Jumat, 19 Februari 2016

Catatan Tentang Pencemburu Ababil

Gue tahu seharusnya sekarang gue sudah berhadapan dengan buku dan belajar karena sebentar lagi gue try out di tempat bimbel. (ya gue tahu. Hari Sabtu. Try out. Di tempat les. Gak banget  kan?) Tapi gue juga tahu kalau sekarang gue buka buku, gak bakal ada ilmu yang nyantol di otak gue karena GUE SEDANG KESAL.

Ini adalah bagian terkonyol dari perasaan sayang. Ketika kita sayang sama seseorang, kita punya keinginan untuk memiliki. Karena kita ingin memiliki, kita gak ingin apa yang kita inginkan menjadi milik orang lain. YA, GUE CEMBURU. MAU APA LO SEMUA??? MAU LABRAK GW??? SINI RIBUT!!!!!

Gaklah, becanda.
Tapi oke serius lagi.

Lucu adalah ketika kita cemburu atau iri, kita akan melihat semua hal buruk dari "rival" kita.

Selama ini gue selalu mempertanyakan mereka yang bisa-bisanya benci sama orang, padahal mereka gak saling kenal. Anehnya lagi, mereka bicara hal-hal negatif tentang orang yang mereka anggap "rival" seakan-akan gak ada lagi hal baik dari "rival"nya.

Cewek kalau lagi mau bicarain hal-hal negatif tentang "rival"nya, sering kali menaik-naikan subjek pembicarannya. Dalam kata lain; menaik-naikan untuk menjatuhkan.

Misalnya begini:
"She's like really kind and pretty. I mean, siapa lagi sih yang kenal sama hampir  semua cowok because of her kindness. (nah ini bagian menjatuhknnya) BUT, demi apa pun, itu cewek kegatelan banget. Ganjennya gak ketolong ya ampun..."

Sumpah, gue gak ngerti sama kayak begini. Lo memuji-muji seseorang, dengan tujuan menjelek-jelekannya juga? Kenapa gak sekalian lo straight to the point? Puji-pujian lo itu gak bakal menyelamatkan pencitraan lo. Intinya, lo tetap menjelek-jelekan "rival" lo pada akhirnya. Tapi itu udah hukum alam. Its been a girl's mindset, dan yang namanya hukum alam, gak akan bisa dibantah. Sumpah gue gak ngerti.

Sampai akhirnya...
Gue merasa ada seseorang yang (bisa dibilang) jauh lebih baik daripada gue di mata Piglet. Lebih cantik, lebih pintar, lebih badai rambutnya, lebih tajir, lebih eksis, lebih segalanya yang bikin gue murka deh pokoknya. Gue mulai merasakan percikan-percikan api cemburu.

Suatu hari, gue mengobrol dengan Bella dan begini ucapan gue:

"She's like really pretty. She has the coolest hair everrr yang 100x lebih badai daripada rambut gimbal gue. Gue gak tau siapa yang gatel di sini. Tapi sekeren-kerennya dia, bodo amat. Pokoknya kalau dia mau macam-macam, gue saingan dia,"

BOOM!!

Tapi kemudian gue terdiam...
Gue mencoba mencerna perkataan gue sendiri...
Kemudian gue tertawa, menertawakan diri gue sendiri. Gue dimakan oleh omongan gue sendiri. Gue bicara seakan-akan gue jauh lebih baik dari orang yang gue anggap "rival". Gue bicara seakan-akan hal-hal baik dari "rival" gue sebenarnya gak sekeren yang gue sendiri kira. Ini adalah suatu sikap sok tingkat dewa.

Sumpah, itu paragraf yang baru aja gue sebut, "sok"nya minta ampun. Seperti cewek-cewek lain yang sedang emosi sama "rival"nya, gue memuji-muji seseorang yang gue anggap "rival" dengan tujuan menjatuhkan dia pada akhirnya.

Ini benar-benar hukum alam dunia "cewek-cewek" yang gak akan bisa dibantah. Lo manusia-manusia yang bukan cewek, gak usah protes. Kalian gak akan bisa merubah hukum alam, kalian cuma perlu memahami. Secowok-cowoknya cewek, gak akan lepas dari hal-hak kayak begini. Catatan untuk diri gue sendiri: lain kali jangan sok. Bisa kemakan omongan sendiri loh.

Hari-hari berikutnya, gue melihat orang yang gue anggap "rival". Dari kejauhan, gue melihat dia dengan tatapan jijik dan bergumam, "Siapa lo. Ew,".

Gue bahkan bertanya kepada beberapa orang gue anggap sangat mengerti sang "rival". Gue mencari tahu sebenarnya "rival" gue ini seperti apa di mata mereka (yang gue yakin, bocah kayak "rival" gue ini gak bakal keren-keren amat di mata orang lain). Dalam kata lain, secara gak langsung, gue mencari mereka yang bisa bikin gue lebih semangat untuk bersaing.

Tapi kemudian lagi, gue tertawa. Sebenarnya apa sih yang sedang gue lakukan?

Setelah gue pikirakan baik-baik, sebenarnya sikap cemburu dan iri hati gue ini gak akan membuahkan hasil. Kalau memang gue berhasil membuktikan kalau gue lebih baik dari orang yang gue anggap "rival", mungkin gue bisa memiliki apa yang gue inginkan.

Tapi setelah gue memiliki apa yang gue inginkan dan membuktikan bahwa sang "rival" adalah CUPU dan hanya bocah yang gak sebanding dengan gue, terus apa? Apa itu cukup menjamin buat bikin "siapa yang gue inginkan" bahagia bersama gue? Sayangnya... enggak. Di luar sana, lepas dari rambut badai sang "rival", masih banyak cewek lain yang jauh lebih baik dari gue, dan mungkin lebih baik dari sang "rival".

Semua balik lagi ke siapa yang bisa membuat "siapa yang gue inginkan" bahagia. Jadi gak peduli seberapa kuat gue bersaing dengan nih bocah "rival", itu gak akan berpengaruh ke "siapa yang gue inginkan".

