Senin, 29 September 2014

Sepotong Origami di Bulan

"Vid, apa pandangan lo tentang hidup?" tanya Gusti memecah keheningan. 

"Anugerah... Tapi penuh seni. Warna-warni, tempo, gelap dan terang," jawab gue tanpa butuh waktu lama untuk berfikir panjang. Jawaban ini yang selalu gue lontarkan setiap ada yang menanyakan pandangan gue pada hidup. 

Karena cuma Gusti yang pernah nanya tentang pandangan gue pada hidup. 

Well, kalau lo juga seperti gue, percaya bahwa hidup itu kayak seni yang penuh warna dan penuh up dan down (dan cukup peduli dengan hidup gue...)

Gue benar-benar sedang ada di posisi paling bawah. 

A lot of things are getting much heavier here. A lot  of people left. I begin losing my hopes. Disappointments I've made and I make, the battle of my thoughts. Advice everywhere but guess what, sometimes, ADVICE ISN'T WHAT WE NEED. What we need is just a tight warm hug, and a shoulder to cry on. 

Sayangnya bahu-bahu andalan sedang tidak bersama gue,
atau tidak lagi bersama gue... 

Setiap yang datang seakan-akan datang untuk pergi lagi. Jujur aja, hal ini bikin gue kehilangan harapan dan kepercayaan.

Hal yang lebih buruk tentang itu adalah gak ada yang lo bisa lakukan buat bikin mereka semua kembali lagi bersama lo karna lo tahu, dengan mereka pergi... mungkin itu yang terbaik buat mereka. Mungkin. Yang lo bisa lakukan hanya berpasrah dan mencoba bertahan, tanpa ngerti harus pegangan kemana dan melangkah kemana. Menunggu orang lain datang, yang sebetulnya datang untuk pergi lagi.

Hidup adalah tentang perubahan dan perpindahan. Semua orang datang dan pergi. Sedihnya, cuma ada satu orang yang bisa tinggal bersama lo selamanya.

Diri lo sendiri. 

Di satu sisi lain, gue kehilangan banyak kepercayaan. 
Dan sayangnya, hari gini kepercayaan gak gampang buat dibangun lagi. 
Kita butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa percaya sama orang, dan hanya butuh waktu hitungan detik untuk kehilangan kepercayaan sama orang. 

Di satu sisi lain, ketika orang memandang gue dengan sudut pandang yang berbeda, semua yang gue lakukan gak akan lagi dianggap normal. Mau gue benar mau gue salah, tetep gak normal. Beda. Asing. 

Di satu sisi lain lagi, gue merasa seperti hidup dalam penjara. Gue bisa berkomunikasi dengan seseorang dari balik kaca, tanpa bisa berinteraksi dengan bebas. Dalam kata lain, gue mungkin dianggap seperti ancaman yang membahayakan. Sama kayak apa yang gue rasakan. Rasanya kayak ada dalam satu dunia kecil dimana gue gak bisa reach the other's mine to communicate. Its so so so trapped. 

Di satu sisi lain rasanya susah buat berani berharap, karna dari hati kecil gue takut bahwa suatu hari, harapan gue akan hancur berkeping-keping. Gue juga gak pengen orang lain berharap terlalu tinggi. Gue sangat menghargai kepercayaan kalian pada gue, tapi kadang kenyataan gak sesuai dengan harapan. Atau apa yang gue impikan, gak sesuai dengan apa yang mereka impikan. Kecewa itu ada. 

Di satu sisi lain, 

Di satu sisi yang lain lagi, 
di satu sisi yang lain lagi,
dan di sisi-sisi yang lain lagi. 

Terus gue harus ke sisi yang mana sekarang?

Sebetulnya gue bukan lagi pengen cerita soal masalah yang sedih-sedih. Gue justru ke sini buat menghibur diri supaya gue lupa dengan realita yang ada. 

Gue biasa menenangkan diri dengan melukis. 
Gue harus keluar kamar untuk ngambil air di keran air (karna gue melukis dengan cat air).Tapi...

Ini jam 2 pagi. Lampu di rumah gue udah dimatiin, dan gue terlalu cupu buat keluar kamar dan memberanikan diri nyalain lampu untuk mengambil air di keran. 

Oke. Jangan melukis malam ini.

Gue biasa menenangkan diri dengan bermain piano.
Tapi ini jam 2 pagi.
Pertama, gue terlalu cupu untuk keluar kamar, jalan dalam gelap,  terus nyalain lampu. Kedua, gue masih ingin hidup. Gue gak ingin dijadikan bbq oleh tetangga karna berisik hari gini. Ketiga, gue harus bergerak untuk main piano. Gue hanya ingin melakukan hal dengan tiduran. 

Bukan dengan jalan keluar kamar dengan berguling. #oke

Gue biasa menenangkan diri dengan tidur.
TIDUR ADALAH HAL TERBAIK SEPANJANG MASA (setelah sushi). Kalau orang lain ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan bekerja produktif, gue ingin tidur saja. Dengan tidur, gue seakan-akan bisa pergi dari kenyataan yang ada walau hanya untuk sementara. Kalau pun gue mimpi buruk dalam tidur... ya elah kan mimpi doang.

Gue gak tau ini bakat cuma gue yang punya, atau kalian juga punya (jadi ini bukan bakat)...
Gue bisa mengontrol mimpi.
Ketika mimpi gue buruk, gue akan membangunkan diri gue dari tidur. Gue akan memutuskan untuk tidur lagi, dengan cerita mimpi yang lebih menyenangkan. Gue mengatur alur cerita mimpi gue. 

