Selasa, 23 Desember 2014

Berguru di Kota Udang

Gue sedang tiduran di kasur ditemani dengan keram perut yang lebih dahsyat dari biasanya menjelang period. Tapi gue bukan sedang ingin membahas period gue. 

Beberapa hari lalu, tante gue (Auntie Aris) mengirim sebuah foto ke grup chatting keluarga gue. Awalnya gue mengabaikan. Namun setelah gue lihat, ternyata itu adalah foto nenek gue (Deti) lagi pake baju model abg + celana legging hitam. Gue sempat pangling. Gue sempat mengira tante gue mengirim foto anggota SNSD, ternyata itu foto nenek gue. 

(barusan itu hiperbola)



Gue sangat menyayangi kedua nenek gue. Baik nenek dari bokap, mau pun nenek dari nyokap. Bisa dibilang, gue cukup dekat dengan nenek-nenek gue, dan jujur aja, sangat senang hangout dengan kedua nenek gue. 

Nenek dari bokap gue biasa gue panggil dengan sebutan "Deti" yang sampe sekarang, gue kurang ngerti apa artinya nama tersebut. Deti adalah seorang keturunan Manado kental, namun bertempat tinggal di Cirebon semenjak Deti masih kecil. 

Deti sangat jago memasak. Masakan Deti yang paling gue idolakan adalah ayam goreng tulang lunak. Setiap gue liburan, Deti pasti menelpon gue dan mengundang gue untuk berkunjung ke rumahnya di Cirebon dengan undangan berbunyi: 

"Vidya kapan ke sini? Deti udah bikinin ayam goreng tulang lunaknya tuh. Tapi kalo ke sini, jangan lupa bawa kado ya!" 

Deti sangat rajin membaca alkitab. Deti membaca alkitab setiap malam, lalu melanjutkannya dengan berdoa, kemudian tidur, ditemani dengan suara radio Kristen Cirebon yang gue tidak ingat namanya, yang selalu memutar lagu puji-pujian terhadap Tuhan. Deti selalu mengajak gue untuk ikut berdoa bersama setiap gue menginap di rumahnya. 

Pernah sewaktu gue masih SD, gue menginap di rumah Deti bersama seorang sepupu gue (Timothy). Tentu saja, Deti mengajak gue & Timothy berdoa bersama. Sebelum berdoa, Deti mengajak gue & Timothy menyanyikan sebuah lagu puji-pujian dengan posisi berdoa. Sambil memejamkan mata dan melipat tangan, lagu kami dendangkan. Lagunya begini: "Kami naikan syukur padaMu... Kami naikan syukur padaMu... Kami naikan syukur, Yang Mulia... Kami naikan syukur padaMu.."

Namun irama demi irama, gue dan Timothy malah geli sendiri. Kami sesekali mengintip satu sama lain, dan akhirnya tawa kami pun meledak. Deti yang sedang kusyuk pun akhirnya mencubit gue & Timothy. Semenjak itu, kami gak pernah nyanyi lagi sebelum doa bersama. 

Deti sangat menyayangi kucing, gue juga cinta mati sama kucing. Deti memelihara kucing bernama Bona. Sayangnya, Bona adalah kucing paling annoying yang pernah gue temui di muka bumi ini. 

Gue jadi ingat...
Beberapa bulan yang lalu, gue berlibur ke Cirebon. Gue menginap selama 5 hari di rumah Deti. Sebagai pencinta kuliner, tentu saja bersama bokap gue berkeliling Kota Cirebon mencicipi jajanan demi jajanan. Tak jarang gue berkunjung ke spot-spot asyik di Cirebon untuk photo hunting. 

Selama gue di Cirebon, nenek gue terus-terusan membahas tentang celana jeans yang pada akhirnya, dia bercerita ke gue kalau dia sedang sangat menginginkan celana jeans. Deti bilang, Deti juga sama seperti gue, ingin mengikuti perkembangan mode masa kini. 

Akhirnya tepat pada hari terakhir gue di Cirebon, gue seharian menemani Deti berkeliling mall demi mencari jeans idamannya. 