"Rival" gue lebih baik dari gue. Gue merasa kalah. Itu intinya.

Setelah dipikir-pikir, kenapa gue harus pusing-pusing merubah diri gue sendiri untuk bisa bersaing?Gue sadar pada akhirnya, gue hanya perlu menjadi diri gue sendiri. Soal gue berhasil atau engga, semua balik lagi ke sudut pandang mereka yang nyaman atau tidak nyaman bersama gue.

Pada dasarnya, gue sangat memuji orang yang gue anggap "rival". Gue selalu beranggapan bahwa apa pun tentang "rival" adalah lebih baik dari apa yang gue punya. Karena itu, gue takut apa yang gue punya tersingkirkan karena nih "rival" bocah asing j-b-j-b di hidup gue. (Oke gue mulai emosi lagi.).

j-b-j-b = Join Bareng-Join Bareng / ikut-ikutan

Intinya, semua sikap dan pikiran negatif gue ini disebabkan oleh rasa takut gue sendiri. Bagian buruknya adalah rasa takut gue itu membawa gue kepada kesombongan tingkat dewa. Padahal gue sudah tau, gak ada yang bisa disombongkan di sini. Bahkan bagian gue lebih tua dari "rival" pun gak bisa disombongkan. Harusnya gue sedih karna... tahun ini gue 18 tahun dan... kuliah... Tuh kan, gak bisa disombongin.

Kita udah besar. Udah gak ada waktu untuk membenci dan dibenci. Rasanya, udah bukan lagi waktunya. Gak kok, gue gak membenci dan gue harap gue tidak dibenci. Serese-resenya, "rival" kita, hidup damai itu jauh lebih menyenangkan daripada menang di atas kesedihan orang lain, termasuk di atas "rival" kita. Udah dong, gak usah selek. Pusing nih, mau ujian. Doain ya.

Akan selalu ada yang lebih baik dari kita. Entah lebih bagus rambutnya, atau lebih cantik, lebih pintar, lebih eksis, lebih tajir. atau apalah yang kita anggap "lebih" dari apa yang kita punya. Tapi bahagia itu kita yang buat. Jadi diri sendiri juga bisa bahagia kok. Kalau kita sudah bahagia dengan apa yang kita punya, kita pasti turut bahagiia buat kelebihan yang orang lain punya.

"Rival" kita yang sebenarnya bukan siapa yang lebih baik dari kita. Tapi diri kita sendiri. Entah sombongnya kita, malasnya kita, atau egoisnya kita... itu yang sebenarnya harus dilawan. Gak mudah sih, tapi itu lebih baik daripada capek-capek cemburu sama apa yang lebih baik dari kita.

Jadi buat lo (orang yang merasa menjadi "rival" yang gue dedikasikan dalam post ini) gak usah seneng dulu. Gue masih jadi saingan lo dan akan selalu menjadi saingan lo. Tapi silahkan lakukan apa pun yang lo mau untuk bantai gue. Gue keluar dari perang visual kita. Lo urusin hidup lo sendiri aja, begitu pula gue. Di luar sana masih banyak cewek lain. Dunia gak sekedar antara gue dan lo.

Jangan geer. Gue punya banyak urusan lain dibanding ngurusin lo. Dasar bocah. Siapa lo. Ew.

LOH KOK EMOSI??? MAAF YA!!! JANGAN BAPER. BECANDA KOK.

Btw gue beneran suka rambut lo. Pake perawatan apa sih, dek? Kok gue catokan hasilnya gimbal mulu gak bisa kayak rambut lo... (ini serius, bukan sindiran).

Dan Piglet, silahkan cari apa yang bisa bikin kamu bahagia. kan kemarin udah ku bilang, bahagia itu kita sendiri yang cari. Kita sama-sama pernah berusaha dan sisanya balik lagi ke pilihan kita masing-masing kan? Di luar sana, masih ada banyak yang lebih baik dari apa yang aku bisa kasih. Tapi buat sekarang, lebih baik aku jadi diri sendiri dulu aja. Goodluck! 

P.S:
Well, lets call this "Highschool Crimes". 
Seenggaknya untuk pertama kali dan terakhir kali dalam SMA, gue pernah gemas sama yang kayak begini. Gemas doang kok, bukan benci. Xoxo. Jangan geer ya, #bukansenioritas.

#PeaceIsTheMission

Kamis, 31 Desember 2015

Jangan Selamanya

Benar adanya kalau ada yang bilang bahwa gue bukanlah seseorang yang sangat pemberani. 

Gue punya rasa takut pada banyak hal. Gue takut pada semua binatang melata dan merayap, gue takut katak, gue takut darah, gue takut sama boneka bayi (apa lagi yang rambutnya udah gimbal gak karuan dan kalo dipencet bunyi bayi ketawa...), gue takut gelap, dan yang paling memyusahkan: gue takut nyetir mobil di jalan raya. 

Tapi kalau lo tanya hal apa yang paling gue takutkan di dunia, jujur gue tidak takut dibenci, gue tidak takut digunjing, gue tidak takut dipandang rendah, gue tidak takut dibaperin, tapi satu yang gue takutkan adalah... kehilangan. 

Gue rasa, gak ada yang suka kehilangan sesuatu. Jangankan kehilangan sesuatu yang berharga, kehilangan sesuatu yang kecil dan gak begitu bernilai besar pun kita bisa kesusahan. Apa lagi kehilangan sesuatu berharga untuk waktu yang sangat lama?

Sejujurnya, entah gue takut, atau gue benci pada kehilangan. Rasa takut kehilangan gue sering kali berakhir dengan kesedihan dan.. marah. 

Entah gue udah mulai gila atau bagaimana, tapi gue bahkan gak suka kehilangan sesuatu yang mengganggu dan membenci gue. Ketika gue kehilangan sesuatu yang gue anggap "mengganggu", 'sesuatu' tersebut bakal menghantui gue dengan rasa bersalah, seakan-akan gue harus putar balik dan mengejar si 'sesuatu' untuk sekedar bilang "maaf" dan lepas dari dendam dan rasa bersalah. 

