Sabtu, 12 November 2016

Naruto dan Bintang Jatuh

Suatu hari, anggap saja gue pernah berharap pada Bintang Jatuh. Dari kejauhan, gue lihat dia melintasi ranah angkasa, melesat seolah bersiap terhempas ke ranah bumi. Redup, tapi gue tahu cahaya itu ada. Semesta gak pernah menjanjikan kapan gue bisa bertemu si Bintang Jatuh yang mendarat di ranah bumi. Entah karena gue bersabar atau karena gue berserah, gue gak menghentikan langkah. Gue tidak berharap banyak, tapi gue tahu Bintang Jatuh itu ada di sini, bersamaan dengan gue dalam ranah bumi. Ya, bumi yang sama, tapi sisi yang berbeda. 

Gue gak berhenti melangkah. Bukan karena gue cerdas, bukan karena gue telah mempersiapkan semuanya dengan matang, melainkan justru karena sebenarnya gue gak begitu paham ke dunia mana gue melangkah. Karena ketidaktahuan itu, gue bertahan. 

Repetisi, katanya. Gue gak tangguh, sama sekali enggak. Gue berpura-pura tangguh supaya gue kelihatan cukup tangguh untuk gak diinjak oleh siapa pun. Gue harap kepura-puraan itu lama kelamaan bisa menjadi bagian dari realitas. Silakan sebut gue munafik karena kepura-puraan gue. Tapi kalau memang itu cara untuk jadi lebih kuat, kenapa tidak?

Lama kelamaan, kepura-puraan itu mulai menjadi bagian dari realita. Tameng gue yang sebenarnya rapuh ini seperti membawa kesan tangguh pada setiap kaca mata. 

Gue asik terlena dalam kepura-puraan yang bersiap menjadi realita, dan masih belum berhenti melangkah. Tapi hari itu, semesta seperti mengalunkan melodi dan membangkitkan intuisi gue. Di sana ada Bintang Jatuh. 

"Lo tau lo itu kaya apa? Kaya momentum. Gak bisa ditunggu, gak bisa dikejar. Tapi begitu datang, never cease to amaze," kata Bintang Jatuh. 

Bintang Jatuh itu benar-benar ada di bumi! Bumi yang sama, sisi bumi yang sama! 

Bintang Jatuh, bukan kamu yang seharusnya mengangkat puji-pujian pada semesta untuk doa yang terkabul, tapi aku. Kenyataannya, aku yang pernah berharap untuk dipertemukan dengan Bintang Jatuh. Sinyal Nonlokal mencintai aku, Bintang Jatuh. Dia mendengar semua yang ada dari hatiku; tangis, doa, puji-pujian, dan harapan yang tidak pernah diucapkan sekali pun. 

Terima kasih, Sinyal Nonlokal. 
Terima kasih, Bintang Jatuh. Jangan berubah karena Naruto jadi Hokage, ya!

Oh iya, satu lagi. Ini sama sekali bukan bacaan intelektual. Tapi gue rasa, ada partikel-partikel kecil dalam otak gue yang sedang bertubrukan. Hormon-hormon apalah itu namanya sedang membiarkan gue jatuh cinta!

Senin, 12 September 2016

Harus Minum Susu

Semua orang (setidaknya sebagian besar) pernah patah hati. Setiap orang punya kisah tersendiri tentang patah hatinya. Ada yang karena gagal, gak dianggap cukup setelah melakukan yang terbaik, ditinggal, atau bahkan karena omongan orang yang gak begitu menyenangkan. Mungkin sama seperti lo, gue juga pernah patah hati. 

Gue gak ingin sok pintar, sok tua, atau sok berpengalaman. Tapi yang gue tahu, kita bisa patah hati karena kita adalah makhluk hidup yang berhati. Dengan hati, kita menjadi perasa. Dengan hati, kita jadi tahu rasanya senang dan sedih. Dengan hati juga, kita jadi tahu rasanya mencintai dan dicintai. Rumit, tapi gak serumit itu kok. Intinya, hal baik dari patah hati adalah; setidaknya kita masih punya hati. 

Beberapa bulan yang lalu, gue patah hati. Nangis-nangisnya gak sebentar. Sedihnya juga gak semudah ketinggalan mamang tahu bulat. Gue gak bisa jelasin bagaimana kronologisnya, intinya; semua orang dan perasaannya (bahkan sikap dan perkataannya) bisa berubah, sama halnya dengan dia. 

Kalau lo bilang patah hati itu dampaknya panjang, gue ngerti banget rasanya. Gue sendiri nangis gak sebentar. Ini aib sih, tapi namanya juga diary. Gimana enggak? Udah mahwaktunya gak tepat (bertepatan dengan H-sekian mulai kuliah), gue dalam keadaan bingung dan gentar soal jurusan kuliah (takut sampai-sampai salah pilih jurusan karena jurusan yang gue ambil kabar-kabarnya kesulitannya mencapai tingkat dewa-dewi), dan yang paling ngeselin... Kangen rumah dan harus beradaptasi dengan lingkungan dan kamar baru yang kamar mandinya SANGAT-SANGAT... Gitu deh. 

