Jumat, 20 Juni 2014

Mendung di Bawah Matahari

Every hello ends with a goodbye. 

Entahlah, gue selalu benci perpisahan. Gimana kalo suatu hari gue kangen & butuh dia tapi dia gak bisa ada buat gue? Gimana kalo nanti dia nemuin yang lebih bagus dari gue terus gue dibuang gitu aja? Bahkan gue benci perpisahan dengan orang yang gue benci. Kalo orang yang gue benci pergi, nanti siapa yang gue hina-hina lagi? Nanti siapa yang ngomongin gue dari belakang & bikin gue tenar lagi? 

Intinya: gue benci perpisahan. 

Gue mengakhiri satu tahun gue di kelas 10 dengan sangat banyak perpisahan. Mulai dari pisah sama temen di kelas, pisah sama beberapa guru yang bikin gue nyaman banget belajar, pisah sama anaknya kucing gue yang hilang, pisah sama nilai-nilai indah (karna asli, rapot gue semester ini jelek banget... banget.), dan yang paling buruk, pisah dengan Piglet, a man I trust and I love the most. 

Jujur, baru 1 hari ngerasain liburan, gue sudah merasa kesepian. Parahnya, gara-gara kesepian sialan ini, pikiran gue jadi terbang kemana-mana. Mending kalo kemana-mananya yang bagus, ini kemana-mana yang buruk, yang bikin gue ngerasa lebih buruk. Jangan naif, siapa sih yang gak pernah kayak gini? 

Perpisahan bikin gue merasa seperti; Kenapa gue selalu ditinggal? Kenapa gue gak pernah bisa ninggalin sesuatu atau seseorang sampe bikin dia sedih seperti yang gue rasain sekarang? Entah gue terlalu kesel, atau sedih, atau marah, atau kecewa sama semuanya. Well, mungkin semuanya jadi satu. 

Perpisahan juga bikin gue kehilangan banyak kepercayaan. Kenapa gue harus ditinggalin di waktu dimana gue lagi down banget, like sky is falling on me. 

Gue terus-terusan bertanya-tanya; lo semua maunya apa sih? kemana? kenapa? gue gimana? 

Gue mencoba bicara dengan orang di sekitar gue. Tapi apa daya, perpisahan bikin gue berbicara tidak lagi dengan bahasa manusia. Mungkin gue terlalu buta & tuli untuk mengerti bahasa manusia. Apa yang gue dapat adalah: masalah gue gampangan, & gak seharusnya gue bikin susah. 

Kambing congek juga tau gak seharusnya gue bikin susah. Tapi gue sedih, tanpa kemauan gue untuk sedih. Kalau bisa juga gue bikin otak gue gak kenal sedih menghadapi perpisahan. I pretend like I'm the happiest kid on earth, then I see someone's real happiness & realized that I'm not happy, and I can't deny that. 

Satu lagi hal mengerikan dari perpisahan adalah gue dihantui dengan pertanyaan seperti;
Dia baik-baik saja gak ya sekarang? 
Apa dia pergi karna dia benci gue? 
Dia percaya gak ya kalau gue selalu sayang? 

Padahal gue sudah tau jawaban dari semua pertanyaan yang timbul di pikiran gue itu. Jawabannya adalah: dia baik-baik saja, dia pergi karna dia sayang sama gue & kita butuh yang lebih baik, dan dia percaya gue sayang. Gue gak lupa bilang kok. 

Intinya; Gue benci perpisahan. 

Seorang pendeta pernah bilang dalam khotbahnya, "Tidak ada yang menjanjikan bahwa semuanya akan mudah. Tapi Tuhan menjanjikan bahwa baik susah mau pun mudah, kamu akan baik-baik saja."

Jadi walau pun gue sedih + kesepian + marah + kecewa setengah mampus kayak sekarang, gue akan baik-baik saja? 

Terakhir gue merasakan hal kayak gini, semua berakhir dengan bahagia. Gue disadarkan bahwa itulah yang terbaik buat gue & buat orang yang meninggalkan gue. Dengan kita pisah, gue dapat yang lebih baik, begitu pula dia yang meninggalkan gue. 

Gue bakal ngalamin hal yang sama gak ya? 