Sebaliknya, ketika gue kehilangan sesuatu yang gue anggap berharga, rasa kehilangan gue akan berujung dengan penyesalan dan gue rasa, penyesalan adalah bagian terpahit dari rasa kehilangan. Entah menyesal karna mungkin ada waktu yang terbuang sehingga gue gak bisa menghabiskan waktu gue dengan 'sesuatu' lebih lama lagi, atau mungkin karena ada hal dan kata-kata yang belum sempat gue katakan pada 'sesuatu', atau mungkin juga karena gue belum sempat memberikan arti dari bahagia untuk sang 'sesuatu'. 

Padahal gue sudah tau..
Gak peduli seberapa kata sayang yang gue ucapkan atau pelukan hangat yang gue berikan... gue akan tetap merasa kehilangan kalau setelah "goodbye" tidak ada lagi pertemuan. 

Sejauh ini, kalimat yang paling gue benci dan pernah gue dengar adalah kalimat yang bunyinya; 
"ini yang terakhir..."

Kalimat itu adalah sobat dari sekawan perpisahan yang pararel. Pararel; tidak pernah ada titik pertemuan. 

Jangan pernah katakan "selamanya". Berjanjilah, jangan buat aku merasa kehilangan. Kalau pun siapa pun harus pergi, buatlah rasa kehilangan aku hanya untuk sementara. Aku mohon. Jangan buat aku merasa kehilangan. 

Senin, 28 Desember 2015

Sepenggal Kisah Sebelum 2015 Usai

Senin, 28 Desember 2015.

28????
KOK UDAH TANGGAL 28???

Piglet dan Pooh ikut kaget

Oke jadi, tepat tiga hari lagi tahun 2015 berakhir. Hal itu membuat gue sadar bahwa sudah sangat banyak hal baik manis mau pun pahit yang sudah menjadi bagian perjalanan hidup gue di tahun 2015.

Gue ingin mengajak teman-teman sedikit review tentang beberapa hal yang pernah datang dan mugkin menjadi "sesuatu" di tahun 2015. 
  1. Gue dan teman-teman angkatan Kulanta Damarudira melaksanakan Live In di Desa Pujon Kidul pada tanggal 31 Januari 2015 hingga 7 Februari 2015. Awalnya sih kami banyak mengeluh dan capek, tapi benar kata guru-guru. Sekarang gue justru rindu dengan suasana live in. Kalau kalian kepo dan pengen flashback bisa buka di http://vidwithafreakydiary.blogspot.co.id/2015/03/tujuh-hari-memori-selamanya.html (btw nama angkatan gue Kulanta Damarudira loh. Artinya keluarga yang disatukan seperti oleh darah). Bagian termanisnya adalah, gue dan Piglet merayakan hari jadi pacaran yang ke-1 tahun pada tangggal 7 Februari. That was the sweetest kind of anniversary I've ever had in my life. 
  2. Gue dan angkatan 2k16 menjadi siswa SMA kelas 3. Kita yang dulu melihat kakak-kakak kelas yang lelah, sekarang kita yang berada tepat di posisi mereka. 
  3. GLORIFEST 2015. Glorifest adalah sebuah pensi tahunan yang diadakan oleh SMA gue. Tahun 2015 ini, acara Glorifest mengundang RAN, Midnight Quickie, dan RAS Muhamad. Ya jadi, acaranya sehari, persiapannya berbulan-bulan. Acara sehari kelar, capeknya gak kelar-kelar. Tapi tetep aja gue salut dengan teman-teman OSIS dan SMA gue yang kerja kerasnya gak main-main. Glorifest menjadi satu pengalaman yang mengajarkan gue banyak hal, termasuk: jadi sekertaris lumayan enak sih soalnya gak ngurusin duit. 
  4. Muncul istilah BAPER. Entah siapa yang sebenarnya menciptakan istilah ini, tapi makin lama, istilah "baper" semakin memiliki perluasan makna. Orang marah, dibilang baper. Orang nangis, dibilang baper. Kenyataan yang sebenarnya semua orang harus tau adalah kalau orang itu terganggu dengan seseorang lain yang menyebalkan, maka dia layak marah dan ketika dia marah, ITU KARNA EMANG LO RESE, bukan karna dia baper. Tapi lama-kelamaan, gue sendiri terkena dampak dari Bawa Perasaan. Gue sering kali bersedih hanya dengan mendengar lagu-lagu bernada minor yang kerap mengingatkan gue tentang rasa rindu gue. Ya, emang gue cengeng sih sebenernya. Contoh: Lagu All I Ask - Adele (disuruh oleh Zeta untuk mendengarkan lagu itu, alhasil jadi baper berkepanjangan). 
Ada sebuah hari berharga yang belum sempat gue abadikan dalam blog di tahun 2015 ini. Maka itu sebelum 2015 berakhir, gue ingin menyempatkan diri menceritakan tentang hari berharga itu, mewaikili hari-hari berharga lain di tahun 2015. It was my seventeenth birthday. 

Awalnya gue benar-benar gak kepikiran mau merayakn ulang tahun dengan cara apa, bahkan gak kepikiran mau merayakan atau enggak. Teman-teman dekat gue menyarankan agar ulang tahun ke-17 gue dirayakan di KFC dengan tema Frozen. Gue menolak, dengan alasan sampai detik ini gue belum pernah nonton Frozen. Yang gue tahu cuma kalimat bernada Do You Wanna Build a Snowman, dan Go Away Anna yang dibalas dengan Ok Bye. 

Gue benar-benar gak ngerti juga gimana caranya mengadakan sebuah acara ulang tahun dan meyakinkan teman-teman bahwa acaranya seru agar mereka mau datang. Tapi teman karib gue (Bella) bilang, teman-teman pasti datang asalkan tempatnya gak begitu jauh karena kebetulan, hari ulang tahun gue adalah hari sekolah. Ngerti maksud gue kan? 