GUE SERIUS GAK LAGI BECANDA.
LO BISA KAYAK GUE GAK???

Motto baru hidup gue adalah : "Selama saya bisa tidur, kenapa tidak??" 

Kalau gitu kenapa gue gak tidur sekarang?
Gue juga gak tau. 
Oke gue tidur. 

Cara lain menenangkan diri: curhat.
Tapi ini jam 2 pagi. 
Gue terlalu lelah untuk mencatat perasaan gue dalam buku harian.Jadi gue pake buku harian digital aja.

Oke serius. 
Gue sering menenangkan diri dengan menulis. That's why I'm here now. 

Apa yang gue ingin sampaikan di post blog kurang berbobot ini adalah gue rasa SUDAH CUKUP kita memperdulikan omongan orang yang sebenarnya gak membuat kita merasa lebih baik. 

Kadang yang perlu kita lakukan sangat sederhana. Lakukan apa yang kita suka dan apa yang kita merasa perlu lakukan. Selama itu gak berbahaya buat diri kita dan orang lain, kenapa harus meduliin mereka yang bersusah payah mematahkan semangat kita. 

Hidup adalah tentang pilihan dan resiko. 
Pilihan apa pun yang kita ambil, punya resikonya sendiri. 
Gue sendiri gak tahu pilihan dan resiko mana yang harus gue ambil.
Gue juga gak tahu sampai kapan gue harus bertahan, kemana gue harus pegangan, dan kemana gue harus melangkah...

Tapi yang pasti gue tahu kalau gue berhak melakukan apa pun yang gue suka (dan membuat gue merasa lebih baik) selama hal itu gak menyusahkan orang. 

Do what you like to, fellas!


And sleep. Its peaceful. 

Jumat, 26 September 2014

Semasam Mangga Setengah Matang (Bukan Dagang Buah Online)

Kondisi pada momen ini : terkulai lemas di sofa, di bawah sepoi-sepoi AC, sunyi, galau, gundah, madesu. 

Belakangan ini twitter menjadi mirip pemakaman. Timeline gue hanya berisi beberapa idola gue, beberapa account sok ngequote, dan beberapa account yang memberikan informasi tidak berguna (nama disensor). 

Tapi gue suka dengan kondisi twitter yang begini. Rasanya bebas merdeka, seakan-akan gak ada yang bakal membaca tweet gue, menyebar gosip, dan mengada-ngada cerita, atau menilai sesuatu yang bukan-bukan. 

Oke. Maaf. Terlalu terbawa emosi. 

Tapi gue serius. Gara-gara twitter semakin menyerupai pemakaman, gue semakin betah berkicau dalam dunia twitter. Bukan karena gue suka pemakaman, tapi karena gue merasa lebih mampu mengekspresikan apa yang gue rasakan dengan bebas, berasa diary. 

Padahal sih teman-teman lain tetap ngecek timeline & lihat tweets gue yang sangat madesu. 

Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak orang yang pergi. 

Semakin banyak orang yang pergi, semakin banyak harapan gue yang pupus dan patah entah berantah. 

Semakin gue menyadari betapa gue kehilangan harapan, semakin gue menyadari bahwa semua yang ada sekarang, sudah gak sama dengan apa yang ada dulu. 

Piglet pergi dan gak ada yang bisa gue lakuin selain pasrah, pasrah, dan pasrah. 

Gue LDR dengan belahan jiwa gue (bukan kekasih, tapi tetap belahan jiwa). It all was fucking easier than this. Tapi sekarang, gue harus menunggu berminggu-minggu, atau berbulan-bulan untuk bisa bertemu sang belahan jiwa. Sungguh, ini payah. Amat payah. 

Lo bisa membedakan mana orang yang sungguh-sungguh peduli, dan mana orang yang (no offense) belagak peduli. 

Lo menyadari bahwa seseorang peduli pada hidup lo ketika tanpa lo memancing, dia bisa melihat ada beban dalam pikiran lo hanya dengan melihat mimik dan tatapan lo. Dia akan mengingatkan lo bahwa lo gak sendirian, dan lo layak untuk sebuah cerita yang lebih indah. 

Sayang, sebentar lagi seseorang ini akan pergi, jauh-jauh dari gue. Entah kemana juga gue gak tahu pasti. Kalau pun gue tahu... 

itu gak akan membuat gue merasa lebih baik. 

Madesu. Madesu. Madesu. 

Gue sedang berperang melawan pikiran gue sendiri, dan gak tahu sampai kapan gue harus bertahan. Sendirian. 

Sabtu, 20 September 2014

Literally Diary

Have you ever missed something that you know you're not supposed to miss because you know that now matter how much or how hard you try, you can never ever get them back? I have. 

Entah gue yang terlalu melankolis, atau belakangan ini banyak hal mengingatkan gue pada bagaimana bahagianya gue beberapa bulan, atau mungkin setahun yang lalu. 

Belakangan ini banyak hal yang... agak berantakan. No, seriously. Berantakan banget. 

Mulai dari nilai gue yang kembali kacau (entah karena gue terlalu sering galau dan dilema, atau terlalu banyak tidur, atau terlalu sibuk sama banyak hal), kehilangan uang 50ribu (yang menurut gue, ini besar banget), sinus & asma kumat di momen yang sama (sumpah, jangan pernah kumat asma & sinus bersamaan. Udah sesek nafas, sakit kepala sampe pipi pula. Dasar takdir), bahkan sampe jadi bahan gosip yang cerita gosipnya gak sesuai fakta...

ga ququ ampyonk cung. 

