Jumat, 20 September 2013

Mayday Friday (Eh, Mayday tuh apa ya?)

Dear diary,

Stress adalah ketika internet lo udah di akhir bulan, me-lemot, dan lama - lama tamat.
Stress adalah ketika lo ada di H-1 lomba speech.
Stress adalah kalau lo harus ngerjain test english bersama kelas ald#er, dimana orangnya ngelawak terus & lo jadi gak bisa konsen selama ngerjain.

Tapi gue gak lagi pengen cerita soal itu.

Waktu gue SD, gue pernah naksir sama kakak kelas, namanya... sebut aja Dora. (DIA COWOK KOK)
Dora baik banget sama gue. Dora sering nge-greet gue lewat SMS, menanyakan kabar gue & ngajak ngobrol banyak hal. Gue dan Dora sering ditugaskan alam banyak acara bersama - sama. Yang pasti, Dora itu jago banget soal musik. Dora adalah kakak teman gue. Saat dia SMP, dia pindah sekolah, & gue berhenti SMS-an. Dia lenyap gitu aja.

Sekarang gue gak ngerti kenapa gue pernah suka Dora.

Baru - baru ini, guru musik gue merencanakan agar gue dan teman - teman gue ikut lomba musik di suatu sekolah. Pastinya gue iya-in. Gue meng-iyakan sebelum gue lihat invitation lombanya. Gue ulang. Gue meng-iyakan sebelum gue lihat invitation lombanya.

Suatu siang, guru gue mengajak gue & teman - teman gue meeting untuk ngomongin lomba musik ini. Setelah ngobrol - ngobrol, barulah gue cek surat undangannya.

Gue baca invitation dari halaman paling belakang.
Sampai akhirnya, gue tiba di halaman pertama, mengecek judul surat, dan melihat nama tercantum di samping CP (Contact Person). Nama? Dora...

"DEMI APA INI SI DORA CP-NYA?!" teriak gue shock.
Teman - teman gue tidak paham apa yang terjadi. Tentunya tidak.

Jangan sampai mereka paham. Kalau sampai mereka paham dan mendapati gue bertemu Dora, reputasi gue di SMA bisa hancur berkeping - keping.

Kalo gitu kenapa gue post di blog.

#mabok #mati #BukanInstagram #BukanHidayah

Btw, gue sedang agak nervous karna (percaya tidak percaya) besok gue lomba speech.
Gue tidak tau bakal jadi apa gue nanti, tapi gue benar - benar berpasrah kepada Yang Maha Esa soal ini.

WISH ME LUCK. YOUR LOVE MEANS A LOT.

Udah kayak mau Hunger Games.

Senin, 16 September 2013

Week of Sempoyongan

Beberapa hari sebelum ujian tengah semester. 

It's been a very very very busy week.  I got a lot of things to do. 

Percaya atau enggak, gue dipercayakan untuk mewakili sekolah gue mengikuti sebuah lomba debat di SMA favorit Jakarta, tentunya bersama beberapa teman gue. Jujur saja, apa yang ada di benak gue bukanlah piala seperti apa yang akan gue bawa pulang, melainkan mau jadi tempe jenis apa gue di sana. Tempe bacem, tempe kering, atau tempe mendoan? Belum lagi, pihak sekolah gue belum dikasih materi debat di H-4 lomba debat. MAU JADI APA GUE?!!

+ di hari dimana gue merencanakan lomba debat, gue diundang mengikuti show choir di sebuah mall. 
+ di hari Minggu, gue diundang mengisi acara dengan bernyanyi dalam sebuah band yang sangat... keren. 

Dengan dorongan teman - teman gue yang sangat setia, akhirnya gue pun mulai menanamkan optimisme dalam lubuk hati gue. Gue yang awalnya loyo - loyo, jadi lumayan bersamangat untuk debat. Gue jadi beraura positif. Gue bahkan sempat memotivasi rekan debat gue, Gusti & Marsha untuk mau ikut lomba debat. 

"Kalah bukan masalah, yang penting tambah pengalaman!" sahut gue sambil mengepalkan tangan. 