Hal yang lebih buruk lagi: 
Mau sesusah apa pun kondisi gue sekarang, mau gak mau gue harus kuat buat nerima. Gue harus percaya kalau dengan kondisi gue sekarang, gue & Piglet akan mendapatkan yang lebih baik, walau pun mungkin butuh waktu.

Gue gak bisa berjuang dengan dramatis seperti Jack berjuang untuk Rose. 

Demi apa gak tau Jack & Rose. 
Makanya nonton Titanic. 

Oke lanjut. 
Gue tidak berjuang dengan menenggelamkan diri di lautan dingin & membiarkan orang yang gue sayang selamat di atas papan (padahal papannya bisa buat 2 orang. Rose nya aja maruk). Gue berjuang melawan ego gue sendiri. Gue berjuang dengan membiarkan ego gue tenggelam bersama buntelan kesedihan gue. Gue bertahan di tengah-tengah perang antara hati & otak gue. 

Dramatis. 

Tapi gue serius. 

Gak ada yang bisa bikin gue berhenti membenci perpisahan. Tapi selalu ada yang bisa ingetin gue kalau perpisahan terjadi untuk sebuah alasan yang indah. 

Jangan pergi jauh-jauh ya. 

Selasa, 15 April 2014

Empat Benih Kelapa

So.
Tepat 16 tahun yang lalu mahluk sejenis gue dilahirkan di dunia.
Siapa?
Emma Watson.

YA KELEUZ???

Oke serius. Gue. 16 tahun yang lalu gue dilahirkan di dunia ini. So what's with today?
Tell 'em that its my birthday.

#NowPlaying : Birthday - Selena Gomez

Well, gue sebenarnya tidak melakukan hal-hal heboh dan aneh hari ini (seperti apa yang gue lakukan tahun lalu bareng Aulia, Bella, dan kawan-kawan lainnya). Tapi hari ini, gue dipertemukan dengan banyak hal untuk disyukuri dan pelajaran hidup. Memang gak seheboh pelajaran hidup yang ada di film-film, tapi yang sederhana saja sudah berarti kok. Dan gue tidak akan membiarkan life lesson hanya untuk gue seorang diri.

Di satu sisi, ketika lo ulang tahun, that means you get older. Semakin lo bertambah usia, semakin lo tua. Semakin lo tua, semakin lo bertambah dewasa. Semakin lo bertambah dewasa, semakin beragam jenis tantangan hidup yang harus lo hadepin. Dan semakin beragam jenis tantangan hidup yang harus lo hadapin, semakin banyak kekuatan yang lo punya. 

Percaya gak percaya, yang baru saja mengingatkan gue akan hal itu adalah; Sinchan.

So di satu sisi gue (bersama orang-orang yang berulang tahun lainnya) pasti berbahagia. Man, ini sweet 16. My last two years before I get 18! Tapi di satu sisi... man, clock ticks, time is keep moving, and we can't stop that. We are getting older. But then; we are getting stronger.

Hari ini gue diingatkan mengenai bagaimana gue memaafkan masa lalu gue.
Gue gak mungkin menjelaskan kejadian apa yang baru saja terjadi, tapi lo akan menjadi seseorang yang sukses move on ketika lo tidak lagi menganggap masa lalu lo itu sebagai sederetan cobaan terkutuk yang pernah menimpa lo dan lo layak membencinya. Move on itu ketika lo memandang masa lalu lo itu sebagai pelajaran hidup yang bisa membuat lo menjadi lebih baik dan kuat menghadapi tantangan baru di lain waktu.

Jadi, bermaafan dengan masa lalu itu penting. Bagaimana pun, masa lalu itu pernah ada dan pernah berarti besar dalam hidup lo. Bahkan mungkin masa lalu lo itu yang membuat lo bisa bertahan sampai sekarang. Pengalaman adalah guru terbaik. Thanks, Sinc#an.

Gue juga diingatkan bahwa ketika gue merasa tertekan sendiri, seakan-akan gak ada lagi satupun mahluk di muka bumi ini yang inget kalo gue masih hidup, setidaknya PASTI ada satu yang ada di posisi sama dengan lo, atau selalu mengingat lo dalam hari-harinya, entah dia khawatir, kangen, atau bahkan mendoakan lo. Jadi pada dasarnya; kita tidak pernah sendirian. Thanks, Jubaidah. (Ngaku aja, lo kangen gue kan?)