Hari ini, gue berencana bertemu Aulia & Bella. Tapi sayang, kami gak jadi ketemu karena ternyata kami masing-masing ada acara. Padahal gue sudah kangen tak tertahankan lagi. 

Gue jadi teringat bagaimana dulu semuanya jauh lebih mudah dari sekarang. Gue dan Aulia belum terpisahkan oleh jarak. Kami bisa bertemu hampir setiap weekend, & gue bisa bicara kapanpun gue merasa perlu. Gue tidak perlu menunggu waktu lama untuk bertemu Aulia. 

Sayangnya sekarang semua udah beda. Aulia pindah ke daerah Jakarta & cukup jauh dari tempat tinggal gue dan Bella. 

Gue rasa saat gue dan Aul bertemu nanti, akan ada perbincangan yang meledak deh. 

Hari ini gue merayakan ulang tahun bokap. Sambil menghabiskan waktu setelah makan, gue berkeliling mencari CD musik. Gue mendapati sebuah DVD Robocop. 

Robocop... 

Gue ingat jelas bagaimana hari itu menjadi hari kencan pertama gue dalam sejarah hidup gue. Gue berpacaran dengan Piglet selama dua minggu, lalu kami pergi nonton bioskop bersama. Gue ingat jelas bagaimana Piglet menyuruh gue mengenakan sweater hitamnya karena gue kedinginan. 

Gue juga ingat baju apa yang Piglet kenakan hari itu. (oh god, I'm even still in love with you & your outfit that day now, Ham)

Gue juga ingat dimana gue & Piglet duduk saat nonton Robocop. 

Gue ingat bagaimana sebelum nonton kami makan siang sama-sama. 

Gue ingat bagaimana hari itu gue dan Piglet bertemu beberapa teman secara tidak sengaja. 

Gue ingat bagaimana malam itu juga, gue membiarkan Piglet mengenal gue lebih dalam, serta membiarkan Piglet melihat gue dan masa lalu gue. Bahkan pada sisi yang gelap. 

Gue ingat bagaimana gue kira hal itu akan membuat Piglet menjauhi gue, tapi ternyata perkiraan gue salah. Piglet tetap menggenggam tangan gue dan justru berjanji bahwa Piglet tidak akan pernah membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya. 

Ini fix banget setelah ini, gue akan beli DVD Robocop, nonton sendirian di kamar sambil gelap-gelap & nangis tersedu-sedu, padahal filmnya gak ada sedih-sedihnya sama sekali. 

Waktu kamu marahin aku, waktu kamu nyubit aku karna kamu gemes, waktu kamu mainin rambut aku sampai rambut aku berantakan kayak benang kusut, waktu aku nangis di bahu kamu, waktu kita sama-sama ketawain hal-hal kecil yang sebetulnya gak lucu, waktu kita baca diary bareng-bareng, waktu kita main ayam-ayaman, waktu kamu kasih aku surat warna-warni di dalam boneka monyet aku, waktu kita ngambek-ngambekan karna cemburu, dan semua waktu aku sama kamu lain yang pernah kita laluin...

aku kangen. 

#YAILAH 
#tapiserius 
#bete
#kesal
#maafya
#bukaninstagram 

namanya juga diary.

"I wish that I could wake up with amnesia and forget about those stupid little things. Like the way it felt to fall asleep next to you, and the memories I never can escape. I'm really not fine at all." 
 
Amnesia - 5 Seconds of Summer 



Senin, 08 September 2014

Satu Langit untuk Sejuta Air Mata

"Bumi itu luas, tapi dunia itu sempit..."

benar tidak, kawan-kawan? 

Oke serius. Gue & kalian hidup di dalam dunia dimana semua hal yang terjadi dalam hidup lo & gue (sebenarnya) sudah tercatat dalam sebuah (mungkin) buku catatan milik Tuhan. Semua hal udah dengan sangat rapih diatur dalam catatan itu. Jadi kita (human) seakan-akan sedang beraksi di atas panggung drama. We are directed based on what we believe, tapi kita tetap punya pilihan tentang peran apa yang akan kita mainkan & langkah apa yang selanjutnya akan kita tempuh. Takdir. 

Gue baru saja menghabiskan sekitar satu jam buat baca blog milik Piglet yang gue rasa, dia post blog itu sekitar 1 - 4 tahun yang lalu, waktu dia belum balik ke Indonesia. Blog kami gak jauh-jauh amat beda. Isinya semacam buku/BLOG harian, juga pelajaran yang kita dapat dalam hidup, atau bahkan pandangan kita tentang sesuatu. 

That's why, gue & Piglet seringkali berbagi tentang manis & pahit hidup. Dari titik paling tinggi dalam hidup gue, sampai titik paling jatuh & terinjak dalam hidup gue. Seperti apa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Gue dan Piglet berada di 2 sisi bumi yang berbeda, ternyta sedang bersama-sama bertahan di tengah badai hidup. TANPA tahu kalau suatu hari, kita akan ketemu (apalagi pacaran). 