Setelah berputar-putar mencari jeans, kami makan di sebuah tempat makan pizza karna saat itu, Deti sedang sangat menginginkan pizza. Kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari hobi gue, hobi deti, sekolah gue, masa sekolah deti, dan banyak hal lain. Deti juga sesekali menanyakan gue sudah punya pacar atau belum dan bagaimana hubungan gue dengan pacar gue. 

Hingga akhirnya Deti bercerita tentang bagaimana Deti bertemu dan merajut kisah bersama Denang, kakek gue. 

"Denang gak pernah sekali pun bilang "I love you". Kalau ngapel ke rumah Deti dulu, pasti membawa koran untuk dibaca. Tapi Deti tuh sesungguhnya sudah tau, diam-diam, Denang pasti memperhatikan Deti. Buktinya sampai sekarang, Deti masih tuh merasa dicintai sama Denang. Menurut Denang, apa gunanya berkata-kata kalau bertindak lebih bernilai." 

Mungkin maksud Deti dan Denang adalah actions speak louder than words.  

Sejenak gue terdiam mendengar penjelasan Deti. 

Bener juga ya, Det. Deti perlu belajar dari aku tentang perkembangan modis jaman sekarang, dan aku perlu belajar dari Deti tentang arti sejati dari hidup. 









Rabu, 26 November 2014

Tsubasa dan Bulan Purnama

"Gambar sebuah pemandangan, Vid. Pemandangan apa saja yang ada di pikiran kamu saat ini", kata Mr. Rifky dalam pelajaran konseling.  

Gue menggambar sebuah jembatan di antara dua tebing, melintasi sebuah sungai deras, dengan latar sebuah bulan purnama di tengah gelap malam. 

"Penuh kebimbangan. Dua buah tebing, menggambarkan pilihan yang lagi Vidya bingungin. Jembatan, menggambarkan tempat dimana Vidya sekarang bertahan, dibingungkan kembali oleh teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Sungai deras, menggambarkan rintangan dan permasalahan yang mungkin sekarang sedang dihadapi. Bulan, menggambarkan Vidya yang juga berfikir pilihan mana yang paling baik untuk diambil," jelas Mr. Rifky memecah keheningan, sempat seakan menggantung di udara beberapa detik. 

Beberapa teman melihat gue dengan tatapan "CIE GALAU", sementara gue hanya melongo, mencoba mencerna semua penjelasan Mr. Rifky. Segera gue palingkan tatapan gue dengan senyum tipis malu-malu mati gaya. 

Mr. Rifky benar. Tidak satu pun perkataannya tidak sesuai dengan apa yang mengganggu pikiran gue. 

"Ini semua cuma tentang kapan lo siap membiarkan dia pergi," jelas Tsubasa. 

"I'm never ready of losing him, Tsubasa. Never."

"Ya emang gak akan pernah siap sih. Its just about how brave we are to accept it... Be strong, okay?"

ucap Tsubasa untuk kesekiankalinya terngiang-ngiang dalam benak gue. Membuat gue semakin panjang berfikir... dan galau. 

Ini semua adalah tentang ketakutan gue. Ketakutan gue terhadap apa yang akan gue hadapi setelah gue mengambil keputusan. Sebenarnya, keputusan ini tidak akan menjadi keputusan yang salah, karna memang hanya satu keputusan inilah jalan keluarnya. 

Ini hanya tentang kapan gue siap dan berani untuk menjadi ikhlas, juga kapan gue berhenti takut sendirian. 

Sebenarnya gue merindukan gue yang dulu. Gue yang selalu berani melangkah walau sendirian, gue yang selalu ingat bahwa pada dasarnya gue tidak sendirian karna Tuhan bersama gue. 

Gak, gue bukan kangen gue yang dulu. 

Gue kangen semua yang ada dulu. 

Mr. Rifky benar. Gue sedang sangat-sangat kebingungan, dan gak peduli seberapa banyak pun advice yang gue terima, gue hanya akan tetap bertahan pada bulan purnama, yakni pikiran gue sendiri yang sangat rumit. 

Harus kemana sekarang? 

