain is a part of growing up, I guess? 

Mau gak mau, gue memang harus pulang. Gue gak bisa menghindari perubahan yang mungkin harus gue temui lagi ke depannya, terlepas dari bagaimana pun perubahannya. Sementara Ciki, mau gak mau harus mengambil keputusan untuk berubah,  bukan untuk menjadi orang yang bukan diri sendiri, tapi untuk menjadi orang yang lebih baik. Gak semua perubahan itu baik, tapi berubah adalah cara untuk menjadi orang yang lebih baik.

Gak mudah, memang. Tapi kalau berubah adalah cara untuk menjadi orang yang lebih kuat...

Sikat.

Beside, how bad can it be, sih?


Potret gue dan Ciki di toilet

Sabtu, 25 Maret 2017

Kurang Asem

Yak, sebelum gue memulai celotehan, ada baiknya kita bersama-sama merenungi sejenak nasib gue yang lagi terjebak di pangkalan travel di kota Bandung dan harus menunggu berjam-jam untuk bisa kembali ke habitat (Bekasi).

Udah berapa minggu ini, idup gue hectic bukan main. Entah hectic karna nasib, atau guenya aja yang sok-sok meng-hectic-an diri sendiri. Intinya, sedikit demi sedikit, gue yang masih maba dan buta akan seluk beluk hutan belantara ini semakin bisa liat gimana sebenarnya dunia kuliah.

Berhubung ke-hectic-an gue bikin gue gak bisa pulang ke Jakarta, beberapa hari yang lalu bokap gue mampir ke kostan gue di Jatinangor. Gue menyuguhi bokap gue dengan jajanan milor (mie telor gulung) yang ujung-ujungnya gue sendiri yang melahap sampai habis. Bokap gue juga membantu gue membersihkan kamar, dengan alasan kamar gue lembap dan bisa jadi jamur-jamur bikin gue mati kelak.

Malamnya, kami bareng-bareng makan di Madtari. Gue gak tau di habitat lo ada Madtari atau enggak, tapi untuk menambah wawasan, Madtari adalah tempat makan yang terkenal akan keju menggunung di atas Indomie. Sambil makan, kami ngobrol-ngobrol soal kuliah.

"Kamu betah gak, Kak kuliahnya? Kalau gak betah, pikirin baik-baik dari sekarang, supaya bisa siapin belajar kalau mau SBMPTN lagi," kata Popop.

"Ya betah gak betah harus paksain sih.. secapek-capeknya kuliah, mendingan capek kuliah daripada capek belajar buat SBMPTN lagi." jawab gue mantap.

"Tapi kamu enjoy sama capeknya kuliah kan?"

"Lumayan. Santailah, gak mau mikirin-mikirin amat."

 Sambil kami melanjutkan makan malam, kami nonton Breaking Dawn pt. 2 di bioskop Trans TV. Iya sama, gue juga bingung. Bisa-bisanya ada film bokep di warung makan indomie.

"Tapi, Pop... kayaknya aku gak pengen keras-keras banget deh soal kuliah," kata gue kembali melanjutkan percakapan. "Aku gak pengen kuliah bikin aku gak tidur. Aku gak pengen idup aku jadi tentang kuliah doang. Aku pengen main musik, istirahat, baru kuliah."

Di ujung ucapan, gue kira omongan gue akan meledakan suasana. Rupanya enggak. Popop gue justru menjawab dengan, "Mantap, yang penting kamu happy."

Semakin ke sini, gue semakin sadar bahwa apa yang akan gue hadapi ke depannya gak akan jadi semakin mudah. Kalau ada yang bilang dunia kuliah itu berat, percayalah, pasti dia gak bohong. Dunia kuliah memang sejomplang itu sama dunia SMA.

Tanpa sedikitpun maksud menakut-nakuti, tapi makin ke sini gue juga makin sadar bahwa dunia kuliah memang bisa dibilang 10x lebih berat (dan lebih gak menyenangkan) dibanding dunia SMA. Apa lagi dunia setelah kuliah nanti ya... entahlah. Intinya seberat-beratnya nahan ngantuk di kelas SMA... ada yang jauh lebih berat daripada semua kedramatisan di SMA.

Tapi sama halnya dengan selalu ada berkah usai hujan, pasti selalu ada makna di balik sebuah tantangan.

Secapek-capeknya kuliah, gue sadar bahwa gue gak lagi-lagi harus melalukan apa yang ga pernah jadi pilihan gue. Gue gak harus ngitung duit yang bukan duit gue (akuntansi) dan gak harus ngafalin atmosfer beserta ciri-cirinya (geografi). Yaelah, duit sendiri aja seret, ini lagi disuruh ngitung duit orang. Ya udah sih, gak usah dibikin repot. Tinggal napas aja, gak perlu mikirin di atmosfer apa adanya gas apa.

Secapek-capeknya gue kuliah, gue sadar bahwa ada banyak orang yang berjuang untuk bikin gue bisa ada di sini sekarang. Mulai dari orang tua, guru-guru di SMA, kakak-kakak di tempat bimbel, sampai teman-teman gue... ah, intinya gue ada di sini karena dukungan dan perjuangan mereka.

Secapek-capeknya gue kuliah, gue sadar bahwa kalau gue nyerah, bukan gue yang sedih...
Tapi mereka yang udah berjuang banyak untuk bikin gue bisa ada di sini sekarang.

"Ah, gue sih santai aja. Lagi pula gue ada di sini bukan nyari nilai, tapi nyari ilmu. Ilmu dapetnya gak dari kuliah doang, gue keluar juga bisa dapet ilmu." Jawab seorang narasumber yang sangat menyenangkan ketika gue tanya tentang cara menyeimbangkan kuliah dengan hobi.

Boom. Semua kegalauan pun seketika terjawab.

Capek sih iya capek. Bahkan setelah capek-capekan itu... kita gak pernah tau hasil apa yang bakal kita dapet. Bisa jadi hasilnya nanti gak sesuai dengan perjuangan keras kita. (Ya amit-amit jangan sampe sih...)

Tapi seperti apa yang narasumber dan 2016 ajarkan, ada yang lebih berharga daripada hasil...

Namanya proses.

Mungkin iya apa yang gue jalankan sekarang gak 100% sesuai dengan apa yang gue harapkan beberapa bulan yang lalu. Apa yang akan gue hadapin ke depannya pun gak akan jadi lebih mudah daripada yang ada sekarang. Tapi gak apa-apa, gue percaya ada makna yang jauh lebih besar dibanding lelah yang gue rasain.

Untuk itu, terima kasih banyak kepada narasumber super nyentrik dan menyenangkan yang baru aja mengingatkan gue tentang proses yang lebih berharga daripada hasil. Semoga tadi itu bukan ngobrol-ngobrol yang terakhir ya, Kak.

Btw gue benar-benar terjebak di mall yang belum pernah gue datangi sebelumnya dan harus menunggu 5 jam lagi untuk bisa berangkat ke Jakarta. Kurang asem. 

Senin, 30 Januari 2017

Hipotesis Bonafide

Hanya tinggal dalam hitungan hari lagi, gue harus kembali ke Sumedang mempersiapkan kuliah, semester dua. Ya, ya, tahu kok, tiba-tiba udah kuliah semester dua aja, kan? Sama, gue juga bingung. Perasaan gue juga kemarin-kemarin curhat di blog ini masih kelas dua SMP.