Gue dan Bella pun mendatangi beberapa tempat yang kayaknya seru buat dijadiin tempat ngerayain ulang tahun. Bayangan gue waktu itu, kayaknya bakal seru kalau tempatnya remang-remang, tapi dengan suasanya yang cute dan sesuai dengan budget gue yang terbatas. Teman-teman yang datang pun tidak begitu banyak. Alhasil, gue memiliih untuk merayakan di Nanny's Pavillon, Cibubur. 

Sesungguhnya, Mama gue lebih heboh dibanding gue dalam mempersiapkan acaranya. Mulai dari mempersiapkan MC, kue, tempat, sampai baju dan make up, semua Mama gue yang urusin. Dan gue yakin, hari itu juga menjadi hari super-duper berharga karena Mama gue. 

Nah, ini bagian yang paling seru. Kronologi: 
Minggu, 12 April 2015:
Gue ngeline satu demi satu teman, menyebarkan undangan yang niatnya imut, ujung-ujungnya malah garing. Responnya pun macam-macam, mulai dari yang manis hingga pahit. Berikut adalah macam-macam respon:
  • Thank you for the invitation!<3 (re: Okay, urwell!<3)
  • Okayy I will come!<3 (re: Thank youu<3)
  • Weww! Dresscode-nya apa nih, Vid? (re: ga ada dresscode kokk, casual aja)
  • Emang lu bisa ulang taun?? (re: menurut lo aja)
  • Mager ah (re: elah nyet)
  • Alah paling boongan (re: LHA MANA ADA ULANG TAUN BOONGAN)
  • Ga mau dateng. Lu aja ke rumah gw (re: perasaan gw yg ulang taun...)
  • FU*KK U GW LAGI DI BALI. ACARANYA POSTPONE DONG (re: pulang aja, pis. kalo acara udh kelar balik lagi ke Bali)
Senin, 13 April 2015:
Aulia mengirimkan pesan berbunyi: Vid, hari Rabu tanggal 15 gak ngapa-ngapain kan siangnya? Ke salon dulu yuk sebelum acara lo mulai!! Di momen itu gue sadar, pasti ada sesuatu yang salah. Kenapa? Karena Aulia seharusnya sudah tahu bahwa gak mungkin gue ga ke salon sebelum acara. Aulia dan Bella pasti mau dateng sebelum acara dan ngasih gue surprise deh.  

Selasa, 14 April 2015
Gak ada apa-apa. Biasa aja. Tapi deg-degan. 

Rabu, 15 April 2015. 
Jam 6 pagi gue kebangun. Sempat kepikiran sih kok si Aulia dan Bella atau Piglet atau siapa pun belum dateng subuh-subuh. Momen itu gue sadar gue mulai kegeeran. Akhirnya, gue tidur lagi. 

Jam 7 lewat gue kebangun lagi. Belum sempat ngapa-ngapain, tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamar gue. Di rumah gue, gak ada budaya ketuk-ketuk pintu sebelum masuk. Jadi gue yakin, itu pasti sebuah kejutan. 

Gue buka pintu kamar dan gue teriak SURPRISE!!!
Aulia dan Bella yang tengah memegang kue beserta kedua orang tua gue yang tengah merekam dengan handycam melongo. "Loh kok lo yang bilang surprise sih..." ucap Aulia. Gue pun meniup lilin di kue ulang tahun yang dibawa oleh Aulia dan Bella. Kuenya Red Velvet. Tulisannya "Happy Birthday JLo. JLo adalah nama kesayangan mereka pada gue, karna dulu gue ngefans banget sama JLo. 

Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar di kamar. Tiba-tiba, gue menerima pesan dari Piglet, bunyinya: "Maaf ya aku gak bisa surprise-in kamu bareng Aulia sama Bella:("

SESUNGGUHNYA gue beneran sedih dapet pesan dari Piglet. Tapi gue sok okay dan menjawab dengan "Iya gakpapa kok:)"
:):):):):)

Gak lama kemudian, Mama gue memanggil-manggil gue, Aulia, dan Bella dari lantai bawah. Kami pun turun untuk sarapan. TIBA-TIBA...

Aulia ditelfon sama supirnya. Katanya, supir Aulia menabrakan mobilnya ke pagar rumah di dekat gerbang komplek gue. Sebenarnya di situ gue mikir: perasaan gak ada pager di dekat gerbang komple gue... 

Tapi karena panik, gue pun memutuskan untuk keluar rumah dan jalan kaki menuju tempat tragedi. Gue masih mengenakan kaos lusuh, celana tidur kotak-kotak, dan rambut gembel muka gak karuan. Dan tepat setelah gue melangkah beberapa kali dari pagar rumah gue... 

Samar-samar gue melihat beberapa teman gue tengah berdiri di taman bermain dekat rumah gue. Hacika, Iyo, Ferdi, Farel, Fadhli, Karena gue gak pake kaca mata, pandangan gue buram. Gue bengong dalam beberapa detik sampai tiba-tiba Piglet memeluk dan menggendong gue, membawa gue ke taman bermain tempat tean-teman gue berkumpul. Piglet dan teman-teman gue mengikatkan tubuh gue di sebuah pohon. Gue rasa, kalian tahu kelanjutannya...

Tentunya mereka membumbui gue dengan bahan adonan. Tepung, telur, fanta, kecap. Beruntung sih gak ada tauco. Dalam hukum adonan surprise ulang tahun, tauco adalah yang paling bau dan baunya gak akan hilang hanya dalam hitungan satu atau dua hari. 

Sembari mereka nepungin gue, Mama dan Popop gue hanya nonton dari kejauhan sambil merekam dengan handycam. Ternyata teman-teman gue sudah bersekongkol dengan Mama dan Popop.

Kejamnya, setelah mereka puas, mereka meninggalkan gue begitu saja terikat di taman bermain dalam keadaan bau dan penuh bahan adonan. Gue menggeliat sampai akhirnya gue berhasil lepas dari ikatan. Gue mengejar mereka satu-satu. Alasan mereka supaya gak kena kotor adonan sih macam-macam, tapi alasan mereka gak berhasil. Gue tetap mengotori mereka dengan bahan adonan yang nempel di baju gue. 