Dasar nasip. Lomba debat ditunda, & gak tau kapan bakal diadain lagi. 

Okay. Next plan on saturday : perform choir di Mall Artha Gading. 

Dilatarbelakangi jam tidur yang berantakan, kurang istirahat, makan tidak teratur, minum es & makan gorengan sembarangan, GUE FLU BERAT di H-1 konser choir. Perform choir hari Sabtu, & di hari Jumat, suara gue ilang. Bener - bener ilang. Bahkan susah buat bisik - bisik. Ditambah lagi, gue mengalami sakit kepala akut seperti bagaimana gue kalau flu berat biasanya. 

Gue udah nyiapin mental buat mengundurkan diri dari choir & band. TAPI GUE TAKUT GURU CHOIR & GURU BAND GUE FRUSTASI. Gue hanya bisa berdoa agar keajaiban terjadi & suara gue kembali di hari Sabtu & Minggu. Dasar gue dodol. 

Hari Sabtu tiba. 
Bersama Bella & kawan - kawan lainnya gue berangkat ke MAG. HALELUYA, PRAISE THE LORD, JESUS'S GREAT, GUE BISA BERNYANYI WALAU PUN BERANTAKAN...
But that was still fun, because my choir friends are all great, so does Mr. Kay as my choir instructor. + having my supercool "malam minggu" with Bella after choir. 

Sunday - Sunnyday - band-day!
Okay. Hari dimana gue akan perform bersama beberapa teman super keren, termasuk Bella. Honestly, gue cukup excited untuk Minggu ini. Latihan yang udah kita jalanin bisa dibilang gak gampang & gak sedikit. Hopefully, kita bisa perform maksimal hari ini & have fun as much as we can. 

Sayangnya takdir berkata lain. Bella gak bisa ikut karna ada halangan yang... 

Pokoknya be patient & stay strong, Bell. Remember you'll always have me & Aulia near, by your side no matter what. I know you're a very strong & faithful girl. God loves & God's with you in every step you take. 
With love and hundreds of hug,
Vidya & Aulia

Harus gue akui...
Perform band kemaren itu seru. Banget.
Bawain lagu - lagu yang gue sendiri suka, + perform bareng temen - temen (yang harus gue akuin walau pun gengsi) super fun & super sabar. (baca : Gusti, Shena, Fathia, Ferdi, Farel, Divo, Euygun) 
Satu yang dibiasakan dalam diri gue sejak gue lahir adalah, gue menabrak kesalahan yang gue lakuin. Jadi, setiap ada kesalahan dalam perform, gue dan teman - teman gue akan bersikap seperti semua baik - baik saja. Seperti kesalahan itu memang terencana dalam skenario gue & teman - teman gue. You guys + Mr. Robi as our band's instructor are all cool. Damn, cool. 

Though that sunday band-day was great, it wasn't as cool as what I expected. My best friend wasn't there. But trust me, I brought you in my mind & in my heart wherever I went all day long@>--


Sabtu, 07 September 2013

Captain of The Plane

Seperti apa yang gue bilang di post sebelumya, banyak hal sudah berubah.
#nowplaying : Tahu Diri - Maudy Ayunda

Gue rasa gue mulai paham apa itu move on.

Kalo kalian mikir "Masa lalu gue brengsek. Gue benci dia. Gue gak akan mau liat dia lagi.", itu berarti kalian belum move on.

Gue pernah ada di fase itu.

Move on akan membawa lo berfikir bahwa hidup itu gak selalu menang.

Prinsip move on itu kayak jadi pilot pesawat terbang.
Kita jadi pilotnya, pesawat jadi hidup kita, & angkasa jadi nasip.

Kadang lo harus duduk di posisi pilot hidup lo, & bikin semuanya terkontrol. Lo sendiri yang harus puter stir lo ke arah yang bikin lo bahagia. Kalo lo tersesat? Salah jalan? Kita kan ada di angkasa. Angkasa itu luas. Gak ada macet, gak ada yang ngehalangin. Use the map with the power of God, dan kita akan selamat sampai di tujuan bahagia kita.

