Sabtu, 19 September 2015

1968

Sabtu, 19 September 2015 

Tepat hari ini, bokap gue, Popop, merayakan hari jadinya yang ke-47 tahun. Berhubung mama gue sedang di luar kota dan adik gue camping bersama teman-teman sekolahnya, kami pun merayakan hanya berdua saja di kawasan Kelapa Gading dengan mencicipi makanan-makanan yang belum pernah kami coba sebelumnya. 

Ini adalah suatu kebiasaan bokap gue yang dengan kentalnya menurun ke gue. We both love exploring new things. New places, new foods, new experiences. Kami sering kali pergi mencari makanan-makanan unik berduaan ketika kami sedang berlibur ke luar kota, atau sekedar mencicip jajanan di sudut-sudut Jakarta. Menurut kami, gak ada salahnya mencoba. Selain refrensi baru, siapa tahu bisa jadi hobi baru. Gue rasa, begitulah cara kami menghabiskan waktu bersama. That's how we define "quality times". 

Banyak dari teman akrab gue memanggil bokap gue (Popop) dengan sebutan "Om Popop". Banyak pula yang bertanya, "Kenapa Popop?"

Dulu, pas gue masih bayi dan baru belajar ngomong, kedua orang tua gue mengajarkan gue untuk manggil bokap gue dengan sebutan "Papa". Sayangnya, gue gagal. Maksud bunyi "Papa", yang keluar malah "Popop". Nama "Popop" menjadi nama yang melekat di keluarga gue. Mama gue, adik gue, sepupu-sepupu gue, bahkan teman-teman akrab gue sekarang memanggil bokap gue dengan nama "Popop". 

Gue harus akui, my dad is not only my dad, he is my super dad. 

Popop can do anything. Gue serius, dan ini aneh. Popop ahli bongkar, pasang, dan servis barang elektronik dan mobil. Popop mengerti bagaimana ngurusin listrik di rumah. Popop mengerti benar bagaimana proses dan cara membangun rumah. Popop tahu semua jalan kemana pun bahkan pergi ke tempat yang belum pernah didatangi pun bisa sampai dengan selamat dan gak tersesat. Popop mengerti banyak tentang keuangan. Popop bisa memasak. Tapi satu yang paling penting; Popop tahu bagaimana caranya selalu ada untuk gue. 

Popop doesn't trust doctor, he only has faith. 
Yang ini sih sebenarnya kurang layak ditiru. Popop gak begitu suka bolak-balik ke dokter atau ke rumah sakit, bahkan untuk sekedar check up untuk dirinya sendiri. 

Beberapa hari yang lalu, gue sakit. Gue demam dan sakit kepala berhari-hari. Berhubung di rumah gue sedang ada setoples sambel dari surabaya dan gue (literally) melahap apa pun yang gue makan pake sambel, mama gue curiga gue kena tipes. Setelah 3 hari demam, mama gue memutuskan buat bawa gue ke rumah sakit. 

"Kak, dokternya baru praktek jam 5 sore. Kita makan siang dulu aja ya. Kakak mau makan apa? Pilih apa aja boleh deh biar sembuh. Sushi mau?" tanya bokap gue sebelum kami berangkat. Sambil pusing gak karuan, gue pun mengiyakan. 

Kami makan di sebuah restoran Jepang sebelum ke rumah sakit. Malam setelah kami ketemu dokter, panas gue turun. Gue gak tipes kok. Cuma demam-demam manja. 

Popop gue percaya, kunci dari sebuah kesembuhan dan rasa yang membaik bukanlah obat-obatan. Kuncinya adalah cukup dengan menjadi bahagia, dan ingat bahwa masih ada banyak hal-hal besar mau pun kecil yang bisa dijadikan alasan untuk tersenyum lagi. Seperti sushi. 

"Heran gue sama bokap lo. Dokter aja kalo sakit ke rumah sakit. Masa bokap lo sakit mau nyembuhin diri sendiri??" -Aulia. Yang ini baru bener. 

Gue tidak banyak bicara dan bertemu Popop setiap hari. Kalau pun ketemu, waktu kami gak begitu berkualitas. Popop kerja dan pulang malam. Gue sekolah, les, dan pulang malam. Setibanya di rumah, gue langsung tepar dan gak ada waktu untuk basa-basi di luar kamar. 

Ada kalanya gue merasa Popop harus mengerti kalau gue ini manusia, gue bisa saja butuh waktu sendiri. 

Berapa hari ini gue sering merenung sendirian di kamar, dengan segudang pertanyaan dan pernyataan yang berputar-putar di pikiran gue. Tapi popop selalu datang ke kamar dan menanyakan hal-hal dari yang penting sampe gak ada penting-pentingnya. Misalnya;

"Kakak udah pupup belum hari ini?"
"Kakak tadi naik ojek ke sekolah?"
"Kakak udah kasih makan yoyong?"
"Kakak lagi sedih ya?"
"Kakak pengen nangis ya?"
"Kakak pengen sendirian ya?"

I'm growing up, I'm learning something, and I need time. 

Tapi gue juga ingat;

waktu dimana gue bertumbuh menuju dewasa, 
adalah juga waktu dimana Popop menua. 