Hal ini membuat gue sadar bahwa: 

sesusah apapun kondisi yang gue alami, 
gue tidak sendirian. 
Bukan hanya karna (ternyata) di sisi bumi yang lain ada Piglet yang juga bertahan di atas perahu di tengah ombak,
tapi juga karena Tuhan tidak meninggalkan gue. 

Tapi satu hal yang membuat gue tercengang-cengang adalah; 

Dude, apapun yang sedang lo kerjain sekarang, berhenti, ambil waktu sejenak, dan look at how far we've gone from the past. 

Gue tidak suka memandang masa lalu yang bikin gue sedih & menyesal & galau & bimbang & whatever. Gue memandang masa lalu untuk menjadikan masa lalu gue sebagai pelajaran & alasan untuk bersyukur. 

Gue, Piglet, & banyak dari teman-teman pernah mengalami hal yang sulit dalam hidup. Bahan saat gue, Piglet, & teman-teman gak mengenal satu sama lain. So masalah & pikiran apa pun itu yang sedang lo alami sekarang, percayalah, lo gak sendirian. Ada gue, ada Piglet, dan ada banyak teman-teman yang sebenarnya ada/pernah ada dalam perahu yang lo naikin sekarang.

Waktu gue kelas 10 & masih galau tentang jurusan IPA atau IPS, guru sejarah gue memberikan tugas yakni, membuat timeline kehidupan. Tanpa disangka, timeline itu ternyata berguna juga untuk gue. Gue jadi punya pandangan tentang betapa gue sudah menjadi anak yang kuat selama belasan tahun ini, dan betapa gue sangat diberkati oleh Tuhan. 

r e w i n d 

sekitar 16 tahun yang lalu
Gue dilahirkan. Masih tanpa dosa. Gue udah gak inget gimana suasana waktu di rumah sakit sih...

sekitar 12 tahun yang lalu
Adik gue (Iyel) dilahirkan. Awalnya gue kira dia seperti malaikat, tapi ternyata gue salah. Dia adalah bocah yang merusak kebahagiaan gue. Tapi gak apa apa, gue akan tetap sayang, & mau hidup bersama bocah ini sampai akhir hayat gue. 

sekitar 11 tahun yang lalu
Gue merayakan ulang tahun ke-5 di Mcdonalds Cibubur. Kue ulang tahunnya warna pink, gambar minnie mouse, beli di Holland Bakery 1 jam sebelum acara. Keluarga & teman-teman yang gue kenal & tidak kenal berkumpul, bernyanyi, & makan ayam bersama. 

sekitar 10 tahun yang lalu
Gue masuk SD Marsudirini. Satu kelas bersama sahabat & tetangga terdekat gue, juga bersama sepupu gue, Timothy. Tas sekolah gue gambar Barbie warna pink, sepatu gue  Oshkosh warna hitam ada kupu-kupu warna pink. Ada apa dengan gue & warna pink. 

sekitar 6 tahun yang lalu 
Pertama kali membuat lagu. Lagunya tentang kehindahan alam (padahal gue gak ada cinta-cintanya sama alam), dibimbing oleh guru musik gue, Pak Frans. 

sekitar 5 tahun yang lalu
Lulus SD, masuk SMP di Global Mandiri tercinta. Akhirnya menggunakan seragam putih biru. Rok gue bertabrakan dengan kaos kaki gue. (Karena dulu gue masih patuh terhadap peraturan: rok dibawah lutut, kaos kaki 5 jari di atas mata kaki.) 
+ Bertemu Aulia & Bella, serta cinta monyet pertama. 

sekitar 4 tahun yang lalu
Gue tidak bisa ceritakan dengan rinci, tapi yang pasti gue sangat diberkati oleh Tuhan karna masih bisa ada di sini hingga sekarang. Kalian juga punya yang kayak gini kan? 

sekitar 2 tahun yang lalu 
Menikmati satu tahun terakhir di SMP dengan persiapan UN. Tambahan setiap hari, les matematika setiap jumat dan malam minggu, berhenti les piano karna munek. Lalu diakhiri dengan graduation, prom night, liburan ke Bali bersama teman-teman, galau karena tidak lolos SMA favorit. 

sekitar setahun yang lalu
Masuk SMA Global Mandiri. Pertama kali menggunakan seragam putih abu-abu. Datang telat pada hari pertama masuk SMA berasama Bella (karna kami tidak bersama Aulia lagi). Bertemu Piglet saat MOS, merasakan sekitar 1 bulan di kelas IPA, galau harus pilih IPA atau IPS, bertemu kawan-kawan yang.. gitu deh (nama genk: Lelah Sekolah). 

sekitar setengah tahun yang lalu
Kenal dekat dengan Piglet, PERTAMA KALI makan bersama, nonton film, dan jalan-jalan bersama Piglet (baca: first date). Pertama kali menjadi anggota band & tampil di mall & di tempat makan untuk cari uang. 

16 tahun ini tidak semudah yang gue ceritakan di blog ini, sama seperti tahun-tahun teman-teman yang mungkin sedang bersedih, atau berperang melawan pikirannya sendiri. Tapi satu hal yang gue ingin kita semua (termasuk gue) ingat adalah: 

Ketika lo berada dalam sebuah perahu, dan diterjang ombak, percayalah, lo tidak pernah sendirian kesusahan. Ada gue, ada Piglet, ada teman-teman lain yang mungkin kita sama-sama gak kenal. 

Kita udah bertahan sampe sini, di tempat ini, detik ini. Masa rela usaha kita sia-sia gitu aja? 