Ketiga, gue diingatkan bahwa Tuhan mengirimkan beberapa malaikat tak bersayap untuk gue. Sadar atau gak sadar, mereka-mereka ini yang selalu ambil peran baik dalam kisah gue yang happy-happy, maupun sedih-sedih. Mungkin gue sering tidak sadar, but they're like angels. They stay, they don't leave, no matter what. Thanks to all of you, family, Aul, Bella, Joe, and other angels.

Keempat, gue diingatkan bahwa setiap ciptaan Tuhan layak dicintai. Gue rasa gak salah kalau seseorang bilang cinta itu butuh pengorbanan. Because love does, butuh pengorbanan. Tapi pengorbanan, itu punya banyak banget cara. Gue sendiri gak paham gimana gue bisa menjelaskan apa yang ada dalam benak gue, tapi yang pasti, cinta yang butuh pengorbanan itu normal. Sayang sama seseorang itu seperti kita nutup mata, terus kita menjatuhkan diri ke arah orang yang kita sayang. Entah orang itu akan menghindar, atau nangkep kita, atau bahkan neriakin kita untuk gak menjatuhan diri... entahlah. Love is such a complicated thing to understand, but that"s what makes love is lovely.

Di tengah-tengah lamunan gue hari ini, sering kali gue teringat akan masa lalu gue. Mulai dari jaman gue masih belum sekolah, bikin tas derek pake troley belanjaan mainan yang diikat dengan tali rafia, dikejer-kejer satpam waktu TK gara-gara kabur, menganggap softex sebagai benda keramat waktu SD, jaman-jamannya High School Musical (yang gak tau Troy Bolton bearti cupu), masuk SMP, patah hati, jatuh hati, masuk SMA...

Hidup itu terlalu penuh dengan keajaiban.
Kita sebagai kapten, hidup gue sebagai pesawat, dan dunia, sebagai langit. We are the captain of our plane. Kita yang ambil alih, biarin Tuhan yang pegang semua itu.

Thank God for these magical 16 years, awesome angels around me, and cool dramas I play in life.
You guys are gr-ool (GReat and cOOL).

Jumat, 07 Maret 2014

Guru Kera & Teknologi

Gue sedang agak terhibur karena sekarang hp gue punya aplikasi blogger jadi gue bisa ngeblog dengan lebih mudah. Dasar gue dodol. Kenapa gak dari dulu gue instal blogger? 

Beberapa hari yang lalu, gue belajar sosiologi. Sambil bercakap-cakap dengan gurunya (Mr. Heri), dia membicarakan tentang bagaimana seseorang berubah. 

"Pada dasarnya, seseorang itu tidak akan pernah berubah. Sadar atau tidak, sebenarnya diri kita sendirilah yang merubah." 

Gue terdiam. 
Setelah sekian lama....
Gue akhirnya menemukan orang yang sepemikiran dengan gue. 

"Iya kan?" tanya guru tersebut sambil menengok ke arah gue. Gue hanya mengangguk sembari tersenyum. Iya kok, Sir. Iya banget...

Hidup gue adalah seperti sederetan momen dengan pelajaran hidup di setiap detiknya. Baik dalam hal senang, mau pun sedih. Baik dalam hal besar, mau pun hal yang sangat sederhana. Pagi ini, gue ingin sharing apa yang telah gue pelajari mengenai: Perubahan. 

Sering gak sih kita ngalamin perasaan seakan-akan seseorang itu berubah? 

Misalnya: Taylor Lautner tuh kenapa ya? Kok kayaknya dia berubah... Gak seperti yang gue kenal dulu. 

Itu sih emang Taylor udah gak demen sama lo. Taylor buat gue. 

Oke lanjut. 

Atau dalam kasus lain, ada beberapa dari kita yang punya motivasi untuk merubah karakter seseorang, supaya dia jadi lebih sesuai dengan harapan kita? 