I was annoyed, to be honest. But if I could repeat that time, I would. 

Lagi ditepungin. 

Lagi ditepungin tapi disuruh gaya.

EAAAAA.
Ini nih yang katanya "maaf gak bisa dateng".
jadi kangen...



Usai mereka puas nepungin gue, teman-teman gue pun bersitirahat sementara gue mandi. Mandinya pun susah. Banyak kulit telur menempel di rambut gue, begitu pul baunya yang melekat. 

Gak lama kemudian, teman-teman gue pulang. Sebelum Piglet pulang, Piglet memberikan gue hadiah. Boneka Panda raksasa dan sebuah hadiah berbalut bungkus kado. Piglet tahu gue sangat menyukai Panda dan menyukai segala jenis boneka fluffy. Boneka Panda tersebut masih tidur bersama gue hingga malam ini dan gue panggil dengan nama 'Hemi'. Hadiah dengan bungkusan kado gue buka. Sebuah buku novel dengan SANGAT BANYAK surat dan cerita tulisan Piglet sendiri. Piglet tau gue sangat suka membaca, terutama membaca surat cinta. Seandainya mesin waktu itu ada ya...

Malamnya, acara dimulai. Belom-belom, gue udah keburu pegal karna pake sepatu ber-hak 7 cm. Teman-teman gue sudah berkumpul. Begitu pula teman-teman Mama gue, teman dekat Popop gue, hingga MC-nya. Gue sedang deg-degan, tiba-tiba dapat pesan dari Piglet: "Vid, kayaknya aku gak bisa dateng.. Maaf banget ya."

Gue kesal sampai-sampai ingin nangis. Maksudnya apa??? kenapa tiba-tiba gak datang??? Tapi apa daya, gak muungkin gue nangis di depan teman-teman gue. 

Sambil MCnya basa-basi, gue menunggu di depan pintu pintu masuk. Gue memperhatikan teman-teman dan keluarga gue satu-satu. They all are beautiful. 

TIBA-TIBA... Piglet memeluk gue dari belakang dan berkata, "Maaf ya aku terlambat..."
Ya. Oke. Ini sinetron banget. BUT THAT WAS TOO CUTE. Surprise kok bertubi-tubi...

Mungkin kami gak diciptakan untuk selamanya bersama, tapi gue tahu Piglet pernah menjadi satu yang selalu ada dan gue bersyukur karena walau pun semua sudah berbeda sekarang, setidaknya cerita gue dan Piglet pernah terjadi. Thank you, Ham. 

Acaranya dimulai dengan meniup lilin sebagai simbol dari harapan dan doa gue yang akan terkabul. Gue diperintahkan oleh MC untuk memilih 6 orang teman yang masing-masing memegang 1 lilin. Sambil gue meniup lilin, sang MC menceritakan secara singkat tentang bagaimana keluarga gue mengenal gue sejak gue lahir. Terlalu mengharukan. Gue pun banjir air mata. 

Tuh lihat. Gimana gue gak banjir air mata. 


Setelah tiup lilin, masuk ke bagian mengarukan selanjutnya. Memanggil satu-persatu anggota keluarga dan sahabat ke depan. Popop, Mama, Iyel, dan seorang sahabat diminta MC untuk maju ke depan dan mengucapkan harapan mereka untuk gue, dilanjutkan dengan acara tiup lilin dan suap-suapan kue dengan orang tersayang. 

Gue sedang memeluk Popop setelah Popop mengucapkan harapan dan doanya untuk gue.

Gue sedang memeluk Bella sambil banjir air mata saking terharunya setelah Bella mengucapkan harapan dan doanya untuk gue. 

Setelah bertahun-tahu, akhirnya Iyel mau cium pipi gue lagi. Sebenernya gue minta kado mobil + rumah dari Iyel, tapi ya sudahlah, dicium juga gue seneng. BECANDA KOK, gak minta kado mobil + rumah.

Gue lagi make a wish sebelum tiup lilin bersama keluarga gue yang sangat-sangat gue sayangi.

Gue lagi tiup lilin. 
Berikut ada pula beberapa foto gue bersama orang-orang tersayang yang sayangnya hanya beberapa dari teman gue yang ada fotonya: 

2013 (merayakan ulang tahun bella di Hanamasa) vs 2015 (merayakan ulang tahun Vidya di Nanny's Pavillon. Thank you for being my definition of "gifts from god". I love you Au, Bell.
ya oke, jangan nangis.

Teman SD since 2000 berapa gak tau saking tuanya sampe lupa. HAHAHA I LOVE U, GENK SUMINICE. 

Kumpulan pelajar lelah sekolah yang menamai genk-nya dengan #LelahSekolah. Thank you for teaching me that somet things in life are just made to be laughed at. Ily. 


Gue bersama salah satu malaikat tanpa sayap yang pernah memberikan gue arti dari suka dan duka, namun juga menjadi satu yang mengajarkan gue arti dari "Bahagia". Thank you, Ham. Ily.
Usai acara, gue pulang dan membuka kado-kado dari teman-teman gue. Sebagian besar memberikan gue novel (karena mereka tahu gue suka membaca novel) dan notebook (karena mereka tahu gue suka menulis), ada pula yang memberikan gue hadiah baju yang gue idam-idamkan sejak lama, ada pula yang memberikan kado-kado imut lainnya yang GUE SANGAT SUKA.

Hari Minggu, tanggal 19 April, Mama gue mengundang keluarga besar gue untuk merayakan ulang tahun gue di rumah dengan makan-makan dan tumpengan. Ada nenek gue, sepupu-sepupu gue, om-om dan tante-tante gue, hingga beberapa teman yang tinggalnya gak jauh dari rumah gue. Kami merayakannya dengan doa bersama dan makan malam bersama. Sederhana, namun hangat.

Kalau gue bisa, gue ingin mengucapkan terima kasih pada setiap orang yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan hidup gue di tahun 2015. Gue ingin berterima kasih untuk semua tawa, tangis, manis, dan pahit yang pernah menjadi kisah drama 2015. Memang sih, kadang gak mudah. Tapi justru ketidakmudahan itu yang menjadi pengalaman dan guru dalam kehidupan. Terima kasih banyak, malaikat-malaikatku.