Selama kurang lebih sebulan gue pulang, banyak hal dramatis terjadi. Mulai dari kangen-kangenan sama orang-orang di rumah, main sama Vincent ke sudut Jakarta yang super-duper jauh dari rumah gue di pelosok bumi, sampai mengurusYoyong (kucing peliharaan gue) yang selama seminggu melakukan aksi mogok makan.

Beberapa hari sebelum Yoyong memulai aksinya, gue menakut-nakuti Yoyong dengan kulit pisang. Gue kejar-kejaran sama Yoyong sambil bawa-bawa kulit pisang. Gue juga gak mengerti kenapa Yoyong sebegitunya takut dengan kulit pisang. Gue sempat takut aksi mogok makan Yoyong adalah dampak traumatis dari kejar-kejaran kulit pisang. Ternyata setelah dicari tahu, nggak kok, dia gak trauma. Dia pengen kawin.

Selama gue di rumah, hampir setiap siang kesore-sorean gue mendengar suara tukang... tukang apa juga gue kurang tahu, pada awalnya. Yang pasti, pedagangnya selalu lewat depan rumah setiap hari. Suaranya gak begitu jelas. Gue dan bokap beberapa kali main tebak-tebakan, sebenarnya abang pedagangnya membunyikan suara yang bagaimana setiap lewat depan rumah. Berikut adalah beberapa hipotesis kami mengenai kata-kata apa yang kami dengar dari abangnya:
1. "Aso-aso, aso panas dalam!" Sama, gue juga bingung kalimat ini maknanya apa.
2. "Ayo-ayo, jangan penasaran!" Bayangin, pedagang macam apa yang menarik pelanggan dengan bunyi semacam demikian.
3. "Ayo-ayo, du-du-du-du-da-da!" Yang ini udah nggak jelas banget, sih.

Hari ini, gue menemani nyokap gue ke supermarket, beli makanan untuk Yoyong. Iseng, gue diam sebentar di teras rumah. Jam-jam segitu, biasanya si pedagang dengan bunyi misterius lewat. Sambil nongkrong-nongkrong asoy, gue menikmati angin semriwing di teras rumah. Benar saja, gak lama kemudian si pedagang dengan bunyi misterius lewat. Jadi sore ini, gue berhasil memecahkan, sebenarnya bunyi apa yang dikeluarkan oleh si pedagang dan apa yang sebenarnya beliau jual.

Benar ya kata orang-orang, kita gak akan bisa sepenuhnya paham tentang seseorang, sampai kita nyemplung sendiri ke dunianya. Kita gak akan bisa menilai sesuatu, sebelum kita mengenal, atau mencoba sendiri.

Gue adalah salah satu manusia paling judgemental yang pernah gue tahu.

Misalnya begini, gue sering kali menghabiskan waktu berjam-jam sendirian di Grame*dia. Awalnya sih berniat beli, tapi pada akhirnya gak jadi beli karena gue sudah keburu kelar membaca satu novel yang sudah rusak segelnya dari awal, atau dua komik yang sudah gak diplastikin dari awalnya. Sayangnya sekarang jarang ada komik yang nggak diplastikin, dan sekarang harga komik sudah dua puluh ribu rupiah. Jadi ingat, jaman-jaman harga komik masih tiga belas ribu rupiah...

Dulu suatu hari, gue pernah melihat sebuah komik cinta-cintaan yang dari cover-nya, gue langsung menilai: Gila, ini komik pasti alaynya gak ketolong! 

Karena kesotoyan gue, alhasil gue membaca-baca komik tersebut di toko buku. Secara tidak sengaja, bacanya keterusan, sampai habis satu episode. Ah, ini pasti kelanjutannya lebih alay lagi. Beli yang kedua deh!

Gue pun membeli kelanjutan dari komik yang gue baca. Tentunya, sampai rumah langsung gue tamatkan membaca dengan antusias (saking alaynya). Di kesempatan berikutnya, masih dengan penilaian dan kesotoyan yang sama, gue membeli kelanjutan yang lain dari komik tersebut.

Di kesempatan lainnya lagi, gue beli lagi, baca lagi.
Di kesempatan lainnya lagi, gue beli lagi, baca lagi.
Kemudian komik itu tamat.

Benar juga, never judge a book by its cover. Ternyata cerita komik cinta-cintaan alay itu seru banget.

Harus gue akui, gue ini sebenarnya sedikit sotoy. Gue sering kali menilai sesuatu sebelum gue sendiri mencoba. Gue gak penakut kok, gue cuma sok tahu.

Oke, gue penakut.
Penakut dan sok tahu.

Saking penakutnya, gue sering kali stress tentang hal-hal yang bahkan belum gue coba. Waktu SD, gue selalu sakit sebelum ulangan umum (UAS). Selalu, tahun ke tahun. Didiuga, sakit-sakit lenje itu adalah karena stress mau ujian. Sekarang siapa yang norak, komik cinta-cintaan, atau gue?

Tapi tenang saja, sekarang gue sudah taubat kok. Semakin jadi manusia normal, gue jadi lebih sering bodo amat ketimbang stress.

Dulu, gue selalu tidak tertarik melihat kwetiau goreng. Penilaian gue waktu itu, kweitau goreng itu terlalu kenyal, terlalu manis, dan telalu berminyak. Pokoknya, pasti enggak banget untuk dikonsumsi.

Sampai suatu hari, gue makan bareng Zhafira di Sola*ria. Gue melihat Zhafira makan kwetiau goreng. Karena menantang, alih-alih ingin membuktikan ke Zhafira kalau kwetiau goreng itu aneh, gue ikut pesan. Padahal sih gengsi saja, aslinya gue kebita.

Rupanya hari itu gue jatuh cinta sama kwetiau goreng. Bahkan, kwetiau sekarang berada di rangking ketiga dari daftar makanan terenak menurut vidya Nobita (Nobita adalah nama samaran Vidya di blog ini).

Daftar makanan terenak menurut saya:
1. Sate padang
2. Sushi
3. Kwetiau goreng
4. Soto betawi
5. Pecel lele

Gue sudah tahu Vincent jauh sebelum gue akhirnya berkewajiban untuk mengontak beliau. Tahu sih tahu, hanya saja waktu itu belum pernah ada keperluan untuk mengontak, atau sekedar ngobrol. Beberapa kali, gue meihat namanya tercantum di list anggota grup chat.

Beberapa kali juga, gue melihat orangnya secara langsung, dari jauh. Gayanya maco, cowok banget. Cuek, kelihatannya asik sama dunianya sendiri. Ah, yang begini mah gak akan nyambung sama gue, kata gue dalam hati dengan sotoynya sambil campur-aduk penasaran.

Sampai akhirnya, gue benar-benar-harus-banget mengontak Vincent, untuk kepentingan politisi. (Halah, politisi-politisi pale lu politisi?)

Sambil takut-takut dan tanpa niat modus sedikitpun, gue mengajak obrol Vincent duluan. Anehnya, malam itu Vincent membalas gue dengan antusias yang setimpal. Penilaian gue yang sok pintar setengah mampus dihancurkan dengan keramahan Vincent yang seratus persen menghancurkan rasa takut-takut gue malam itu. Dia gak segan bertanya tentang gue, memberanikan diri bertanya tentang hal-hal yang mangkir dari politisi-politisi-pale-lu-politisi.