Tunggu. Pesawat ada stirnya kan?

Kalo kita move on, kita akan berfikir bahwa masa lalu kita indah, bukan brengsek. Kita tidak akan bilang "Gue gak mau liat dia lagi.". Kita akan bilang "Gue tidak akan membuang masa lalu gue. Gue akan menjadikan masa lalu gue sebagai pelajaran."

Itu adalah fase terindah...

Next phase : Move In. 

Move in itu kayak ketika lo ngantuk & pesawat lo butuh bahan bakar. Lo butuh transit somewhere, right? dimana pun lo transit, you'll be fine. Asal lo gak transit di pulau angker.

Ini adalah fase yang membuat lo merasa seakan - akan lo sedang berlari bahagia di taman penuh bunga, di bawah sinar matahari yang anget, tapi gak panas. Sambil kena sepoi - sepoi angin. Sambil mendendangkan lagu bahagia. Sambil makan KitKat & KinderJoy...

#nowplaying : Dia - Maliq & D'Essentials

Di sini lo bisa ngakuin kalo seseorang itu cool, padahal menurut orang lain sih biasa aja.
Lo akan melihat video dia, atau ngestalk instagram dia, ato ngestalk facebook dia sambil cekikikan, padahal gak lucu. Lo tau kenapa gue cekikan? karna gue nge-fly.

Harus gue akuin, fase ini cukup susah. Kita harus bisa ngebuka hati. Harus bisa ngeliat sesuatu dari sisi positifnya. Harus bisa berfikir bahwa mencoba itu udah selayaknya dilakukan. Because however, pengalaman itu berarti buat hidup kita.

Gue mencoba prinsip itu. Gue mencoba - coba, membuka hati... & terbawa hembusan jatuh cinta.

PROK PROK PROK.

Jumat, 06 September 2013

Gue dan Kelas Sosial

Lama gak nge-post, banyak hal sudah berubah.

Belakangan ini, hari - hari gue rasanya capek banget. Tidak ada hari tanpa ulangan & tugas (itu sih temen - temen gue juga ya). Rasanya waktu pagi sampe sore my days gets so full of sun shine (cerah). Tapi mulai di atas jam 6 sore, becoming full of clouds (berawan).

Udah lebih dari sebulan gue di kelas IPS. Gak belajar kimia lagi, gak belajar fisika & matematika sebanyak waktu gue masih di IPA & belom pindah ke IPS. Adaptasi lagi, kayak cari oksigen baru buat dihirup, kayak beruang yang yari tanah paling nyaman buat dipake tidur... (EMANG ADA?)

Harus gue akui, kelas IPS itu... GAK GAMPANG.
Soal hitung - hitungan, mungkin cara belajar kita gak secepet di kelas IPA. Tapi soal main - main dengan essay? SEKALI BIKIN ESSAY 10 LEMBAR. Please. Gue ngalamin gimana rasanya belajar itung - itungan tiap hari & belajar ber-opini dan membuka wawasan tiap hari. Dan hasilnya?

Haleluya. Puji Tuhan. Praise the Lord. Jesus's Great.

Jujur sejauh gue agak lebih nyaman di IPS...

+ gue berada di dalam ruang lingkup baru, yakni kelas gue.
(Iyo minta gue nge-post tentang dia sendiri dan kelas baru gue)

Ngomong - ngomong soal Iyo.

Gue kenal Iyo semenjak gue masuk SMP. Gue sering cerita ke dia sampe sekarang.
Harus gue akuin, Iyo itu kalo ngasih komentar sadis banget. Tapi realistis. Misal...

"Vid, lo gak bisa bego banget gitu dong. Sampe kapan lo mau ngebanding - bandingin kesempatan baru lo sama masa lalu lo?"

Iyo pernah bilang gitu gak sih...

Bisa dibilang, Iyo berperan besar dalam upaya gue moving on. Iyo sangat men-support gue dengan komentar - komentarnya yang dalem, tapi realistis.