Minggu, 23 November 2014

Sepiring Memori Secangkir Air Mata

Ada yang bilang bahwa menangis bukan berarti lemah. Menangis berarti kita sudah menjadi kuat untuk waktu yang lama. 

Ada yang bilang bahwa menyerah bukan berarti payah, melainkan berarti cukup kuat untuk menjadi ikhlas.

Mungkin sudah ratusan kali gue biarkan pemikiran-pemikiran liar itu menghantui otak gue. Namun ternyata lagi-lagi otak tidak sepemikiran dengan hati. 

Berkali-kali pula gue menanyakan kepada diri gue sendiri pertanyaan yang sama, yang pada dasarnya, gue sudah tau jawabannya. Mungkin secara tidak disadari, gue berharap suatu waktu jawaban yang ada bisa berubah, menjadi jawaban yang sesuai dengan harapan gue. 

Lo tahu, gue tahu, mereka tahu, semua tahu, cuma ada satu jalan yang bisa gue ambil. Ini semua cuma tentang kapan gue cukup berani untuk mengambil keputusan. 

Gue dihantui oleh berbagai keraguan dan ketakutan. 

Apa yang akan terjadi pada gue setelah gue membiarkan dia pergi?

Apakah dia akan baik-baik saja? 

Apakah dia akan memandang gue sebagai seseorang yang lain setelah gue membiarkan dia pergi?

Atau apakah justru nanti dia yang menjadi seseorang yang berbeda dengan yang gue kenal?

Apakah akan ada hati yang patah setelah semuanya berubah? Kalau ada, akan seberapa parah patahnya?

ah bacot, terlalu banyak keraguan. 

"Pokoknya I'm not letting go, Gus. Never." kata gue sejenak menggantung di udara. 

"Tapi dia punya mimpi, Vid." 

Gue ingin memeluk dia selama dan seerat mungkin selama gue masih bisa. Gue ingin mengucapkan "aku sayang kamu" sebanyak mungkin selama gue masih bisa. Gue ingin tertawa sebanyak mungkin bersama dia selama gue masih bisa. 

Padahal gue sudah tahu...
Seberapa banyak pun pelukan, "aku sayang kamu", dan tawa yang pernah ada di antara gue dan dia, tidak akan pernah cukup untuk membuat gue tidak merasa kehilangan dan menangis pada akhirnya. 

Biarlah, 
biar hanya aku dan rangkaian kata yang paham. 

Jumat, 31 Oktober 2014

Katak Malang dan Kadal Apes

Gue rasa beberapa hal di dunia ini memang tidak diciptakan untuk bisa dimengerti, tapi pasti hal tersebut punya jawaban dan penjelasan. 

Misalnya, kenapa di dunia ini ada berbagai jenis reptil dan katak? Apakah mereka menguntungkan kehidupan? Apakah umat manusia akan punah tanpa eksistensi katak dan kadal? Tidak kan? Lalu mengapa????? 

(gue fobia terhadap reptil & katak) 

Gue berada di dalam sebuah rumah, tapi gue tidak merasa seperti di dalam sebuah tempat tinggal. Gue merasa seperti gue sedang berdiri sendiri di sebuah hutan belantara entah berantah, gak tau harus kemana jika ingin pulang. 

Gue sangat merindukan rumah gue. Rumah dimana gue merasa gue boleh menjadi siapa pun yang gue suka, layaknya tanpa tekanan dari pihak mana pun. 

Rumah dimana gue merasa hangat dan aman, tanpa ancaman dan tanpa menjadi sebuah ancaman. 

Rumah dimana gue bisa menyenderkan kepala gue di atas sebuah bahu ketika gue merasa sangat lelah, bukan justru harus bertahan sendiri tanpa harus tahu kemana harus pegangan. 

Gue sering kali bertanya; Kenapa? 

Kenapa gue harus ada di tempat seperti ini? 

Kenapa gue harus menghadapi banyak orang yang susah untuk mendengarkan tapi selalu membentak untuk didengar?

Kenapa seekor kelinci yang mau disate jatuh cinta kepada seekor babi kecil? (#eits)

Kenapa harus berada di posisi dimana gue terancam dan menjadi ancaman? 

Kenapa gue tidak bisa menjadi gue yang dulu dan menjalankan hidup seperti dulu? 