"Mudah-mudahan kita bisa nutupin ego masing-masing buat ngechat duluan ya," kata Vincent menutup percakapan pertama kami hari itu.

Dan benar adanya, senyum-senyum kesemsem gue hari ini masih sama dengan senyum-senyum kesemsem waktu gue nekat mengontak Vincent hari itu. Dan benar adanya, ternyata Vincent bukanlah si dia yang gak akan nyambung sama gue. Dan benar lagi adanya, gue sok tahu.

Kita gak akan pernah bisa benar-benar menilai seseorang, sampai kita akhirnya mengenalnya lebih dekat, katanya. Ternyata gue salah menilai. Ternyata Vincent adalah jawaban dari doa-doa gue yang melayang tanpa terucap, yang terdengar tanpa diteriakan. Terima kasih karena sudah balas chatku malam itu ya, Vincent. Terima kasih karena sudah mau bertanya tentang aku. Terima kasih karena sudah bersedia tinggal di sini.

Dua minggu sebelum pindah ke kost-an dan masuk kuliah, gue sakit (ya, ini mirip-mirip jaman SD sih). Sakitya pun gak jelas sakit apa. Menurut kesimpulan nyokap, gue gak sakit, gue hanya stress. Awalnya gue terlalu gengsi buat mengakui, sampai akhirnya gengsi gue luluh lantak. Gue mengakui ke nyokap gue bahwa gue takut pindahan. Gue takut memulai kehidupan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan kehidupan gue yang sesuai ekspektasi.

Memang sih, tempat kuliah gue sekarang bukanlah apa yang menjadi rencana gue pada awalnya. Belum lagi, waktu itu gue harus memulai kehidupan baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Gimana kalau teman-teman di sana gak suka dengan gaya gue? Gimana kalau tempat tinggal di sana banyak cicaknya? Gimana kalau nilai kuliah gue jelek? Pasti butuh tenaga ekstra untuk beradaptasi, kan?

Dua minggu setelah berupaya bertahan hidup di atmosfir baru, gue akhirnya keluar dari sarang penyamun (kamar kostan gue sering kali disebut sarang penyamun saking berantakannya). Gue memberanikan diri bergabung dengan sekumpulan cewek-cewek sejurusan yang sedang asyik ngobrol-ngobrol di kost-an salah satu dari mereka.

Mereka lucu, mereka menyenangkan, dan mereka baik.
"Pokoknya kalau ada apa-apa, kita harus ngomong, supaya seenggaknya satu orang yang tahu kalau ada dari kita yang kenapa-kenapa," kata Kinta.

Kemudian aku sayang mereka dan aku tahu, aku gak mungkin bertahan hidup di sana kalau gak ada temn-teman sebaik mereka.

Bahkan, di tempat baru ini gue belajar untuk menjadi lebih kuat.

Lagi-lagi, gue sok tahu. Memang butuh waktu untuk beradaptasi, tapi itu bukan hal yang gak mungkin.

Gue gak tahu teman-teman merasakan hal yang sama atau enggak. Tapi kalau gue, gue tidak akan bisa sepenuhnya paham sampai akhirnya gue sendiri yang mencoba. Jadi, jangan takut untuk mencoba hal-hal baru. Siapa tahu, di tempat baru, kita nemuin sesuatu yang lebih baik.

Oh iya, ngomong-ngomong, pedagang yang lewat depan rumah gue setiap siang kesore-sorean itu ternyata jualan bakso, bunyinya begini: Bakso-bakso, Bakso Bonafide!

Jauh ya dari hipotesis gue dan bokap gue?
Maaf ya, gue memang sedikit sotoy. Tapi gue janji, gue mau mendengar dan mau belajar.

Senin, 26 Desember 2016

Kingkong Karnivora di Hutan Belantara

Gue pernah memperkenalkan diri di blog ini. Tapi itu dulu, antara tahun 2012 atau 2013. Jadi sebenarnya, gue ini kepedean. Gak ada yang kenal gue, tapi gue main curhat-curhat aja. Jadi berhubung tak kenal maka tak sayang, mendingan kita kenalan dulu.

Bukan biar sayang, deng. 

Tapi setiap orang pasti berubah. Ya, kan?
Kita di tahun 2012 atau 2013 gak akan sepenuhnya sama dengan kita di 2016 yang sudah mau berakhir ini. Itung-itung, gue bisa intropeksi, siapa tahu bisa jadi orang yang lebih baik di 2017.

Fine, biar sayang. 

Nama gue Vidya. Gue lahir bulan April tahun 1998. Sejak lahir, hobi gue makan, tidur, baca buku, dan bermain musik. Iya, sejak lahir. Kenapa? Gak suka?

Suka-sukain, please. Biar views blog nambah. Jangan cabut ya. Itu penting banget bagi masa depan gue.

Makanan favorit gue:
1. Sate padang
2. Sushi
3. Kwetiau goreng
4. Soto betawi
5. Pecel lele

Kenapa makanan disebutin duluan?
Karena makanan adalah prioritas di hidup gue.
Intinya, gue lebih suka makanan asin dibanding makanan manis. Tapi itu gak menutup kemungkinan gue makan banyak kalau masakannya manis juga kok.

Gue tinggal di daerah entah Bogor, Bekasi, atau Jakarta, gue juga bingung. Gue hidup bersama Mame, Popop, satu adik laki-laki (yang sekarang sudah berubah jadi kakak karena gue lebih pendek dan lebih manja dari dia), dan satu kucing super-duper annoying tapi cantik banget, incaran kucing-kucing maco di komplek gue, namanya Yoyong.

Gue suka binatang yang fluffy, makanya gue pelihara kucing. Tapi gue gak begitu bersahabat dengan anjing. Bukan gue yang gak suka anjing, tapi anjing yang gak suka gue. Gue masih teringat-ingat jaman gue kecil, gue sering dikejar anjing di komplek. Semenjak itu, gue menyimpulkan kalau kaum anjing tidak suka gue.

Berhubung gue suka binatang fluffy, gue suka sekali boneka. Boneka yang berbulu tebal dan halus terutama. Semakin numpuk boneka di kasur, semakin sempit tempat tidurnya, semakin gue tidur nyenyak.

Tapi gue tidak hanya suka kucing. Gue sekali binatang gajah dan macan.

Waktu gue kecil, gue selalu menjawab dengan "ingin jadi gajah" setiap ditanya "kalau sudah besar mau jadi apa". Entahlah, mungkin dalam otak gue waktu itu yang besar adalah gajah. Mungkin kalau ditanya "kalau sudah kecil mau jadi apa', gue akan menjawab "jadi semut".

Tapi gue benar-benar suka gajah. Menurut gue, gajah memiliki karakter yang tenang, cerdas, berhikmat, dan bersahabat.

Gue suka macan karena menurut gue, macan memiliki karakter yang tenang, namun berani, tangguh, dan lincah.

Gue suka kucing karena kucing berbulu tebal dan halus, berkarakter tenang, manja, dan galak.

Jadi kalau dikombinasikan, gue ingin punya karakter yang tenang, berani, tangguh, berhikmat, dan manja. Kalau jiwa gue disimbolkan dengan binatang, maka gue adalah makhuk berbadan besar, bertaring, bercakar, dan berbulu lebat.