Mungkin gak banyak atau bahkan belum pernah ada hal cukup berharga yang gue lakukan buat Popop atau pun Mama gue. Mungkin dalam hidup gue banggain : nyusahin = 1 : 979878688

Gue gak bisa janji suatu hari gue bisa kasih emas dan berlian, tapi gue janji gue bakal terus mencoba dan berusaha. Setidaknya gue tau, seberapa jauhnya pun Popop dari gue, Popop selalu menjadi orang pertama yang datang ke kamar gue dan bertanya, "Kakak lagi sedih ya?" 

Oh pagi ini gue kasih Popop hadiah ulang tahun karna menurut Mama gue, baju Popop sudah pada belel dan.. kurang layak pakai. Hadiahnya langsung dipake dan komentar pertamanya adalah, "Hmm.. Baunya kayak Matahari ya kak," 







Rabu, 22 Juli 2015

Ayunan dan Senja

Bukanlah mudah ketika kamu harus memasang senyum lebar di hadapan banyak orang ketika sebenarnya murung dalam hati kecilmu. 

Bukanlah mudah ketika kamu harus bersikap seakan-akan kamulah yang paling kuat dan semua tentangmu baik-baik saja ketika sebenarnya hal-hal yang ada tak semudah itu. Ketika sebenarnya ada hati yang luka dibalik kerasnya tamengmu. 

Bukanlah pula hal mudah ketika kamu harus melepas sesuatu (atau seseorang) pergi begitu saja karena mereka bilang "itu yang paling baik", ketika sebenarnya sesuatu (atau seseorang) itulah yang membuatmu merasa paling baik. 

Kau ingat belasan tahun lalu? Ketika kamu menangis karena ibumu tidak membelikanmu balon dan permen. Tapi semua tangismu hilang begitu saja ketika sebuah ayunan berdiri kosong ditemani hembusan angin dan senja yang hangat di sore hari. Dengan gembira kau berlari, berharap ayunan membawa riangmu kembali dengan senyum lebar di wajahmu. 

Kau harap semua masih semudah seperti belasan tahun yang lalu, tapi ternyata tidak. Semua tidak lagi semudah itu.

Berkali-kali kamu memutar lagu upbeat kesukaanmu. Tapi lantunan lagu bertempo cepat tak kunjung menghapus duka. 

Tak hanya sekali-dua kali kamu bertemu teman-temanmu. Segala hal telah melayang di udara menjadi topik obrolanmu. Bahkan, kau mungkin mencoba hal-hal yang mereka bilang, "bisa membuatmu lupa hidup walau sementara". Tapi ketika malam datang dan senja berganti bulan, segala lara seakan kembali menghantui malammu. 

Beribu rangkaian kata yang seharusnya membangun sudah kau dengar. Tapi kau sadar, tak satu pun kata dari kalimat tersebut membangkitkanmu dari sedihmu. 

Kau sadar bahwa tak satu pun dari mereka yang berkata-kata mampu membangunkanmu dari lara yang tak kunjung pergi. Kau sadar bahwa sesungguhnya... semua kembali kepadamu. Kekuatan terbesar berada padamu. Di tanganmu. Dari hatimu. 

Kau sadar bahwa yang kau inginkan hanya yang terbaik. Kau inginkan akhir yang bahagia, seperti apa yang orang lain alami. Bukan tangis dan senyuman pudar yang kau inginkan di wajahnya. 

Ratusan (bahkan mungkin ribuan) kata sayang sudah kamu ucapkan. Tak terhitung peluk dan cium yang sudah kamu berikan. Tapi tak peduli seberapa banyak kata sayang, peluk, cium, dan hal-hal manis lainnya... kamu tetap merasa kehilangan ketika dia tidak lagi bersamamu. 

Sungguh, bukan maksudku membuatmu bersedih. Lewat rangkaian kataku ini ingin kusampaikan pesanku: 

kamu tidak sendiri. 
di sini ada aku, 
menangis ketika kamu menangis, bahagia untuk segala riangmu, 
dan senantiasa berdoa untuk memelukmu dari jauh. 

Senin, 30 Maret 2015

Putih Abu-Abu dan Sepotong Ayam Mcd

Gue sedang terjebak di Mcd, tepatnya di kawasan Cibubur. Lebih tepatnya lagi di depan... mending ga usah disebutin namanya. Pokoknya tempat ini terlalu mewah. Gue gak bakal ke sini kalo ga kepepet nonton Tracers, film yang diperankan oleh sang suami, Taylor Lautner. 

Nongkrong di Mcd jam segini, sudah pasti tidak jauh-jauh dari anak-anak SMA yang nongky-nongky sambil pake baju seragam. Ada yang bersama pacar, ada yang bersama teman-teman, tapi TIDAK ADA yang sendirian seperti gue sekarang. Tapi gak apa apa, I'm cool. 

Gue sendiri tidak sedang mengenakan seragam. Gue berkostum kaos v-neck hitam dengan jeans lusuh, rambut gembel, muka kusut unta Taman Safari, dan ransel lusuh tidak karuan. Hari ini adalah hari terakhir liburan, jadi gue tidak perlu susah-susah pake seragam. Senang sih libur, tapi sedih juga ini hari terakhir...

Oke, kembali ke anak-anak SMA. 