"Kalau kamu capek, kamu boleh kok istirahat dulu. Aku juga capek sih, tapi aku gak akan give up buat apa yang kita udah pertahankan. Give up doesn't exist in our dictionary, Vid." - Piglet.  

(Mazmur 23) 

Kamis, 10 Juli 2014

Tanpa Bintang

Sepi ya...
Di luar gak ada bintang. Cuma gelap, mendung, berawan. Gak beda jauh sama gue. 

Di luar gak hujan dan gak ada petir. 
Aneh ya. Gue merasa sekarang ini lagi hujan deras banget. 

And yes, welcome to my another night with some pieces of broken dreams. 

Pernah gak sih kangen sama seseorang sampai-sampai semua yang lo lakukan terasa berat? Bahkan hal-hal yang lo suka, terasa gak menyenangkan lagi? 

Sampai-sampai setiap lo tarik nafas, lo merasa ada yang aneh dalam dada lo. Lo gak sesak nafas, tapi lo ngerasa ada yang sakit. Lo bahkan gak bisa bernafas dengan tenang. 

Sampai-sampai lo merasa lo gak butuh makan, gak butuh tv, gak butuh komik, gak butuh lawakan, gak butuh... gak butuh semua yang sebetulnya lo suka, atau bahkan butuh. Lo merasa yang lo butuh cuma satu; kehadiran orang yang lo kangenin. 

Gue benci perpisahan. 

I push people away. Gue mendorong orang jauh-jauh dari hidup gue, untuk membuat gue merasa lebih buruk, lebih kesepian, lebih gak berguna. Supaya gue ngerasain semua susah gue sendirian tanpa butuh bantuan orang lain. Gue tau gue sombong. Tapi gue rasa, itu cara gue berlindung. 

Tapi bukan itu tujuan gue push Piglet away. Gue mau gue dan Piglet mengerti bahwa kita akan baik-baik saja walau pun gak bersama-sama lagi. Gue mau Piglet bahagia karna gue yakin, dia jauh dapat yang lebih layak dari apa yang mampu gue kasih. Gue gak bisa kasih apa yang Piglet butuh. Gue benci mengakui ini & jujur, gue gak ikhlas, tapi gue tahu seseorang lain di luar sana bisa kasih apa yanf Piglet butuh, yang gue gak mampu kasih; kepastian. 

Gue tutup mata gue, berharap siapa yang gue harapkan bakal gue datang setelah gue buka mata gue. Ternyata gue salah. Gue buka mata gue, dan ini yang gue dapet. Gue masih sendiri. Piglet gak ada di samping gue. 

Gue gak tau harus berharap apa. Gue gak ngerti apa yang sebetulnya gue butuh. Gue merasa harus kemana? 

Selasa, 08 Juli 2014

Gue dan Racun Black Mamba

Lo tau ular black mamba?
Itu ular kecil yang racunnya sangat-sangat berbahaya.
Ketika seseorang kena racun black mamba, dia bakal merasakan keram di bibir dan di ujung jari-jari tangan. Kemudian disundul dengan demam yang tinggi banget, terus kejang-kejang, terus mabok, terus koma. Kalau gak ketolong...
mati.

Sebetulnya gue tau ular black mamba dari channel apa tuh yang tentang binatang-binatang begonoan... Sumpah, dari gue pertama pasang indovisi#on, gue gak pernah nonton ini channel. Waktu itu gue kepaksa aja Piglet minta nonton ginian, gue jadi ikutan deh. Eh ternyata eh ternyata, lagi ngomongin black mamba.

Black mamba bukannya yang ngisi suara Kungfu Panda ya?
itu Jack Black.

Black mamba bukannya yang kata-katanya Syahrini ya? "Cetar Black mamba" itu kan?
Itu membahana.

Oke, cukup sekian intermesonya.

Belakangan ini, gue merasa hidup gue sangat berantakan. Mulai dari nilai rapot gue yang menurun drastis dan menggemparkan keluarga besar gue, putus sama sang kekasih, di-backstab anak alay dengan beragam fitnahan, di-bully sama sekelompok bayi-bayi, ngerusak laptop bokap yang gue pinjem karna laptop gue udah sekarat, kehabisan duit gara-gara kebanyakan beli komik Conan, gatel-gatel di badan karena alergi sama dingin, berat badan naik, dan drama-drama lainnya.

Rapot gue semester ini menggemparkan keluarga besar gue.
"Kenapa nilainya bisa turun sih? Katanya pengen lolos jalur undangan ke UI... Terlalu sibuk ya?" ujar mama gue setelah melihat hasil rapot gue. Namun apa daya, gue hanya bisa manyun sembari mengangkat bahu dengan pasrah.

Jujur aja, gue sendiri berduka banget liat rapot gue. Apa yang salah dengan gue??? Ini grafik kok turun amat??? Jadi bingung, ini grafik apa prosotan??? Apa yang telah gue perbuat??? Apa yang harus gue lakukan dengan mimpi-mimpi gue yang mulai patah??? Apa yang harus gue lakukan dengan masa depan gue??? APA??? JAWAB!!! APAAAAAA????????????????????????

#stress

Buruknya lagi, mama gue menceritakan hasil rapot gue yang menyedihkan ke bibi-bibi, paman-paman, dan sepupu-sepupu gue saat kumpul-kumpul keluarga. Kelihatannya sih mereka semua terkejut dengernya. Percayalah, tanpa lo mengucapkan kata-kata seperti; "KOK BISA SIH???" atau; "TERUS GIMANA DONG???" atau yang lebih parah; "KAMU PACARAN MULU SIH!!!" gue sudah cukup terkejut dan berduka.