Jangan dibayangin. Gue aja serem bayanginnya. Mungkin gue adalah semacam kingkong karnivora? Entahlah, kata gue juga jangan dibayangin.

Loh? Gue sendiri yang ngebayangin ya?

Gue berkuliah di sebuah universitas di Kabupaten Sumedang, dekat-dekat Bandung. Jurusannya, dengar-dengar sih jurusan paling mematikan. Tapi berhubung gue masih maba, gue masih buta tentang harus bagaimana supaya bisa bertahan hidup. Beruntung, gue ditemani sama kakak-kakak yang mengajarkan caranya bertahan hidup di hutan belantara.

Hutan belantara = kehidupan kost dengan uang terbatas, tugas numpuk, dan berbagai tantangan lain yang gak kelihatan, tapi suka tiba-tiba muncul

Gue bercita-cita jadi pemain film dan musisi. (Jangan sebel, dong. Namanya juga cita-cita, ngimpi aja setinggi-tingginya. Ya, gak?)
Pemain film favorit gue Reza Rahadian, musisi favorit gue Kevin Aprilio.

Gue suka membaca novel. Novel favorit gue judulnya Hujan, ditulis oleh Tere Liye. Gue suka baca novel dengan cerita yang dramatis, dan sedikit suka juga yang fantasy atau futuristic. Semakin menyentuh ceritanya, semakin gue gembira bacanya.

Gue suka komik Conan. Menurut gue, Conan itu keren dan agak bala sih. Dimana ada Conan, di sana pasti ada pembunuhan. Tapi karena ceritanya keren dan mindblowing, gue jadi tidak bosan-bosan bacanya.

Karena kesukaan gue pada hal-hal dramatis, maka cara bicara gue di dunia nyata sebenarnya gak beda jauh dengan cara bicara gue di blog. Lebay-lebay sok baku gitu deh. Gue kira cara bicara gue yang demikian cuma berlaku di blog, eh ternyata, sudah menjadi bagian dari jati diri.

Gue sebenarnya bukan orang yang boros-boros amat. Gue jarang membuang-buang duit untuk hal-hal tidak penting atau sekedar untuk keasoyan duniawi. Gue bisa tahan beli baju, sepatu, make up, atau apapun itu yang biasanya gak bisa ditahan beli oleh cewek-cewek.

Tenang, gue masih lumayan cewek kok. Gue masih pakai make up dan pakai baju-baju sebagaimana cewek 18 tahun pada umumnya. Gue gak begitu suka pakai foundation, tapi gue suka sekali mascara dan eyeliner. Menurut gue, eyeliner itu sexy banget. Gak penting, ya?

Lanjut ke masalah keuangan. Uang gue lebih sering habis untuk... makanan.

Gue berantakan. Seumur-umur, kamar gue gak pernah rapi. Dulu waktu belum ngekost, kamar gue berantakan bak kapal pecah. Gue kira dengan pindahnya gue ke kostan, kamar gue akan rapi. Ternyata gue salah, kamar gue masih berantakan. Mungkin gue ini terkena semacam kutukan dari dewi kekacauan, makanya dimanapun gue berada, pasti di sana kamarnya berantakan. Entahlah.

Gue tidak tertata dan tidak apik. Ibaratnya kalau dalam dunia seni panggung, gue adalah tipe orang yang benar-benar gak cocok kerja di bagian artistik. Gue akan disebelin sama orang-orang lain di tim artistik. Gue adalah tipe orang yang kalau ada kecoret sedikit, akan bilang "Ah, udahlah gak apa-apa. Cuma dikit ini,"

Maka itu, gue adalah tipe orang yang lebih suka mengerjakan sesuatu secara spontan dan dinamis. Membutuhkan berpikir secara cepat (karena menurut gue, kepepet memiliki kekuatan tersendiri), dan berpindah-pindah tempat. Namun, sejujurnya gue juga suka bekerja di meja kerja. Semakin berantakan meja kerja gue, semakin gue asik dengan suatu kerjaan.

Tapi gak bisa dipungkiri kalau gue ini mageran.
(Mager = Malas Gerak)

Gue kalau PMS sadis. Sesungguhnya, korban utama dari PMS gue bukanlah diri gue sendiri, melainkan pacar gue dan teman-teman terdekat gue. Kadang gue sampai-sampai kasihan sama pacar gue yang menjadi korban omelan kalau gue lagi PMS.

Pernah suatu hari, sahabat gue, Kinta bilang, "Lo tuh sadis banget ya, Vid. Beneran deh kalau lagi PMS, gak nahan nyebelinnya."

Kemudian gue pun sadar diri. Beruntung, pacar dan teman-teman terdekat gue sangat-sangatlah penyabar, baik hati, tidak sombong, rajin menambung, cerdas, dan teladan kita semua.

Tiga hal yang gue gak ngerti--kenapa ada orang yang bisa melakukannya:
1. Menghafal jalan
2. Main dan menyusun rubik
3. Membuat simpul tali seperti di pramuka

Gue benci melakukan sesuatu yang mengandalkan hafalan dan berstruktur. Rasanya otak gue keburu keriting kalau harus melakukan hal-hal sedemikian. Kalau suatu hari lo tersesat di hutan bareng gue, pilihannya cuma dua, yaitu:
1. Jangan tanya gue kemana jalan keluarnya karena gue cuma akan bikin kita berdua tambah nyasar.
2. Mending lo kabur aja karena gue pasti menyusahkan masa-masa terakhir hidup lo. Entah karena gue nangis di tempat, atau karena gue terlalu pasrah untuk melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar.

Maka itu, gue lebih suka berlibur di pantai daripada di gunung atau di hutan. Pantai itu lebih damai, hangat, dan gak menguras banyak tenaga untuk didaki.

Tapi walaupun tidak memungkinkan untuk bertahan hidup di hutan, gue suka jalan-jalan sendirian. Gue suka mendatangi tempat-tempat baru. Entah untuk foto-foto (bukan selfie), atau yang lebih menyenangkan: mencicipi kuliner-kuliner unik. Menurut gue, mencoba hal-hal baru adalah suatu kepuasan tersendiri.

Gue tidak keberatan pergi sendirian. Bukan kesepian, cuma gak masalah saja kalau harus sendirian. Tapi, bersenang-senang bersama teman-teman pun gue menikmati. Menurut gue, berani pergi sendirian adalah salah satu cara untuk menjadi independen.

Tapi gak bisa dipungkiri kalau dibalik kesongongan gue yang tiada tara ini, gue sebenarnya lenje dan cengeng. Tapi yang ini gak usah dibahas. Gue harus selalu menjaga image tangguh dan pemberani.

Ternyata panjang juga ya curhatan gue yang sangat tidak penting ini. But well, gue ingin mengakhiri 2016 ini dengan menunjukan jati diri gue. Gue akan selalu berusaha untuk menjadi kuat dan tangguh. Bukan karena gue ingin menjadi seseorang yang lain, tapi karena gue ingin menjadi orang yang lebih baik. Selamat memulai tahun yang baru! Jangan lupa coba hal-hal baru ya!

Untuk 2016

Selasa, 27 Desember 2016

Bentar-bentar. 
LAH???? 
KOK UDAH 27 DESEMBER??? 
KOK 2016 UDAH MAU KELAR??? 