Kenapa hidup harus dipenuhi dengan perubahan dan perpindahan? 

Kenapa? 

Namun, gak mahluk bumi yang bisa menjawab. Kenapa?

Karena beberapa hal di dunia ini memang diciptakan untuk tidak bisa dimengerti. 

Belakangan ini gue sering mengobrol bersama seorang rekan gue (sebut saja namanya Squidward) tentang drama dan problema yang gue alami, yang gue sendiri gak tau gimana cara menyelesaikannya. 

"Gue akuin aja, masalah lo gak ringan sob. Gue sendiri kalau jadi lo gak tau gimana cara nyelesainnya. Tapi apa pun yang lo alamin, lo gak pernah sendiri. Mungkin gue gak bisa bantu banyak, tapi gue janji gue bakal terus ingetin lo gak sendirian."

gue tertegun. 

"Tapi inget aja, Vid: momen dimana lo merasa sendiri, adalah momen dimana dia juga merasa sendiri. Sekuat apa pun seseorang, knowing that he is not alone will make him feel so much better."

Squidward benar. Gue tidak sendiri. 

Sudah berapa minggu (atau bulan) ini gue mengasingkan diri dari media sosial. Gue mematikan akun ask.fm. Gue menghapus aplkasi instagram, path, faceook, youtube, line, dan vine. 

Hal ini gue lakukan dengan tujuan menjauhkan diri dari banyak orang tertentu karna gue terlalu takut untuk menghadapi masalah-masalah lain yang pasti merepotkan. 

Mungkin benar, hidup adalah tentang perpindahan. Mungkin ini rumah gue yang baru. 

Gak tau juga kapan gue sukses beradaptasi dengan rumah baru gue. Mungkin semua sudah tidak seperti dulu, tapi sudahlah. Gak ada yang bisa gue lakukan juga. 

Call me hypocrite, but i seriously miss my old way of facing those life changes. 


Senin, 29 September 2014

Sepotong Origami di Bulan

"Vid, apa pandangan lo tentang hidup?" tanya Gusti memecah keheningan. 

"Anugerah... Tapi penuh seni. Warna-warni, tempo, gelap dan terang," jawab gue tanpa butuh waktu lama untuk berfikir panjang. Jawaban ini yang selalu gue lontarkan setiap ada yang menanyakan pandangan gue pada hidup. 

Karena cuma Gusti yang pernah nanya tentang pandangan gue pada hidup. 

Well, kalau lo juga seperti gue, percaya bahwa hidup itu kayak seni yang penuh warna dan penuh up dan down (dan cukup peduli dengan hidup gue...)

Gue benar-benar sedang ada di posisi paling bawah. 

A lot of things are getting much heavier here. A lot  of people left. I begin losing my hopes. Disappointments I've made and I make, the battle of my thoughts. Advice everywhere but guess what, sometimes, ADVICE ISN'T WHAT WE NEED. What we need is just a tight warm hug, and a shoulder to cry on. 

Sayangnya bahu-bahu andalan sedang tidak bersama gue,
atau tidak lagi bersama gue... 

Setiap yang datang seakan-akan datang untuk pergi lagi. Jujur aja, hal ini bikin gue kehilangan harapan dan kepercayaan.

Hal yang lebih buruk tentang itu adalah gak ada yang lo bisa lakukan buat bikin mereka semua kembali lagi bersama lo karna lo tahu, dengan mereka pergi... mungkin itu yang terbaik buat mereka. Mungkin. Yang lo bisa lakukan hanya berpasrah dan mencoba bertahan, tanpa ngerti harus pegangan kemana dan melangkah kemana. Menunggu orang lain datang, yang sebetulnya datang untuk pergi lagi.

Hidup adalah tentang perubahan dan perpindahan. Semua orang datang dan pergi. Sedihnya, cuma ada satu orang yang bisa tinggal bersama lo selamanya.

Diri lo sendiri. 

Di satu sisi lain, gue kehilangan banyak kepercayaan. 
Dan sayangnya, hari gini kepercayaan gak gampang buat dibangun lagi. 
Kita butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa percaya sama orang, dan hanya butuh waktu hitungan detik untuk kehilangan kepercayaan sama orang. 