Gue benar-benar berharap ini rapot jelek gue yang terakhir. Gue tidak ingin lagi-lagi mengecewakan diri gue sendiri, juga nyokap gue. Gue rasa nyokap gue menaruh harapan yang besar pada gue. Mama gue akan bersikap oke-oke aja soal rapot gue yang kurang bagus kayak tai, padahal dalam hatinya harapannya mulai patah. Galau gak jadi gue?

Putus sama sang kekasih
gimana ya...
mending biar asoy baca post gue di bawah: Sepucuk Air Mata dan Harapan

dramatis banget kan?

okay, next.

Di-backstab anak alay dengan beragam fitnahan
Ini gue agak gak ngerti kenapa bisa begini.
Pernah gak sih lo ketemu satu temen yang kesel sama seseorang yang lain. Entah jelas atau enggak alasan kenapa temen lo gak suka sama orang itu, tapi yang temen lo lakukan cuma ngomongin hal buruk tentang orang ini dari belakang ke banyak orang lain?

Gue yakin, sepolos-polosnya atau sebaik-baiknya orang yang kurang disukain, pasti ada alasan yang bikin dia gak disukain. Entah karena ternyata diam-diam orang ini suka ngupil gak liat sikon, atau karna orang ini suka makan bakso kuah pake tangan, atau mandiin kucingnya dengan menjilat, atau karna orang yang benci itu cemburu, atau salah sangka... entahlah, gue gak peduli apa alasannya, tapi gak mungkin seseorang gak disukain tanpa alasan.

Tapi sadar gak sih, manusia itu gak bicara dengan kode atau telepati atau radiasi antar otak. Manusia punya bahasa biar bisa bicara dengan jelas dalam berkomunikasi. Lo lapar, bicaralah. Lo pegel, bicaralah. Lo ngantuk, bicaralah. Lo butuh duit, bicaralah. Lo gak suka sama sesuatu, maka bicaralah.

Well, gue sendiri tidak selalu bicara terbuka ketika gue gak suka sama sesuatu. Kadang gue lebih suka memendamnya sendiri. Itu cara gue mengontrol emosi. Tapi dengan gue memendam, gue rasa gue tidak perlu mengumbar-ngumbar fitnah tentang hal yang gak gue suka, apa lagi dengan tujuan agar orang lain sepihak dengan gue.

GUE HARUS GIMANA?????
BISA GAK SIH LO DAN GUE BERKOMUNIKASI DENGAN NORMAL???

#DeritaJadiABG

Beruntung, gue hidup dikelilingi orang yang sangat berkepala dingin. Mereka selalu mengingatkan gue untuk tenang dan sabar menghadapi semuanya. Gue hanya perlu menjadi diri gue sendiri dan menikmati hal lain yang yang jauh lebih penting dan menyenangkan. Karena dendam termanis adalah dengan menjadi bahagia.

Oke, maafan ya?

Kucing gue (Jonah) meninggal dunia
Ada seekor kucing betina (Jonah) yang gue rasa hobinya bunting. Dia tidak pernah tidak bunting. Dia tinggal di sekitar rumah gue. Gue tidak terlalu memeliharanya. Tapi keluarga gue sering kali memberikan makanan untuk Jonah, karna kami kasihan.

Keluarga gue adalah pecinta kucing. Namun sayang, sekitar pertengahan tahun 2011, adik gue menderita alergi terhadap kucing. Dia bengek dan gatal-gatal. Kucing peliharaan kami waktu itu (Oggy) akhirnya kami titipkan di rumah teman gue yang dengan senang hati menerima, Revi. Kebetulan, keluarga Revi adalah keluarga pecinta binatang.

Semenjak itu, keluarga gue tidak pernah memelihara kucing dengan tulus lagi.

4 hari yang lalu, Jonah melahirkan anaknya yang ke... entahlah. Banyak deh pokoknya. Esok malamnya, bokap gue melihat Jonah sudah dalam keadaan... mengerikan. Gue gak sempat ketemu Jonah sih. Tapi bokap gue bilang, mulut Jonah sudah penuh darah dan menghitam. Mata dan hidungnya berair. Gue sendiri gak sanggup ngebayangin. Seram kan?

Mulai malam itu hingga malam ini, Jonah belum muncul lagi. Mama gue menyimpulkan:
Jonah telah tiada.

Gue jadi ingat...
Waktu itu, Aulia dan Bella bermain di rumah gue. Kami berpesta hingga larut malam (baca: curhat). Ketika mereka mau pulang, gue membuka pintu rumah. Di keset gue ada sisa daging dan tulang yang terlihat basah. Gue kira, itu sisa makanan Jonah. Namun setelah gue lihat lebih dekat...

Itu kodok hancur dibedah oleh Jonah.

Sumpah, ini gue merinding sendiri mengingatnya.
Gue sangat-sangat-sangat-sangat takut pada reptil dan kodok. Gue juga sangat takut pada hal yang berbau darah dan bedah-bedahan. Malam itu, amphibi & bedah-bedahan bergabung menjadi satu.

Gue juga jadi ingat...
Suatu hari, gue dan Piglet sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba Piglet melihat seekor kadal berjarak kurang lebih 2 meter di belakang kami. Piglet segera mengejar-ngejar kadalnya untuk ditangkap. Mencari aman, gue kabur dan ngambek abis-abisan pada Piglet.