LAH???
LAH???
LAH???

Oke. Jadi, 2016 udah mau berakhir...

2016 sudah menjadi tahun terpaling-paling dalam hidup gue (Kalau gak ngerti apa itu terpaling-paling, silakan definisikan sendiri paling apanya). Gue gak tau apakah teman-teman, terlebih teman-teman segenerasi, merasakan hal yang sama atau enggak. Tapi buat gue, 2016 has been such a roller coaster in my chronology of life. Semua hal-hal paling dramatis, menyenangkan, menakjubkan, dan bikin pengen mati sekalipun terjadinya di 2016. Bisa dibilang, seumur hidup gue yang tepatnya 18 tahun lewat delapan bulan ini, tahun terdramatis adalah 2016. Untuk itu, gue ingin membuat tulisan singkat untuk mengapresiasi segala kedramatisan di 2016. 

Berikut kronologi singkatnya: 

Januari 2016: Perang Dimulai
Gue merayakan pergantian tahun baru di Cirebon, bersama nenek gue, Deti. Gak banyak hal yang gue lakukan untuk menyambut si dramatis 2016. Tapi di awal 2016 ini, gue tahu bahwa pertarungan sadis baru saja akan dimulai. Pertarungan untuk ujian nasional, ujian masuk perguruan tinggi, menghadapi perpindahan, perpisahan, dan lain sebagainya yang gue gak bisa sebutin saking dramatisnya. 

Februari 2016: Nyamuk-nyamuk Nakal
Di akhir bulan ini, gue hampir mati. Bohong deng, gak beneran hampir mati. Cuma rasa khawatir orang-orang yang bikin gue merasa mau mati. 

Jadi gini ceritanya: 
Suatu hari, gue datang ke sekolah dengan motivasi belajar super minim dan dalam keadaan sehat wala'fiat. Tiba-tiba di tengah jam belajar, gue merasa sakit kepala. Awalnya cuma sakit kepala ringan, lama-lama sakit kepalanya nyolot jadi sakit kepala berat dan demam. Hari itu, gue bikin heboh satu kelas 12 Viburnum. Karena gue kedinginan, padahal hari itu cuacanya sama sekali gak dingin, gue minta agar AC di kelas gue dimatikan. Dalam keadaan gue hampir tepar di pojok ruangan kelas, teman-teman di kelas rela berpanas-panasan. Tapi tenang, itu gak berlangsung lama kok. Gak lama kemudian, gue tidur di UKS, kemudian dipulangkan oleh guru gue, Pak Ikhwan, karena mungkin tampang gue waktu itu udah kayak tampang-tampang mau metong. 

Sampai rumah, gue lanjut tepar di sofa. Popop gue langsung membawa gue ke rumah sakit. Atas perintah dokter langganan gue, yang kebetulan juga langganan banyak teman-teman gue di Cibubur, dan jadi dokter idaman mereka, gue langsung dirawat. Waktu itu belum ketahuan sakit apa. Tapi karena dokter ini punya intuisi yang tinggi, dia sudah tahu kalau ujung-ujungnya gue akan dirawat karena demam berdarah, yang kebetulan waktu itu memang lagi hectic. 

Biasanya, trombosit akan naik lagi setelah tiga hari merosot. Tapi anehnya, gue sudah seminggu dirawat dan trombosit gue gak naik-naik. Gue inget berapa angka tepatnya. Tapi kata mereka, tanda-tanda udah parah adalah ketika si pasien mengalami bintik-bintik dan pendarahan. Setelah seminggu dirawat, gue mengalami batuk-batuk berdarah dan mimisan. 

Semua orang panik bukan main. 

Dokternya bilang gue harus banyak makan supaya trombosit gue naik. Kalau gak naik-naik, gue harus masuk ICU. Masalahnya, gue benar-benar mual dan sama sekali merasa gak napsu makan. Alhasil, mama dan popop gue panik. Mama gue nangis-nangis, takut trombosit gue gak naik-naik. Salah. Gak cuma mereka yang panik. Nenek dan keluarga besar gue datang dengan muka-muka khawatir. Beberapa rekan dan saudara datang dengan muka yang sama khawatirnya, kemudian bersama-sama berdoa, barang kali masih ada kesempatan untuk sembuh buat gue. 

Karena kekhawatiran mereka, gue ikutan mau meledak. Karena gak tahan dengan kondisi mencekam ini, gue menelpon Zhafira. Zhafira pun datang untuk kedua kalinya bersama Iyo dan Tania. Gue ingat benar, kedatangan Zhafira yang pertama ditemani Cika, Iyo, dan Marsha. Karena Zhafira cinta sekali sama gue, makanya dia rela datang lagi ke rumah sakit. 

Di antara semua penjenguk yang datang dengan muka khawatir setengah mampus, Zhafira datang dengan muka datarnya. Awalnya sih dia khawatir, tapi makin percakapan berlangsung, makin ketara kata-katanya, "Hahaha, santai ah. Udah kayak mau mati aja lo, Vid,"

Memang sih kedengarannya nyolot. Tapi kalau Karamel bilang, Zhafira sukses menjadi penghibur yang baik. Dia memperlakukan orang yang sedang sakit seakan-akan orang itu gak lagi sakit. Zhafira memperlakukan gue seperti gue sedang baik-baik saja. Sebetulnya, perlakuan tersebut yang bikin gue merasa lebih baik. 

Di tengah-tengah kepanikan orang-orang yang beranggapan bahwa gue mau mati, gue berdoa. Gue masih ingin merasakan kuliah di (please banget jangan judge gue) UI. Gue masih ingin merasakan hectic dan happy-nya menikah, punya anak (walaupun kebanyakan anak kecil gak suka bersahabat dengan gue). Intinya, gue masih ingin merasakan dramatisnya hidup. Waktu itu doa gue adalah... minta diberi kesempatan lebih lama untuk menyenangkan hati orang lain. Setidaknya, mungkin itu bisa jadi cara gue jadi sesuatu yang berguna di dunia. 

Gak lama kemudian trombosit gue naik. Gue gak jadi mati. Yep, ternyata doa konyol gue didengar. 

Maret 2016: Bantai Terus
Persiapan UN. Seperti anak-anak menjelang ujian pada umumnya, gue bimbel setiap hari. Sekolah jam 07.00 - 15.30, lanjut bimbel jam 16.30 - 18.00 dan 18.30 - 20.00. Mantap, gak? 

Kebetulan, gue satu tempat bimbel bareng Zhafira, Tania, dan Cika. Gue sering nongkrong di warung kopi dekat tempat bimbel bareng Zhafira seusai jam belajar. Seperti biasa, percakapan dengan Zhafira selalu dalam. Di warung kopi ini kami sering berbagi tentang besarnya rasa khawatir kami menghadapi ujian dan yang lebih besar: perpindahan. 

Foto gue dan Zhafira di pojokan kelas, spot favorit kami. Kami kedinginan, jadi kami pakai sarung milik Fathia. Gak lama setelah foto ini diambil, sarung Fathia hilang dan tidak kembali.

Foto terakhir, ketika kami lagi hectic-hecticnya dengan persiapan Ujian Nasional.