Iyo bercita - cita jadi aktor. (Gue liat tulisan dia waktu hari pertama jadi anak baru di IPS) Easy, Yo. Gue support lo forever. FOREVER. Menurut gue, Iyo benar - benar berpotensi jadi aktor. Harus gue akui walau pun agak gengsi.

Bisa dibilang, Iyo adalah salah satu mood-booster terbaik dalam hidup gue. Bukan karna dia ahli dalam merangkai kata, melainkan karna dia ahli dalam mempermalukan diri dia sendiri.

Back to pengalaman gue di kelas baru.

Belajar IPS bareng mereka - mereka semua bisa dibilang cukup menyenangkan. No day without laughs, without fun. Gue dibikin ngakak setiap hari. Bahkan gue pernah dibikin ngakak sampe pengen muntah.

Apa yang bikin gue ngakak?

Honestly, harus gue akui bahwa gue sekelas dengan orang - orang PALING MAHIR dalam bergosip. Ada aja yang mereka tau, ada aja yang mereka kenal. Apa bagian lucunya? Cara mereka bergosip, beda sama gosip orang - orang biasanya. Biasanya, orang bergosip menceritakan apa yang objek gosip itu alamin. Tapi kelas gue, ngebahas orang - orang yang populer digosipin DENGAN IMAJINASI KITA SENDIRI.

Misal, ada 1 orang yang ngeksis di kalangan pegosip. Everyone knows him. If anyone doesn't know how he's like, seenggaknya dia pasti tau objek gosip ini siapa.

Di kelas gue, bahan gosip ini malah jadi bahan lawakan. Dia (bisa dibilang) jadi trending topic. Teman - teman di kelas gue menganggap dia pahlawan. Menjadikan dia penyelamat. Membuat gerakan - gerakan yang membanggakan orang ini. Bayanginnya aja gue ngakak...

Because of gue adalah salah satu dari mereka yang suka bergosip, gue ngerasa nyaman.

They're good in making jokes. I mean... SERIOUSLY THEY'RE SO DAMN GOOD IN MAKING JOKES.

Gue ceritain tentang Iki, nyokap Iki, dan papa Iki ke temen - temen sekelas gue.
EH MALAH DIJADIIN BAHAN GOSIP TERIMPROVISASI.

"Eh gimana kabar supir lo yang kumisnya hot + sepaket dengan bulu dada?"

"Sepaket dengan bulu dada? Nyambung gitu dong kumis & bulu dadanya?"

"Iya gitu kali ya. Bisa dijadiin gitar gitu kalo lagi bosen..." *meragain gaya orang petik senar*

"Itu harpa kali..."

Kelas gue sangat berhobi bermain uno. Setiap permainan, selalu ada satu orang yang di-bully, dimana dia tidak punya kartu ber-+2, atau ber-+4. Sehingga sang korban harus mengambil kartu... minimal 18 biji.

Saking sadis permainan UNOnya, kelas gue menulis peraturan berbunyi "Birch selalu kompak, kecuali saat bermain UNO."

Kelas gue tidak takut bermain Truth or Dare. Begitu pula gue.
Pernah suatu hari kita main Truth or Dare. Cowok - cowok di kelas gue ditantang untuk twerking.

Gak tau apa itu twerking? Cari di youtube.

Tanpa disangka, ternyata mereka beneran jago twerking.

Gue percaya semua terjadi untuk sebuah alasan. Gue juga percaya apa pun yang ada sekarang, itu dibawah kendali Raja Segala Raja. Gue bersyukur pernah ngerasain masuk IPA & mendapat support non-stop dari teman - teman gue tersayang buat optimis di IPS. You guys are great<3

Dan gue bersyukur untuk apa yang ada pada gue saat ini. Termasuk bisa ngerasain indahnya moving on.

Gimana, Yo? Post gue bagus gak?

Please. Jangan nge-post tentang gue di blog lo & cuma nulis "you suck.".

Jumat, 09 Agustus 2013

Bakat-Terlalu-Terpendam (Sulit Digali)

Berhubung Iyel (Adik gue yang tidak gue akui) sedang atit SAKIT, gue jadi pengen cerita soal bakat terpendam gue : membaca kesehatan.