Hidup adalah tentang perpindahan dan perubahan, tapi Tuhan tidak pernah meninggalkan. Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat gak bersayap yang menjadi arti dari bahagia. Terima kasih untuk semua nada mayor dan minor, aku menyayangimu. 

Thank God for sending me all those angels
Thank God for all the uncountable blessings. 
All I know is that I'm blessed,
Thank God. 

Kamis, 24 Desember 2015

Christmas Edition 2015

Sebelum gue memulai curhat/ceramah/bacotan gue...

MERRRYYYYY CHRISTMAAASS!! GOD BLESS Y' ALL!! LOVELOVELOVE!!!

Keyakinan gue mengajarkan bahwa "kasih" adalah satu hal yang perlu diutamakan dalam segala hal. Benar-benar dalam segala hal. Berjalan, sambil mengasihi. Berlari, sambil mengasihi. Menulis, sambil mengasihi. Membaca, sambil mengasihi. Nafas, sambil mengasihi. Mikir, sambil mengasihi.

Kasih dan mengasihi yang dimaksud adalah dengan hidup tanpa mendendam, bahkan membalas pahit dengan manis, kasar dengan lembut, atau benci dengan kasih sayang. Dalam kata lain, senantiasa mengutamakan kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaan kita sendiri.

Dan gue rasa.. itu benar-benar bukan suatu hal yang bisa digampangin.

Keyakinan gue mengibaratkan dendam dan kasih dengan tamparan. Kata-Nya, kalau ada orang yang nampar pipi kiri kita, kita gak diperkenankan untuk membalas. Kita justru diharuskan untuk menawarkan pipi kanan kita untuk dia gampar lagi.

LAH DIGAMPAR KAN SAKIT?
Seriously, kalau hal kayak gitu benaran terjadi sama gue, I wouldn't slap them back with my hand. I would just kick their butt or slap them with a chair.

Gue pernah mikir kalau pernyataan "membalas benci dengan sayang" adalah suatu hal yang gak realitis dan gak akan pernah bisa gue pahamin. Gak sesuai dengan kenyataan kehidupan manusia.

Sekarang gue tanya sama lo. Kalau ada orang yang merugikan lo abis-abisan, yang mana bakal lo lakuin? Laporin mereka ke polisi, atau justru ngasih ke mereka semua sisa duit lo yang masih ada???

Ada yang bilang, sebenarnya kita gak akan pernah bisa benar-benar mengerti perasaan seseorang, sampai kita sendiri yang ngalamin, atau kita sendiri yang ada di posisi seseorang itu. Gue rasa, sekarang gue mulai ngerti maksud dari membalas benci dengan sayang.

Se-gak-peduli-gak-peduli-nya kita dengan orang yang benci kita, gue yakin gak ada satu pun manusia yang nyaman dibenci. Bahkan orang jahat pun akan lebih suka dipuja-puja dibanding dimusuhin, ya kan? Haters gonna hate, katanya. Tapi kalau gue bisa memilih, better not to hate and not being hated than having haters who are gonna hate. Being hated by someone makes me sad, to be honest.

Gue pernah dibenci. Gue pernah dibenci sampai-sampai sapaan gue ditolak. Gue pernah dibenci sampai semua hal tentang gue adalah salah, seakan-akan gak ada satu pun hal baik dari diri gue. Gue pernah dibenci sampai-sampai keberadaan gue dianggap sebagai sebuah ancaman. But I'm not a bomb..

Gue pernah menangis kencang-kencang karena gue dibenci abis-abisan. Lama kelamaan, rasa sedih gue justru berubah jadi benci juga, mungkin sama besarnya dengan rasa benci mereka ke gue. Gue marah dan gue jengkel setiap gue mendengar nama mereka. Rasanya gue gak sedikit pun berurusan atau bahkan mengenal mereka lagi.

Tapi lama-lama, gue capek sendiri.
Lama-lama gue sadar kalau sebenarnya, untuk menghilangkan jenuh dan capek gue adalah bukan dengan mendendam, tapi justru dengan memaafkan. Bukan hanya memaafkan mereka yang membenci kita tanpa mereka minta dimaafkan, tapi juga dengan memaafkan diri kita sendiri dan yang paling susah, memaafkan masa lalu.

Sebuah post lama gue berjudul "Captain of The Plane" yang gue tulis beberapa tahun lalu mengatakan bahwa memaafkan masa lalu adalah bagian dari menjalani hidup. Setiap orang pasti pernah punya kesalahan, dan kalau kita hanya terpaku pada kesalahan kita, kita gak akan bisa melangkah lebih jauh. Kita gak akan bisa memulai suatu hal baru yang lebih baik kalau kita masih mendendam pada masa lalu kita sendiri. Ternyata ada berguna juga ya nulis di blog sendiri...

Gue paham benar kalau setiap kebencian dan rasa sayang, punya alasan.
Gue gak ingin dibenci, tapi kalau kesalahan gue adalah sebegitu besar di mata mereka, mungkin ini yang paling baik. Mungkin bahagia bagi mereka adalah hidup tanpa keberadaan gue. Mungkin bahagia bagi mereka adalah menjalani hari-hari tanpa maaf di antara mereka dengan gue. Mungkin mereka lebih bahagia seperti ini. Mungkin dengan beginilah gue mengasihi mereka dan mereka mengasihi gue. Gue percaya, mereka hanya menginginkan yang terbaik. 

Gue akan tetap menunggu hari dimana gue dan mereka bisa berteman, seperti hari-hari yang sebenarnya belum pernah ada. Gue akan menunggu sambil memeluk mereka dari jauh, lewat doa. Seperti apa yang keyakinan gue selalu ajarkan.

Seberapa pun benci mereka pada gue atau benci siapa pun terhadap lo, percayalah: God's love to you is even bigger than theirs. Thank You, God.