Gue pernah ngalamin itu semua. (Which is kita semua pasti pernah) 

Benar apa yang Mr. Heri katakan. 
Pada dasarnya, seseorang itu tidak akan pernah berubah. Melainkan, diri kita sendiri yang merubah. Entah karna sudut pandang kita pada orang itu yang berubah, atau karna memang posisi kita untuk orang itu berubah. 

Seseorang pernah mengatakan pada gue bahwa gue berubah. Dia menginginkan gue yang dulu, & dia bilang harusnya gue kembali berubah. 

Ketika kita berfikir bahwa seseorang itu berubah, ada baiknya kita ngeliat diri kita sendiri. Kalau pun dia berubah, pasti dia berubah karna sebuah alasan kan? Baik alasan yang dia sadari, atau pun tidak. 

Dan cara paling ampuh agar dia tidak berubah adalah: jangan ganti pandangan lo pada dia, dan dia akan tetap sama. Dia hanya sesuai dengan pandangan lo akan dia. 

Kita mungkin pernah termotivasi untuk merubah seseorang agar dia jadi lebih baik, dalam kata lain agar dia sesuai dengan harapan kita. Well, itu gak akan pernah berjalan sukses. Kalau kita terus-terusan mengandalkan orang lain untuk berubah, yang ada justru kita malah tertekan. Setuju gak nih? 

Tapi...
Kita bisa merubah pandangan orang lain pada kita, dengan cara merubah pandangan kita pada orang tersebut. 

Spongebob menganggap Patrick adalah bintang laut otak kopong yang egois & cuma bisa nyusahin orang. Kemudian Spongebob merubah pandangannya akan Patrick. Spongebob mulai sadar bahwa dibalik kekopongan otak & egonya, Patrick adalah bintang laut yang sangat tegar. Patrick sudah mengalami banyak tekanan dalam hidup, tapi Patrick masih bertahan. 

Karena pandangan Spongebob yang berubah, perlakuan Spongebob pada Patrick secara tidak langsung berubah. Dan perubahan Spongebob tersebut, merubah pandangan Patrick akan Spongebob. Patrick memandang Spongebob seperti orang yang mengingatkan dia bahwa tidak semua hal  di dunia ini diciptakan sebagai tekanan. 

Begitu analoginya. 

So, people change, and that's normal I guess. Hidup akan selalu penuh dengan perbahan. Dengan perubahan-perubahan itu kita bisa paham di posisi manakah diri kita paling merasa nyaman. 

Berdasarkan toeri Darwin, nenek moyang kita adalah Pithecantropus erectus dan kawan-kawannya. Manusia kera berjalan tegak yang monyong & kepalanya besar. Tapi sekarang, kita modern human. Perubahan itu bikin kita menjadi lebih indah sekarang. 

Empat Rabi Jenaka

Gue hidup bersama banyak orang yang... mungkin otaknya sedikit sengklek seperti otak gue. 4 di antara mereka adalah; Iyo, Cika (@chikaanzalna), Marsha (@marshakanya), dan Zhafira (@zhafirasyachmi).

Mereka adalah 4 dari orang-orang yang membuat gue lupa akan kesedihan gue sementara. Mereka adalah pembakar kalori paling manjur dalam hidup gue. Baik dengan becandaanya mereka, tingkahnya mereka, atau cerita pengalaman mereka. Kadang mereka bikin gue mikir kalo... oh ternyata gue apes di dunia ini tidak sendirian.

Gue ingat suatu siang gue sedang pelajaran lintas minat paksa kimia, lalu kami membicarakan tentang susu sapi.
"Susu sapi bisa diminum langsung dari sapinya, sir?" tanya gue dengan pikiran agak sakau.
"Bisa sih, Vid. Tapi emangnya lo mau? Bayangin aja, tetek sapinya habis diremes-remes sama tangan mang-mangnya. Tangan mangnya kotor dan bau. Hii gue sih jijik" kata Cika sambil memeragakan gaya memeras.

Semenjak itu gue ilfeel liat sapi betina.

Gue juga jadi ingat ketika suatu hari gue berjalan dari kantin bareng Iyo. Karna habis makan, tangan Iyo kotor. Di tengan-tengan obrolan gue dengan Iyo, tiba-tiba Iyo menghampiri anak SD, naro tangan di punggung anak itu & bilang, "kemeja kamu lucu banget sih!". Artinya: iyo meret.