Bagian terburuknya adalah gak semua orang bisa atau mau menunjukan kesedihannya depan orang lain. Gue salah satu dari orang-orang yang lebih suka menyimpan kesedihan sendiri dan itu SAMA SEKALI bukan hal baik. Itu justru nyusahin. Dalam pikiran gue, nangis atau sedih depan orang banyak cuma akan bikin gue kelihatan lemah. Gue terlalu gengsi dan munafik untuk nunjukin kecengengan dan kelenjean gue depan orang lain. Gue lebih suka dibilang kuat dan tangguh dibanding lemah dan butuh perlindungan. Gue lebih suka dipercayai untuk melindungi daripada dilindungi. Karena itu, gue ingin kuat. Buruknya adalah di depan orang banyak, gue bisa ketawa sama hal-hal receh (karena selera humor gue memang receh). Tapi begitu gue sampe kamar dan sendirian, semua penyesalan dan rasa takut datang lagi dan ujung-ujungnya?? Cengeng. 

Hari demi hari di lingkungan baru, gue mulai terbiasa. Gue mulai pede untuk nyetel musik gede-gede (karena tetangga kostan gue juga kerap nyetel lagu gede-gede, jadi gue gak perlu takut mengganggu), gue mulai terbiasa dengan suhu daerah sini yang kayak di Arab (kalo siang panas bikin gosong, kalo malem berangin), dan gue mulai terbiasa (lagi) dengan kebiasaan minum kopi tiap pagi supaya gak ketiduran di kelas kuliah. 

Oh iya, gue juga terbiasa dengan kehidupan baru setelah patah hati. 

Gue mulai berhenti menangisi hal-hal tentang dia. Gue mulai berhenti menangisi sakit hati gue. Gue mulai berhenti menangisi kangen rumah (yang ternyata juga menjadi masalah banyak maba selain gue). Gue mulai membuka diri dan berkenalan dengan dunia baru gue bersama teman-teman yang sangat lucu dan menyenangkan dan kamar kostan gue yang minimalis dan gak pernah rapih. 

Tapi ternyata bagian terburuk dari patah hati bukanlah bagian nangis-nangis berhari-hari. Tapi justru bagian "waspada"'nya. 

"Bukannya nyama-nyamain semua orang. Aku gak menyamakan siapapun sama dia. Aku tahu setiap orang beda, punya kelemahan dan kelebihannya sendiri-sendiri. Tapi aku gak mau ambil resiko untuk nangis lagi. Bukan trauma, tapi aku gak siap," ucap gue pada seorang teman di perjalanan kembali ke kostan. 

Gue gak bermaksud sok pintar, sok tua, atau sok berpengalaman. Tapi yang gue tahu, patah hati bikin kita jadi waspada sama banyak hal. Kita jadi berjaga-jaga, seakan-akan kesedihan yang sama akan datang lagi, seakan-akan kita akan menangis lagi untuk "kebodohan" yang sama. Kita jadi takut, seakan-akan membuka diri pada hal baru adalah sama dengan membuka diri pada patah hati yang baru. 

Entah sampai kapan gue akan berjaga-jaga sama patah hati yang lain. Entah sampai kapan juga gue akan bersikap munafik dan berbohong sama diri sendiri tentang perasaan. Tapi kalau boleh memilih, gue ingin memperkuat tameng lebih lama lagi. Gue ingin jadi seribu kali lebih kuat dan tangguh dari gue yang sekarang. Silakan kalau mau sebut gue munafik, tapi gue rasa, berpura-pura kuat adalah salah satu cara untuk menjadi kuat. Atau setidaknya... Menjadi kelihatan kuat. 

Lagi-lagi tanpa maksud sok pintar, sok tahu, atau sok berpengalaman. Tapi yang gue tahu, salah satu sifat patah hati adalah mendewasakan. 

Pada beberapa waktu pertama, gue menangis sekencang-kencangnya. Di tahap ini, gue menyesal bukan karena kesalahan, tapi karena merasa bodoh dengan kelemahan gue sendiri. Tapi semakin berjalan waktu, gue semakin tahu bahwa dunia gak hanya dilihat dari satu kaca mata. Dalam kata lain, seperti halnya everything happens for a reason, dia juga punya alasan. Ada alasan kenapa kita patah hati. Ada alasan kenapa mereka buat kita patah hati. 

Mungkin gue gak secerdas itu untuk paham benar apa dan bagaimana sebenarnya alasannya. Tapi gue cukup kuat untuk bisa paham bahwa dia adalah sama seperti manusia lain; yang menginkan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri dan orang lain. 

Memang sih pahit, tapi gue kuat. Gue cukup kuat untuk mengikhlaskan. Bukan ikhlas untuk ngerasain patah hati yang sama lagi, tapi ikhlas untuk menjadi lebih kuat dari ini. 