April 2016: Jangan Nangis, Masih Bantai Terus
Ujian Nasional. Pertama kali dalam sejarah SMA gue, ujian menggunakan komputer. Sebutannya CBT. Sejujurnya, gue merasa sangat dimudahkan dengan adanya CBT. Kami peserta jadi terhindar dari kendala kurang hitam atau kurang tebal. Usai ujian, perjuangan belum kelar. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Perjuangan untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi negeri. 

Gue berubah jadi mahkluk nokturnal. Bimbel jam setiap hari dari siang sampai malam. Sampai rumah, bantai lagi sampai pagi, lalu tidur sampai siang. Bangun tidur, siap-siap berangkat bimbel. Sehari bisa konsumsi kopi sampai 3 cangkir. Alhasil, gue jadi pecandu kafein. 

Oh iya, perjuangan ini membawa gue bertemu dengan orang-orang super epic dan hebat di kelas tempat bimbel. Kami bersembilan. Cita-cita kami macam-macam.  Kelas yang harusnya kondusif untuk belajar, berubah jadi kondusif untuk main kartu dan pesan pizza. Tapi justru keadaan kondusif itu yang bikin kami mendukung satu sama lain. 

Ini foto setelah kami order pizza sambil main kartu. Kami ditegur kelas lain karna kami berisik sekali di kelas.
Pengumuman hasil jalur undangan PTN. 
Gue gak lolos. Gak satupun dari jalur yang gue ikuti menunjukan hasil yang positif. Mimpi gue dari jaman baru masuk SMA hari itu hancur bukan main. Gue merasa sia-sia. Gue nangis berhari-hari. Skala 1 - 10, sakit hatinya ada di tingkat 10. 100 kali lebih sakit daripada putus cinta. Kalau teman-teman mau tahu, teman-teman boeh baca di post yang judulnya "10/10". Intinya, hari itu gue benar-benar merasa patah hati, sepatah-patahnya. 

Tapi percayalah, patah hati selalu punya bahagianya sendiri di akhir cerita. 

Mei 2016: Nangis bersama Peserta SBMTPN di Bekasi
Promnight. Wisuda SMA. Intinya, di bulan ini perpisahan benar-benar ada di depan mata. 

Waktu itu, sejujurmya, gue gak takut untuk meninggalkan dunia SMA. Sama sekali gak takut. Gue tahu pasti bahwa perpisahan gue dengan teman-teman di SMA adalah berpisah untuk sesuatu yang lebih baik. Gue juga tahu bahwa berpisah waktu itu bukanlah benar-benar berpisah. Waktu itu gue yakin bahwa yang ada di hati gue akan selalu ada di hati gue. 

Beberapa dari mereka yang punya tempat di hati gue memang tetap tinggal di hati gue, bahkan sampai detik ini. Tapi ada satu yang ternyata... nantinya (pada bulan berikutnya) pergi dan tidak lagi menjadi bagian dari perjalanan romansa gue. 

Waktu itu yang gue takutkan adalah... Gimana kalau di tempat yang baru nanti, semuanya gak semudah apa yang terbiasa? 

Gimana kalau di tempat baru nanti, beradaptasi jadi sesuatu yang sulit? 

Satu dari sekian banyak foto wisuda. Cuma ini yang muka guenya paling mending.

Muka gue sangat-sangat canggung. Tapi sejujurnya, gue suka sekali foto ini.

Menemani Tuan Putri makan di promnight. Bella, kesayangan gue. Selalu. Sampai 2016 pun, masih. 
Main band terakhir bareng Skylight sebelum lulus. Ngelihat foto ini, rasanya ingin main sama mereka lagi.
Namanya Geng Invisible. Setiap sosiologi, kami bertiga sekelompok. Kelompoknya ada, tapi hasilnya nggak ada. Karena itu kami dengan bangga menamai geng kami "Geng Invisible". Ah, kangen. 

Ujian masuk PTN (SBMPTN). 
Gue kedapatan ujian di Bekasi. Gue berangkat diantar Popop gue. 
Jujur sih, gue sama sekali gak bisa mengerjakan. Gue merasa perjuangan gue banting fisik dan mental sama sekali tidak membuahkan hasil ketika berhadapan dengan soal-soal. Waktu kelar ujian, banyak peserta lain, terlebih cewek-cewek, nangis. Gue ingin nangis, tapi ah, sudahlah. Prinsip gue waktu itu: datang, kerjakan, lupakan. 

Oh iya, ada kejadian lucu soal SBMTPN. 
Kedua orang tua gue (awalnya) ingin gue kuliah di UI. Jangan naif, siapa sih yang gak senang kalau bisa kuliah di UI? 

Waktu itu, pilihan gue cuma jurusan komunikasi dan sosiologi. Gue memang cuma punya minat ke dua jurusan ini. Dalam SBMPTN, kita punya kesempatan untuk memilih 3 jurusan dengan 2 universitas. Mama gue tidak ingin gue kuliah jauh-jauh. Mama gue bahkan kelihatan keberatan kalau gue harus nge-kost dan jauh dari rumah. Tapi karna masih sisa 1 kesempatan untuk pilihan di SBMPTN... gue diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua, mengambil jurusan jurnalistik di suatu universitas yang kata orang unggul di fakultas komunikasinya. 

(Cerita soal hasil SBMPTN berlanjut di bulan Juli)

Juni 2016: Berubah menjadi Manusia Polar Bear
Ujian Mandiri SIMAK. Intinya, gue gak lolos. 

Usai ujian mandiri, hidup gue bebas merdeka. Makan, tidur, main, makan, tidur, main. Gak ada kewajiban untuk begadang atau bangun pagi. Suka-suka gue mau buang waktu untuk apa. Ya memang sih, sambil bebas, sambil pasrah-pasrah soal hasil ujian PTN. 

Foto ini kami ambil waktu merayakan ulang tahun Aulia. Yang ulang tahun Aulia, yang foto gue dan Bella. 
Berhubung gak ada foto Aulia di 2016, jadi gue ambil foto gue dan Aulia di 2013. Tenang, sekarang tampang gue gak seaib itu kok. Tapi ngomong-ngomong, Aulia sudah menjadi bagian berharga dari kisah hidup gue. Selalu. Sampai di 2016 pun, masih. 

Juli 2016: Kejutan untuk Mamak
Hasil SBMPTN. 

Setelah kepasrahan gue yang tiada tara, dan tentunya berkat kuasa dan keajaiban Tuhan Yang Maha Penguat Maha Penghibur, ternyata gue lolos. Yep, lolos di pilihan ketiga yang gue ambil tanpa sepengetahuan orang tua gue. Mama gue yang pertama kali membuka pengumuman hasil SBMPTN. Dia menjerit. Entah menjerit karena bangga, atau karena kaget kenapa tiba-tiba nama gue nyantol di universitas ini. 

Tapi tenang saja, gue tetap diizinkan untuk melanjutkan kuliah di universitas ini kok. 

Kisah dramatis belum berakhir. 
Di bulan ini, gue patah hati. Kisahnya gak begitu menyenangkan. Intinya, gue nangis gak hanya sehari atau dua hari. Tapi gue percaya, setiap patah hati mengajarkan kedewasaan. Intinya, gue berterima kasih untuk setiap manis dan pahitnya. Karena itu, gue bisa menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Terima kasih ya. Itu berarti sekali. 