Gue itu punya pengelihatan khusus.

BUKAN INDIGO. BUKAN INDRA KE-6. BUKAN LIAT YANG BEGITU.

Gue bisa mengetahui seseorang lagi sakit atau enggak, hanya dengan melihat. Jadi, lo gak bisa belagak okay di depan gue kalo lagi gak enak badan.

Menurut bokap gue, kemampuan gue itu adalah suatu bakat berharga. Pemberian Tuhan YME. Karena gak semua orang bisa ngelihat seseorang itu lagi sakit atau enggak.

Misal :

Pernah suatu hari gue baru bangun, gue langsung turun ke lantai bawah & mendapati Iyel sedang nonton TV sambil duduk di sofa. (ya iyalah masa sambil nangkring) Gue memandang Iyel tajam. Iyel tidak bekutil BERKUTIK. Iyel mulai risih. Gue langsung menyahut, "KAMU ATIT YA?!". Iyel menjawab, "Sakit? ENGGAK!". Gue tidak mempercayai jawabannya.

Persis seperti yang gue duga, sorenya Iyel demam.

Gue jadi pengen cerita soal kejadian aneh di komplek rumah gue :
Pernah suatu hari, mbak gue (Mbak Siti, tapi minta dipanggil Cindy, tanpa "mbak") sakit. Dia demam, muntah - muntah, & pusing sampe oleng - oleng kalau berdiri. Melihat itu, mama gue curiga. Cindy dilarikan ke rumah sakit & alhasil : dia tifus.

Malam setelah Cindy ke rumah sakit, Iyel mengalami demam, pusing, & gejala lain yang sama dengan Cindy. Mama & Popop gue khawatir Iyel mengalami hal yang sama dengan Cindy. 2 hari kemudian, Iyel dilarikan ke rumah sakit. Alhasil : Dia juga tifus.

Sehari setelah Iyel dilarikan ke rumah sakit, bokap gue mengalami hal yang sama. Yakni demam, pusing, & mual. Mama gue sudah gondok. Akhirnya, bokap gue dilarikan ke rumah sakit.

Malam setelah bokap gue masuk rumah sakit, Mama gue mengalami hal yang mirip...

GUE KOK AMAN...

Besoknya gue mengobrol dengan tetangga - tetangga gue. INI ANEH : Ternyata keluarga tetangga - tetangga gue juga pada kena tifus. Sama seperti keluarga gue, mereka sekeluarga dirawat di rumah sakit.

Tinggal sisa gue...

Waktu itu, gue baru aja nyelesain ujian akhir kelas 8 & lagi sibuk - sibuknya having fun. Kita lagi menghabiskan waktu - waktu akhir kia di kelas 8 sebelum disambut UN kelas 9. Gue jadi nongkrong sana - sini, main sana - sini, ngumpul sana - sini. Pulang sampe rumah, home alone. Kenapa? Karna semua orang di rumah gue MENGINAP di rumah sakit.

Seminggu kemudian, keluarga & tetangga gue sehat kembali & pulang ke rumahnya masing - masing. Gue cukup bersyukur.

"Oh semuanya udah pada sembuh ya... Kayaknya gue aman nih..."

Beberapa hari kemudian, gue mengalami gejala yang aneh. Gue demam berat, muntah - muntah & susah berdiri. Setiap berdiri, rasanya kayak gak bisa stabil. Berasa main tornado di atas kora - kora di dalem rumah miring. COMBO KAN?!

Beberapa hari kemudian dokter menyatakan gue db.

Sebetulnya gue agak bingung. Keluarga & banyak tetangga gue sakitnya tifus. Kenapa gue dapetnya db. Ini dateng dari mana. Siapa yang nularin ke gue. Aneh - aneh aja nih emang...

DB itu bikin lo gak bisa nikmatin betapa enaknya oreo pake susu, atau sushi, atau silver queen almond. SEMUA MAKANAN JADI GAK ENAK + SUNTIK SUNTIK TIAP HARI BUAT BLOOD TEST + GATEL - GATEL.