Dia ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Kalau gue adalah salah satu dari orang-orang lain itu, terima kasih banyak. Ini akan jadi pelajaran yang sangat berharga. Selamat dapat yang terbaik ya.  

Kalau boleh memilih, gue lebih suka belajar untuk lebih kuat lebih lama lagi. Gue ingin jadi seribu kali lebih kuat dari ini. Atau setidaknya, gue ingin kelihatan kuat supaya gak mengulang patah hati yang sama. Kalau munafik adalah satu-satunya cara untuk kelihatan kuat... 

Fine, gue munafik. Sekarang udah kuat, belum? 

Mungkin kalau mau kuat, harus minum susu ya? 

Selasa, 17 Mei 2016

10/10

Sekitar tiga tahun yang lalu gue disuguhi berbagai pertanyaan seputar "mau kuliah jurusan apa?", "bagaimana rencana kamu untuk persiapan kuliah?", atau pertanyaan yang paling dasar, "sebenarnya apa cita-cita kamu?" 

Beragam pertanyaan itu bikin gue mengambil satu keputusan besar yang menentukan nasib hidup gue selama tiga tahun di SMA. Gue yang tadinya kedapatan kelas IPA dan benci sekali dengan ilmu-ilmu sosial, memberanikan diri untuk berpindah jurusan dan menghabiskan tiga tahun di SMA dengan IPS, yang jelas-jelas kelemahan gue sejak gue masih SMP. 

Sejak gue masuk SMA, gue sangat berminat untuk masuk jurusan komunikasi di jenjang kuliah. Gue ingin mengejar jalur undangan, dan untuk itu, gue harus menjadi siswa SMA jurusan IPS. 

Selama tiga tahun, banyak hal gue persiapkan sematang yang gue mampu. Mulai dari hidup nokturnal dan begadang ngerjain ini-itu, mengikutsertakan diri dalam aktivitas sekolah dan di luar sekolah, sampai sebisa mungkin menjaga agar nilai rapot gue stabil dengan rata-rata maksimal (walau pun termyata ujung-ujungnya grafik rapot gue kacau balau). 

Dua hari yang lalu, hari yang gue nanti-nantikan selama tiga tahun lamanya datang. Pengumuman seleksi jalur undangan dari universitas yang sudah gue impikan sejak gue belum SMA. Gue ulang, sejak gue belum SMA. 

Hasil seleksi dapat dilihat hari Senin tepat pukul 15.00. 

Dan hasilnya...
Gue gagal. 
Gue gagal. 

Detik itu juga, gue menangis sekencang-kencangnya. Gue benar-benar kecewa, entah harus kecewa sama siapa. Gue nangis sambil teriak-teriak dalam hati. Gue rasa segalau-galaunya gue karna urusan cinta, gue belum pernah sepatah hati ini. Skala 1 - 10, kesedihan gue ada di 10 (10/10). 

Gue menelfon Popop gue. 
"Pop, aku ngga lolos undangan..." 

"Nggak apa-apa, Kak. Kakak udah belajar, udah ngelakuin yang terbaik yang kakak bisa," kata Popop gue dengan intonasi tenang. Gue terdiam, nahan nangis. Tapi kemudian gue terisak-isak lagi sambil gak bisa berkata apa-apa saking gue sedihnya. Di satu sisi, gue kepikiran, mungkinkah sebenarnya usaha gue belum cukup?

"Kakak sedih banget ya?" 

"Iya.. Aku kan udah berusaha, Pop. Aku udah pengen ini dari lama banget.." jawab gue sambil kembali terisak-isak. 

"Aku tahu. Jangan sedih ya, Kak. Tuhan punya rencana lain buat kakak. Sabar ya. Berdoa terus sama Tuhan, kakak masih punya jalan lain kok," jawab Popop gue berusaha menenangkan. 

Telfon silih berganti menanyakan hasil seleksi undangan, mulai dari nenek gue, tante gue, teman-teman terdekat gue. Semuanya gue jawab dengan terisak-isak, "Aku nggak lolos..." Kalau dihitung-hitung, gue nangis sambil ditelfon sebanyak kurang lebih tujuh orang hari itu. 

Mama gue masuk kamar, mendapati gue lagi menangisi hasil seleksi yang mengecewakan di depan layar laptop. Gue memeluk Mama gue erat sekali. Di situ gue merasa senakal-nakalnya gue waktu kecil... gak lolos undangan universitas ini adalah yang paling mengecewakan kedua orang tua gue. Gue benar-benar merasa gagal. 

Selama di SMA, gue sudah melakukan semua yang gue bisa untuk undangan ini. Gue belajar dan bekerja sekeras dan semampu gue (walau pun ujung-ujungnya kebanyakan tidur), gue sebisa mungkin mengikutsertakan diri dalam kegiatan di dalam dan di luar sekolah, gue memprioritaskan sekolah gue di atas hal-hal asik lain yang gue takut menghambat nilai di sekolah, gue sebisa mungkin mempertahankan agar grafik nilai gue dari semester ke semester stabil. Gue bahkan sudah mengambil keputusan super-duper gila dengan pindah ke jurusan IPS yang benar-benar gak mudah buat gue. Gue sudah menginginkan dan merencakan ini sejak lama. Sejak hampir tiga tahun lamanya, dan gue gak lolos. Gak lolos. Sia-sia semua usaha gue. Buang waktu. 