Di satu sisi lain, ketika orang memandang gue dengan sudut pandang yang berbeda, semua yang gue lakukan gak akan lagi dianggap normal. Mau gue benar mau gue salah, tetep gak normal. Beda. Asing. 

Di satu sisi lain lagi, gue merasa seperti hidup dalam penjara. Gue bisa berkomunikasi dengan seseorang dari balik kaca, tanpa bisa berinteraksi dengan bebas. Dalam kata lain, gue mungkin dianggap seperti ancaman yang membahayakan. Sama kayak apa yang gue rasakan. Rasanya kayak ada dalam satu dunia kecil dimana gue gak bisa reach the other's mine to communicate. Its so so so trapped. 

Di satu sisi lain rasanya susah buat berani berharap, karna dari hati kecil gue takut bahwa suatu hari, harapan gue akan hancur berkeping-keping. Gue juga gak pengen orang lain berharap terlalu tinggi. Gue sangat menghargai kepercayaan kalian pada gue, tapi kadang kenyataan gak sesuai dengan harapan. Atau apa yang gue impikan, gak sesuai dengan apa yang mereka impikan. Kecewa itu ada. 

Di satu sisi lain, 

Di satu sisi yang lain lagi, 
di satu sisi yang lain lagi,
dan di sisi-sisi yang lain lagi. 

Terus gue harus ke sisi yang mana sekarang?

Sebetulnya gue bukan lagi pengen cerita soal masalah yang sedih-sedih. Gue justru ke sini buat menghibur diri supaya gue lupa dengan realita yang ada. 

Gue biasa menenangkan diri dengan melukis. 
Gue harus keluar kamar untuk ngambil air di keran air (karna gue melukis dengan cat air).Tapi...

Ini jam 2 pagi. Lampu di rumah gue udah dimatiin, dan gue terlalu cupu buat keluar kamar dan memberanikan diri nyalain lampu untuk mengambil air di keran. 

Oke. Jangan melukis malam ini.

Gue biasa menenangkan diri dengan bermain piano.
Tapi ini jam 2 pagi.
Pertama, gue terlalu cupu untuk keluar kamar, jalan dalam gelap,  terus nyalain lampu. Kedua, gue masih ingin hidup. Gue gak ingin dijadikan bbq oleh tetangga karna berisik hari gini. Ketiga, gue harus bergerak untuk main piano. Gue hanya ingin melakukan hal dengan tiduran. 

Bukan dengan jalan keluar kamar dengan berguling. #oke

Gue biasa menenangkan diri dengan tidur.
TIDUR ADALAH HAL TERBAIK SEPANJANG MASA (setelah sushi). Kalau orang lain ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan bekerja produktif, gue ingin tidur saja. Dengan tidur, gue seakan-akan bisa pergi dari kenyataan yang ada walau hanya untuk sementara. Kalau pun gue mimpi buruk dalam tidur... ya elah kan mimpi doang.

Gue gak tau ini bakat cuma gue yang punya, atau kalian juga punya (jadi ini bukan bakat)...
Gue bisa mengontrol mimpi.
Ketika mimpi gue buruk, gue akan membangunkan diri gue dari tidur. Gue akan memutuskan untuk tidur lagi, dengan cerita mimpi yang lebih menyenangkan. Gue mengatur alur cerita mimpi gue. 

GUE SERIUS GAK LAGI BECANDA.
LO BISA KAYAK GUE GAK???

Motto baru hidup gue adalah : "Selama saya bisa tidur, kenapa tidak??" 

Kalau gitu kenapa gue gak tidur sekarang?
Gue juga gak tau. 
Oke gue tidur. 

Cara lain menenangkan diri: curhat.
Tapi ini jam 2 pagi. 
Gue terlalu lelah untuk mencatat perasaan gue dalam buku harian.Jadi gue pake buku harian digital aja.

Oke serius. 
Gue sering menenangkan diri dengan menulis. That's why I'm here now. 

Apa yang gue ingin sampaikan di post blog kurang berbobot ini adalah gue rasa SUDAH CUKUP kita memperdulikan omongan orang yang sebenarnya gak membuat kita merasa lebih baik. 