Dear those who ever got this disease ; GUE BENER KAN?!!

UPS. GUE BELUM SELESAI.
A good thing is :

Di saat dimana trombosit lo mulai naik lagi, dokter akan menganjurkan lo buat makan & minum. TERSERAH MAKANAN APA AJA. POKOKNYA BANYAK MAKAN + BANYAK MINUM.

Demi keselamatan gue, bokap gue rela membeli burger king, mcd, oreo, susu, donat j.co, dan banyak makanan enak setiap pulang kantor.

Tidak masalah buat gue menghabiskan hari - hari sendirian di rumah sakit. Karna yang perlu gue lakukan cuma : Tidur, makan, minum, chatting, makan, tidur, nonton film spesial liburan (waktu itu udah liburan).

However, gue benci semua yang berhubungan dengan anatomi.
Gue tidak pernah melek setiap cabut gigi. Gue merem setiap disuntik. Gue pingsan waktu pasang infus.

Really wish those kinds of thing NEVER - EVER - EVER - EVER - HAPPEN AGAIN.

Dear friends, GUE BENER KAN?!

INI INTINYA. JANGAN DI-SKIP! INI BAGIAN PALING PENTING : 
Kembali ke bakat terpendam gue.

Melihat bakat terpendam gue, bokap gue jadi gak berhenti - berhentinya bilang ke gue kalau mungkin gue punya bakat jadi dokter. PLEASE BANGET. Cabut gigi aja gue merem, masa jadi dokter? Liat kodok di depan pagar, mending gue gak ke luar rumah! YANG KAYAK GINI?! DOKTER?!! *mati*

Keberanian gue akan film horor setipis tempe, tapi gue tidak takut nonton Final Destination. Gue nonton Final Destination tanpa ekspresi. Beda sama Aulia, pingsan setiap nonton Final Destination.
Melihat keberanian gue, bokap gue jadi tidak berhenti berfikir bahwa gue ada potensi jadi dokter.

Kalau pun gue berpotensi...
Bagaimana kalau gue gak cocok? Bagaimana kalau gue gak suka?

Gue terus - terusan mengingatkan diri gue sendiri bahwa :
Pendapat orang tidak selalu benar kan? Itu cuma pendapat, bukan fakta. Dimana kita bisa dapet fakta? Di diri kita sendiri. Di dalam apa yang kita yakini. However, gue harus buat keputusan. Gue tidak bisa selamanya diombang - ambing. Kalau pun pilihan gue ini akan sulit dijalanin, bukankah Tuhan akan tetap menjaga gue? 

Selasa, 06 Agustus 2013

Manisan Kenangan

Hari ini, gue baru saja kumpul bersama keluarga gue. Seperti tradisi keluarga gue biasanya, mereka akan dengan hot-nya ngobrol tentang masa kecil gue yang katanya lucu. Padahal gue bingung bagian mananya yang lucu, karna menurut gue hal - hal itu memalukan.

Setiap mereka bahas masa kecil gue, mereka selalu tertawa terbahak - bahak. Sebetulnya gue juga ikut ketawa sih saking gelinya. 

Maka dari itu, gue pengen share apa yang mama gue bilang tentang masa kecil gue, barangkali bisa jadi hiburan. Jadi, kata mama gue... 

  • Gue sangat terobsesi oleh Sherina dari film Petualangan Sherina. 
Jaman gue kecil sekecil upil, film Petualngan Sherina itu ngehitz banget. Bahkan ngehitz dalam benak gue. Gue sangat mengidolakan Sherina dan keberaniannya. Gue mengikuti gaya - gaya Sherina seperti ; bawa ransel kemana mana isi coklat cha - cha dalam tupperware, makan coklat cha - cha sambil senderan di pohon, mengendap - ngedap layaknya sembunyi di rumah penculik, naik - naik kursi seolah - olah Sherina yang memanjat pohon, dan lain - lain. Gue sering secara tiba - tiba teriak : "SADAM! AWAS!!" sama seperti Sherina memanggil Sadam dalam filmnya. 