Gue menghabiskan waktu berjam-jam untuk merenung dan menangisi kegagalan gue. 

Sambil menangis terisak-isak, gue membuka jurnal gue yang sudah menjadi buku harian gue sejak gue baru masuk SMA. Sampai akhirnya gue menemukan catatan yang pernah gue sendiri tulis dua tahun yang lalu, tentang bagaimana gue bersyukur Tuhan sudah bimbing gue untuk pindah ke jurusan IPS; 

"Tuhan selalu punya rencana yang terbaik. Rencana kita gak selalu sejalan dengan rencana Tuhan, karena recana Tuhan selalu yang paling indah. Emang sih ga gampang, tapi rencana Tuhan pasti jawaban yang terbaik,"  

Gue terdiam. 

Di situ gue sadar, apa pun yang sedang menimpa gue sekarang, semuanya terjadi atas izin Tuhan. Ini bagian dari rencana Tuhan. 

Seandainya mimpi gue tercapai, itu adalah rencana Tuhan. Seandainya (dan kenyataannya) mimpi gue gak tercapai, itu pun adalah rencana Tuhan. Gue salah. Tiga tahun perjuangan gue memang sudah menjadi selipan doa gue pada Tuhan selama tiga tahun lamanya. Tapi apa pun itu hasilnya, semua kembali ke rencana Tuhan, lepas dari seberapa keras gue berjuang untuk mimpi gue. 

Gue masih bersedih karna kegagalan gue. Tapi mau gak mau, gue harus berdiri lagi. Kejar mimpi lewat jalur lain, anggap saja banting stir. Namun berbeda dengan perjuangan gue sebelumnya, kali ini lebih besar kepasrahannya. Bukan pasrah karna gue patah hati, tapi pasrah karna gue tahu rencana Tuhan lebih indah dari rencana gue sendiri. 

Dengan itu, gue berterima kasih karena Tuhan sudah melepaskan gue dari jalan yang gak lebih baik dari rencana Dia. 

Gue juga berterima kasih karna lewat kegagalan gue ini, gue sadar kalau gue dikelilingi manusia-manusia yang sangat gue sayang dan menyayangi gue, dan hal baiknya, mereka sepenuhnya mendukung gue. 

Goodluck, 2016. Kita berjuangbareng-bareng ya. 

Rabu, 04 Mei 2016

Pulang

Rabu, 4 Mei 2016 (22.32)

Gue tahu seharusnya sekarang gue berhadapan dengan buku-buku berisi materi tentang soshum, tapi gue benar-benar sedang penat. Gue gak lelah, gue hanya jenuh. Gue benar-benar sedang ingin pulang. Menulis, menuangkan ide dan perasaan gue ke dalam tulisan, adalah definisi gue dari pulang.

Popop gue mengetuk pintu kamar. Gue hentikan alunan musik melow gue dalam playlist, "Ada apa, Pop?"

"Gak apa-apa. Walau pun gak karuan, ternyata enak juga ya ternyata kamar kamu. Luas, cahayanya juga pas," ucap Popop gue sembari pandangannya menjelajahi ruang kamar gue dengan cahaya remang-remang dan baju berserakkan di kasur. "Kalau kakak kuliah nanti, aku mau tidur di kamar kakak." 

Gue tersenyum.

Setiap manusia butuh tempat tinggal untuk pulang, untuk berteduh, berlindung, dan beristirahat dengan nyaman. Di dalam tempat tinggalnya, setiap manusia berhak untuk merasa nyaman. Nyaman sebagai dirinya sendiri, yang dia suka. Walau pun berantakkan gak karuan, gue suka dan nyaman stay di kamar ini. Kasurnya empuk, meja belajarnya luas, dan lampunya redup, pas dengan gue yang gak begitu suka gelap, tapi gak begitu suka dengan yang terlalu terang, soalnya bikin mata gampang capek. Ternyata walau pun kamar bobrok gue kerap jadi bahan lelucon keluarga, masih ada Popop yang mau merasakkan nyamannya ruang ini, bersama gue. 

Berapa hari ini, gue menonton film-film pendek karya teman-teman di angkatan gue. Walau pun gak semua film menceritakan tentang apa yang gue alami di SMA, gue tetap berlinang air mata. Di titik ini gue sadar, gak lama lagi ada banyak hal yang akan meninggalkan dan ditinggalkan. 

Teman-teman gue di SMA. Mulai dari mereka yang menjadi teman bicara gue saat hari pertama masuk SMA, mereka yang menjadi kawan gue di kelas IPA dan dengan sabarnya mendengarkan keluh kesah gue tentang galau jurusan, mereka yang menjadi kawan gue di IPS dan mengajarkan gue bahwa gue tidak sesendirian itu, mereka yang mengajarkan gue bahwa gue layak bahagia, mereka yang menjadi arti dari teman yang sejati, atau dia yang menjadi pangeran kisah romansa gue di SMA. 