Senin, 02 November 2015

Bagaimana Jika

Selasa pagi, di bawah langit mendung. Hujan baru saja reda, bau tanah berbaur dalam atmosfer. Tenang, tapi pahit. 

Ada sebuah masa dalam hidupku, hidupmu, atau hidup mereka, dimana hidup memberikan kesempatan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, mungkin seratus delapan puluh derajat berbalik dari keadaan yang kita pernah tau. 

Gak kok, gak sekompleks itu.

Sesederhana bagaimana apa yang ada sekarang udah gak sama dengan semua yang ada dulu. Mulai dari perhatian yang berubah jadi amarah, senyum lebar yang berubah jadi pucat, atau air mata bahagia yang berubah jadi air mata sakit hati. 

Bagaimana jika suatu hari kamu melangkah jauh, tanpa aku? Atau sebaliknya, bagaimana jika aku yang melangkah jauh tanpa kamu? 

Bagaimana jika suatu hari aku merindukanmu dan mengemis-ngemis pada keajaiban untuk mendatangkan mesin waktu? Atau bagaimana dengan sebaliknya dengan kamu? Mungkinkah? 

Bagaimana jika sebenarnya masih ada kesempatan untuk kita, tapi kita terlalu buta karna kecewa untuk melihatnya? Mungkinkah? 

Bagaimana jika sebenarnya inilah arti bahagia untuk kamu? Apakah kamu akan bersyukur untuk kerelaanku? Apakah kamu akan tetap beryukur karna setidaknya aku pernah ada di sampingmu? Apakah aku akan turut tersenyum untuk bahagiamu? 

Bagaimana kalau suatu hari ada yang datang dalam hidupmu dan memberikanmu arti kesempurnaan yang sesungguhnya? Atau sebaliknya, bagaimana kalau suatu hari ada yang datang dalam hidupku dan kembali membawa senyum tipis di bibirku dan membuatku bahagia menjadi diriku sendiri? Mungkinkah kita baik-baik saja? 

Semua memaksaku untuk melihat dari sebuah sudut pandang yang berbeda. Apa yang dulu seakan-akan menusuk dari belakang, sekarang datang dari depan dan membuatku hangat. Apa yang dulu menjadi yang termanis, sekarang menjadi yang terpahit. 

Tidak ada yang sempurna, sayang. Aku yakin itu. Tapi mungkin saja, di luar sana ada yang lebih baik dari aku, atau yang lebih sesuai untukmu daripada aku. 

Aku tidak akan pernah bisa menjadi arti dari "sempurna" untukmu. Tapi aku janji, aku akan bahagia untuk bahagiamu, dan memelukmu dari jauh lewat doaku.

Maafkan aku untuk waktu yang terbuang atau tak sempat kita jalani. Maafkan aku untuk segala kesal dan kecewamu. 

Dari cewek berambut dajjal yang sangat cengeng dan melankolis. Tapi kalau tidak ekspresif, mungkin dia bukan aku. 

Sabtu, 19 September 2015

1968

Sabtu, 19 September 2015 

Tepat hari ini, bokap gue, Popop, merayakan hari jadinya yang ke-47 tahun. Berhubung mama gue sedang di luar kota dan adik gue camping bersama teman-teman sekolahnya, kami pun merayakan hanya berdua saja di kawasan Kelapa Gading dengan mencicipi makanan-makanan yang belum pernah kami coba sebelumnya. 

Ini adalah suatu kebiasaan bokap gue yang dengan kentalnya menurun ke gue. We both love exploring new things. New places, new foods, new experiences. Kami sering kali pergi mencari makanan-makanan unik berduaan ketika kami sedang berlibur ke luar kota, atau sekedar mencicip jajanan di sudut-sudut Jakarta. Menurut kami, gak ada salahnya mencoba. Selain refrensi baru, siapa tahu bisa jadi hobi baru. Gue rasa, begitulah cara kami menghabiskan waktu bersama. That's how we define "quality times". 

Banyak dari teman akrab gue memanggil bokap gue (Popop) dengan sebutan "Om Popop". Banyak pula yang bertanya, "Kenapa Popop?"

Dulu, pas gue masih bayi dan baru belajar ngomong, kedua orang tua gue mengajarkan gue untuk manggil bokap gue dengan sebutan "Papa". Sayangnya, gue gagal. Maksud bunyi "Papa", yang keluar malah "Popop". Nama "Popop" menjadi nama yang melekat di keluarga gue. Mama gue, adik gue, sepupu-sepupu gue, bahkan teman-teman akrab gue sekarang memanggil bokap gue dengan nama "Popop". 

Gue harus akui, my dad is not only my dad, he is my super dad. 

Popop can do anything. Gue serius, dan ini aneh. Popop ahli bongkar, pasang, dan servis barang elektronik dan mobil. Popop mengerti bagaimana ngurusin listrik di rumah. Popop mengerti benar bagaimana proses dan cara membangun rumah. Popop tahu semua jalan kemana pun bahkan pergi ke tempat yang belum pernah didatangi pun bisa sampai dengan selamat dan gak tersesat. Popop mengerti banyak tentang keuangan. Popop bisa memasak. Tapi satu yang paling penting; Popop tahu bagaimana caranya selalu ada untuk gue. 

Popop doesn't trust doctor, he only has faith. 
Yang ini sih sebenarnya kurang layak ditiru. Popop gak begitu suka bolak-balik ke dokter atau ke rumah sakit, bahkan untuk sekedar check up untuk dirinya sendiri. 

Beberapa hari yang lalu, gue sakit. Gue demam dan sakit kepala berhari-hari. Berhubung di rumah gue sedang ada setoples sambel dari surabaya dan gue (literally) melahap apa pun yang gue makan pake sambel, mama gue curiga gue kena tipes. Setelah 3 hari demam, mama gue memutuskan buat bawa gue ke rumah sakit. 

"Kak, dokternya baru praktek jam 5 sore. Kita makan siang dulu aja ya. Kakak mau makan apa? Pilih apa aja boleh deh biar sembuh. Sushi mau?" tanya bokap gue sebelum kami berangkat. Sambil pusing gak karuan, gue pun mengiyakan. 