Gue ingat ketika suatu hari gue bersama Marsha dan Zhafira berjalan sambil ketawa-ketiwi ke ruang musik, mau jam pelajaran musik. Saat mau masuk, Marsha mendengar ada suara geduk-geduk drum. Menurutnya, bunyi itu mengganggu. Jadi Marsha dengan sewotnya buka pintu ruang musik & teriak, "IHH BERISIK TAU!!!"

Ternyata saat itu guru musik gue yang lagi main drum.

"Vid, lo siap first kiss gak?" tanya salah satu dari mereka suatu siang.
"Tau dah, siap kali" jawab gue peduli tidak peduli. Kami sempat mendiskuskannya, tapi waktu itu gue pikir itu gak penting dan mereka gak bakal menanggapi serius-serius amat. 

Suatu siang menjelang sore, gue sedang duduk di samping lapangan basket, nungguin Piglet latihan. Saat itu, Cika, Iyo, dan Marsha sedang ada di dekat situ, tapi gue gak lagi ngobrol sama mereka-mereke.

Piglet berlari ke arah gue, dan langsung duduk depan gue, berhadapan dengan gue. Di tengah-tengah kami yang mengobrol, tiba-tiba ada sebatang lipbalm jatuh di depan gue & depan Piglet. Seakan-akan lipbalmnya jatuh dari langit. Siapa lagi jika bukan Cika dan Iyo yang melemparkan lipbalm. Gue hanya bisa tersenyum malu sementara Piglet cekikikan menertawakan gue.

Suatu hari yang lain, gue dan Piglet mengobrol di depan kelas. Tiba-tiba Cika datang dan memberikan gue sesuatu. Karna gue sedang fokus pada Piglet, gue ambil saja barang Cika tersebut. Beberapa detik kemudian, gue sadar kalau yang Cika taro di tangan gue adalah... lipbalm. Lipbalm lagi.

Sampe sekarang, lipbalm-lipbalm itu masih sering kali tiba-tiba bertebaran dalam hari gue.

Cika memang expert dalam hal gituan.

Sadar atau tidak, mereka mengajarkan gue bahwa kadang gue harus berhenti menganggap hidup gue terlalu serius. Gue layak lepas dari berbagai stres. Gue berhak menertawakan setiap hal kecil dalam hidup gue. (Karna hal apa aja bisa kami tertawakan) Bukan berarti gue berhenti fight untuk kesuksesan gue. Gue hanya perlu... ingat bahwa di dunia ini banyak hal bodoh dan konyol yang ada untuk ditertawakan.

#SalamOtakSengklek

Gue dan Piglet

Setelah sekian lama gue gak ngeblog...

AKHIRNYA GUE BISA NGEBLOG LAGI. (which is h-2 mid semester)
Gue sendiri gak nyangka bakal sesibuk ini. Gak bisa setiap hari lagi nyantai-nyantai because tugas ini itu numpuk udah kayak perasaan yang dipendam berbulan-bulan. #ok

Jangankan buat ngeblog, buat ngelakuin kegiatan di luar sekolah aja udah seret kayak skinny jeans, gimana buat bisa bersantai ria begini?

Oke sebetulnya gue bener-bener gak tau harus mulai dari mana. TOO MANY THINGS HAPPENED IN MY DAYS THAT I HAVEN'T WRITTEN ON MY FREAKY DIARY.

*mikir mulai dari mana harus nulis*

Oh gue tau. Kita mulai dari sini aja:
Gue move on. 

Gue pernah bilag bahwa hidup dan moving on itu seperti kita yang menjadi seorang kapten pesawat. Kita jadi kaptennya, pesawat jadi hidup kita, dan dunia jadi langitnya. Kita bebas bawa pesawat kita kemana saja di langit luas, tanpa batasan. Ketika kita salah jalan, well, tenang aja karna langit itu luas & sejauh apa pun kita tersesat, kita masih di langit. Namun ada saatnya kita perlu berhenti sejenak mengisi bahan bakar (baca: mengisi hati kita yang mungkin kosong). Di fase inilah gue berada.