Anak-anak SMA di sini macam-macam celotehannya. Ada yang lagi ngomongin cowoknya, ada yang lagi ngomongin hal-hal gaul Cibubur, ada yang lagi ayah-bunda-ayah-bunda, pokoknya macam-macam deh. Yang pasti, topiknya gak jauh-jauh dari topik anak muda Cibubur. 

Melihat anak-anak ini bikin gue mikir tentang posisi kita; sebagai anak SMA. 

Bayangin, 
setiap hari kita harus bangun jam 5 pagi, belum lagi buat mereka yang sekolahnya jauh dari rumah, mungkin bangun jam 3 berangkat jam 5. Padahal, semalamnya kita baru tidur jam 12 malam, gara-gara harus ngerjain PR, belajar buat ulangan, nyiapin bahan untuk presentasi, mengerjakan laporan penelitian, belum lagi nyiapin ujian-ujian praktek. Jadi, kemungkinan kita tidur hanya selama 3 sampai 5 jam sehari. 

Kita siap-siap berangkat sekolah, terus berangkat deh. Buat mereka yang berangkat naik mobil disupirin sih enak. Tapi banyak dari kita yang harus naik sepeda, jalan kaki, naik angkot, naik motor, naik ojek, atau bawa mobil sendiri. Mending kalau jalannya lancar dan cerah ceria, masalahnya jalanan selalu macet dan belakangan ini, hujan terus-menerus turun. Udah seragamnya basah, kecipratan becek, sampai di sekolah terlambat pula. 

Sampai di sekolah, kita harus nyiapin tugas-tugas yang belum kelar, atau belajar untuk sekedar review, itu juga kalau malamnya sempat belajar sampai kelar dan gak ketiduran. Masih mending kalau sampai sekolah semua lancar. Masalahnya.. banyak dari kita yang gak cukup hoki dan harus kepergok kalau kia telat, dihukum pula. Ada yang hukumannya berdiri di bawah tiang bendera, ada yang ngepel lantai, nyiramin tanaman, lari di lapangan, atau yang lebih parah... disuruh pulang lagi. Udah susah-susah bangun pagi dan berangkat, malah disuruh pulang lagi dan gak bisa dapat ilmu apa-apa...

Pelajaran dimulai. Kita harus mendengarkan penjelasan guru kita. Bukan hanya sekedar pasang muka, tapi juga supaya kita paham materinya dan bisa ngerjain soal ulangan dengan lancar. Mending kalau gurunya asik, gimana kalau gurunya kayak bed time stories?? Kita harus bertahan melawan kantuk karna kurang tidur, alias cuma tidur 3 jam tadi malam. Asli, ini penyiksaan terberat gue. 

Buat mereka yang ulangan, bisa mengalami beberapa kemungkinan. Ada yang sukses ngerjain dengan lancar jaya, ada yang ngadet, seakan-akan soal yang dihadapi berasal dari galaksi lain. 

Pulang sekolah, kita sudah sangat-sangat tepar. Tapi kita harus tetap bangun. Tugas masih banyak, besok ulangan, PR harus dikumpulkan besok, laporan kalau telat ngumpulin nilainya di-, dan keluhan-keluhan lainnya. Belum lagi mereka yang harus les ini-itu. Kebayang gak teparnya gimana?

Kalian tau bagian paling buruk dari semua "penderitaan" ini?

Kita gak tau apa yang akan kita hadapin di masa depan. Semua usaha mati-matian ini... gak punya kepastian. 

Gak sedikit mereka yang sekolahnya gak jelas, tapi nasip memihak mereka. Mereka sukses-sukses aja hidup kaya dan bahagia. 

Gak sedikit pula mereka yang sekolah dan kerja susah payah, tapi nasip kurang memihak. Mereka masih harus terus-terusan bekerja lebih keras lagi untuk bisa hidup layak. 

Jadi kepastian apa yang bisa kita pegang? 

Tidak ada. 

Tapi setiap dari kita, pasti punya mimpi.

Gue punya mimpi sukses masuk universitas negri dengan undangan di jurusan komunikasi, sekolah interior design, membahagiakan nyokap-bokap gue, punya penghasilan sendiri, jadi artis, jadi penulis, jadi berguna buat orang lain, beli kinder joy, makan sushi, ketemu Taylor Lautner, duet sama Kevin Aprilio, nyanyi kayak Ariana Grande... pokoknya banyak deh. 

Dan gue yakin kalian juga punya mimpi yang mungkin gak sama dengan mimpi gue. Mungkin ada yang mau jadi dokter, jadi astronot, bikin planet, terbang ke galaksi lain, jadi penguasa Bima Sakti, atau apalah itu. 

Iya, itu yang bisa kita pegang. 

Kita gak punya kepastian tentang masa depan untuk kita pegang. Tapi setidaknya, kita punya mimpi. 

Rabu, 18 Maret 2015

Tujuh Hari Memori Selamanya

Sekitar sebulan yang lalu, gue bersama teman-teman di angkatan gue melaksanakan satu program wajib untuk siswa kelas 11 di sekolah gue: LIVE IN.

Sebentar,
kalau lo udah bosan baca laporan kegiatan gue dari hari ke hari di bawah ini, skip aja ke bagian "INI PENTING".

Live in adalah suatu program dimana anak-anak tinggal di suatu desa selama seminggu, dengan bertempat tinggal di rumah warga desa dan menjalankan pekerjaan bersama tuan rumah...

tanpa gadget.