Gue tidak akan menyalahkan waktu yang terus berjalan menghitung detik. Gue juga tidak akan menyalahkan diri gue sendiri yang mungkin sering kali menyia-nyiakan waktu yang pernah ada. Tapi beginilah adanya. Hanya dalam hitungan hari, semua gak akan sama lagi. Gak akan ada seragam yang sama. Gak akan ada kelas yang sama. Gak akan ada tawa yang sama. Gak akan ada keluh kesah yang sama. Gak akan ada orang-orang yang sama. Gak akan ada kisah yang sama. 

Gue percaya setiap dari gue dan mereka akan melangkah lebih jauh untuk sesuatu yang lebih baik. Entah untuk mengejar mimpi, atau mungkin mengasah diri untuk menghadapi dunia yang sebenarnya di luar sana. Apa pun itu, gue yakin kita semua melangkah lebih jauh untuk sesuatu yang lebih baik di depan sana. 

Tapi bukan itu yang gue takutkan. Gue merasa nyaman di tempat gue yang sekarang. Gue merasa ini adalah tempat tinggal yang nyaman. Gue merasa teduh. Gue merasa inilah tempat gue pulang. Entah apa pun itu yang menunggu gue di depan sana, bagaimana kalau nanti, semua tidak sama lagi? 

Mungkinkah gue masih punya tempat tinggal untuk pulang?

Hal ini yang bikin gue selalu takut untuk membuka diri dan menempati tempat yang baru. Gue sadar, selama ini gue hanya menutup diri dan gak membiarkan diri gue sendiri melihat hal lain di luar sana, yang mungkin lebih baik dari apa yang gue punya. 

Kehidupan manusia itu dinamis. Selalu ada perubahan dan perpindahan. Untuk bertahan hidup, setiap mahkluk hidup harus beradaptasi. Otak gue tahu benar bagaimana caranya beradaptasi. Tapi tidak dengan hati gue. 

Dalam melodi, ada nada mayor dan nada minor. Nada mayor biasanya membunyikan alunan yang ceria. Nada minor biasanya membunyikan alunan yang sedih atau mengharukan. 

Untuk lo/kamu/anda yang baca sepucuk catatan harian gue ini, percayalah, gue senang kalian pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup gue. Anggap saja entah itu nada mayor atau minor yang pernah kita bunyikan, tapi setiap susunan nada pasti menjadi susunan melodi yang indah. Terima kasih karena mau menjadi tempat gue untuk pulang. 

Jumat, 04 Maret 2016

Makan Siang di "Merek Nugget / Merek Produk 21+"

Lokasi : Sebuah restoran Steak dengan harga sesuai kantong anak-anak muda bangkrut. 
Waktu :  Hari Sabtu, jam makan siang, tepatnya usai tambahan matematika yang gak ngerti-ngerti materinya sampai sekarang.  
Keadaan : Sendirian (bukan jomblo, cuma teman-teman gue lagi sibuk dengan keperluannya masing-masing, misalnya: bimbel, urusan persiapan kuliah, dll)

Jomblo deng. 

Menjalankan rutinitas hidup seperti ini bikin gue ngebayangin gimana kehidupan gue setahun atau beberapa tahun mendatang. Gue adalah seseorang yang mengingkan kehidupan yang bebas, fleksibel, independen, namun penuh pelajaran di setiap sudut momentum kehidupan. Mungkinkah kehidupan gue setahun atau beberapa tahun mendatang akan menjadi seperti kehidupan gue yang sekarang, yang menghabiskan banyak waktu dengan asik pada dunia gue sendiri? 

Sesungguhnya kalau boleh memilih, gue lebih suka menghabiskan weekend bersama keluarga, atau bersama teman-teman dekat. Hitung-hitung, menghabiskan beberapa bulan terakhir sebelum berpisah untuk kuliah. Tapi berhubung kerap kali terhalang oleh jam bimbel, atau keperluan masing-masing yang bertabrakan, gue dan keluarga atau teman gak selalu bisa menghabiskan weekend bersama. Alhasil, ya seperti gue saat ini. 

Ujian nasional gak sampai sebulan lagi dari sekarang. Rasanya baru seminggu yang lalu gue menjadi siswi kelas 12 yang galau-galau soal jurusan, kenapa tiba-tiba sudah mau UN aja? 

Rasanya baru sebulan yang lalu gue galau-galau mau mengambil jurusan IPA atau IPS, kenapa sekarang sudah mau lulus aja? 

Semua begitu cepat ya. Gue yakin, hal yang sama akan gue rasakan lagi beberapa bulan mendatang. Beberapa bulan dari sekarang, gue atau kalian akan berkata: 

Perasaan baru sebulan SMA, kok udah mau kuliah aja ya? 