Oke, kembali ke ular black mamba.

Ketika kita kena racun black mamba, kita akan mengalami keram, kejang, sesak nafas, bahkan mungkin koma, dan meninggal. Sebelum keadaannya memburuk, kita harus cepat-cepat ambil racun keluar dari tubuh kita, dan pakai penawar racun.

Sama seperti hidup gue yang lagi berantakan.
Gue mungkin kurang mengatur waktu dengan baik, gue kebanyakan galau, gue kebanyakan malas-malasan, sehingga nilai gue turun.

Gue mungkin pernah bersikap gak menyenangkan sama teman gue yang gue sendiri gak sadari, sehingga gue dikata-katain dan difitnah dari belakang.

Gue mungkin kurang menjaga Jonah dengan baik sehingga Jonah terlalu banyak dihamili, dan sekarat, dan meninggal...

Gue mungkin sering lupa bahwa apapun yang gue hadapi, Tuhan menjaga gue, sehingga gue sempat mengalami sedih berat setelah putus dengan Piglet.

Dan "Gue mungkin..." yang masih banyak lagi.

Masalah-masalah dalam hidup gue itu sama seperti racun black mamba. Sebelum keadaannya memburuk, gue harus buang racun-racun dalam hidup gue, dan pakai penawar racun, yakni dengan memaafkan masa lalu, bersikap ikhlas, dan kemauan untuk memperbaiki diri.

I'm sucking the poison out of my body.
I'm ready to take my crown back. 

Gue percaya setelah ini, sesuatu yang lebih baik akan datang.
Gue percaya kalau semua yang pernah terjadi dalam hidup gue, terjadi untuk sebuah alasan yang indah. Pasti Tuhan mau gue menjadi anak yang lebih baik dan lebih kuat.

Lo juga percaya kan?

Sepucuk Air Mata dan Harapan

Kalau gue harus mejawab jujur pertanyaan ini: "Lo baik-baik aja, Vid?"
Gue akan menjawab dengan: "Gak. Gue gak baik-baik aja. Gue sedang merasa buruk."

Seperti yang sudah gue jelaskan di post sebelumnya, gue sangat membenci perpisahan. Gue bahkan benci perpisahan dengan orang yang gue benci. Nanti siapa yang harus gue hina & menghina gue tak henti sampai-sampai bikin gue tenar? Gimana perpisahan dengan orang yang gue sayang.

Piglet.

Gue sangat menyayangi Piglet. Maafin aku ya om, tante, mami, papi, bibi, paman, teman-teman, saudara-saudari, nenek, cucu, adik, kakak, tapi gue sayang sama Piglet, dan gak ada yang bisa gue lakukan buat berhenti sayang sama Piglet. Kalau gue bisa juga udah gue bikin diri gue sendiri gak kenal Piglet. Tapi ya ini adanya; I love Piglet & nothing I can do about it.

Gue rasa gak bakal sulit buat nemuin orang yang ngerti alasan kenapa gue sayang sama Piglet.
Gue & Piglet adalah dua orang yang (dari jauh) kelihatannya sangat berbeda, gak punya kesamaan sama sekali.

Piglet adalah anak yang sangat atletis. Gengsi sih, tapi akuin aja. Badannya bagus. Dia rutin nge-gym, jago main basket, pernah mencintai football, makan di jam tertentu dan teratur, gak banyak nyemil. Sementara gue... kabur ke Mcd setiap bete, makan kentang goreng rasa keju sambil baca Conan atau majalah GoGirl, makan oreo dicelup susu sambil nonton film, tidur belasan jam setiap jumat, bersahabat dengan sofa dan tv, dan menjadi tumbal setiap pelajaran olahraga.

Gue adalah pecinta musik jazz dan groovy, sementara Piglet adalah pecinta musik hip-hop. Gue melakukan semua hal sambil bernyanyi. Gue mandi sambil nyanyi, makan sambil nyanyi, tidur sambil nyanyi, bahkan pingsan sambil nyanyi. Sementara Piglet, ngomong aja bisa fales. (Tapi Piglet bisa main gitar sih. Dia bahkan pernah jatuh cinta setengah mampus sama gitar. Tapi gue rasa dia sudah cukup move on dari gitar.)

Ketika lo berani-berani ngatain Piglet... percuma, dia gak bakal peduli sama omongan lo. Paling bantar nempel di hati semenit-dua menit, abis itu omongan lo melayang lagi kayak kutu. Beda sama gue. Lo berani-berani ngatain gue... gue bakal belagak kuat. Tapi lima menit kemudian, omongan lo nempel di hati gue dan gak cabut-cabut nyampe ratusan abad.

Tapi perbedaan itu gak bikin gue dan Piglet kehilangan harapan. Dengan perbedaan-perbedaan itu, gue dan Piglet melengkapi satu sama lain. Sederhana sih, cuma sebatas memotivasi gue untuk mau olahraga, atau memberikan rekomendasi lagu jazz bagus pada Piglet, atau mengingatkan Piglet untuk lebih peduli sama perasaan orang lain, atau mengingatkan gue untuk menjadi anak yang kuat dan gak membiarkan orang lain merobohkan gue dengan mudah.