Sayangnya, bayangan gue dan teman-teman gue tentang Live In saat itu kurang begitu indah...
Apa yang ada di pikiran kami adalah: kami harus hidup di desa yang kami sama sekali gak tahu-menahu dimana desa itu berada. Tanpa handphone (tanpa LINE, snapchat, instagram, dan youtube), tanpa game, tanpa TV, tanpa orang tua, tanpa makanan enak, atau 2 kata: Tanpa Kebahagiaan.

Cobaan selanjutnya adalah kami hanya diperbolehkan membawa 1 koper dan 1 ransel. Kami hanya diperbolehkan membawa 3 kaos, 3 celana, 2 pasang baju tidur, pakaian dalam secukupya, alat mandi, alat tulis, alat ibadah, dan obat-obatan. Kami bahkan tidak diperbolehkan membawa cemilan dengan alasan, agar kami makan makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Kalau ketahuan membawa lebih, barang-barang lebihan tersebut akan dikeluarkan dari koper dan dikembalikan kepada pemiliknya.

Seorang teman gue, Bella (nama tidak perlu disensor) menyelundupkan 2 kantong plastik besar berisi pop mie. Mungkin kalo ditotalin ada sekitar 10 bungkus pop mie. Sayangnya seorang guru menggeledah koper Bella, mendapati pop mie-pop mie tersebut dan mengembalikannya pada Bella. Alhasil, Bella menjual 10 bungkus pop mie tersebut karna sudah patah harapan, hangus semua perbekalannya.

Live In tahun ini dilaksanakan di Desa Pujon Kidul, Jawa Timur. Desa Pujonkidul terkenal akan hasil pertanian dan peternakannya. Kualitas susu sapinya terkenal baik. Bahkan, ternyata produk Nestle dapat susunya dari sapi-sapi Pujonkidul. Lo semua harus ke alf#amart buat beli susu Nestle, sementara gue hanya pelu melangkah lima langkah dari kamar ke dapur untuk minum susu Nestle selama di Pujonkidul.

Day 1
Kami berangkat pukul 09.00 dari sekolah menuju Stasiun Pasar Senen, kereta kami berangkat menuju Malang pukul 15.00.

Ini penting:
kereta kami lebih mirip kereta berisi korban perang ketimbang kereta berisi pelajar-pelajar yang mau berwisata. 

Gue bersama teman-teman dan guru-guru gue mengisi penuh sebuah gerbong kereta ekonomi. Berikut adalah persentase penghuni gerbong kereta pelajar berwisata korban perang selama 16 jam perjalanan:

35% = siswa korban duduk/tiduran di bangku (contoh : Naura yang dengan lelapnya bobok di sebelah gue)

40% = siswa korban tergeletak di lantai kereta (contoh : ...lebih baik gak usah pake contoh)

15% = korban tidak bisa diam karna sekarat kebosanan (contoh : Andrew mencari-cari korban untuk diramal menggunakan kemampuan ramal alakadarnya. Menurut PAPI ANDREW, di usia 30-an nanti, gue akan memiliki 3 orang anak. Gaplok aja nih anak satu-_-)

10% = korban berdiri karna mengaku pantatnya sudah pegal karna duduk melulu (contoh : Ferdi yang berdiri di atas bangku sambil  terbengong-bengong campur galau)


Day 2
Tiba di Stasiun Malang, kami segera berangkat ke Desa Pujonkidul dengan bis. Saat perjalanan,kami dihidangkan pecel untuk sarapan.

Hingga tibalah kami di Desa Pujonkidul.



GILA, DINGIN BANGET.

Setibanya di sana, kami dihidangkan minuman susu jahe yang susunya asli dari sapi Pujonkidul. Di momen itu, gue sadar... gue jatuh cinta sama susu Pujonkidul. Selain enak karna hangat, rasanya pun sangat gurih dan baunya... susu banget.

Seusai opening, kami langsung diperkenalkan dengan ibu dan bapak tuan rumah tempat kami tinggal, Ibu Reni. Gue serumah bersama 2 rekan: Yeni dan Icha.

Ibu Reni punya seorang anak laki-laki kelas 3 SD yang jahilnya gak ketolong, namanya Vemas. Padahal diam-diam, Vemas ini naksir sama Yeni. Yeni adalah satu yang Vermas cari setiap kami harus keluar rumah untuk kegiatan dan penelitian. Gue tau ini konyol, tapi Vemas bikin kangen Iyel (adik gue yang kurang gue akui).

Seusai beristirahat, kami makan siang. Gue rasa kalau Ibu Reni ikut kompetisi Masterchef, Ibu Reni gak perlu lomba, langsung menang deh. Serius, masakan Ibu Reni enak banget. Selama seminggu gue bersama Icha dan Yeni makan masakan Ibu Reni 3 kali sehari (atau 4... atau 5...). Masakan yang gue paling suka adalah: ayam tepung ajaib yang gue gak ngerti cara masaknya gimana, pokoknya enak banget.

Hari itu kami isi dengan istirahat, berkenalan dengan tuan rumah, fashion street, dan menyaksikan pertunjukan seni budaya khas Desa Pujonkidul.