Kehidupan adalah duet oleh waktu dan momentum. Di dalamnya memendam perubahan dan perpindahan. Saking asiknya menjalani perpindahan, kita manusia sering kali lupa waktu. Waktu yang sebenarnya tidak merubah durasi, menjadi terasa lebih cepat, seakan-akan lebih cepat dari waktu yang ada di pikiran kita. 

Sayangnya, kita manusia, gak bisa merubah waktu. Waktu akan terus berjalan, sementara kita menjalani kehidupan yang terus menerus diiringi perubahan dan perpindahan. 

Dalam setiap harinya, ada yang datang, dan ada yang pergi. Entah itu seseorang, memori, atau sekedar perang dalam akal, tapi mereka selalu datang atau pergi untuk sebuah alasan. Ada yang datang untuk menjadi arti dari "selamanya", ada pula yang datang untuk memberi kenangan dan pelajaran. Entah siapa yang akan memutuskan untuk pergi nanti, tapi gue berharap setiap dari mereka bisa tinggal bersama gue lebih lama lagi. 

Apa pun yang ada sekarang, pasti gue rindukan suatu hari nanti, termasuk weekend-weekend gak sendirian yang biasanya gue lakukan bersama keluarga atau teman-teman dekat gue. Gue ingin menghabiskan waktu gue selama mungkin bersama mereka. Hidup gue cuma sementara, gue ingin waktu yang ada dihabiskan bersama mereka. 

Jadi intinya: males banget dah sendirian di antara orang-orang yang tidak sendirian udah kayak jomblo level 999. 

Gak apa-apa kok, jomblo juga bisa aja bahagia. 


Jumat, 19 Februari 2016

Catatan Tentang Pencemburu Ababil

Gue tahu seharusnya sekarang gue sudah berhadapan dengan buku dan belajar karena sebentar lagi gue try out di tempat bimbel. (ya gue tahu. Hari Sabtu. Try out. Di tempat les. Gak banget  kan?) Tapi gue juga tahu kalau sekarang gue buka buku, gak bakal ada ilmu yang nyantol di otak gue karena GUE SEDANG KESAL.

Ini adalah bagian terkonyol dari perasaan sayang. Ketika kita sayang sama seseorang, kita punya keinginan untuk memiliki. Karena kita ingin memiliki, kita gak ingin apa yang kita inginkan menjadi milik orang lain. YA, GUE CEMBURU. MAU APA LO SEMUA??? MAU LABRAK GW??? SINI RIBUT!!!!!

Gaklah, becanda.
Tapi oke serius lagi.

Lucu adalah ketika kita cemburu atau iri, kita akan melihat semua hal buruk dari "rival" kita.

Selama ini gue selalu mempertanyakan mereka yang bisa-bisanya benci sama orang, padahal mereka gak saling kenal. Anehnya lagi, mereka bicara hal-hal negatif tentang orang yang mereka anggap "rival" seakan-akan gak ada lagi hal baik dari "rival"nya.

Cewek kalau lagi mau bicarain hal-hal negatif tentang "rival"nya, sering kali menaik-naikan subjek pembicarannya. Dalam kata lain; menaik-naikan untuk menjatuhkan.

Misalnya begini:
"She's like really kind and pretty. I mean, siapa lagi sih yang kenal sama hampir  semua cowok because of her kindness. (nah ini bagian menjatuhknnya) BUT, demi apa pun, itu cewek kegatelan banget. Ganjennya gak ketolong ya ampun..."

Sumpah, gue gak ngerti sama kayak begini. Lo memuji-muji seseorang, dengan tujuan menjelek-jelekannya juga? Kenapa gak sekalian lo straight to the point? Puji-pujian lo itu gak bakal menyelamatkan pencitraan lo. Intinya, lo tetap menjelek-jelekan "rival" lo pada akhirnya. Tapi itu udah hukum alam. Its been a girl's mindset, dan yang namanya hukum alam, gak akan bisa dibantah. Sumpah gue gak ngerti.

Sampai akhirnya...
Gue merasa ada seseorang yang (bisa dibilang) jauh lebih baik daripada gue di mata Piglet. Lebih cantik, lebih pintar, lebih badai rambutnya, lebih tajir, lebih eksis, lebih segalanya yang bikin gue murka deh pokoknya. Gue mulai merasakan percikan-percikan api cemburu.

Suatu hari, gue mengobrol dengan Bella dan begini ucapan gue:

"She's like really pretty. She has the coolest hair everrr yang 100x lebih badai daripada rambut gimbal gue. Gue gak tau siapa yang gatel di sini. Tapi sekeren-kerennya dia, bodo amat. Pokoknya kalau dia mau macam-macam, gue saingan dia,"

BOOM!!

Tapi kemudian gue terdiam...
Gue mencoba mencerna perkataan gue sendiri...
Kemudian gue tertawa, menertawakan diri gue sendiri. Gue dimakan oleh omongan gue sendiri. Gue bicara seakan-akan gue jauh lebih baik dari orang yang gue anggap "rival". Gue bicara seakan-akan hal-hal baik dari "rival" gue sebenarnya gak sekeren yang gue sendiri kira. Ini adalah suatu sikap sok tingkat dewa.