Pernah gak sih lo ketemu seseorang yang ketika lo melihat dia, lo seakan-akan melihat bayangan diri lo sendiri? Rasanya kayak ada sesuatu yang bikin lo dan dia connected. Lo sendiri pada awalnya tidak mengerti kenapa bisa gitu, tapi seiring berjalannya waktu, jembatan penghubung jiwa lo dan jiwa dia makin kuat?

Gue pernah.

Namanya...
Gue udah bener-bener kehabisan kata-kata buat ngasih nama orang lagi di blog gue.
Oke, kita panggil dia Andrew Garfield.

GAK. TERLALU KEREN.
Kita panggil dia... Piglet.

Gue ingat jelas pertama kali gue ketemu Piglet. MOS, Juli 2013.
Gue gak menceritakan bagaimana pertama kali gue melihat Piglet. Tapi hari itu, gue yakin gue melihat ada sesuatu dari diri Piglet yang membuat gue merasa... harapan itu ada. (Baca: charming guy)

80% dari hari-hari gue bersama Piglet adalah ketawa. Why? Because Piglet adalah laki-laki dengan gaya yang selangit, padahal ternyata orangnya... maco kok, maco (gitu lah ya).

Piglet adalah anak pindahan dari Texas yang balik ke kampung halaman (which is Indonesia) setelah tinggal 3 tahun di sono. So, dia menghabiskan masa dimana kata-kata keren muncul, yakni saat kita SMP.

Misal:

"Glet, kamu pernah ke KidZania gak?"
"Gak sih, tapi aku tau KidZania kok. Yang kayak Timezone itu kan?"

Gue pun pingsan.

"Itu PHP namanya..."
"PHP apaan sih? Pizza Hut Pelipery?"

Gue pun koma.

Secara tidak langsung, Piglet mengajarkan gue bahwa kita sebetulnya bisa merasakan sayang melalui kesederhanaan. Dia juga mengajarkan gue bahwa tantangan itu pasti ada & lagi nungguin kita di depan. Tapi kalo kita terus-terusan takut, gimana kita bisa bahagia dengan apa yang kita punya?

Piglet juga mengajarkan gue bahwa kadang gue harus percaya pada diri gue sendiri. Gue tidak bisa terus-terus menggantungkan diri gue pada perkataan orang lain. Orang lain juga manusia, omongannya gak akan 100% benar. Mereka ada agar gue befikir matang, bukan agar gue tidak percaya pada keyakinan gue.

Believe, and you're gonna have a magical day.

I'm glad Piglet came.
I thank God for the coming of Piglet in my life.

Lesson of the day:
Ketika lo berfikir bahwa seseorang itu charming... JANGAN LOSE HOPE. JANGAN.
Ketika lo bisa bermimpi akan sesuatu, maka sebenarnya sesuatu itu MUNGKIN SAJA TERJADI. Gue pernah ada di posisi dimana gue adalah Peter Parker, dan Piglet adalah Marry Jane. Yang perlu Peter lakukan hanyalah tetap menjadi dirinya sendiri, dan berharap agar sesuatu yang paling baik terjadi.

Ketika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, percayalah berarti kita mendapatkan yang terbaik. Ketika harapan datang, genggam dan jangan lepaskan begitu saja hanya karena waktu yang tak pendek. 

(p.s: Selamat tanggal 7<3)

Senin, 13 Januari 2014

Efek Stetoskop

Hai.

Ea sok cool.

HAAAAAAI!! OMG SETELAH SEKIAN LAMA AKHIRNYA GUE BISA BUKA BLOG LAGI. 

Oke, kali ini, gue beneran sibuk banget. Saking sibuknya, sampe-sampe gak bisa nyempetin diri buka blog. Gue punya banyaak banget hal buat dicatet di sini. Sayangnya, waktu gue gak banyak. Ini udah pagi & gue butuh tidur. Yeay!

Why am I still awake? Because gue baru saja selesai mengerjakan tugas chemistry, satu pelajaran lintas minat paksa yang terpaksa gue pilih karna ternyata, kita gak bisa ambil pelajaran IPA yang kita udah pilih di semester sebelumnya. Sedih...