Day 3
Pagi hari kami isi dengan berladang dan membantu ibu di rumah. Siang hari kami isi dengan pengambilan data penelitian. Kelompok gue dipimpin oleh Squidward (check my older posts), dengan penelitian bertemakan "Sistem Pendidikan di Desa Pujonkidul". Gue bersama teman-teman kelompok melakukan observasi di sebuah SD di Pujonkidul dan mewawancarai kepala sekolah dari SD tersebut.

sebelum wawancara. (18+)


Sore hari kami isi dengan mempersiapkan makanan untuk Kendurian.

Kendurian adalah sebuah upacara adat di Desa Pujonkidul dimana setiap keluarga memasak nasi tumpeng beserta lauk pauknya, membawanya ke balai desa, dan menikmatinya bersama-sama. Upacara Kendurian merupakan simbolisasi dari rasa syukur masyarakat pada Tuhan untuk rezeki dan kekayaan alam yang dapat dinikmati. Upacara dilaksanakan sekali dalam setahun. Sebelum makan, bapak kepala desa memimpin doa bersama menggunakan bahasa Jawa.

Usai masak, kami mandi (dengan air yang sangat dingin. Berasa lagi ice bucket challenge). Selesai membersihkan diri, kami bersama-sama berangkat ke balai desa untuk makan bersama dalam Upacara Kendurian.

Day 4
Hari ini kami isi dengan melakukan aktivitas di posyandu. Kami semua dibagi menjadi beberapa tim yang bertugas di posyandu yang berbeda-beda. Di sana, kami menimbang berat bayi, mengukur tinggi bayi, mendatanya, dan membagikan bubur kacang hijau.

Memang sih awalnya canggung. Gimana enggak... kami disuruh melayani bay-bayi yang kami bahkan gak tau yang mana emak dan babe-nya. Mana tampang kami seram-seram, bayinya malah pada nangis ketakutan.

Beruntung, kami berhasil menjalankan pekerjaan kami dengan kebersamaan. Seorang rekan gue, Andrew a.k.a Papi Andrew (Andrew lagi.. Andrew lagi...) beberapa kali mengajak bayi dan balita bercanda, dengan tujuan agar bayinya berhenti menangis. Namun apa daya, yang tertawa malah orang-orang tua dari balita tersebut. Gue rasa, ibu-ibu itu pada naksir sama Andrew dan kelucuannya deh. Mereka bahkan membuat nama kesayangan untuk Andrew: "Mas Gendut".


minta difoto

Sore hari, gue bersama Yeni dan Icha membantu Bapak memerah susu sapi dan mengantarnya ke koperasi untuk ditimbang sebelum dikirim. Sambil geli, jijik, dan dipenuhi jeritan-jeritan feminim, gue, Yeni, dan Icha mencoba memerah susu sapi.

Sampai akhirnya sapi yang kami perah susunya tiba-tiba pup. Pup-nya jatuh begitu saja dari pantat sapi dan muncrat ke baju gue, Yeni, dan Icha. Alhasil, kami langsung hilang mood dan memutuskan untuk menyerah.

Malam hari, kami berlatih seni budaya sebagai persiapan untuk pentas seni. Kami semua dibagi ke dalam beberapa kelompok. Ada yang bertugas menari monel, pencak silat, kuda lumping, dan perkusi. Gue kebagian perkusi. Dalam tim perkusi, gue bermain peking. Peking adalah salah satu alat musik gamelan yang dimainkan dengan cara dipukul namun bernada. Sejujurnya gue sudah lama kepo sama alat musik ginian dan akhirnya untuk pertama kali dalam sejarah hidup gue, gue main peking.

Day 5
Pada hari ke-lima, kami bersama-sama mengajar siswa SD dan SMP di sekolah-sekolah Pujonkidul. Gue bersama kelompok kerja gue yang diketuai oleh Squidward mengajar story telling kepada siswa kelas 5 SD.

Sumpah, awalnya gue males banget. Gue sama sekali tidak tertarik untuk mengajar anak-anak kecil. Pertama, gue tidak tahu mau mengajar apa. Kedua, ngajar itu gak gampang. Belum tentu anaknya bisa diem dan mau dengerin. Kalau pun mereka diem, belum tentu mereka paham.

foto ini diambil oleh Ucup.

Tapi ternyata penilaian awal gue salah.
Teman-teman baru gue di sana sangat hangat. Mereka antusias mendenar cerita yang gue bacakan dan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang rekan-rekan kerja gue berikan. Kami juga mengobrol tentang cita-cita mereka dan bagaimana mereka perlu rajin sekolah untuk menggapai cita-cita mereka. Salah satu dari mereka bercerita tentang bagaimana dia sangat ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan jika ada keluarganya yang sakit.Ada pula yang ingin menjadi polisi, artis, dan masih banyak lagi.  Sesungguhnya, "Glori Mengajar" ini adalah bagian live in favorit gue.

Di sini kami belajar memandang langit dari sisi bumi yang berbeda. Di sini pula kami belajar bahwa setiap jiwa punya mimpi. Kejar terus, teman baru. Sampai jumpa nanti, hingga bintang jatuh tak hanya tinggal harapan.

Day 6  (Hari terakhir di Pujonkidul)
Siang hari kami isi dengan presentasi hasil penelitian yang telah kami laksanakan. Usai presentasi, kami belajar membuat yogurt. Hingga tibalah malam hari: pentas seni.