Sumpah, itu paragraf yang baru aja gue sebut, "sok"nya minta ampun. Seperti cewek-cewek lain yang sedang emosi sama "rival"nya, gue memuji-muji seseorang yang gue anggap "rival" dengan tujuan menjatuhkan dia pada akhirnya.

Ini benar-benar hukum alam dunia "cewek-cewek" yang gak akan bisa dibantah. Lo manusia-manusia yang bukan cewek, gak usah protes. Kalian gak akan bisa merubah hukum alam, kalian cuma perlu memahami. Secowok-cowoknya cewek, gak akan lepas dari hal-hak kayak begini. Catatan untuk diri gue sendiri: lain kali jangan sok. Bisa kemakan omongan sendiri loh.

Hari-hari berikutnya, gue melihat orang yang gue anggap "rival". Dari kejauhan, gue melihat dia dengan tatapan jijik dan bergumam, "Siapa lo. Ew,".

Gue bahkan bertanya kepada beberapa orang gue anggap sangat mengerti sang "rival". Gue mencari tahu sebenarnya "rival" gue ini seperti apa di mata mereka (yang gue yakin, bocah kayak "rival" gue ini gak bakal keren-keren amat di mata orang lain). Dalam kata lain, secara gak langsung, gue mencari mereka yang bisa bikin gue lebih semangat untuk bersaing.

Tapi kemudian lagi, gue tertawa. Sebenarnya apa sih yang sedang gue lakukan?

Setelah gue pikirakan baik-baik, sebenarnya sikap cemburu dan iri hati gue ini gak akan membuahkan hasil. Kalau memang gue berhasil membuktikan kalau gue lebih baik dari orang yang gue anggap "rival", mungkin gue bisa memiliki apa yang gue inginkan.

Tapi setelah gue memiliki apa yang gue inginkan dan membuktikan bahwa sang "rival" adalah CUPU dan hanya bocah yang gak sebanding dengan gue, terus apa? Apa itu cukup menjamin buat bikin "siapa yang gue inginkan" bahagia bersama gue? Sayangnya... enggak. Di luar sana, lepas dari rambut badai sang "rival", masih banyak cewek lain yang jauh lebih baik dari gue, dan mungkin lebih baik dari sang "rival".

Semua balik lagi ke siapa yang bisa membuat "siapa yang gue inginkan" bahagia. Jadi gak peduli seberapa kuat gue bersaing dengan nih bocah "rival", itu gak akan berpengaruh ke "siapa yang gue inginkan".

"Rival" gue lebih baik dari gue. Gue merasa kalah. Itu intinya.

Setelah dipikir-pikir, kenapa gue harus pusing-pusing merubah diri gue sendiri untuk bisa bersaing?Gue sadar pada akhirnya, gue hanya perlu menjadi diri gue sendiri. Soal gue berhasil atau engga, semua balik lagi ke sudut pandang mereka yang nyaman atau tidak nyaman bersama gue.

Pada dasarnya, gue sangat memuji orang yang gue anggap "rival". Gue selalu beranggapan bahwa apa pun tentang "rival" adalah lebih baik dari apa yang gue punya. Karena itu, gue takut apa yang gue punya tersingkirkan karena nih "rival" bocah asing j-b-j-b di hidup gue. (Oke gue mulai emosi lagi.).

j-b-j-b = Join Bareng-Join Bareng / ikut-ikutan

Intinya, semua sikap dan pikiran negatif gue ini disebabkan oleh rasa takut gue sendiri. Bagian buruknya adalah rasa takut gue itu membawa gue kepada kesombongan tingkat dewa. Padahal gue sudah tau, gak ada yang bisa disombongkan di sini. Bahkan bagian gue lebih tua dari "rival" pun gak bisa disombongkan. Harusnya gue sedih karna... tahun ini gue 18 tahun dan... kuliah... Tuh kan, gak bisa disombongin.

Kita udah besar. Udah gak ada waktu untuk membenci dan dibenci. Rasanya, udah bukan lagi waktunya. Gak kok, gue gak membenci dan gue harap gue tidak dibenci. Serese-resenya, "rival" kita, hidup damai itu jauh lebih menyenangkan daripada menang di atas kesedihan orang lain, termasuk di atas "rival" kita. Udah dong, gak usah selek. Pusing nih, mau ujian. Doain ya.

Akan selalu ada yang lebih baik dari kita. Entah lebih bagus rambutnya, atau lebih cantik, lebih pintar, lebih eksis, lebih tajir. atau apalah yang kita anggap "lebih" dari apa yang kita punya. Tapi bahagia itu kita yang buat. Jadi diri sendiri juga bisa bahagia kok. Kalau kita sudah bahagia dengan apa yang kita punya, kita pasti turut bahagiia buat kelebihan yang orang lain punya.

"Rival" kita yang sebenarnya bukan siapa yang lebih baik dari kita. Tapi diri kita sendiri. Entah sombongnya kita, malasnya kita, atau egoisnya kita... itu yang sebenarnya harus dilawan. Gak mudah sih, tapi itu lebih baik daripada capek-capek cemburu sama apa yang lebih baik dari kita.