Gue agak bersyukur gue memutuskan untuk pindah dari IPA (of course berkat Tuhan YME serta dukungan keluarga, teman-teman, guru-guru... oke ini udah kayak orang baru release album). Kenapa? Karena waktu itu gue sempat agak ingin stay di jurusan IPA karena bokap gue menyarankan gue untuk masuk sekolah kedokteran di kuliah nanti.

NAH, tugas chemistry yang baru aja kelar gue kerjain ini, disuruh mencari artikel tentang penerapan chemistry in health and medicine. Baru ngeliat foto stetoskop aja, gue udah mau pingsan (lo taukan gue cuma becanda?).

Gue gak lagi pengen cerita panjang lebar di momen ini.

Dari hari terakhir gue ngepost di blog hingga hari detik ini, sudah banyak sekali hal yang berubah. Gue sih paham. Hidup itu penuh dengan ups & down, juga penuh dengan perubahan. Dan nggak ada satu pun orang yang bisa kita salahin untuk perubahan-perubahan yang ada dalam hidup kita. Karna semua hal itu benar-benar indah pada waktunya...

Misalnya;

  1. Kalau dulu gue suka banget sama warna biru dan hitam, sekarang sudah tidak. Sekarang gue menyukai warna hijau, pink, kuning, biru, dan hitam. Aneh...
  2. Kucing gue, Jonah, udah hamil lagi. Mungkin ini ke-lima kalinya dia hamil. Padahal dia masih muda. Tapi kesiapan kehamilannya jauh lebih dewasa dari gue ya...
  3. Mama Iki (please read my older post to know what who is Mama Iki) udah gak rutin dateng setiap hari ke rumah gue. Sekarang hanya datang di hari tertentu gara-gara... I'll tell you later. 
  4. PAPA IKI SEKARANG BOTAK. 
  5. Dan masih sangat banyak perubahan lain. 
Lesson to learn; Perubahan itu normal dan baik-baik saja, tentunya asal ke arah yang baik dan tanpa ada penyimpangan. Manusia yang berubah itu normal. Bayangin, gimana kita bisa tahu rasanya jadi sesuatu yang lain kalau kita gak pernah mencobanya dengan berani merubah & ambil resiko? 


Lesson to learn; Belakangan ini gue belajar kalau happy things come unexpectedly, atau bisa dibilang sesuatu indah tepat pada waktu yang indah. Oke. Jadi waktu yang indah, itu unexpected? Bener juga sih. Siapa sih yang tau hal indah yang akan datang selain Tuhan? Yang kita perlu lakuin itu cuma usaha, berharap, pasrah sama Tuhan, & bersabar. Kalau kesampean ya syukur-alhamdulilah-haleluya, kalau gak kesampean ya... God is preparing the better one for you.

Jadi, kalau misalnya seseorang yang lo pernah suka (A) secara tiba-tiba datang ketika lo udah move on ke orang lain (B) (padahal lo move on-nya dari A karna A gak pernah merespon lo), berarti itulah yang paling indah. Mungkin lo seharusnya abaikan saja si A karna A datang di saat itu supaya tau rasa gimana rasanya tidak direspon.

oke itu agak pusing bacanya.

Lesson to learn; "Seburuk-buruknya hal, pasti akan datang hal baik setelah itu. Misalnya, kemaren gue disuruh ikut pergi sama nyokap. Pulangnya malem banget, padahal besoknya ulangan biologi. Gue udah panik tuh, Vid. Gue langsung aja berdoa sama Allah. Eh, besoknya ulangan biologinya di-cancel. Blessed banget kan? Jadi, yang perlu kita lakuin cuma bersabar dan bersabar kok, Vid!" -Jubaidah Bin Hon-Hon.

Lesson to learn; "Semua yang diciptakan oleh Tuhan itu indah dan layak dicintai." -Siapa ya? Siapa hayo?

Minggu, 13 Oktober 2013

Sisi Komersil Nobita

Sekarat adalah ketika udah  hampir seminggu gak buka blog & viewers belum bertambah lagi. 