Pentas seni dilaksanakan di sebuah panggung, tepatnya di depan balai desa. Ternyata ramai sekali penontonnya. Vemas dan Ibu Reni juga datang untuk menyaksikan pentas seni. Perkusi ditampilkan terakhir bersamaan dengan peragaan pakaian Pujonkidul, makanya gue nyantai-nyantai aja, tegang pun tidak. Sampai akhirnya...

"Vid, tadi ada anak perkusi dari desa sini kerasukan..." ucap Yeni sembari menoel-noel bahu gue yang sedang asik nonton tari monel. Gue cuma bisa melongo. Kepikiran antara mau meluk Yeni atau mau ngibrit. Sob, itu yang kerasukan anak perkusi. Kenapa anak perkusi??? Gimana kalau setelah ini anak perkusi kerasukan lagi??? Gimana kalau gue yang kena???

"Tapi katanya memang selalu kejadian setiap ada pentas-pentas budaya gini, Vid," gue hanya merespon dengan mulut menganga, menyerap kata demi kata yang terucap oleh Yeni. "Yang penting lo jangan sendirian dan jangan bengong," kata Yeni mencoba meyakinkan.

Tibalah waktunya penampilan perkusi. Lancar sih, kalau pun ada kendala... bodo amat deh, yang penting usaha.

Di tengah-tengah pertunjukan perkusi, Fathia dan Icha naik ke atas panggung sembari mengenakan pakaian Pujonkidul. Mereka terlihat asoy. Sampai akhirnya, sayap dari pakaian Fathia menabrak muka Squidward yang sedang asik geduk-geduk drum. Untung saja Squidward tidak buyar dan Fathia tetap dengan percaya diri tersenyum lebar. Kalau Squidward buyar, perkusi kiamat.

Semenjak kejadian itu, Fathia punya julukan baru: Queen Pujon.



Day 7 (PULANG!! SAMPAI JUMPA, PUJONS!!!)
Sebelum pulang, kami bersama-sama mengunjungi Universitas Brawijaya. Selesai touring, kami bersama-sama makan siang di sebuah restoran di Malang yang gue lupa namanya. Usai makan, kami langsung berangkat ke Museum Angkut.

Museum Angkut is definitely recommended buat kalian yang liburan ke daerah Malang. Di sana, kita bisa lihat berbagai macam kendaraan dan alat angkut dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan berbagai negara di dunia. Gue ditemani Piglet berkeliling museum hingga koprok. Seriously guys, itu tempat asik banget buat hunting photo.

Usai berkeliling di Museum Angkut kami segera menuju Stasiun Malang. Karena hujan dan banyak genangan air, gue basah kuyup dan sepatu gue sukses menjadi kobangan becek. Menit-menit sebelum asuk gerbong... kayak suasana Hiroshima dan Nagasaki seteah dibom sekutu.

Oke gue sok tahu. Gue gak tahu gimana bentuknya Hiroshima dan Nagasaki setelah dibom.

Tapi sungguh deh, kami semua udah kayak korban perang. Ada yang setres karena sandalnya putus, ada yang setres karna homesick, ada yang encok, ada yang sakit sampe udah mau pingsan, pokoknya udah kayak gembel korban perang dah. Beruntung, Piglet setia menemani gue. Dia selalu memastikan gue aman dan terus-menerus mengajak gue mengobrol bersama teman-teman yang lain supaya gue tidak ikutan setres. Piglet...

Kembali menempuh 16 jam dalam dimensi gerbong korban perang.
Karena banyak yang tergeletak dan sekarat di lantai kereta, kami harus lompat dari 1 bangku ke bangku yang lain kalau mau pipis. Toiletnya terletak di ujung gerbong. Belum lagi kalau ternyata di toilet itu ada pup belum di-flush, kami harus kembali lompat dari bangku ke bangku menuju ujung gerbong yang lain, udah kayak menghindari ranjau yang meledak kalau kesenggol.

00.00, 7 Februari 2015 (365 days)
Wish you a happily ever after, Piglet.

AKHIRNYA, kami tiba di Stasiun Senen dan segera bergegas pulang ke sekolah naik bus. Karena sangat lelah, gue koprok di bis. Di tengah-tengah kekoprokan gue, bis yang gue tumpangi mogok. Tapi gue sudah terlalu tidak berdaya. Bangun-bangun, gue sudah ada di kawasan Cibubur.

INI PENTING
Live In memang gak mudah. Siapa sih yang mau bersusah payah tinggal di desa yang jauh dari rumah, mabok di kereta, kecipratan pup sapi, disamperin mas-mas perkusi yang  kerasukan, koprok di kereta, encok di stasiun, keracunan susu sapi karna kalap saking enaknya...

Tapi gue rasa, selama di sana ada kebersamaan, di sana ada rasa aman.
Mungkin tinggal di desa selama seminggu gak sama menyenangkannya dengan hangout di mall, makan sushi, internetan, atau shopping di Forever 21...

Tapi pengalaman adalah guru dalam hidup, dan kebersaman adalah tempatnya rasa aman dan hangat.

"Gue tahu ini susah, tapi jangan mau kalah sama keadaan ya, Vid. Lo lebih kuat dari keadaan," ucap seorang teman gue saat gue mengeluh tentang kejenuhan gue.