  • Gue adalah anak yang sangat ramah, seperti menyapa Pak Hendro (tetangga depan rumah gue).
Pernah suatu hari gue main sepeda di garasi rumah bersama mbak gue (Mbak Ati. Eits, jangan makan ati... APA SIH). Menjelang sore, Pak Hendro tiba di rumahnya, baru pulang kerja. Gue dengan sok asyiknya nyapa Pak Hendro dan bilang, "Hai, Pak! Baru pulang nih?". Kalau itu terjadi saat gue umur 15 tahun, itu normal. Masalahnya... waktu itu gue umur 2 tahun.

  • Gue tidak bisa mengucapkan kata "OLAHRAGA". 
Gue juga kurang paham apa susahnya bilang "olahaga". Dulu (sampai usia sekitar 5 tahun) gue mengucapkan kata "olahraga" dengan "HORARAGA". Sebetulnya gue agak malu... Tapi sudahlah. Kan sekarang gue udah bisa ngomong "olahraga" dengan becus. Ya gak? (Jangan - jangan enggak...)

  • Gue sering kali mengalami sleep-walking. 
Bisa dibilang sleep-walking gue agak berlebihan. GUE INGET BANGET KEJADIAN INI : Gue mimpi ngejatuhin gelas, numpahin air ke lantai, & ngelap airnya dengan kain lap dikosek - kosek pake kaki. Besok paginya gue bangun & bokap gue menjelaskan bahwa semalam, gue menjatuhkan kain lap di muka bokap gue yang tengah bersantai di karpet, & mengosek - ngosek kain lap tersebut dengan kaki gue... di atas muka bokap gue. Ampuni gue, Pop...
  • Gue mengaggap bibi gue (Auntie Egi) layaknya teman gue. 
Gue juga kurang paham kenapa bisa begini. Waktu gue umur 3 tahun, gue sangat - sangat - sangat terobsesi dengan barbie. Gue bermain barbie setiap hari, setiap detik. Auntie Egi yang waktu itu belum berkeluarga sering kali bermain bersama gue. Dengan se-enak-jidat-nya, gue memperlakukan Auntie Egi seperti teman sepantaran. "Egi! Tolong sisirin barbie aku dong!". Bersyukur, Auntie Egi tidak dendam & tidak memusuhi gue hingga detik ini. 

  • Gue sangat ingin punya tas derek. (Itu loh, tas sekolah anak SD yang ada rodanya dan bisa ditarik - tarik anywhere...)
Sayangnya waktu gue TK gue belum butuh barang begituan. Mama gue tidak sudi membelikan gue tas derek. Jadi, dengan berat hati gue membuat tas derek MURNI karya gue sendiri. Berbahan dasar kereta belanja mini hadiah ulag tahun dari bokap + tali rafia digulung - gulung. Jadilah tas derek pertama gue. However, gue sayang banget sama barang aneh itu. Gue bawa keranjang belanjaan beserta tali rafianya kemana pun gue pergi. Freak abis...



KERANJANG BELANJAAN HADIAH ULANG TAHUN DARI BOKAP
+

TALI RAFIA




=
TAS DEREK
                                                                                  

Gue rasa cerita gue udah cukup memalukan. Honestly, gue masih punya banyak banget kejadian epic waktu gue masih kecil, sekecil upil. But I guess I'm done for now. Punggung gue kangen kasur. 

Goodnight, geez. Xoxo. 

xoxo tuh apa sih?
          

Malam dengan Jidat Berkerut (Membanteng = Bullying)

Gue tidak menyangka ada orang yang menyempatkan sedikit dari waktunya untuk :
KOMENTAR DI BLOG INI.

Gue juga bingung harus bilang makasih untuk compliment, atau untuk waktunya. Pokoknya thanks a lot for you, & all of you yang mau liat blog ini. You guys are great<3

So, 00.10. Menit - menit sebelum gue menutup mata (BUKAN KO'ID) dan terlelap dalam alam mimpi gue yang absurd. Terinspirasi dari cerita seorang rekan gue, gue jadi pengen bahas soal satu topik yang ngehits dimana - mana ; Bullying.