Tapi tenang saja. I still have a lot of other things to be grateful for. Misalnya, gue masih diberikan kesempatan untuk menemui bebek cabe ijo tercinta. (baca : gue adalah penggemar berat kelas kakap bunting dari sushi, masakan dari bebek, serta masakan padang)

Seharusnya, tepat di detik ini gue sudah berhadapan dengan microsoft word dan mengerjakan tugas bahasa Indonesia gue, yakni membuat cerpen. Jujur, gue cukup excited dengan tugas ini. Sayangnya, ide cerita gue masih arak - arakan jadi lebih baik gue bernafas (baca : ngeblog) dulu sekarang.

"Pergi ke gereja setiap hari Minggu itu layaknya nge-charge tubuh, jiwa, & roh kita. Setelah seminggu ngehadepin banyak hal ruwet, kita kembali pada Tuhan untuk isi power. Dimana power itu kita pake lagi untuk hari - hari berikutnya. Supaya setiap kita jatuh, kita ingat bahwa Tuhan menjaga kita."

Itu salah satu hal yang gue pelajarin di kelas katekisasi gue hari ini. Gue setuju banget, man. Rasanya gue baru aja dikasih pencerahan. Apa lagi setelah gue mengehadapi minggu yang sangat melelahkan ini. Gak ada yang namanya free day. Sebebas - bebasnya, paling cepet pulang jam 4 sore. Itu juga sampe rumah langsung sibuk lagi. Sampe hari Sabtu aja, gue masih pegel - pegel. Capek kan?

Tapi ada satu hal yang bikin gue bangkit lagi. (bukan minuman yang mottonya "bikin semangat kamu bangkit lagi") Gue mungkin dikelilingin banyak masalah. Dan harus gue akuin, sampe sekarang gue gak tau gimana caranya bisa keluar dari masalah - masalah itu. Nginget - nginget masalah rempong itu bikin gue pengen pasang sticker orang sempoyongan yang ada di Line.

Back to satu hal yang bikin semangat gue bangkit lagi.

Gue rasa, gue punya jauh lebih banyak hal untuk disyukuri dari pada untuk ditangisi. Karna hal - hal yang mungkin bikin kita nangis, ujung - ujjungnya juga akan disyukuri. (Now Playing : Sang Mantan - Nidji) So, gue rasa yang perlu gue lakukan hanyalah bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Karna apa pun yang terjadi, God gives it for a reason, which is He is preparing the best for us.

Gimana kalo masalah yang kita alamin berat banget, sampe - sampe kita gak tau apa yang harus kita syukurin?

Gini ;

  1. Stop apa pun itu yang lagi lo kerjain. Entah nangis, jambak - jambak rambut, ngepel, nyuci piring, atau keramas... Whatever, stop dulu. 
  2. Tarik nafas dalem - dalem. 
  3. Buang nafasnya pelan - pelan. 
  4. Taro tangan lo di dada sebelah kiri. 
  5. Pikirin baik - baik tentang hal nggak jelas apa yang sedang lo lakukan, yakni nahan - nahan nafas karna harus nafas pelan - pelan, sambil megangin dada. 
  6. Yap, lo berhasil. Lo baru saja menemukan hal apa yang wajib lo syukurin ; Tuhan masih ngasih lo kesempatan untuk nafas & punya detak jantung.
  7. Kalau lo sudah ingat alasan untuk bisa bersyukur & udah ngerasa lebih tenang, cek sekeliling lo. 
  8. Kalo orang - orang sekitar ngeliatin lo, berarti reputasi lo agak jatuh. Mungkin lo dianggap gangguan jiwa. 
  9. Jangan depresi lagi karna lo dianggap punya gangguan jiwa. 
  10. Lanjutin pekerjaan lo & pasang tampang sok cool. 
  11. Kalo ada yang tanya apa yang baru saja lo lakukan, suruh dia visit blog ini http://vidwithafreakydiary.blogspot.com 
So, gue rasa beragam masalah yang sedang tertawa mengelilingi gue sedang ada di klimaks bahagianya sekarang. Tapi no problem, gue punya banyak hal untuk disyukurin, yang setia menemani gue baik dalam tawa, mau pun tangis. 

(p.s : tolong doain gue supaya apa yang baru aja gue tulis bisa gue inget - inget terus. Supaya kalo suatu hari gue sedih, gue punya penghiburan. Dan kalau suatu hari lo sedih, lo juga punya penghiburan.)
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review