Gak cuma belajar untuk jadi lebih dewasa, gue juga belajar untuk jadi lebih kuat. Sayangnya, gue tidak sekuat itu. Patah hati ini membawa gue ke kemunafikan. Gue berpura-pura menjadi orang yang tangguhnya bukan main, untuk melindungi diri gue sendiri dari patah hati yang lain. Gue secara sangat sengaja memberikan kesan kukuh, supaya gak ada yang berani macam-macam. 

Saat gue berpura-pura tangguh dan berani, sebenarnya gue cupu dan takut untuk mulai sesuatu yang baru. Membuka diri pada dunia baru sama sekali bukan hal mudah waktu itu. Gue terlalu berantisipasi, takut-takut kalau harus patah hati lagi. 

Dalam pikiran gue waktu itu, mumpung gue akan hidup di tempat baru dengan teman-teman baru di kuliah, mungkin itu akan jadi waktu yang tepat untuk sepenuhnya berubah. Berubah jadi diri sendiri yang semoga lebih baik... dan lebih kuat. 

Kemunafikan gue lenyap ketika gue ternyata dipertemukan dengan orang-orang super hebat di bulan-bulan selanjutnya. 

Tapi gue bersikeras: Gue akan bertahan sendirian. Gue bertarung untuk keselamatan gue sendiri. 

Agustus 2016: Bangun di Pelukan Bapak Satpam
Gue mempersiapkan kuliah. Ditemani Popop, gue mencari kost-an, mengikuti ujian kesehatan, dan melakukan registrasi ulang. Hectic. Antara pusing persiapan, dan pusing karena takut harus memulai hidup di lingkungan baru bersama orang-orang baru. 

Gue pingsan di mal waktu lagi milih-milih pakaian dalam untuk stok di kost-an. Gue tiba-tiba blackout dan bangun-bangun dalam gendongan bapak satpam. Ini nonfiksi. Gue bikin panik banyak mbak-mbak di mal. Sejujurnya, ini sangat-sangat memalukan, tapi gue selalu ketawa mengingat-ingat kejadian ini. Mudah-mudahan kisah gue yang garing ini bikin teman-teman ketawa juga. 

Diduga, gue pingsan karena tekanan darah rendah. Setelah ke dokter (dokter yang sama dengan dokter waktu gue kena deman berdarah di bulan Februari), gue dinyatakan kecanduan kafein. Ternyata, kehidupan nokturnal gue di bulan April sama Juni membuahkan hasil berupa kecanduan kafein. 

Mama gue, yang super duper berintuisi tinggi, menduga bahwa gue sebenarnya tidak sakit. Gue cuma sedih. Entah sedih karena patah hati atau karena mau pergi jauh. Mama gue mengajak gue jalan-jalan. Beliau bilang terserah gue mau jalan-jalan kemana, Mama dan Popop gue pasti temani. Gue minta jalan-jalan ke SeaWorld, Ancol. Gue memang sudah lama ingin ke SeaWorld, ingin lihat kuda laut. Gue selalu suka SeaWorld. Selalu. 

Terima kasih karena mau ketawa dan nangis bareng aku ya, Ma. Terima kasih karena selalu ada untuk aku. 

Terima kasih karena selalu mau temani aku ya, Pop. Terima kasih karena selalu ajarin aku untuk kuat dan berani.
Mulai kuliah. 
Ospek universitas, gue stres bukan main. Bukan karena ospeknya, tapi karena gue sedang haid dan sedang mencoba bertahan hidup dengan kamar baru, tempat tinggal baru, tanpa keluarga, tanpa satu pun orang yang gue kenal selain Anisa, teman SMA gue yang sekarang satu universitas tapi beda fakultas. 

Sempat-sempatnya foto di kost-an sebelum berangkat ospek hari pertama.

Ospeknya seru. Seru banget. Sayangnya, gue sedang tidak kondusif untuk seru-seruan. 
Gue datang ke ospek dengan mood yang sangat-sangat kacau dan sakit perut klimaks. Gue tidak bawa ponsel karena gue pikir, lebih aman kalau ditinggal di kamar kost-an. 

Di tengah-tengah ospek dan di tengah-tengah sakit perut gue, tiba-tiba datang Kevin Aprilio. 

Ya, gue tahu kok. Cerita gue terdengar sangat random dan aneh. Tapi ini beneran. 

Gue sangat-sangat mengidolakan Kevin Aprilio. Beliau adalah insipirasi gue dalam bermain musik. Gak kok, gue gak sejago itu. Gue ngomong gini supaya kesannya Kevin Aprilio sangat-sangat berarti dalam hidup gue. 

Tapi beliau beneran berarti dalam hidup gue. Gue mengidolakan beliau sejak gue masih SD. Menurut gue, lagu-lagu buatan beliau sangat bagus dan chord-nya bombastis. 

Sayangnya, hari itu gue gak bawa ponsel. Gue tidak bisa mengabadikan momen berharga itu. Pulang ospek, gue menelpon Popop gue dan menangis-nangis karena gak bisa mengabadikan momen Kevin Aprilio datang ke ospek gue. Cengeng, ya?

Cewek PMS memang gak ada yang nandingin ribetnya. 

Seminggu pertama di tempat baru, gue ansos bukan main. Gue gak punya teman. Gue menghabiskan waktu dengan menyendiri di kamar kost-an. Gue tidak ingin membuka diri dengan dunia baru karena gue masih ingin fokus pada kesedihan gue. 

Dua minggu kemudian, gue mengikutsertakan diri ke dalam perkumpulan cewek-cewek. Awalnya sih, malas-malas gimana gitu. Tapi ini dia pentingnya gak menilai sesuatu hanya di awal. Tanpa gue sangka, orang-orang gue temui ini... sekarang memiliki arti yang sangat-sangat dalam di hidup gue. 

Orang-orang Hebat

Setelah dapat bunga. Ini foto gue bersama beberapa dari orang hebat yang gue temui di tempat baru. 

Beberapa dari mereka. Gue senang dipertemukan sama mereka. Gue rasa gue bisa bertahan sampai detik ini karena mereka. Terima kasih ya.
Waktu merayakan ulang tahun Ara dan Cece. 
Gue dan Kinta. Stay strong, Kinta. Setiap orang memang harus pergi pada akhirnya. Tapi percayalah, kamu sudah membuat hari banyak orang cerah ketika orang-orang itu ada di hidup kamu. Aku sayang kamu, Kin. 

Dengan masih beranggapan bahwa menjadi sendirian adalah cara untuk berlindung dari patah hati, kemunafikan gue perlahan-lahan diluluhkan. 

September 2016: Rumah Baru (Ini dramatis banget)
Gue datang ke tempat baru (kuliah) dengan kesombongan. Dalam pikiran gue waktu itu, gue akan dan mampu bertahan diri sendirian. Gue kira, menutup diri adalah cara untuk bersikap tangguh. Gue kira itu cara untuk melindungi diri dari patah hati. Gue kira gue gak butuh orang lain. Gue kira pertarungan ini gue sendiri yang jalanin. Gue kira gue sesendirian itu.

Ternyata gue salah. Gue dipertemukan dengan keluarga besar. Gue ternyata punya tempat tinggal. 

Gue yang awalnya bersikeras untuk menjadi penyendiri ternyata pada akhirnya tengahnya ditugaskan untuk menjadi... 

apa ya... 

Hokage? 