Banyak teman yang menilai kami gak cocok. Banyak teman yang menilai bahwa seorang gue gak cocok dengan seorang kayak Piglet. Tapi maaf ya guys, gue rasa kalian salah. Kami suka perbedaan yang ada di antara kami. Kami bahagia dengan perbedaan kami.

Tapi satu perbedaan yang gak akan pernah bisa dipungkiri: keyakinan akan Tuhan.
Dan perbedaan itu yang membawa kami ke perpisahan.

Tapi semakin dalam gue mengenal Piglet, semakin gue sadar bahwa melihat Piglet bagaikan melihat bayangan diri gue sendiri dalam cermin. Gue beruntung dipertemukan dengan Piglet. Satu anak songong yang diam-diam sepemikiran dengan gue. Satu anak songong yang selalu mendukung pilihan gue. Satu anak jenius yang dibalik kesalnya, sabar bantuin gue belajar matematika. Satu anak jenius yang dibalik galaknya, mau mendengarkan semua keluh kesal gue.

Piglet adalah dia yang mengendap-ngendap ke dalam kelas gue, dan meletakan hadiah-hadiah manis di dalam tas gue. Piglet adalah dia yang mengirimkan surat-surat misterius warna-warni dengan kata-katanya yang sederhana, namun berarti buat gue. Piglet adalah dia yang menulis hal-hal manis yang dia pikirkan tentang gue. Piglet adalah dia yang memberikan novel kesukaannya pada gue ditambah dengan hidden messages. Piglet adalah dia yang tanpa gue meminta, dia mengerti kapan gue butuh dipeluk atau dibecandain.

Piglet mengajarkan gue banyak hal. Piglet membantu gue membangun harapan dalam hidup gue. Piglet buat gue percaya bahwa ketika gue bisa bermimpi, berarti gue bisa menjadikannya nyata, walaupun di satu sisi, gue harus bersikap realistis, namun tetap percaya pada diri gue. Sama seperti waktu gue mau ujian matematika. Gue merasa gak ada kemungkinan gue bisa mengerjakannya dengan hasil maksimal. Piglet memang gak mengatakannya secara langsung. Tapi dengan sabarnya Piglet, dia bantu gue menjadi lebih tenang & mau percaya sama diri gue sendiri. And he was right, I made it.

Piglet juga mengajarkan gue bahwa ketika gue senang, atau sakit, atau disakitin, gue gagal, gue kecewa, atau dikecewain, gue harus tetap bersyukur. Karna apa pun itu yang ada, hal itu ada karena Tuhan meyiapkan yang paling baik untuk gue. Dengan semua susah yang gue alamin, Tuhan sedang menjadikan gue anak yang lebih kuat. Tuhan menyayangi gue apa adanya dan Tuhan tidak pernah membenci apa yang dia buat. Sama seperti waktu...
rahasia kita ya, Ham?

Kadang gue mikir kapan gue bisa nemuin mahluk sejenis Piglet lagi. Piglet pernah bilang bahwa gue gak boleh berfikir kalau Piglet adalah satu-satunya karena suatu hari gue akan mendapatkan yang lebih baik. Gue percaya sama Piglet.

Mungkin dengan perpisahan ini, gue dan Piglet bisa sama-sama belajar bahwa kami akan baik-baik saja. Gak ada yang perlu kami takutkan. Mungkin juga dengan perpisahan ini, gue dan Piglet sama-sama makin mengerti tentang apa arti semua yang pernah terjadi sama gue dan Piglet.

Lo inget gak waktu Spongebob dan Patrick main permainan, namanya Believe?
Di permainan itu, kita menjatuhkan diri. Di belakang kita, ada satu partner yang standby. Soal kita selamat atau enggak... ya itu kita serahin sama partner kita. Yang perlu kita lakuin cuma percaya kok.

Kalau Piglet ajak gue main Believe...
gue mau kok.

Nanti ketika waktunya tiba gue dan Piglet bisa ketemu lagi, Piglet tidak akan menduduki posisi dalam hidup gue seperti Piglet yang dulu (baca: pacar gue). Tapi itu gak berarti gue melepaskan kepercayaan gue dari Piglet. Piglet akan tetap menjadi Piglet yang gue cari setiap gue bete, supaya gue bisa ngeluh sepuasnya tanpa dimusuhin. Gue akan tetap dengan senang hati menjaga Piglet.

I got lost in a jungle. I was alone. I was scared. The night came, and it made the jungle got so much more scarier. Then I met you. You got lost and alone, just like me. You couldn't bring me out of the jungle, and I couldn't bring you out from there too. But you were with me there, erasing my fear and turning the pale on my eyes into laughter. Well, maybe not getting out of the jungle could be cool too...

But here we are, finding the way to out of the jungle. 
But still, 
I'm not alone. I'm with you. 

Kayaknya gue typo deh.
Gue sama Piglet gak berpisah. Gue dan Piglet cuma...

bersama-sama belajar untuk menjadi lebih kuat.

Gue dan Piglet tidak berjuang untuk cinta seperti Jack berjuang untuk Rose. Gue dan Piglet berjuang melawan ego dan rasa takut dari diri kami sendiri.

Apapun yang akan gue hadapai ke depannya, gue siap. Gue percaya bahwa itu memang yang paling baik untuk gue dan Piglet, yang udah disiapin sama Tuhan. That adventure we had, was awesome. And I believe, we're gonna face the greater one after this. Jangan takut ya, tong. Ada gue kok.

Main Believe sama gue yuk, Ham?

[To: Muhammad Ilham Widiyantoko]
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review