Jadi buat lo (orang yang merasa menjadi "rival" yang gue dedikasikan dalam post ini) gak usah seneng dulu. Gue masih jadi saingan lo dan akan selalu menjadi saingan lo. Tapi silahkan lakukan apa pun yang lo mau untuk bantai gue. Gue keluar dari perang visual kita. Lo urusin hidup lo sendiri aja, begitu pula gue. Di luar sana masih banyak cewek lain. Dunia gak sekedar antara gue dan lo.

Jangan geer. Gue punya banyak urusan lain dibanding ngurusin lo. Dasar bocah. Siapa lo. Ew.

LOH KOK EMOSI??? MAAF YA!!! JANGAN BAPER. BECANDA KOK.

Btw gue beneran suka rambut lo. Pake perawatan apa sih, dek? Kok gue catokan hasilnya gimbal mulu gak bisa kayak rambut lo... (ini serius, bukan sindiran).

Dan Piglet, silahkan cari apa yang bisa bikin kamu bahagia. kan kemarin udah ku bilang, bahagia itu kita sendiri yang cari. Kita sama-sama pernah berusaha dan sisanya balik lagi ke pilihan kita masing-masing kan? Di luar sana, masih ada banyak yang lebih baik dari apa yang aku bisa kasih. Tapi buat sekarang, lebih baik aku jadi diri sendiri dulu aja. Goodluck! 

P.S:
Well, lets call this "Highschool Crimes". 
Seenggaknya untuk pertama kali dan terakhir kali dalam SMA, gue pernah gemas sama yang kayak begini. Gemas doang kok, bukan benci. Xoxo. Jangan geer ya, #bukansenioritas.

#PeaceIsTheMission

Kamis, 31 Desember 2015

Jangan Selamanya

Benar adanya kalau ada yang bilang bahwa gue bukanlah seseorang yang sangat pemberani. 

Gue punya rasa takut pada banyak hal. Gue takut pada semua binatang melata dan merayap, gue takut katak, gue takut darah, gue takut sama boneka bayi (apa lagi yang rambutnya udah gimbal gak karuan dan kalo dipencet bunyi bayi ketawa...), gue takut gelap, dan yang paling memyusahkan: gue takut nyetir mobil di jalan raya. 

Tapi kalau lo tanya hal apa yang paling gue takutkan di dunia, jujur gue tidak takut dibenci, gue tidak takut digunjing, gue tidak takut dipandang rendah, gue tidak takut dibaperin, tapi satu yang gue takutkan adalah... kehilangan. 

Gue rasa, gak ada yang suka kehilangan sesuatu. Jangankan kehilangan sesuatu yang berharga, kehilangan sesuatu yang kecil dan gak begitu bernilai besar pun kita bisa kesusahan. Apa lagi kehilangan sesuatu berharga untuk waktu yang sangat lama?

Sejujurnya, entah gue takut, atau gue benci pada kehilangan. Rasa takut kehilangan gue sering kali berakhir dengan kesedihan dan.. marah. 

Entah gue udah mulai gila atau bagaimana, tapi gue bahkan gak suka kehilangan sesuatu yang mengganggu dan membenci gue. Ketika gue kehilangan sesuatu yang gue anggap "mengganggu", 'sesuatu' tersebut bakal menghantui gue dengan rasa bersalah, seakan-akan gue harus putar balik dan mengejar si 'sesuatu' untuk sekedar bilang "maaf" dan lepas dari dendam dan rasa bersalah. 

Sebaliknya, ketika gue kehilangan sesuatu yang gue anggap berharga, rasa kehilangan gue akan berujung dengan penyesalan dan gue rasa, penyesalan adalah bagian terpahit dari rasa kehilangan. Entah menyesal karna mungkin ada waktu yang terbuang sehingga gue gak bisa menghabiskan waktu gue dengan 'sesuatu' lebih lama lagi, atau mungkin karena ada hal dan kata-kata yang belum sempat gue katakan pada 'sesuatu', atau mungkin juga karena gue belum sempat memberikan arti dari bahagia untuk sang 'sesuatu'. 

Padahal gue sudah tau..
Gak peduli seberapa kata sayang yang gue ucapkan atau pelukan hangat yang gue berikan... gue akan tetap merasa kehilangan kalau setelah "goodbye" tidak ada lagi pertemuan. 

Sejauh ini, kalimat yang paling gue benci dan pernah gue dengar adalah kalimat yang bunyinya; 
"ini yang terakhir..."

Kalimat itu adalah sobat dari sekawan perpisahan yang pararel. Pararel; tidak pernah ada titik pertemuan. 

Jangan pernah katakan "selamanya". Berjanjilah, jangan buat aku merasa kehilangan. Kalau pun siapa pun harus pergi, buatlah rasa kehilangan aku hanya untuk sementara. Aku mohon. Jangan buat aku merasa kehilangan. 
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review