Ya, lebih baik gak perlu dijelaskan pajang lebar apa itu hokage. Intinya, visi misi gue untuk bertarung sendirian hancur. Dihancurkan oleh keluarga baru yang gue temukan di tempat baru. Tapi percayalah, itu adalah kehancuran paling berarti yang pernah ada. 

Oh iya, keluarga baru juga menghancurkan kesombongan gue. 
Di tempat baru ini, gue bertemu banyak "kakak" yang entah sebenarnya disengaja atau tidak, mengajarkan gue tentang bertahan hidup di "hutan belantara".

"Hutan belantara" = kehidupan kost-an dengan uang terbatas, tugas menumpuk, dan tantangan apa saja yang mungkin gak kelihatan tapi bisa tiba-tiba muncul

Dengan segala kerendahan hati, aku sangat-sangat berterima kasih. 

Tapi gue tidak akan berhenti untuk menjadi tangguh (atau berpura-pura tangguh). 
Kalau gue hokage, gue ingin semua ninja dan warga Desa Konoha tangguh bersama gue. 

Gue akan melakukan apapun untuk melindungi diri gue dari patah hati, awalnya. 
Tapi ternyata gue masih saja jatuh cinta. 
Gue mencintai Fikom. 

Tempat tinggal.

Di bulan ini juga, sahabat gue, Iyo, berangkat ke Jepang. Ini adalah salah satu momen penting di 2016 karena gue tahu, berangkat ke Jepang adalah mimpi Iyo sejak kami sama-sama baru masuk SMA. Tercapainya mimpi Iyo adalah suatu doa yang terkabul dari kami-kami, yang juga selalu didukung sama Iyo. Iyo is such a good friend. Sukses terus ya, Yo!

Hacika, Iyo, Zhafira, Nobita, Marsha
Terima kasih karena sudah mengingatkan gue bahwa beberapa hal di dunia ini memang diciptakan untuk ditertawakan. 

Oktober 2016: Bertemu dengan yang Lebih Manis dari Popcorn Karamel di XXI

Nah ini.
Ini dia.
Ini dia yang gak ditunggu-tunggu, tapi datang sendiri. 

Suatu hari, teman-teman di angkatan gue hendak mengadakan acara. Tugas gue dalam "kepanitiaan" adalah mengajak teman-teman di angkatan untuk bergabung dalam acara. Dalam suatu kesempatan, gue harus berbicara dengan seorang "kepala suku" dari sebuah jurusan, namanya Karamel. 

Gue sudah tahu Karamel sejak lama. Cuma, kami belum pernah diharuskan untuk berkomunikasi atau berinteraksi. Yang gue tahu, gayanya maco bukan main. Seram. Cowok banget. Mana bisa gue ajak ngobrol? Orang yang kayak gini nih, gak akan cocok sama orang lenje kayak gue. 

Namun atas dukungan dan motivasi Somin, rekannya Karamel, gue memberanikan diri mengkontak Karamel. "Coba aja kontak. Orangnya baik kok, kayaknya cocok sama kamu," kata Somin. 

Gue kasih tahu lo:
Jangan pernah menilai sesuatu sebelum lo mencoba. Jangan pernah menilai orang sebelum lo nyemplung langsung ke dunianya. Jangan. Pokoknya jangan. Kita gak akan pernah bisa benar-benar menilai seseorang sampai kita benar-benar nyemplung ke dalam dunia orang itu. 

Kemudian gue kecemplung. Gue yang awalnya bersikeras untuk gak pernah membuka diri, apa lagi jatuh cinta, kemudian jatuh sedalam-dalamnya. 

Tanpa disangka, Karamel menjadi tokoh utama dari kisah romansa gue. 

Percakapan kami melenceng. Yang awalnya mau ngobrol tentang acara angkatan, justru berlanjut dengan percakapan mendalam tentang ideologi, prinsip hidup, cita-cita, dan Harley Quinn. 

"Kenapa Harley Quinn?" tanya Karamel. Home line gue gambar Harley Quinn, colongan dari WeHeartIt. 

"Karena Harley Quinn gila. Dia gak punya super power. Kadang gila itu sama kuatnya dengan kekuatan super. Jadi, jangan takut ngelakuin hal-hal gila," jawab gue antusias. 

"Keren. Gue terkagum sama eksplanasi lo yang ringan tapi kena. Terasa jujur," kata Karamel. 

Karamel gak pernah bosan bertanya dan mendengar cerita gue. Karamel memperkenalkan dirinya sebagai Vincent dan mengizinkan gue untuk memperkenalkan Nobita (diri gue) sebagai Vidya. 

Sampai detik ini, gue masih menjadi Vidya yang bercita-cita untuk menjadi tangguh dan gila. Karamel masih menjadi Vincent yang maco, tangguh, dan berani. Kami jatuh cinta pada jati diri dan dunia satu sama lain. 

Gue akan melakukan apapun untuk melindungi diri gue dari patah hati. Tapi sekarang, gue berbelok. Gue akan melakukan apapun untuk melindungi diri gue dan Vincent dari patah hati. 

"Mudah-mudahan kita bisa nutupin ego masing-masing buat ngechat duluan ya," kata Karamel setelah percakapan pertama kami yang sangat-sangat melenceng dari tujuan awal. Gue jatuh cinta pada Karamel. 

Jadi... begitu cerita gue ketemu Karamel. Yep, Somin adalah cupid-nya. 
Ini namanya Vincent. Eh, maksudnya Karamel. Orangnya pintar, maco, galak, judes, gak bisa bangun pagi. Saya jatuh cinta sama orang ini. 
Vincentius sangat sinis dan keras kepala. But you really do, like me anyway. Don't you, Vincentius?

November 2016: Mati Satu Tumbuh Seribu
Di bulan ini, gue paham apa itu kuliah. Ya, baru paham. Di bulan ini, tugas benar-benar menumpuk. Satu tugas kelar, datanglah tugas-tugas lainnya. Mati satu tumbuh seribu!

Kata orang, jurusan yang gue ambil adalah jurusan paling mematikan. Tugasnya banyak, lulusnya pun gak mudah. Di bulan ini, gue baru paham dengan apa yang dimaksud mematikan. 

Ini dia yang gue takutin...
Mungkin gak ya gue bisa bertahan?

Desember 2016: 12 dari 12
Natal tahun ini gak begitu ramai. Tapi semua ketidakramaian itu terbayar dengan segala kedramatisan yang terjadi di 2016. Setidaknya, gue masih diberi kesempatan untuk merasakan Natal lagi. 

2016 benar-benar memiliki kisah yang dramatis bagi gue. Setiap pahit dan manisnya adalah sangat-sangat berharga. Pahitnya mengajarkan gue untuk menjadi kuat dan ikhlas. Manisnya mengajarkan gue untuk berani melangkah dan mencoba hal-hal baru. Gue sangat-sangat bersyukur. 

Foto-foto dan cerita di atas hanyalah beberapa bagian dari kisah-kisah manis di 2016. Karena keterbatasan waktu dan kesempatan, jadi gak semuanya bisa diceritain, deh... 

Intinya, untuk siapa pun yang pernah hadir dan menjadi bagian di hidup gue...
Terima kasih banyak ya. Teman-teman sangat berharga bagi Vidya. 

Selamat tinggal, 2016. 
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review