Kadang yang perlu kita lakukan sangat sederhana. Lakukan apa yang kita suka dan apa yang kita merasa perlu lakukan. Selama itu gak berbahaya buat diri kita dan orang lain, kenapa harus meduliin mereka yang bersusah payah mematahkan semangat kita. 

Hidup adalah tentang pilihan dan resiko. 
Pilihan apa pun yang kita ambil, punya resikonya sendiri. 
Gue sendiri gak tahu pilihan dan resiko mana yang harus gue ambil.
Gue juga gak tahu sampai kapan gue harus bertahan, kemana gue harus pegangan, dan kemana gue harus melangkah...

Tapi yang pasti gue tahu kalau gue berhak melakukan apa pun yang gue suka (dan membuat gue merasa lebih baik) selama hal itu gak menyusahkan orang. 

Do what you like to, fellas!


And sleep. Its peaceful. 

Jumat, 26 September 2014

Semasam Mangga Setengah Matang (Bukan Dagang Buah Online)

Kondisi pada momen ini : terkulai lemas di sofa, di bawah sepoi-sepoi AC, sunyi, galau, gundah, madesu. 

Belakangan ini twitter menjadi mirip pemakaman. Timeline gue hanya berisi beberapa idola gue, beberapa account sok ngequote, dan beberapa account yang memberikan informasi tidak berguna (nama disensor). 

Tapi gue suka dengan kondisi twitter yang begini. Rasanya bebas merdeka, seakan-akan gak ada yang bakal membaca tweet gue, menyebar gosip, dan mengada-ngada cerita, atau menilai sesuatu yang bukan-bukan. 

Oke. Maaf. Terlalu terbawa emosi. 

Tapi gue serius. Gara-gara twitter semakin menyerupai pemakaman, gue semakin betah berkicau dalam dunia twitter. Bukan karena gue suka pemakaman, tapi karena gue merasa lebih mampu mengekspresikan apa yang gue rasakan dengan bebas, berasa diary. 

Padahal sih teman-teman lain tetap ngecek timeline & lihat tweets gue yang sangat madesu. 

Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak orang yang pergi. 

Semakin banyak orang yang pergi, semakin banyak harapan gue yang pupus dan patah entah berantah. 

Semakin gue menyadari betapa gue kehilangan harapan, semakin gue menyadari bahwa semua yang ada sekarang, sudah gak sama dengan apa yang ada dulu. 

Piglet pergi dan gak ada yang bisa gue lakuin selain pasrah, pasrah, dan pasrah. 

Gue LDR dengan belahan jiwa gue (bukan kekasih, tapi tetap belahan jiwa). It all was fucking easier than this. Tapi sekarang, gue harus menunggu berminggu-minggu, atau berbulan-bulan untuk bisa bertemu sang belahan jiwa. Sungguh, ini payah. Amat payah. 

Lo bisa membedakan mana orang yang sungguh-sungguh peduli, dan mana orang yang (no offense) belagak peduli. 

Lo menyadari bahwa seseorang peduli pada hidup lo ketika tanpa lo memancing, dia bisa melihat ada beban dalam pikiran lo hanya dengan melihat mimik dan tatapan lo. Dia akan mengingatkan lo bahwa lo gak sendirian, dan lo layak untuk sebuah cerita yang lebih indah. 

Sayang, sebentar lagi seseorang ini akan pergi, jauh-jauh dari gue. Entah kemana juga gue gak tahu pasti. Kalau pun gue tahu... 

itu gak akan membuat gue merasa lebih baik. 

Madesu. Madesu. Madesu. 

Gue sedang berperang melawan pikiran gue sendiri, dan gak tahu sampai kapan gue harus bertahan. Sendirian. 

Sabtu, 20 September 2014

Literally Diary

Have you ever missed something that you know you're not supposed to miss because you know that now matter how much or how hard you try, you can never ever get them back? I have. 

Entah gue yang terlalu melankolis, atau belakangan ini banyak hal mengingatkan gue pada bagaimana bahagianya gue beberapa bulan, atau mungkin setahun yang lalu. 