Kami makan di sebuah restoran Jepang sebelum ke rumah sakit. Malam setelah kami ketemu dokter, panas gue turun. Gue gak tipes kok. Cuma demam-demam manja. 

Popop gue percaya, kunci dari sebuah kesembuhan dan rasa yang membaik bukanlah obat-obatan. Kuncinya adalah cukup dengan menjadi bahagia, dan ingat bahwa masih ada banyak hal-hal besar mau pun kecil yang bisa dijadikan alasan untuk tersenyum lagi. Seperti sushi. 

"Heran gue sama bokap lo. Dokter aja kalo sakit ke rumah sakit. Masa bokap lo sakit mau nyembuhin diri sendiri??" -Aulia. Yang ini baru bener. 

Gue tidak banyak bicara dan bertemu Popop setiap hari. Kalau pun ketemu, waktu kami gak begitu berkualitas. Popop kerja dan pulang malam. Gue sekolah, les, dan pulang malam. Setibanya di rumah, gue langsung tepar dan gak ada waktu untuk basa-basi di luar kamar. 

Ada kalanya gue merasa Popop harus mengerti kalau gue ini manusia, gue bisa saja butuh waktu sendiri. 

Berapa hari ini gue sering merenung sendirian di kamar, dengan segudang pertanyaan dan pernyataan yang berputar-putar di pikiran gue. Tapi popop selalu datang ke kamar dan menanyakan hal-hal dari yang penting sampe gak ada penting-pentingnya. Misalnya;

"Kakak udah pupup belum hari ini?"
"Kakak tadi naik ojek ke sekolah?"
"Kakak udah kasih makan yoyong?"
"Kakak lagi sedih ya?"
"Kakak pengen nangis ya?"
"Kakak pengen sendirian ya?"

I'm growing up, I'm learning something, and I need time. 

Tapi gue juga ingat;

waktu dimana gue bertumbuh menuju dewasa, 
adalah juga waktu dimana Popop menua. 

Mungkin gak banyak atau bahkan belum pernah ada hal cukup berharga yang gue lakukan buat Popop atau pun Mama gue. Mungkin dalam hidup gue banggain : nyusahin = 1 : 979878688. 

Gue gak bisa janji suatu hari gue bisa kasih emas dan berlian, tapi gue janji gue bakal terus mencoba dan berusaha. Setidaknya gue tau, seberapa jauhnya pun Popop dari gue, Popop selalu menjadi orang pertama yang datang ke kamar gue dan bertanya, "Kakak lagi sedih ya?" 

Oh pagi ini gue kasih Popop hadiah ulang tahun karna menurut Mama gue, baju Popop sudah pada belel dan.. kurang layak pakai. Hadiahnya langsung dipake dan komentar pertamanya adalah, "Hmm.. Baunya kayak Matahari ya kak," 







Rabu, 22 Juli 2015

Ayunan dan Senja

Bukanlah mudah ketika kamu harus memasang senyum lebar di hadapan banyak orang ketika sebenarnya murung dalam hati kecilmu. 

Bukanlah mudah ketika kamu harus bersikap seakan-akan kamulah yang paling kuat dan semua tentangmu baik-baik saja ketika sebenarnya hal-hal yang ada tak semudah itu. Ketika sebenarnya ada hati yang luka dibalik kerasnya tamengmu. 

Bukanlah pula hal mudah ketika kamu harus melepas sesuatu (atau seseorang) pergi begitu saja karena mereka bilang "itu yang paling baik", ketika sebenarnya sesuatu (atau seseorang) itulah yang membuatmu merasa paling baik. 

Kau ingat belasan tahun lalu? Ketika kamu menangis karena ibumu tidak membelikanmu balon dan permen. Tapi semua tangismu hilang begitu saja ketika sebuah ayunan berdiri kosong ditemani hembusan angin dan senja yang hangat di sore hari. Dengan gembira kau berlari, berharap ayunan membawa riangmu kembali dengan senyum lebar di wajahmu. 

Kau harap semua masih semudah seperti belasan tahun yang lalu, tapi ternyata tidak. Semua tidak lagi semudah itu.

Berkali-kali kamu memutar lagu upbeat kesukaanmu. Tapi lantunan lagu bertempo cepat tak kunjung menghapus duka. 

Tak hanya sekali-dua kali kamu bertemu teman-temanmu. Segala hal telah melayang di udara menjadi topik obrolanmu. Bahkan, kau mungkin mencoba hal-hal yang mereka bilang, "bisa membuatmu lupa hidup walau sementara". Tapi ketika malam datang dan senja berganti bulan, segala lara seakan kembali menghantui malammu. 

Beribu rangkaian kata yang seharusnya membangun sudah kau dengar. Tapi kau sadar, tak satu pun kata dari kalimat tersebut membangkitkanmu dari sedihmu. 

Kau sadar bahwa tak satu pun dari mereka yang berkata-kata mampu membangunkanmu dari lara yang tak kunjung pergi. Kau sadar bahwa sesungguhnya... semua kembali kepadamu. Kekuatan terbesar berada padamu. Di tanganmu. Dari hatimu. 

Kau sadar bahwa yang kau inginkan hanya yang terbaik. Kau inginkan akhir yang bahagia, seperti apa yang orang lain alami. Bukan tangis dan senyuman pudar yang kau inginkan di wajahnya. 

Ratusan (bahkan mungkin ribuan) kata sayang sudah kamu ucapkan. Tak terhitung peluk dan cium yang sudah kamu berikan. Tapi tak peduli seberapa banyak kata sayang, peluk, cium, dan hal-hal manis lainnya... kamu tetap merasa kehilangan ketika dia tidak lagi bersamamu. 

Sungguh, bukan maksudku membuatmu bersedih. Lewat rangkaian kataku ini ingin kusampaikan pesanku: 

kamu tidak sendiri. 
di sini ada aku, 
menangis ketika kamu menangis, bahagia untuk segala riangmu, 
dan senantiasa berdoa untuk memelukmu dari jauh. 
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review