Selasa, 23 Desember 2014

Berguru di Kota Udang

Gue sedang tiduran di kasur ditemani dengan keram perut yang lebih dahsyat dari biasanya menjelang period. Tapi gue bukan sedang ingin membahas period gue. 

Beberapa hari lalu, tante gue (Auntie Aris) mengirim sebuah foto ke grup chatting keluarga gue. Awalnya gue mengabaikan. Namun setelah gue lihat, ternyata itu adalah foto nenek gue (Deti) lagi pake baju model abg + celana legging hitam. Gue sempat pangling. Gue sempat mengira tante gue mengirim foto anggota SNSD, ternyata itu foto nenek gue. 

(barusan itu hiperbola)



Gue sangat menyayangi kedua nenek gue. Baik nenek dari bokap, mau pun nenek dari nyokap. Bisa dibilang, gue cukup dekat dengan nenek-nenek gue, dan jujur aja, sangat senang hangout dengan kedua nenek gue. 

Nenek dari bokap gue biasa gue panggil dengan sebutan "Deti" yang sampe sekarang, gue kurang ngerti apa artinya nama tersebut. Deti adalah seorang keturunan Manado kental, namun bertempat tinggal di Cirebon semenjak Deti masih kecil. 

Deti sangat jago memasak. Masakan Deti yang paling gue idolakan adalah ayam goreng tulang lunak. Setiap gue liburan, Deti pasti menelpon gue dan mengundang gue untuk berkunjung ke rumahnya di Cirebon dengan undangan berbunyi: 

"Vidya kapan ke sini? Deti udah bikinin ayam goreng tulang lunaknya tuh. Tapi kalo ke sini, jangan lupa bawa kado ya!" 

Deti sangat rajin membaca alkitab. Deti membaca alkitab setiap malam, lalu melanjutkannya dengan berdoa, kemudian tidur, ditemani dengan suara radio Kristen Cirebon yang gue tidak ingat namanya, yang selalu memutar lagu puji-pujian terhadap Tuhan. Deti selalu mengajak gue untuk ikut berdoa bersama setiap gue menginap di rumahnya. 

Pernah sewaktu gue masih SD, gue menginap di rumah Deti bersama seorang sepupu gue (Timothy). Tentu saja, Deti mengajak gue & Timothy berdoa bersama. Sebelum berdoa, Deti mengajak gue & Timothy menyanyikan sebuah lagu puji-pujian dengan posisi berdoa. Sambil memejamkan mata dan melipat tangan, lagu kami dendangkan. Lagunya begini: "Kami naikan syukur padaMu... Kami naikan syukur padaMu... Kami naikan syukur, Yang Mulia... Kami naikan syukur padaMu.."

Namun irama demi irama, gue dan Timothy malah geli sendiri. Kami sesekali mengintip satu sama lain, dan akhirnya tawa kami pun meledak. Deti yang sedang kusyuk pun akhirnya mencubit gue & Timothy. Semenjak itu, kami gak pernah nyanyi lagi sebelum doa bersama. 

Deti sangat menyayangi kucing, gue juga cinta mati sama kucing. Deti memelihara kucing bernama Bona. Sayangnya, Bona adalah kucing paling annoying yang pernah gue temui di muka bumi ini. 

Gue jadi ingat...
Beberapa bulan yang lalu, gue berlibur ke Cirebon. Gue menginap selama 5 hari di rumah Deti. Sebagai pencinta kuliner, tentu saja bersama bokap gue berkeliling Kota Cirebon mencicipi jajanan demi jajanan. Tak jarang gue berkunjung ke spot-spot asyik di Cirebon untuk photo hunting. 

Selama gue di Cirebon, nenek gue terus-terusan membahas tentang celana jeans yang pada akhirnya, dia bercerita ke gue kalau dia sedang sangat menginginkan celana jeans. Deti bilang, Deti juga sama seperti gue, ingin mengikuti perkembangan mode masa kini. 

Akhirnya tepat pada hari terakhir gue di Cirebon, gue seharian menemani Deti berkeliling mall demi mencari jeans idamannya. 

Setelah berputar-putar mencari jeans, kami makan di sebuah tempat makan pizza karna saat itu, Deti sedang sangat menginginkan pizza. Kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari hobi gue, hobi deti, sekolah gue, masa sekolah deti, dan banyak hal lain. Deti juga sesekali menanyakan gue sudah punya pacar atau belum dan bagaimana hubungan gue dengan pacar gue. 

Hingga akhirnya Deti bercerita tentang bagaimana Deti bertemu dan merajut kisah bersama Denang, kakek gue. 

"Denang gak pernah sekali pun bilang "I love you". Kalau ngapel ke rumah Deti dulu, pasti membawa koran untuk dibaca. Tapi Deti tuh sesungguhnya sudah tau, diam-diam, Denang pasti memperhatikan Deti. Buktinya sampai sekarang, Deti masih tuh merasa dicintai sama Denang. Menurut Denang, apa gunanya berkata-kata kalau bertindak lebih bernilai." 

Mungkin maksud Deti dan Denang adalah actions speak louder than words.  

Sejenak gue terdiam mendengar penjelasan Deti. 

Bener juga ya, Det. Deti perlu belajar dari aku tentang perkembangan modis jaman sekarang, dan aku perlu belajar dari Deti tentang arti sejati dari hidup. 