"Aduh, Vid. Di sekolah gue tuh yang namanya bullying bukan kayak di film - film. Bukan secara fisik dan bukan labrak - labrakan. Di sekolah gue, yang namanya bullying itu ngejelek - jelekin orang dari belakang. Dan ujungnya, orang yang dijelek - jelekkin itu bakal dijauhin.", jelas teman gue dari sekolah (X-Y)(X+Y). (Itu sensor apa soal matematika?)

Baru dengar bagian itu, rasanya gue udah mau meledak. Sampai gue mendengar bagian...

"Dan temen lo itu jadi bahan omongan mereka."

Gue meletus.

Gue paling gondok sama hal - hal semacam bullying. Apa yang bisa kita banggain dari bullying? Apa kita bakal bahagia dengan bikin orang lain tertekan? Apa dengan orang lain tertekan kita jadi sukses di masa depan? Apa dengan orang lain tertekan kita akan dapat uang segudang? Apa mungkin dengan orang lain tertekan dunia bakal memandang kita tinggi & muka kita menggambarkan kebahagiaan?

Kalau anda pikir begitu, anda tersesat. Dunia justru akan memandang anda rendah, & emotion-icon anda akan menggambarkan ke-madesu-an.

Mendengar teman gue jadi bahan omongan buruk di sekolahnya cukup bikin gue emosi.
Mungkin gue memang tidak punya banyak hak untuk ikut campur. Tapi sekali gue dengar teman gue ini merasa tertekan, gue tidak akan tinggal diam. Maafkan gue. Tapi setiap teman gue adalah bagian dari kebahagiaan gue. Gue gak akan biarin orang dengan mudah merenggut kebahagiaan itu dari gue...

PROK PROK PROK.
Now playing : SMS (Sm*sh Makan So-Nice)

Eh salah.
Now Playing : Warrior - Demi Lovato

Menurut gue, yang namanya bullying itu cuma pelampiasan dari apa yang anak itu rasakan. Gak mungkin seseorang terlahir jahat. Pasti ada latar belakangnya kan? So, kasus bullying memang layak dipertimbangkan lebih dalam, tapi bukan berarti bisa ditolerir kan?

Kenapa hari ini gue serius banget sih.

So, gue rasa bullying itu gak keren sama sekali. Bener sih, dengan bullying kalian bisa ngehitz. Tapi ngehitz jadi anak yang masuk reportase trans tv.

Gimana gambaran orang yang suka bullying di benak orang lain?
Kurang lebih seperti manusia childish yang mencari cara untuk dapat perhatian.

Mereka yang bullying lewat omongan dari belakang?
No offense, I'm so really sorry, but that's so ewh.

Sebetulnya kalau kita cukup punya mental & bukan pengecut, apa yang kita omongin dari belakang adalah : Hal baik dari seseorang, bukan hal buruknya. Gimana dengan hal buruknya? Kita omongin lewat depan.
Kalau kita terus - terusan ngomongin hal buruknya dari belakang, kapan orang itu bisa ngerti akan kesalahannya? Yang ada, kita malah terjerumus ke dalam ke-madesu-an yang sama. Bahkan lebih buruk.

Itu satu dari banyak hal yang gue pelajarin dari Aulia & Bella.

Kembali ke teman gue yang belum tahu bahwa dirinya menjadi bahan ledekkan.

Gue rasa teman gue ini benar - benar gak layak diperlakukan kayak gitu. Mereka yang ngelakuin semua itu cuma belum tahu bagaimana teman gue ini sebenarnya.

Gue hanya bisa berharap teman gue ini selalu menggenggam kebahagiannya. God bless you, bro.
Ada yang berani bikin dia tertekan?
Gue rasa gue benar - benar gak akan tinggal diam.

SO GUYS,
Yang alay kayak begitu harus diberhentiin, dari sekarang.

P.S : Jagoan adalah mereka yang mendapatkan kebahagiaannya tanpa merenggut kebahagiaan orang lain.

PROK PROK PROK.

God bless us... &me.
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review