Belakangan ini banyak hal yang... agak berantakan. No, seriously. Berantakan banget. 

Mulai dari nilai gue yang kembali kacau (entah karena gue terlalu sering galau dan dilema, atau terlalu banyak tidur, atau terlalu sibuk sama banyak hal), kehilangan uang 50ribu (yang menurut gue, ini besar banget), sinus & asma kumat di momen yang sama (sumpah, jangan pernah kumat asma & sinus bersamaan. Udah sesek nafas, sakit kepala sampe pipi pula. Dasar takdir), bahkan sampe jadi bahan gosip yang cerita gosipnya gak sesuai fakta...

ga ququ ampyonk cung. 

Hari ini, gue berencana bertemu Aulia & Bella. Tapi sayang, kami gak jadi ketemu karena ternyata kami masing-masing ada acara. Padahal gue sudah kangen tak tertahankan lagi. 

Gue jadi teringat bagaimana dulu semuanya jauh lebih mudah dari sekarang. Gue dan Aulia belum terpisahkan oleh jarak. Kami bisa bertemu hampir setiap weekend, & gue bisa bicara kapanpun gue merasa perlu. Gue tidak perlu menunggu waktu lama untuk bertemu Aulia. 

Sayangnya sekarang semua udah beda. Aulia pindah ke daerah Jakarta & cukup jauh dari tempat tinggal gue dan Bella. 

Gue rasa saat gue dan Aul bertemu nanti, akan ada perbincangan yang meledak deh. 

Hari ini gue merayakan ulang tahun bokap. Sambil menghabiskan waktu setelah makan, gue berkeliling mencari CD musik. Gue mendapati sebuah DVD Robocop. 

Robocop... 

Gue ingat jelas bagaimana hari itu menjadi hari kencan pertama gue dalam sejarah hidup gue. Gue berpacaran dengan Piglet selama dua minggu, lalu kami pergi nonton bioskop bersama. Gue ingat jelas bagaimana Piglet menyuruh gue mengenakan sweater hitamnya karena gue kedinginan. 

Gue juga ingat baju apa yang Piglet kenakan hari itu. (oh god, I'm even still in love with you & your outfit that day now, Ham)

Gue juga ingat dimana gue & Piglet duduk saat nonton Robocop. 

Gue ingat bagaimana sebelum nonton kami makan siang sama-sama. 

Gue ingat bagaimana hari itu gue dan Piglet bertemu beberapa teman secara tidak sengaja. 

Gue ingat bagaimana malam itu juga, gue membiarkan Piglet mengenal gue lebih dalam, serta membiarkan Piglet melihat gue dan masa lalu gue. Bahkan pada sisi yang gelap. 

Gue ingat bagaimana gue kira hal itu akan membuat Piglet menjauhi gue, tapi ternyata perkiraan gue salah. Piglet tetap menggenggam tangan gue dan justru berjanji bahwa Piglet tidak akan pernah membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya. 

Ini fix banget setelah ini, gue akan beli DVD Robocop, nonton sendirian di kamar sambil gelap-gelap & nangis tersedu-sedu, padahal filmnya gak ada sedih-sedihnya sama sekali. 

Waktu kamu marahin aku, waktu kamu nyubit aku karna kamu gemes, waktu kamu mainin rambut aku sampai rambut aku berantakan kayak benang kusut, waktu aku nangis di bahu kamu, waktu kita sama-sama ketawain hal-hal kecil yang sebetulnya gak lucu, waktu kita baca diary bareng-bareng, waktu kita main ayam-ayaman, waktu kamu kasih aku surat warna-warni di dalam boneka monyet aku, waktu kita ngambek-ngambekan karna cemburu, dan semua waktu aku sama kamu lain yang pernah kita laluin...

aku kangen. 

#YAILAH 
#tapiserius 
#bete
#kesal
#maafya
#bukaninstagram 

namanya juga diary.

"I wish that I could wake up with amnesia and forget about those stupid little things. Like the way it felt to fall asleep next to you, and the memories I never can escape. I'm really not fine at all." 
 
Amnesia - 5 Seconds of Summer 



 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review