Rabu, 26 November 2014

Tsubasa dan Bulan Purnama

"Gambar sebuah pemandangan, Vid. Pemandangan apa saja yang ada di pikiran kamu saat ini", kata Mr. Rifky dalam pelajaran konseling.  

Gue menggambar sebuah jembatan di antara dua tebing, melintasi sebuah sungai deras, dengan latar sebuah bulan purnama di tengah gelap malam. 

"Penuh kebimbangan. Dua buah tebing, menggambarkan pilihan yang lagi Vidya bingungin. Jembatan, menggambarkan tempat dimana Vidya sekarang bertahan, dibingungkan kembali oleh teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Sungai deras, menggambarkan rintangan dan permasalahan yang mungkin sekarang sedang dihadapi. Bulan, menggambarkan Vidya yang juga berfikir pilihan mana yang paling baik untuk diambil," jelas Mr. Rifky memecah keheningan, sempat seakan menggantung di udara beberapa detik. 

Beberapa teman melihat gue dengan tatapan "CIE GALAU", sementara gue hanya melongo, mencoba mencerna semua penjelasan Mr. Rifky. Segera gue palingkan tatapan gue dengan senyum tipis malu-malu mati gaya. 

Mr. Rifky benar. Tidak satu pun perkataannya tidak sesuai dengan apa yang mengganggu pikiran gue. 

"Ini semua cuma tentang kapan lo siap membiarkan dia pergi," jelas Tsubasa. 

"I'm never ready of losing him, Tsubasa. Never."

"Ya emang gak akan pernah siap sih. Its just about how brave we are to accept it... Be strong, okay?"

ucap Tsubasa untuk kesekiankalinya terngiang-ngiang dalam benak gue. Membuat gue semakin panjang berfikir... dan galau. 

Ini semua adalah tentang ketakutan gue. Ketakutan gue terhadap apa yang akan gue hadapi setelah gue mengambil keputusan. Sebenarnya, keputusan ini tidak akan menjadi keputusan yang salah, karna memang hanya satu keputusan inilah jalan keluarnya. 

Ini hanya tentang kapan gue siap dan berani untuk menjadi ikhlas, juga kapan gue berhenti takut sendirian. 

Sebenarnya gue merindukan gue yang dulu. Gue yang selalu berani melangkah walau sendirian, gue yang selalu ingat bahwa pada dasarnya gue tidak sendirian karna Tuhan bersama gue. 

Gak, gue bukan kangen gue yang dulu. 

Gue kangen semua yang ada dulu. 

Mr. Rifky benar. Gue sedang sangat-sangat kebingungan, dan gak peduli seberapa banyak pun advice yang gue terima, gue hanya akan tetap bertahan pada bulan purnama, yakni pikiran gue sendiri yang sangat rumit. 

Harus kemana sekarang? 

Minggu, 23 November 2014

Sepiring Memori Secangkir Air Mata

Ada yang bilang bahwa menangis bukan berarti lemah. Menangis berarti kita sudah menjadi kuat untuk waktu yang lama. 

Ada yang bilang bahwa menyerah bukan berarti payah, melainkan berarti cukup kuat untuk menjadi ikhlas.

Mungkin sudah ratusan kali gue biarkan pemikiran-pemikiran liar itu menghantui otak gue. Namun ternyata lagi-lagi otak tidak sepemikiran dengan hati. 

Berkali-kali pula gue menanyakan kepada diri gue sendiri pertanyaan yang sama, yang pada dasarnya, gue sudah tau jawabannya. Mungkin secara tidak disadari, gue berharap suatu waktu jawaban yang ada bisa berubah, menjadi jawaban yang sesuai dengan harapan gue. 

Lo tahu, gue tahu, mereka tahu, semua tahu, cuma ada satu jalan yang bisa gue ambil. Ini semua cuma tentang kapan gue cukup berani untuk mengambil keputusan. 

Gue dihantui oleh berbagai keraguan dan ketakutan. 

Apa yang akan terjadi pada gue setelah gue membiarkan dia pergi?

Apakah dia akan baik-baik saja? 

Apakah dia akan memandang gue sebagai seseorang yang lain setelah gue membiarkan dia pergi?

Atau apakah justru nanti dia yang menjadi seseorang yang berbeda dengan yang gue kenal?

Apakah akan ada hati yang patah setelah semuanya berubah? Kalau ada, akan seberapa parah patahnya?

ah bacot, terlalu banyak keraguan. 

"Pokoknya I'm not letting go, Gus. Never." kata gue sejenak menggantung di udara. 

"Tapi dia punya mimpi, Vid." 

Gue ingin memeluk dia selama dan seerat mungkin selama gue masih bisa. Gue ingin mengucapkan "aku sayang kamu" sebanyak mungkin selama gue masih bisa. Gue ingin tertawa sebanyak mungkin bersama dia selama gue masih bisa. 

Padahal gue sudah tahu...
Seberapa banyak pun pelukan, "aku sayang kamu", dan tawa yang pernah ada di antara gue dan dia, tidak akan pernah cukup untuk membuat gue tidak merasa kehilangan dan menangis pada akhirnya. 

Biarlah, 
biar hanya aku dan rangkaian kata yang paham. 
 

Me and My Freaky-Diary Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review